Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 135 – SANG RAJA BARU



Karena Ibunda Theia yang semakin sering sakit-sakitan, pemilihan raja baru Kerajaan Meglovia pun dipercepat. Walaupun dikatakan pemilihan, itu hanyalah sekadar formalitas belaka karena satu-satu-satunya kandidat raja yang tersisa hanyalah aku seorang.


Aku sebenarnya tidak ingin menjadi raja. Sedari awal, aku bukanlah seseorang yang terobsesi dengan yang namanya kekuasaan, malahan yang ada, aku sangat membencinya. Bayangkan saja, siapa juga orang waras yang mau-maunya tiba-tiba disuruh mengurusi seisi penduduk kerajaan. Bukannya dapat imbalan, malahan nyawa kita yang akan jadi sering menjadi incaran baik dengan assasinasi maupun dengan racun.


Tetapi aku tetap harus melakukannya. Demi melindungi Helion, Talia, serta ibu dan adikku, Ilene, keluargaku yang tersisa, dan juga seluruh bawahanku yang mempercayakan nyawa mereka di tanganku, aku harus berdiri di puncak itu untuk mereka.


Hanya orang hipokrit atau kalau tidak, orang bodohlah yang akan mengatakan mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan diri dan keluarga. Nyatanya, kamu berjuang demi negara untuk melindungi diri dan keluargamu. Apalah gunanya negara nan jaya jika kamu dan keluargamu sendiri tidak turut merasakan kejayaan itu.


Voting senat pun dalam waktu singkat dilaksanakan. Dari 120 anggota senat yang terdiri dari kelompok bangsawan berbagai faksi, hanya 79 orang yang berkesempatan untuk hadir. Seluruh faksi bangsawan timur dan selatan tampaknya berhalangan untuk hadir, begitu pula dengan ayah Kak Vierra.


Untuk ayah Kak Vierra, aku sedikit memakluminya perihal kekhawatirannya saat ini terhadap nasib putrinya pasca ditinggal pergi oleh Kak Tius. Aku sudah menyelidikinya dengan familiarku, tampaknya saat ini Marquise Andrew van Peronaz, ayah Kak Vierra, sedang berusaha menjalankan rencana untuk membawa kabur Kak Vierra keluar dari benua.


Aku tidak menyalahkannya untuk mengambil keputusan ekstrim yang demikian. Meskipun dia tahu itu adalah tindakan berbahaya yang bisa berakhir dengan dirinya dan seluruh keluarganya yang lain mengakhiri hidup mereka di guillotine, Marquise Peronaz tetap melakukannya. Itu semua karena bentuk cintanya kepada putri semata wayangnya itu.


Jelas Marquise Peronaz tidak akan rela jika anaknya harus menghabiskan seluruh sisa hidupnya di dalam kurungan pengasingan kuil suci tanpa bisa hidup layaknya manusia yang bebas lagi.


Aku mengerti perasaan Marquise Peronaz. Hanya saja, apakah itu tindakan yang tepat untuk dilakukan? Apakah hidup di luar kerajaan dengan dianggap sudah mati akan benar-benar memberikan Kak Vierra kebahagiaan?


Jika Kak Vierra benar-benar melakukannya, dia tidak akan bisa bertemu lagi dengan orang yang selama ini dikenalnya dan hidup dengan identitas yang benar-benar baru di tanah asing. Masih mungkin jika sesekali dia bertemu ayah dan ibunya, walau demikian itu akan menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan.


Akankah Kak Vierra benar-benar bahagia hidup seperti itu, hidup sebagai orang lain di tanah asing? Walau demikian, sampai saat ini pun aku belum menemukan solusinya.


Aku sempat berpikir untuk membantu upaya Marquise Peronaz tersebut dengan menambahkan Damian di dalam rencananya. Mungkin dengan hidup berdua bersama Damian, orang yang benar-benar mencintai Kak Vierra, Kak Vierra akan hidup bahagia. Namun rupanya aku salah. Kak Vierra menyayangi Damian benar-benar hanya sebatas teman. Lagipula, entah mengapa aku merasakan firasat tak enak yang tak terjelaskan pada Damian.


Aku selalu percaya bahwa aku memiliki insting yang tajam sebagai hasil evolusi kesensitifan mana-ku untuk bisa merasakan sifat asli seseorang. Karena tidak banyak kasus seperti aku, maka sampai saat ini, itu hanyalah menjadi hipotesis belaka yang belum aku buktikan kebenarannya secara ilmiah. Namun setidaknya, itu yang aku yakini bahwa aku bisa merasakan hal yang demikian.


Makanya aku waspada terhadap Damian dan agak sangsi mempercayakan Kak Vierra padanya. Namun anehnya, sejauh aku menelisik kehidupan pribadi anak itu, belum satupun kejanggalan yang bisa aku temukan padanya. Damian benar-benar bersih. Jika sampai ini hanyalah prasangka burukku terhadapnya, tentu aku akan merasa bersalah padanya.


Namun, tidak salah kan jika seseorang bersikap hati-hati kepada orang yang dirasakannya mencurigakan?


Itu tadi tentang Marquise Peronaz. Lalu sisanya yang tidak hadir adalah para faksi bangsawan timur dan selatan, mantan pendukung Pangeran Leon yang korup. Aku sebenarnya dari awal merasakan ketidakenakan terhadap gerak-gerik mereka yang mencurigakan belakangan ini dan kini itu bertambah kuat dengan ketidakhadiran mereka di rapat senat luar biasa yang sangat menentukan masa depan kerajaan ini.


Mungkin saja itu sebagai bentuk berkabung dan dukungan kesetiaan mereka sampai akhir kepada mendiang Pangeran Leon, tetapi bisa saja mereka merencanakan skema berbahaya.


Skema paling berbahaya yang bisa terpikirkan olehku adalah pemberontakan dalam negeri di kala situasi kerajaan sedang panas-panasnya menjelang perang besar-besaran terhadap Kekaisaran Vlonhard yang tidak bisa lagi ditemukan titik diplomasi secara damai.


Itulah sebabnya untuk saat ini, aku menempatkan para familiarku di wilayah-wilayah tersebut untuk benar-benar mengawasi mereka. Jika aku terpilih menjadi raja, maka langkah pertama yang aku lakukan bukanlah mempersiapkan perang terhadap kekaisaran, tetapi tampaknya aku perlu untuk ‘mendisiplinkan’ mereka.


Voting senat bangsawan pun usai dilakukan. Hasil voting menunjukkan 51 suara dukungan terhadapku, sementara 28 sisanya memilih untuk abstain. Bagaimana pun, voting hanyalah sekadar formalitas belaka. Walaupun hanya satu suara yang mendukungku, aku tetap akan terpilih menjadi raja baru sejak tidak adanya kandidat saingan.


Itu pasti berkat perjodohan Lilia, cucu Duke Rodriguez, dengan Albert, tangan kananku.


Dengan demikian, aku sebagai calon tunggal kandidat raja pun, akhirnya benar-benar terangkat menjadi seorang raja, walaupun peresmiannya masih harus menunggu beberapa hari lagi.


Di luar dugaan, stabilitas politik di Kerajaan Cabalcus juga pulih dengan cepat berkat bantuan Kerajaan Meglovia dan Kerajaan Ignitia dengan naiknya Pangeran Stephanus de Cabalcus sebagai pimpinan sementara kerajaan itu.


Akan tetapi, muncullah hal yang lebih di luar dugaan lagi, baik Kerajaan Cabalcus maupun Kerajaan Ignitia tiba-tiba saja memutuskan untuk bergabung bersama Kerajaan Meglovia di bawah bentuk negara dominion dengan Kerajaan Meglovia sebagai pimpinannya.


Tidak, dengan bergabungnya kedua kerajaan itu di bawah pundi-pundi kami, kami bukan lagi disebut kerajaan, melainkan kekaisaran. Sejak saat itu, resmilah pembentukan kekaisaran kedua di benua itu, Kekaisaran Selatan Meglovia.


Para raja dua negara bawahan kami tidak lagi menyandang gelar bawaan kerajaan mereka, tetapi mengikuti tradisi kerajaan, tidak, maksudku tradisi kekaisaran kami.


Paman Algebra Star Ignitia berganti nama menjadi Grand Duke Algebra van Ignitia, sementara Pangeran Stephanus de Cabalcus berganti nama menjadi Grand Duke Stephanus van Cabalcus.


Awalnya memang merepotkan, kekaisaran baru itu benar-benar disibukkan dengan segala urusan sembari kami tetap harus memperhatikan gerak-gerik Kekaisaran Utara Vlonhard.


Tampaknya mereka masih dalam tahap persiapan perang karena mereka tahu betul jika mereka memulai peperangan sekarang, diri mereka sendiri yang akan dirugikan sejak sekarang adalah masuk bulan ke-12 di mana puncak-puncak dinginnya wilayah kekaisaran utara tersebut.


Sekuat apapun mereka, mereka tidak akan bertahan jika kehabisan pangan.


Namun itu bukan berarti pula kami bisa menyerbu mereka sekarang di tanah mereka sendiri. Wilayah selatan secara geografis diuntungkan dari lekuk pegunungannya. Oleh karena itu, perang defensif akan lebih baik bagi kami daripada kami sendiri yang harus menyerbu dalam menyerang.


Terlebih situasi kekaisaran utara yang dingin, akan menimbulkan masalah bagi kesehatan para prajurit yang tidak terbiasa dingin. Aku khawatir jika justru akan terjadi endemic. Alih-alih kalah karena senjata, aku malah khawatir kami akan kalah dengan memalukan karena cuaca dingin.


Tentu saja itu tidak berlaku untukku yang memiliki suhu tubuh yang lebih rendah daripada rata-rata orang normal.


Berdasarkan prediksiku, kemungkinan kekaisaran utara akan menyerang sekitar bulan ke-3 di tahun depan, tepat setelah berakhirnya musim dingin di sana. Itu berarti kami punya persiapan maksimal tiga bulan sebelum menghadapinya.


Yang penting aku persiapkan sekarang adalah pelatihan prajurit, persenjataan, perlengkapan pakaian perang, dan tidak lupa pentingnya, pangan.


Karena kami benar-benar kekurangan pangan untuk memberi makan seluruh prajurit yang akan terlibat perang, maka aku pun mempercayakan bawahanku dari wilayah grand duchy Ignitia untuk menjalin kontak dengan Negara Tong Kong di Benua Asium untuk menjalin kerjasama perdagangan pangan dengan mereka.


Walau demikian, mungkin bukan keputusan yang bijak pula jika membiarkan masa jeda perang berlama-lama. Kekaisaran utara pastinya akan lebih banyak lagi menyediakan prajurit first order mereka, yang berarti semakin banyak pula korban dari budak dan rakyat jelata di sana.


Namun yang tak kalah mengganggunya pikiranku saat ini adalah desakan dari para bangsawan ibukota untuk segera mengusir Kak Vierra dari istana atas dasar konstitusi Kekaisaran Selatan Meglovia (Kerajaan Meglovia) tersebut.