Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 191 – BENTUK PENGHARGAAN



[POV Buron]


Aku terlahir di tanah terpencil di sudut barat laut Benua Asium di kerajaan kecil yang bahkan namanya sudah tidak ada lagi di peta dunia sejak invasi besar-besaran Kekaisaran Tong Kong.


Sejak kecil, aku sudah menyadari bakatku sebagai seorang swordsman. Aku berlatih dan terus berlatih untuk mengembangkan bakatku itu. Hingga suatu hari, aku yang merupakan anak haram dari seorang ayah yang merupakan salah seorang bangsawan miskin di kerajaan itu diakui oleh sang raja lantas diangkat menjadi prajurit elit di istana.


Perjalananku pun sebagai seorang swordsman terus berjalan mulus dengan posisiku yang tinggi tersebut bahkan hingga aku berhasil menapaki gelar seorang swords master. Aku banyak membantu sang Raja menyingkirkan musuh-musuhnya hingga dia bisa berada di posisi yang kuat dan tak tergantikan.


Namun, setinggi apapun posisi sang raja, tiada yang dapat menyelamatkannya dari kematian karena faktor usia tua. Sang raja pun dengan segera digantikan oleh keturunannya, sang putra mahkota.


Berbeda dengan mantan raja sebelumnya, raja yang baru menjabat memiliki pikiran yang naif dan mudah dimanipulasi.


Aku yang terlahir sebagai anak haram memang dari dulu tidak disukai oleh para bangsawan lainnya sehingga mereka sering menggosipi aku yang jelek-jelek agar sang raja mau menjauh dariku. Namun, perihal keahlianku dalam berpedang, sang mantan raja menilai aku sangat berguna lantas mengabaikan semua gosip itu dan tetap mempertahankan aku di sisinya. Tetapi itu rupanya tidak berlaku bagi sang raja baru.


Dia segera termanipulasi oleh hasudan para bangsawan yang mengatakan bahwa tikus seperti aku akan membahayakan tahtanya. Yang membuat aku bertambah kesal, para saudara tiriku yang terlahir sebagai anak sah dari Ayah ikut membenarkan hasudan para bangsawan licik itu perihal kebenciannya yang tidak berdasar padaku.


Jadilah sang raja turut percaya hal itu dan aku tanpa salah apa-apa tiba-tiba difitnah menjadi seorang pemberontak dan lantas akan dihukum mati.


Perihal amarahku yang tak tertahankan kala itu di mana aku merasakan ketidakadilan perlakuan kerajaan padaku, aku pun terbangkitkan menjadi seorang grand master.


Setelah memperoleh kekuatan ini, aku pun meninggalkan kerajaan dan tak lagi ingin terlibat dengan raja bodoh dan para pengikutnya yang licik.


Suatu hari Kekaisaran Tong Kong menyerang kerajaan itu. Lalu dengan tak tahu malunya, utusan sang raja datang padaku dengan membawa titah untuk membela kerajaan dari invasi Kekaisaran Tong Kong dengan hadiah bahwa sang raja akan mengampuni segala dosa pemberontakanku.


‘Memangnya dia pikir dia siapa akan mengampuni dosaku?!’


‘Dasar Raja tak tahu malu itu!’


‘Memang kapan aku berniat memberontak pada kerajaan?!’


Aku berkali-kali berteriak dalam hati dengan kesal. Namun kutahu itu semua tidak berguna.


Hingga pada suatu waktu, kali ini aku mendapatkan kunjungan dari utusan Kekaisaran Tong Kong yang mengatakan bahwa raja bodoh itu telah mati setelah dieksekusi oleh Kaisar Tong Kong.


Aku malah senang mendengarnya. Aku sama sekali tak merasakan sedih ketika kerajaan kecil tempat aku berasal tersebut ditaklukkan oleh Kekaisaran Tong Kong. Itu karena sejak awal, aku tidak pernah mendapatkan perlakuan yang baik dan bahkan dihinakan di dalam kerajaan.


Kekaisaran Tong Kong kemudian memintaku untuk mengabdi di bawah sang kaisar mereka dan berjanji tidak akan memperlakukanku dengan buruk layaknya apa yang telah dilakukan oleh raja bodoh itu.


Tentu saja aku menolak. Bagaimana mungkin aku akan mempercayai kata-kata orang sejenis mereka lagi? Bagiku, semua raja itu sama. Mereka hanya akan memanfaatkan bawahan yang berguna bagi mereka dan menyingkirkan tanpa segan apa yang dianggap mereka berbahaya.


Setelahnya, aku berpetualang di mana pun kaki ini hendak berpijak. Aku mengunjungi berbagai tempat demi menantang para pemain pedang andal untuk mengasah skill bertarungku. Tanpa sadar, lima belas tahun berlalu sejak kematian raja bodoh itu dan aku waktu itu genap berusia 60 tahun.


Kudengarlah kabar burung tentang keberadaan monster-monster mengerikan di wilayah Benua Arteik. Rasa penasaranku pun terpancing untuk menguji kekuatanku sampai di mana aku bisa mengalahkan para monster di wilayah es kutub utara tersebut. Aku tanpa pikir panjang segera bergerak menuju ke sana.


Siapa sangka bahwa apa yang menungguku di sana adalah seorang witch yang memang telah secara sengaja mengedarkan sendiri cerita itu ke mana-mana demi memancingku ke tempat tersebut. Dengan cara yang curang, dia mengalahkanku setelah mengunci pergerakan tubuhku dengan cara yang sama sekali tak kupahami. Begitu tersadar, aku telah setengah terbius di dalam kotak penuh berisi lendir dalam keadaan telanjang bulat.


Setelah sekian lama, aku akhirnya bisa menghirup kembali udara bebas. Awalnya, aku pesimis bahwa keadaanku serta-merta akan berubah.


Tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini. Aku telah diselamatkan olehnya sehingga hal yang wajar jika aku harus mengorbankan sesuatu pula untuk diserahkan kepadanya. Mungkin anak muda itu menyelamatkanku karena menginginkan kekuatanku.


Namun lama menunggu, tidak muncul juga tawarannya itu padaku. Malahan, justru hal tak terduga menungguku. Salah satu pelayannya hanya mengatakan setelah kesembuhanku, aku bisa bebas pergi di mana aku hanya diminta untuk bersumpah agar tidak akan pernah mengkhianati kebaikan hati kaisar dengan suatu saat bersekongkol dengan negara lain untuk menjatuhkan kekaisarannya.


Aku awalnya benar-benar tidak percaya akan hal itu. Tetapi bukankah hal yang baik memperoleh kebebasan?


Setelahnya, aku berjalan-jalan mengelilingi kota yang disebut sebagai wilayah Fallenstone itu. Sebuah kota yang makmur di mana rakyatnya bebas mengekspresikan keinginannya tanpa terkekang oleh aturan-aturan kesetaraan atau militerisasi yang menyiksa.


Ada pula alat aneh yang mereka sebut sebagai televisi yang menampilkan berita dan juga beraneka ragam hiburan mulai dari drama, nyanyian, tarian, sampai wisata kuliner dari berbagai daerah.


Dan aku tanpa sadar telah menjadi salah satu penikmat dari alat aneh itu yang tak pernah mau melepaskan lagi pandanganku darinya, bahkan sampai-sampai petugas medis sendiri yang akhirnya mengusir aku keluar dari mansion karena mengatakan aku telah benar-benar sembuh.


Ini benar-benar berbeda dari kerajaan mana pun yang aku pernah kenal sebelumnya. Kerajaan ini benar-benar makmur. Ini pastinya dapat terwujud karena mereka memiliki raja yang baik. Terus terang, aku iri pada mereka karena memiliki raja yang baik seperti itu.


Namun, di situlah aku mengetahui fakta bahwa bahkan raja yang sebaik itu bisa dihujat oleh beberapa rakyatnya karena adu domba dari para penghasud.


Aku sama sekali tidak mengerti budaya Benua Ernoa yang hanya karena persoalan ramalan dari kuil suci mereka bahwa raja yang baik itu adalah seorang tiran, mereka lantas membencinya. Tidakkah baik atau buruknya seseorang dinilai dari perbuatannya, bukan dari hal konyol seperti mengatakan itu takdir untuk menjadi baik dan jahat?


Setiap orang yang terlahir di dunia ini punya potensi untuk menjadi baik atau jahat, tergantung dari pilihan apa yang akan orang itu pilih.


Benar-benar raja yang malang. Aku seketika bersimpati padanya. Dan bahkan setelah memperoleh penghinaan seperti itu, pendiriannya tetap kokoh untuk membangun bangsanya dengan buah kecerdasannya.


Padahal Beliau adalah sosok raja sempurna yang pastinya di tempatku telah dinanti-nantikan keberadaannya dari dulu.


Beliau kuat bahkan lebih kuat dariku. Beliau mampu mengalahkan sang witch yang dulunya sempat mengalahkan dan mengurungku.


Tidak hanya kuat, Beliau juga cerdas. Telah banyak kudengar penemuan-penemuan Beliau yang meningkatkan kesejahteraan Benua Ernoa ini, mulai dari obat-obatan farmasi, batu mana, artifak-artifak sihir portable, bahkan kudengar alat-alat aneh seperti telepon pintar dan televisi ini juga bagian dari penemuan Beliau.


Tidak sampai di situ, Beliau juga memahami politik dengan sangat baik. Beliau tidak termakan tipu daya politik uang Kekaisaran Tong Kong yang berhasil memenjarakan secara ekonomi banyak kerajaan lain di Benua Asium. Beliau juga menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Geria di Benua Ifrak dan mampu bersikap tegas pada Kerajaan Maosium yang barbar.


Kurang apanya lagi coba Beliau sebagai pemimpin? Aku benar-benar beruntung bisa bertemu dengan sosok pemimpin yang ideal di penghujung masaku ini. Namun, sekaligus aku merasa sedih, mengapa Beliau baru muncul di masa sekarang di kala aku telah berusia 72 tahun? Seandainya saja Beliau yang menjadi rajaku di masa-masa mudaku, maka aku yakin hidupku takkan semenderita sekarang.


Aku sama sekali tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran para pemberontak itu. Mengapa mereka justru menghinakan raja yang sebaik itu?


Itulah sebabnya, tanpa ragu aku akhirnya yang memilih sendiri untuk mengabdikan sisa umurku yang telah di penghujung usia ini demi membawa Beliau ke tempat yang lebih tinggi lagi.


Aku berhasil meredam pemberontakan di timur sekaligus meredam invasi Kekaisaran Tongkong dari arah timur laut benua bersama wanita tangguh bernama Alice. Kuharap sumbangsih kecilku ini bisa sedikit berguna bagi Beliau agar Beliau bisa sedikit leluasa untuk mencanangkan ide-de cemerlangnya demi kemajuan kerajaan ini, tempat di mana kini aku memutuskan untuk menghabiskan masa tuaku.


Sayangnya, krisis benua tidak berakhir sampai di situ. Kini giliran para witch itu mengacaukan bagian selatan benua. Aku pun menerima perintah langsung dari sang raja untuk menekan invasi monster di selatan akibat ulah jahat para witch itu.


Aku segera menyanggupi titah itu. Walaupun aku telah tua, akan kugunakan sisa-sisa tenaga orang tua ini untuk mendukung raja yang baik hati itu.