
Sang kepala kuil suci kemudian mengajak aku memasuki ruangannya. Namun, begitu Albert hendak turut masuk ke dalam, sang rahib paruh baya segera mencegahnya. Aku pun menenangkan Albert hingga akhirnya walau dengan merengus, dia bersedia menunggu di luar bersama rahib paruh baya itu.
“Suatu kehormatan atas kunjungan Anda, Yang Mulia Pangeran.”
Walaupun ucapan sang kepala kuil suci terkesan ramah, namun tak terlihat sama sekali ketulusan di balik ucapannya. Yang ada, malah terlihat sang serigala tua yang berusaha menyembunyikan taringnya.
“Tidak, tidak, tidak. Justru aku yang merasa terhormat atas undangan Anda, Rahib Vindycta.”
“Oho, aku merasa tersanjung mendengarnya, Yang Mulia Pangeran. Belakangan, aku memang banyak mendengar kesuksesan Yang Mulia Pangeran. Tidak hanya berhasil mengatasi krisis di kota barat, sampai-sampai juga mengatasi wabah mematikan di kota utara. Setelah aku bertemu Yang Mulia secara langsung, sekarang aku mengerti. Itu rupanya karena Anda memang orang yang pandai mengambil hati orang lain.”
Ketimbang memuji aku berbakat, Rahib Vindycta lebih memilih mengatakan aku sebagai orang yang pandai mengambil hati orang lain. Jelas apa yang coba dia ingin katakan. Semua prestasi yang aku dapatkan selama ini bukan murni atas upaya kerja kerasku, melainkan hanya karena aku pandai berdiri di depan mengambil prestasi orang lain dengan tampil sebagai pemimpinnya.
“Hahahahahaha. Begitukah menurut Anda? Aku merasa tersanjung pula mendengarnya. Tapi ngomong-ngomong, bukankah saatnya Anda mengungkapkan tujuan Anda mengundangku kemari?”
Aku terus terang saja tidak ingin berlama-lama lagi di sini merasakan suasana yang canggung ini. Aku pun segera menyuruhnya untuk to the point saja.
“Ngomong-ngomong, Yang Mulia Pangeran, bagaimana menurut Anda tentang eksistensi dewa?”
“Ha, kalau berdasarkan pemahaman kuil suci sekte penyembah api suci, bukankah itu semacam spirit yang terkumpul dari eksistensi kepercayaan para pemuja api suci?”
Rasanya ingin aku muntah mengatakan hal itu. Jelas-jelas di kekaisaran kuno yang merupakan asal-muasal Kerajaan Meglovia, sama sekali tidak ada sejarah tentang penyembahan kepada benda mati. Menyembah api suci, menyembah matahari, menyembah bintang, semuanya hanyalah omong kosong.
Kuil suci sejatinya telah menutup-nutupi keberadaan tuhan yang sebenarnya dengan hal absurd yang menyuruh kita melakukan pemujaan kepada benda mati yang jelas-jelas takkan pernah memberikan manfaat apapun kepada makhluk hidup. Dengan lihainya, kuil suci menutupi semua sejarah yang sebenarnya, bahkan dengan semua intelijen yang kukumpulkan, aku tak sanggup menemukan arsip satu pun.
“Yang Mulia Pangeran memang berpengetahuan luas…”
“Kubilang sudah cukup dengan basa-basi itu. Tidak mungkin Anda mengundangku kemari hanya untuk mendengarkan ceramah agama kan?”
Aku segera memotong ucapan sang serigala tua sebelum menjalar ke mana-mana lebih lanjut.
“Baiklah, Yang Mulia Pangeran. Aku mengerti maksud Anda. Tetapi sebelum itu, tahukah Anda peran kuil suci bagi kerajaan? Sebagai organisasi religious, kami mengemban peran mendukung kerajaan dari samping. Tanpa kuil suci, kehidupan masyarakat akan dipenuhi kegelisahan. Kami berperan menenangkan hati masyarakat yang diliputi kegelisahan itu demi terwujudnya sinergitas dan keselarasan terhadap kebijakan-kebijakan kerajaan.”
“Dasar di mana organisasi kami berdiri adalah kepercayaan. Itu terdengar absurd, tetapi sebenarnya itu adalah pondasi terkuat yang berbeda seperti orang akan bayangkan. Namun, pondasi yang terkuat itu sekaligus memiliki titik lemah yang sangat rawan yang sangat mudah dihancurkan. Dan barusan Yang Mulia Pangeran telah menyentuh bagian rawan itu. Jika dibiarkan begini, eksistensi kuil suci bisa hancur.”
Dia berbicara panjang lebar sok bijak, namun ujung-ujungnya rupanya dia memintaku memperbaiki citra organisasinya yang rusak yang tidak mampu dikendalikannya lagi seorang diri.
“Sudah cukup. Aku sudah kurang lebih mengerti garis besarnya. Ini tentang kejadian penyakit kolera kemarin kan?”
Atas jawabanku itu, Rahib Vindycta menganggukkan kepalanya.
“Bukannya aku juga sengaja menyebabkan masalah itu. Itu secara alamiah terjadi oleh faktor yang tidak dapat kita kontrol. Tetapi aku memang telah memikirkan solusinya untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang kontribusi sihir api suci pula pada penanganan wabah kolera tersebut. Bagaimana pun, aku bukanlah orang yang tidak tahu malu yang akan mengambil seorang diri prestasi yang seharusnya menjadi milik bersama.”
“Terima kasih atas pengertian Anda, Yang Mulia Pangeran.”
“Kalau tidak ada keperluan lagi, saya pamit undur diri dulu, Rahib Vindycta.”
Setelah melakukan pembicaraan yang melelahkan itu, aku dan Albert pun segera beranjak meninggalkan kuil suci dengan kembali diantar oleh sang rahib paruh baya.
Namun, tiba-tiba saja terjadi hal yang tak terduga di ujung jalan tepat ketika kami akan meninggalkan bangunan kuil suci pusat.
“Puk.”
“Pergi kau dasar iblis hina!”
Sekumpulan anak-anak yang tampak merupakan pengunjung kuil suci dari kalangan rakyat jelata, seketika melempari aku dengan batu.
Aku dan Albert bisa melihat dengan jelas bagaimana sang rahib paruh baya itu malah tertawa sembunyi-sembunyi sebelum akhirnya memarahi anak-anak tersebut karena berbuat tidak sopan kepada seorang pangeran lantas memintaku untuk tidak memperpanjang masalah ini saja karena mereka masih anak-anak yang tidak tahu apa-apa.
Apakah ini semacam siasat dari kuil suci? Apakah anak-anak itu sengaja disuruh oleh mereka untuk berbuat kurang ajar padaku untuk mempermalukan aku di hadapan umum?
Satu yang bisa aku simpulkan tentang bagaimana sang rahib paruh baya itu tampak tidak hesitasi sedikit pun menyembunyikan tawa sembunyi-sembunyinya yang seakan hendak memprovokasi aku. Ini akan berkembang menjadi pembulian yang lebih kurang ajar lagi jika aku membiarkannya selesai di sini.
Ini bukan masalah mereka masih anak-anak atau bagaimana. Justru karena masih anak-anak, kita harus memberikan mereka pendidikan yang tepat agar ketika dewasa nanti, mereka tidak sampai menempuh jalan yang salah.
Aku pun akhirnya menyuruh Albert untuk memanggil prajurit istana untuk mendisiplinkan anak-anak itu sekaligus mencari tahu tentang adakah dalang yang menyuruhnya melakukan tindakan tersebut.
Tak kuduga, ternyata sang rahib paruh baya sendiri yang berada di balik layar terhadap perbuatan anak-anak itu. Seketika permasalahannya menjadi besar karena ini merupakan insulting terhadap keluarga kerajaan yang dilakukan oleh salah satu anggota kuil suci sendiri yang seharusnya menjadi penopang dan pelayan setia kerajaan.
Berdasarkan undang-undang kerajaan, terhadap segala perbuatan insulting terhadap keluarga kerajaan baik sebagai pelaku maupun penghasut, sama-sama akan dikenai hukuman mati. Tentu saja ada larangan menjatuhkan hukuman mati kepada anak-anak di bawah usia 12 tahun, tetapi sebagai gantinya, orang tua merekalah yang akan menerima hukuman mati tersebut.
Bagaimana aku menanggapinya? Buat apa pula aku peduli kepada mereka.
Namun memang tidak adil jika sampai para orang tua anak-anak itu juga turut dihukum mati hanya karena persoalan sepele. Aku akhirnya memutuskan untuk memberikan amnesti kepada mereka semua. Lagian, pasti dengan kejadian besar seperti ini, anak-anak itu telah kapok dan tak akan lagi melakukan hal-hal yang di luar batas kemampuan orang tua mereka untuk tangani.
Sekaligus, orang tua mereka akan lebih intensif lagi dalam mengawasi anak-anak mereka agar lebih menjaga perilaku mereka di lingkungan masyarakat.
Lantas bagaimana dengan nasib sang rahib paruh baya itu? Tidak ada alasan bagiku untuk melidunginya sejak dia sendiri yang telah menenggelamkan dirinya ke dalam kubangan lumpur. Lantas mengapa aku harus menyelamatkannya? Kamu akan menuai sendiri apa yang kamu tabur. Itu adalah hukum alam yang tak bisa dibantah oleh siapapun.
Ini bukan tentang aku yang marah berlebihan sampai menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Itu adalah memang sesuai apa yang tertulis pada undang-undang kerajaan yang menjadi pedoman tertinggi dalam menjalankan pemerintahan di Kerajaan Meglovia.
Apa yang menjadi di luar dugaanku adalah ketika anak buahnya itu dijatuhi hukuman mati, Rahib Vindycta dengan cepat memutuskan hubungannya dengannya seakan cicak yang memutuskan ekornya. Dia sama sekali tidak berniat sedikit pun membela anak buahnya dengan dalih kesetiaannya kepada kerajaan.
Menurut kalian apakah aku kejam? Tapi bagiku lebih baik bertingkah seperti anjing gila daripada bertingkah sebagai pengecut pesimistik yang mengabaikan segala bulian orang padanya. Dengan demikian, setidaknya musuh-musuhku akan berpikir dua kali sebelum menggangguku. Tidakkah kalian juga sepakat dengan hal itu?