
Setelah masalah dengan demon di ibukota yang hampir saja terlepas dari portal berhasil teratasi, aku, Yasmin, dan juga Albert (?), segera bertemu dengan Dokter Minerva untuk menuju ke timur benua demi membantu para pasukan yang sedang berjuang menghadapi invasi pasukan Benua Asium di sana.
Masih ada banyak hal yang ingin kutanyakan pada Albert tentang bagaimana dia bisa selamat dari kematian itu padahal aku telah memastikan sendiri jasadnya yang sudah meninggal. Ada peluang bahwa Albert yang ada di dekatku saat ini adalah berbeda dengan Albert yang aku kenal, namun aku telah lama berada bersama Albert dan aku yakin benar bahwa baik dari aliran mana, pembawaan, karakternya, kekikukannya, bahasa tubuhhnya, itu jelas-jelas adalah Albert.
Aku sampai meragukan penglihatanku sendiri bahwa jangan sampai aku hanya sedang berhalusinasi. Namun sejak Yasmin juga bisa melihatnya, itu jelas bukan ilusi. Dokter Minerva juga jelas melihat keberadaannya, walaupun aku sedikit heran mengapa dia bisa sesantai itu melihat orang yang seharusnya sudah mati ternyata masih hidup. Tapi yah, itu bukan adalah sesuatu yang penting untuk kuketahui.
Yang jelas Albert benar-benar masih hidup dan ini bukan mimpi dan jelas bukan khayalanku semata. Itu sudah cukup bagiku.
Namun begitu rombongan kami tiba di perbatasan timur benua, aku bisa melihat area buff raksasa menyelubungi tubuh para prajurit yang meningkatkan kemampuan serta stamina mereka dari segala aspek. Hal itu pun membuat para prajurit mampu bertahan dengan baik bersamaan dengan para golem es-ku walaupun harus menghadapi senjata tak teridentifikasi yang nampak berasal dari peradaban yang jauh lebih modern.
Aku kemudian menoleh ke belakang untuk mengungkapkan strategiku kepada Yasmin, Dokter Minerva dan juga Albert. Namun saat kuperhatikan baik-baik, sosok Albert telah menghilang. Begitu kubertanya baik kepada Yasmin maupun kepada Dokter Minerva, jawaban keduanya sama, mereka tidak tahu seolah Albert menghilang ke udara kosong begitu saja.
Aku seketika merasakan merinding di sekujur tubuhku bahwa jangan-jangan itu memang adalah Albert, tetapi dalam wujud hantunya yang tidak tahan melihat masternya yang masih hidup di dunia berjuang dengan putus asa tanpa bisa berbuat apa-apa tanpa dirinya, makanya sampai merealisasikan wujudnya kembali sekadar untuk salam perpisahannya yang kedua setelah membantu masternya itu.
Walau demikian, walau itu hantu Albert sekalipun, entah mengapa hatiku merasakan kehangatan alih-alih merasa horor.
Aku memang picik ya. Aku terlalu menggantungkan diri pada kekuatanku sehingga di kala kekuatan itu kurang, aku hanya dapat berputus asa.
Tidak, sebagai kaisar Kekaisaran Meglovia, sebagai pondasi utama berdirinya negeri ini, aku tidak boleh lemah. Demi semua orang yang menganggap Benua Ernoa ini sebagai rumah mereka, aku harus selalu harus berdiri tegar.
Melupakan soal Albert yang nyata atau tidak, cahaya putih ini juga merupakan misteri. Dilihat dari kekuatan sucinya, orang yang bertanggung jawab membuat area buff ini pastilah berada di tingkat yang lebih tinggi lagi dibandingkan sekadar arch priest biasa. Mungkin seorang grand priest?
Apapun itu, berkatnya, situasinya jadi berbalik menjadi momentum kemenangan pasukan kami.
Aku bisa melihat bagaimana Alice yang paling menonjol di antara para prajurit lainnya, menumbangkan satu-persatu para burung yang terbuat dari baja itu dengan magic swords-nya. Ledakan-ledakan yang datang dari burung baja itu pun berhasil ditangkis dengan baik oleh area buff yang asal keberadaannya masih sangat misterius itu.
Selain itu, ada juga Buron yang dengan telanjang kaki berlari di atas air untuk menumbangkan kapal-kapal yang juga terbuat dari baja sembari menghindari tiap meriam yang ditembakkan oleh kapal-kapal tersebut.
Senjata-senjata yang ditunjukkan oleh tentara Benua Asium tersebut benar-benar canggih melampaui zamannya yang levelnya jauh di atas kami sampai-sampai aku pun terkagum-kagum karenanya dan merasa sangat pula ingin memiliki teknologi yang seperti itu.
Hanya ada satu kunci yang menyebabkan prajurit kami yang walaupun melawan teknologi modern secanggih itu bisa melawan balik bahkan mengunggulinya adalah karena keberadaan area buff ini.
Aku pun jadi bertanya-tanya, siapa sebenarnya grand priest yang telah berjasa membantu kami tersebut?
Pertarungan yang dikira akan berlarut-larut, dengan mudah kami menangkan hanya dalam waktu tiga hari tiga malam, terima kasih berkat support area buff yang terasa takkan pernah habis-habis keberadaannya ini.
Para tentara gabungan negara-negara di Benua Asium pun satu-persatu mulai menarik ekor mereka, lantas kembali ke benua mereka, pastinya dengan perasaan malu.
Nyatanya sikap dingin persatuan negara-negara Benua Asium tidak selesai sampai di situ. Mereka belum mengajukan gencatan senjata bahkan setelah kekalahan mereka. Mereka pasti berpikir bahwa karena terpisah oleh samudra yang luas kami tidak bisa berbuat apa-apa terhadap negara mereka.
Mereka tahu betul keadaan Kekaisaran Meglovia yang masih lemah dalam hal kekuatan tempur maritim.
Melupakan soal itu, setelah kalah dalam adu kekuatan, kini mereka tidak henti-hetinya menyebarkan rumor bahwa kekaisaran kami bersekutu dengan bangsa iblis dan itu menjadi pembenaran mereka untuk meruntuhkan pundi-pundi kekaisaran kami dengan segala cara.
Aku bisa menangkap dengan jelas bahwa Kerajaan Indonesista dan Kerajaan Rosea, mantan sekutu kami sebenarnya juga terpaksa ikut-ikutan dalam perang karena mungkin khawatir dengan sanksi pengucilan mereka di Benua Asium.
Pusat dari perang ini tidak lain adalah dari Kekaisaran Tong Kong dan Negara Republik Joupun. Tampaknya, alih-alih alasan soal bersekutu dengan bangsa Iblis, mereka menggencarkan perang ini adalah untuk meninggikan nama ras rambut hitam mata hitam di tengah dunia sebagai bangsa paling superior dengan mengalahkan bangsa kami yang selama ini dianggap sebagai bangsa paling superior di dunia.
Yah, tapi tidak seharusnya aku yang bilang seperti itu sejak aku juga berambut hitam serta bermata hitam. Lagian, statement bahwa ras berambut pirang adalah ras yang paling superior di dunia semuanya hanyalah tipu daya Baal demi melengserkan keberadaan pahlawan dunia ini melalui sentimenisasi publik yang tidak lain adalah aku sendiri.
Namun, tipu daya itu telah mengakar kuat selama ribuan tahun sehingga tentunya sulit lagi untuk diubah.
Aku bahkan sampai heran, apa pentingnya warna rambut, warna mata, serta warna kulit seseorang sampai-sampai itu disoroti sampai segitunya. Bukankah selama orang tersebut ramah, memiliki sopan santun yang baik, serta telaten dan mengerjakan pekerjaannya dengan baik, itu sudah cukup? Tidak perlu mengurusi tentang apa yang sudah menjadi anugerah orang lain sejak terlahir ke dunia.
Akan sulit untuk menjatuhkan Benua Asium dalam keadaan yang sekarang. Tapi kalau dua negara sialan itu tetap bersikeras mau menjatuhkan kekaisaran kami dengan cara yang licik, maka aku tidak akan segan-segan menjatuhkan mereka dengan melakukan hal yang sama.
Itu tentunya adalah proses yang sangat lama dan tak bisa dilakukan secara instan. Itulah sebabnya di penghujung malam ini, aku menyudahi segala aktivitasku untuk merasakan nikmatnya dunia dengan menari di atas tempat tidur bersama istriku.
Akan tetapi, begitu aku hendak akan meninggalkan ruangan kantorku itu, tiga sosok pun tiba-tiba mendatangiku.
Salah satunya adalah Dokter Minerva yang membawa dua sosok lain melalui portal buatannya. Namun kedua sosok lainnya seketika membuat aku terperangah. Salah satu dari mereka adalah Albert. Aku benar-benar sama sekali tidak bermimpi atau berkhayal kali ini dan dia juga jelas bukan sosok hantu sejak aku bisa merasakan kehangatan tangannya.
“Ah, maaf, Master, karena sebelumnya tadi tiba-tiba pergi.”
“Ah… Iya… Oke.”
Aku terbata-bata menanggapi pernyataan Albert tersebut saking aku shok bercampur senangnya akan apa yang aku saksikan di hadapan mataku. Entah sebodoh apa tampangku kala itu, aku juga tidak bisa membayangkannya.
Lalu sosok yang satunya lagi adalah juga orang yang dulunya sudah dikira mati oleh semua orang.
“Di sebelahmu, Albert?”
“Ah, maaf Master karena terlambat memperkenalkan. Orang ini adalah Albexus star Vlonhard, mantan putra mahkota Kekaisaran Vlonhard…”
“Aku bertanya bukannya karena tidak mengetahui identitasnya sejak dia adalah orang yang cukup terkenal.”
Aku segera memotong ucapan Albert itu sebelum dia lanjut berbicara hal-hal yang bukan itu yang ingin aku ketahui.
“Yang aku tanyakan adalah mengapa sosok yang dikira mati oleh semua orang itu juga ada di dekatmu?”
Albert terlihat terdiam. Dia tampaknya hesitasi dalam menjawab pertanyaanku.
Dokter Minerva-lah yang kemudian melanjutkan pembicaraan tersebut.
“Agak sedikit rumit untuk menjelaskan detailnya kepada Anda sekarang, tetapi yang perlu Anda tahu bahwa mereka ini adalah bantuan yang luar biasa bagi pasukan kita menghadapi perang melawan bangsa iblis nantinya.”
Aku tidak mungkin tidak mengetahui fakta itu sejak aku kenal benar bagaimana hebatnya Albert sebagai seorang pemain pedang. Tapi bukankah mereka harus menjelaskan dulu bagaimana mereka yang seharusnya sudah mati itu nyatanya masih hidup?
Tentu saja aku senang dengan fakta bahwa Albert masih hidup. Hanya saja aku ingin mengetahui detailnya, terutama penderitaan apa saja yang telah dilalui olehnya di masa-masa yang aku tidak mengetahuinya. Ini murni perihal pencerminan rasa khawatirku padanya.
Dan juga, aku sedikit kesal, tidak, sangat kesal karena rupanya Dokter Minerva menyembunyikan rahasia yang sangat besar selama ini di belakangku.
“Oh iya, Albexus inilah yang telah melakukan area buff yang menjadi kunci kemenangan pasukan kita sebelumnya melawan tentara Benua Asium.”
Hal yang tak terduga pun disampaikan oleh Dokter Minerva padaku. Padahal baru saja aku akan mencari orang yang bersangkutan ke seluruh pelosok negeri tentang siapa grand priest misterius yang telah mendukung prajurit kami itu dalam mengusir tentara Benua Asium dengan memalukan hingga memperoleh kemenangan.
Padahal aku baru saja memantapkan diri akan melakukan apa saja yang dibutuhkan untuk menemukannya saking kunilai berharganya-lah kemampuan dari sang grand priest itu.
Siapa yang menduga bahwa grand priest yang bersangkutan-lah yang justru mendatangiku sendiri secara langsung.
“Tetapi memangnya sedari awal Albexus itu seorang priest?” Aku bertanya dengan heran karena setahuku Albexus yang kukenal adalah seorang pemain pedang.
Dari situlah aku mengetahuinya, sejatinya Albexus menyembunyikan kelas sesungguhnya dari sang Kaisar Ethanus karena tak ingin dinilai lemah sehingga posisinya sebagai putra mahkota menjadi terancam. Yah, bukan hal yang penting lagi untuk diketahui di masa ini sejak Kaisar Ethanus sudah lama berpindah alam.
Namun kemudian, Dokter Minerva pun menatapku dengan serius. Dia akhirnya akan mengatakan alasan mengapa mereka menemuiku secara bersamaan di penghujung malam itu.
Suatu alasan yang benar-benar serius.