
“Baik, aku paham. Aku serahkan bajingan itu padamu, Leon.”
Perihal melihat tekad Leon begitu bulat melalui pandangan matanya, Helios pun menyerahkan sang witch Isis untuk ditangani oleh Leon seorang diri.
“Terima kasih, Kak.”
Dengan perasaan senang karena kepercayaan yang diberikan Helios kepadanya itu, Leon pun tanpa sadar menyunggingkan sedikit sudut bibirnya lantas tersenyum.
“Tapi satu hal yang kau harus pahami Leon, musuh yang ada di hadapanmu itu sangat lemah. Jadi jangan pernah terintimidasi oleh alam bawah sadarmu sendiri. Dia bisa seketika menjadi kuat begitu kamu tertipu oleh tipu daya dan ilusinya menganggap dia kuat. Harap camkan itu baik-baik bahwa ini adalah perang mental, Leon.”
“Siap, Kak.”
Leon maju menyerang Isis dengan pedang auranya, namun bagaikan hantu, Isis mampu menghindari setiap serangan Leon itu melalui pergerakan vertikal sangat cepat tanpa menggerakkan satu pun sendi pada tubuhnya.
“Kurang ajar kau, dasar hina! Beraninya kau meremehkan kekuatanku!”
Isis mengeluarkan mana mati lalu itu segera berubah ke dalam bentuk monster sphinx yang berbadan singa tapi berkepala manusia yang bersiap akan menyerang.
Namun itu ternyata bukan menyerang Leon. Sasaran Isis adalah Helios.
-Prang.
Akan tetapi, Isis segera membelalakkan matanya. Sebelum sempat para monster yang terbentuk menyentuh Helios, itu kembali ke dalam wujud mana mati begitu terkena oleh sapuan aura Helios.
“Mustahil!”
“Kau tahu Nenek Tua, kau sangat lemah. Kau… sudah mati.”
Dengan senyum yang mengejek, Helios menatap puas kepada ekspresi Isis yang berkerut. Kelemahan Isis telah diketahui sehingga sejatinya nyawanya telah ada di genggaman Helios kecuali jika Isis berhasil keluar dari tempat itu hidup-hidup.
Isis baru saja men-summon celah dimensional tersebut untuk menjebak ketiga orang itu. Namun kini dia berpikir untuk segera meng-unsummon-nya kembali demi dirinya bisa melarikan diri dari sang hero yang lebih mirip sebagai villain tersebut.
“Apa?”
Akan tetapi hal yang tak diduga oleh Isis terjadi. Dia tidak dapat melakukannya.
“Jangan berpikir untuk bisa kabur dari sini, Nenek Tua. Semua celah dimensional ini telah sepenuhnya beralih ke dalam hukum universal kekuatanku.”
Leon bahkan tak memberikan kesempatan kepada Isis untuk panik karena kini giliran dia yang balik dipermainkan oleh kakaknya, Helios, tersebut.
-Syat, syat, syat.
Dua tebasan meleset, namun tebasan terakhir berhasil mengenai sang witch objek tersebut yang pikirannya telah kacau dalam bercampur amarah karena merasa dipermainkan oleh seorang manusia rendahan.
“Jangan berpikir ini akan berakhir sampai di sini!”
Melalui tongkat ularnya, Isis men-summon kembali mana matinya yang kali ini berubah menjadi pedang-pedang bayangan.
“Rasakanlah ketajaman pedangku ini, hama!”
-Trang, trang, trang, trang, trang.
Leon berhasil menangkis setiap pedang berbentuk bayangan hitam yang diarahkan oleh Isis padanya. Ada enam pedang yang dilayangkan padanya. Namun begitu tersadar, jumlah pedang yang ditangkisnya baru lima. Sebuah pedang baru saja hilang dari pandangan Leon.
‘Aaaakkkkhhhh!”
Syukurlah setidaknya Leon masih bisa menghindari serangan pedang mengenai titik vital di tubuhnya.
“Leon, sudah kubilang ini pertarungan mental! Jangan biarkan baik ucapan maupun tindakannya menggoyahkan pemahamanmu terhadap hukum dunia! Itu word magic! Itu akan kuat jika kamu mempercayainya kuat! Yakinilah kemampuanmu sendiri!”
Helios segera kembali memberikan nasihat kepada Leon di dalam pertarungannya yang tampak tidak menguntungkan di pihaknya.
Dengan frustasi, Leon pun menatap sang witch objek. Itu bukan amarah atau ketidakberdayaan, tetapi percampuran antara keduanya. Leon meratapi ketidakmampuannya, namun dia tidak mau terlarut dalam itu sehingga dia pun berusaha menjaga kembali ketenangannya setenang mungkin demi bisa menemukan celah yang tepat untuk menghabisi nyawa sang witch objek.
-Slash, slash, slash.
Berbagai tebasan dilayangkan sekali lagi oleh Leon kepada Isis, tetapi bagaikan hal murahan, Isis terlihat tidak peduli lantas menangkisnya saja dengan tongkat ularnya. Leon-lah yang justru terpental oleh keoverpoweran Isis.
‘Apakah aku selemah ini?’
Wajah frustasi Leon semakin terlihat. Dia telah membulatkan tekadnya untuk mengalahkan Isis seorang diri tanpa bantuan sang kakak, namun kini dia justru berakhir dalam keadaan menyedihkan seperti itu.
-Trarararang.
Tanpa diduga-duga oleh Leon, mana mati tiba-tiba saja berubah menjadi rantai yang hendak menjeratnya datang dari arah kirinya. Namun, sebuah tameng tak kasat mata telah melindunginya.
“Leon, aku tahu kamu bisa lebih baik dari ini. Maafkan jika bantuanku tidak diperlukan. Hanya saja kuatkan mentalmu. Semakin kau menganggap senjata witch itu berbahaya, maka semakin kuat dia!”
Helios berupaya mengingatkan adiknya agar menguatkan mentalnya untuk menghadapi sang witch objek yang asal kekuatannya dari kelemahan mental lawan tersebut, namun, itu justru semakin membuat Leon frustasi terhadap kelemahannya.
“Maafkan aku, Kak.”
Tanpa memberikan waktu Leon bersedih, Isis segera maju dengan pedang-pedang bayangan hitamnya yang tersummon dari mana mati yang keluar dari tongkat ularnya. Tapi tanpa diduga-duganya, Helios yang justru maju menghempaskan serangan-serangan itu dengan mudah.
“Urgh.”
Sang witch jauh terpental oleh dinding astral sehingga terluka cukup parah.
Mengambil kesempatan itu, Helios menepuk pundak milik adiknya itu.
“Tidak ada salahnya menjadi lemah, Leon. Karena dengan manusia menyadari kelemahan dirinya, mereka memiliki semangat untuk lebih baik ke depannya. Tapi kau tidak selemah yang ada di bayanganmu. Buktinya selama delapan tahun ini, kamu berhasil bertahan hidup bahkan setelah mengalami hal mengenaskan itu, bukan? Jadi percaya dirilah. Percaya diri pada kekuatanmu.”
Serasa ada rasa panas yang menghangatkan hatinya, perasaan Leon terasa lebih baik. Leon seketika mengingat masa lalu sewaktu dia masih kecil di mana dia selalu dilindungi sang kakak.
Namun semenjak ramalan tiran itu, sang kakak jadi dihinakan dan tanpa sadar Leon menatap bahwa punggung kakaknya itu semakin lemah. Dia pun bertekad kali ini dialah yang harus menjadi kuat demi gantian dia yang kini melindungi sang kakak.
Leon berjuang dan terus berjuang hingga akhirnya dia bisa menjadi jenius dalam berpedang dan segala jenis beladiri lainnya di usianya yang masih sangat muda. Lantas sebagai puncaknya, dia bisa menembus kelas swords master di usianya yang baru menginjak 14 tahun kala itu. Helios jenius, tetapi tidak ada yang bisa menolak bahwa Leon juga jenius.
Namun seiring berjalannya waktu, dia pun tersadar bahwa kakaknya selama ini tidak pernah menjadi lemah. Kakaknya hanya terkungkung oleh berbagai tekanan yang ada. Leon pun berbalik arah ingin melindungi kakaknya dengan cara yang lain yakni dengan cara bekerjasama dengan Tius, kakak pertamanya, demi melindungi Helios dari para bangsawan licik dengan menjadi lebih menonjol di istana daripada yang lain.
Dan itu dengan kemampuan berpedang.
Namun, apa yang dibanggakannya itu rupanya kini tidak ada apa-apanya. Kakaknya pun juga sedari awal tidak pernah membutuhkan bantuannya sejak dari dulu sampai sekarang sang kakak memang benar-benar kuat, bahkan, kini sang kakak telah menjadi hero yang menjadi harapan bagi semua orang.
Walau demikian, Leon hanya ingin berguna bagi sang kakak. Tidak, apa yang menjadi harapan terbesarnya adalah bahwa sang kakak bisa kembali meliriknya dengan kebergunaannya itu.
Helios yang terus dikungkung dan diserang dari berbagai arah sampai dikucilkan di istana yang kumuh, telah lama kehilangan senyumnya dan itu justru tanpa sadar telah melukai Leon. Namun kini, Leon akhirnya menyadari bahwa dia telah salah. Helios tetap Helios. Dari dulu sampai sekarang, kehangatan kakaknya tidak pernah berubah.
Dengan sedikit kalimat penghiburan dari Helios, Leon kembali memperoleh kekuatan yang terpenting dari dalam dirinya. Harapan.