Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 172 – ARTI SEORANG GRAND MASTER



Monster-monster terbang pun menyerbu dari arah Benua Arteik menuju ke benteng pertahanan Kekaisaran Meglovia yang terletak di ujung utara Benua Ernoa.


Para prajurit pemanah berupaya menahannya menembus benteng pertahanan, namun hampir sebagian besar monster justru tidak menggubris serangan itu saking lemahnya.


Hanya beberapa swords master yang jumlahnya tidak lebih dari seratus serta beberapa wizard yang terbukti serangannya efektif kepada sang monster. Para prajurit biasa pun, alih-alih menyerang monster dengan serangan yang tidak efektif, akhirnya memutuskan untuk fokus melindungi para wizard serta mendukung para swords master saja yang terbukti serangannya efektif kepada sang monster.


Kebanyakan para swords master adalah penyerang jarak dekat. Itulah sebabnya ketika menyerang lawan dalam jarak jauh, mereka biasanya menggunakan gaya bertarung menembakkan aura mereka. Namun, itu sebenarnya adalah gaya bertarung yang menyita cukup mana.


Pada dasarnya, swords master berbeda dengan kelas wizard dan champion, terkecuali seorang magic swordsman. Mereka memiliki jumlah mana pool yang relatif lebih kecil sebagai ganti daya serang mereka yang lebih kuat dalam pertarungan secara langsung. Itulah sebabnya gaya bertarung jarak jauh yang menembakkan mana dengan memanfaatkan jumlah mana pool di dalam diri mereka adalah tidak efisien untuk para swords master.


Itu tidak terkecuali pada Albert.


Albert berjuang dengan segenap jiwa raganya untuk mempertahankan benteng pertahanan beserta para prajurit yang berada di bawah tanggung jawabnya. Dia mengumpulkan segenap auranya pada pedang besarnya untuk kemudian ditembakkan kepada para monster yang datang menyerbu.


Akan tetapi, bagaimanapun Albert berusaha, dia hanya mampu mengenai satu atau dua monster saja tiap sekali serangan. Bagaimanapun simpelnya pemikiran Albert, dia juga bisa segera tahu bahwa metode penyerangan seperti itu tidaklah efektif dengan keterbatasan mana pool miliknya.


“Apa yang harus kulakukan?” Sambil terengah-engah, Albert dengan otaknya yang sederhana itu berupaya berpikir untuk menemukan metode serangan yang lebih efektif.


***


Beberapa tahun lalu ketika Helios masih menjadi pimpinan Kota Painfinn dengan Albert sebagai tangan kanannya.


“Ada apa, Albert? Kok ekspresimu begitu?”


“Ah, Master. Bukan apa-apa.”


“Kamu bilang bukan apa-apa, tetapi aku bisa melihat kamu sedang memikirkan masalah yang besar.”


“Tidak sebesar itu kok, Master.”


Helios yang kesal melihat Albert yang terus menghindari pertanyaannya itu akhirnya mendekatkan wajahnya ke Albert dengan ekspresi yang serius.


“Jadi, sekarang katakan ada apa?”


Setelah lama terdiam, Albert pun menjawab pertanyaan dari masternya itu.


“Ini benar bukan apa-apa, Master. Aku hanya sedang berpikir agar bagaimana caranya aku dapat lebih kuat agar aku bisa menjadi pelindung Master yang lebih baik lagi.”


-Tak.


“Ouch! Master, mengapa memukul kepalaku?”


“Itu karena kamu bodoh.”


“Aku sudah tahu itu dari dulu, Master.”


“Kalau kamu sudah tahu, mengapa mesti repot-repot menggunakan otakmu yang sesederhana milik siput itu untuk berpikir keras?”


Mendengar jawaban dari masternya yang keras itu, nyali Albert seketika ciut dengan kesedihan yang tak terukirkan. Albert terdiam tanpa sanggup untuk mengatakan apa-apa.


“Tapi bahkan kamu yang bodoh itu pun punya kelebihan yang istimewa, Albert.”


“Apa itu, Master?”


“Kamu itu punya insting yang tajam. Jadi jikalau ada masalah seperti ini, alih-alih dipikirkan, mengapa tidak mempercayai instingmu saja untuk menyelesaikannya? Kalaupun itu salah, ada aku di dekatmu yang akan mengoreksi kesalahanmu itu.”


Albert sedikit kesal karena diperlakukan terlalu seperti orang bodoh oleh masternya. Tidak, dia tidak dapat mengelak itu sejak dia memang bodoh, atau lebih tepatnya, Albert terlalu polos dan berpikiran simpel sehingga dia tidak akan memahami makna tersembunyi dan niat jahat orang-orang yang tertuju padanya.


Namun selama itu, akan ada selalu Helios yang melengkapi kekurangan Albert itu.


Albert tidak masalah terhadap itu, setidaknya itu sampai empat tahun yang lalu. Selama ini dia berpikir bahwa masternya memiliki badan yang rapuh walaupun sangat hebat dan bertalenta dalam pertarungan. Itulah yang menjadikan tekad Albert bulat untuk menjadi tameng bagi Helios dalam setiap pertarungannya.


Namun dalam perang akhir Kekaisaran Meglovia melawan Kekaisaran Vlonhard di mana dimenangkan oleh Kekaisaran Meglovia itu, Helios turun sendiri tanpa dukungan sebagai pemain kunci kemenangan Kekaisaran Meglovia dengan mengalahkan sang grand master, Kaisar Ethanus.


Di situlah Albert menyadari bahwa dia telah salah. Masternya tidaklah serapuh yang dibayangkannya. Sejak awal, Helios tidaklah membutuhkan dirinya sebagai tamengnya.


Albert yang merasa kecewa akhirnya memutuskan untuk mandiri dengan menerima misi dari masternya sebagai pemimpin wilayah Lugwein. Namun bahkan di masa-masa itu, terkadang Albert tetap memperoleh beberapa saran dari sang master. Itu karena Albert lemah dalam menyusun strategi, dan Albert membenci dirinya yang seperti itu.


Tetapi di pertempuran kali ini, Albert harus berdiri seorang diri memimpin ratusan ribu prajurit untuk menghalau invasi para monster terbang tanpa bantuan sang master.


Di kala itulah, perkataan sang master kembali terngiang di benak Albert.


“Kamu itu punya insting yang tajam. Jadi jikalau ada masalah seperti ini, alih-alih dipikirkan, mengapa tidak mempercayai instingmu saja untuk menyelesaikannya?”


Albert pun mengonsentrasikan pikirannya sejenak untuk mengatur ulang sirkulasi aura di pedangnya.


Seketika, ukuran astral aura pedang Albert memanjang hingga mencapai ke udara.


[Benar. Dengan ukuran segini, ini akan mampu menjangkau para monster yang ada di udara.]


“Hiyaaaat!”


Albert pun melayangkan pedangnya ke udara dan menebas para monster. Terbukti, serangan Albert kali ini lebih efektif karena berhasil menjatuhkan banyak monster dalam sekali serang yang berada pada garis lurus serangannya.


[Tidak. Ini belum cukup. Aura pedangku terlalu tipis sehingga tidak bisa memberikan impak serangan yang cukup pada monster yang jaraknya lebih jauh. Tapi jika aku menambah kekuatan serangannya lagi, tubuhku tidak akan sanggup untuk menahan momentumnya. Haruskah aku menambah jumlah perlindungan auraku?]


[Tidak, itu malah akan jadi memantul pada para prajurit di sekitarku sehingga justru merekalah yang akan dalam bahaya terkena momentum auraku menggantikanku.]


[Lantas apa yang harus kulakukan?]


[Itu benar. Jika mematulkannya dengan perlindungan aura terlalu berbahaya, mengapa aku tidak menyerap momentumnya saja ke tubuhku? Selama aku membangun pertahanan di tiap bagian penting sirkuit mana-ku, aku yakin ini tidak akan membahayakan tubuhku.]


Demikianlah Albert kali ini men-summon aura di pedangnya dengan ukuran yang lebih tebal.


“Hiyaaaat!”


Dalam sekali tebasan, ratusan monster berjatuhan karena terkena api ledakan serangan Albert. Dalam sekejap, melalui instingnya, Albert berhasil menemukan metode terefektif bagi seorang swords master seperti dirinya untuk menghapi para monster yang bisa terbang di udara.


“Pemimpin telah menunjukkan kita caranya! Apa kalian tidak malu sebagai seorang swords master, kalian lemah begini? Ayo tunjukkan pada pimpinan kalau kita juga bisa!”


Teriakan salah seorang prajurit swords master lainnya lantas membangunkan tekad para prajurit swords master yang lain untuk melakukan yang terbaik. Dengan Albert sebagai panutan mereka, kegentaran mereka di medan pertempuran seketika sirna.


Dalam waktu singkat, situasi putus asa di perbatasan utara Benua Ernoa berubah menjadi harapan yang diawali oleh langkah kecil Albert.


Tiba-tiba Albert menatap ke arah kosong dengan pandangan yang linglung.


“Ini?”


Mungkin saking linglung-nya, Albert sama sekali tidak menyadari bahwa telah ada beberapa monster terbang yang hendak menyergapnya dari arah titik butanya.


Namun kemudian sebelum para monster itu sempat menyerang,


-Trak, trak, trak.


Beberapa panah api melubangi kepala-kepala sang monster.


“Hei, Bodoh! Mengapa kamu justru melamun di situasi ini?! Kamu mau mati, hah?! Jika kamu mati, siapa yang akan melindungi Master di sisi kanannya sejak aku adalah pemiliki sisi kiri Master?”


Albert seketika menatap sosok itu dengan penuh kebingungan.


“Yasmin? Mengapa kamu justru ada di sini? Tidak, tidak, tidak. Selama ini kamu kabur ke mana sih sampai-sampai membuat Master khawatir?!”


“Aku tidak pernah sekalipun kabur. Aku hanya… Ah, sudahlah! Nanti akan kuceritakan setelah kita mengalahkan para monster itu. Kamu juga! Mengapa kamu bisa-bisanya bengong seperti orang bodoh di tengah pertarungan?”


“Ah, bukan apa-apa. Aku hanya baru saja naik level lagi setelah tiga tahun lamanya dan itu alih-alih naik ke swords master level 8, aku justru terpromosikan menjadi grand master keempat di dunia sejak dua puluh tahun terakhir ini. Benar-benar bukan apa-apa.”


“Hah, masalah sesepele itu saja membuatmu lengah.”


Albert hendak bereufimismik. Namun mendengar Yasmin menanggapinya justru dengan persetujuan bahwa itu memang bukan apa-apa, entah bagaimana membuat Albert sedikit kesal.


Itu karena menjadi grand master adalah anugerah terbesar tiap pemain pedang mana pun. Namun dia segera sadar bahwa itu bukanlah saatnya untuk membahasnya. Albert pun hanya berdengus dan mempercayakan punggungnya kepada Yasmin.


Demikianlah pertarungan berjalan semakin mudah dengan turut masuknya Yasmin ke arena pertempuran. Dalam sekejap, serbuan monster terbang dari Benua Arteik berhasil diatasi.


Albert dengan bangga hendak pulang ingin menyombongkan kemenangannya kepada para bangsawan licik yang selalu saja mengganggu masternya itu dari belakang. Terlebih-lebih dia baru saja berhasil mencapai puncak seorang pemain pedang, seorang grand master. Namun rupanya, justru kabar memilukanlah yang menanti Albert di Ibukota Megdia itu.


“Master?”


“Maaf, Albert. Seharusnya aku yang pergi seorang diri ke medan tempur itu. Jika demikian, kamu pasti bisa menghabiskan waktu-waktu terakhir Lilia bersama-sama. Maaf… Maaf… Maaf.”


Albert tak mampu memberikan tanggapan apa-apa pada Helios yang memeluknya dengan isak tangis. Pikirannya seketika kosong.


Lilia telah meninggal.