
Ini adalah suatu waktu di kala aku berada di istana kerajaan. Aku melihat ada keramaian di sekitar dapur istana jadi aku sempat mengira ada insiden atau semacamnya di sana. Namun, setelah aku menengoknya, rupanya Kak Vierra-lah sumber dari segala keributan itu.
Tampaknya, Kak Vierra juga ingin berbuat sesuatu kepada Ayahanda yang sakit yang sedang tidak memiliki nafsu makan. Dia ingin membuat sejenis masakan kari yang menurutnya akan efektif mengembalikan stamina Ayahanda.
Karena tak tahan melihat seorang putri yang sempat dijuluki sebagai putri peri itu karena kecantikannya yang tiada tara melakukan hal yang tidak selayaknya image-nya, aku pun turut menuju ke dapur demi membantunya memasak.
Aku menyuruh para pelayan untuk pergi saja agar aku bisa lebih leluasa bergerak membantu Kak Vierra. Tampaknya, walau dengan effort menggunakan ilmu terbatas kami berdua, setidaknya kami bisa menyelesaikan hidangan kari yang layak makan.
Hidangan yang kami buat kaya akan sayuran dengan bumbu rempah-rempah yang kental nan bergizi di mana rendah gula dan karbohidrat, tetapi kaya akan protein. Itu adalah hidangan yang memang cukup baik untuk seseorang penderita diabetes seperti Ayahanda.
Beranjak dari dapur, sebagai ucapan terima kasih Kak Vierra, Kak Vierra mengajakku untuk minum teh di kamarnya.
“Kakanda Tius memang sangat beruntung mempunyai adik semanis Dik Helios.” Ujar Kak Vierra padaku dengan ekspresi tampak menggodaku.
Ini pertama kalinya aku mendengarkan seseorang memujiku dengan kata manis. Biasanya yang kudengarkan hanyalah hinaan yang mengatakan aku seram, dingin, atau semacamnya dan jika itu adalah pujian, palingan itu hanya soal kepintaranku saja. Ini pertama kalinya aku dikatakan manis oleh orang lain, terlebih itu adalah dari istri kakakku sendiri sehingga aku sempat bingung harus berekspresi seperti apa.
Namun, rupanya Kak Vierra justru menyukai ekspresiku yang terlihat hesitasi itu dan semakin menggodaku. Aku baru tahu bahwa Kak Vierra adalah wanita yang usil.
Dia sama sekali terlihat tidak segan-segan menggodaku sehingga sampai membuat wajahku memerah karena malu dibuatnya. Dia benar-benar berkebalikan dengan image yang dia tunjukkan di kalangan bangsawan tersebut. Tidak, itu benar bahwa dia mencerminkan sosok seorang peri. Dia sangat mirip dengan sosok peri Tinker Bell yang sangat jahil yang ada di cerita-cerita anak-anak itu.
“Bagaimana keadaan Dik Talia, Dik Helios? Kudengar kini dia telah hamil besar.”
“Ah, Talia baik-baik saja, terlebih sudah ada dokter profesional di sana yang merawatnya.”
“Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ayah rupanya ya, Dik Helios. Aku benar-benar iri dengan kalian berdua.”
Kak Vierra tampak mengatakan hal itu dalam mood yang bercanda, namun semua orang yang memahami situasinya akan bisa segera tahu bahwa sosok sang peri cantik yang ada di hadapanku ini seketika bersedih begitu membahas topik yang berkaitan dengan kelahiran bayi.
Tentu saja bukannya Kak Vierra adalah orang yang jahat yang tidak senang aku dan Talia memiliki seorang bayi. Seperti yang dikatakannya barusan, itu adalah murni perasaan iri yang dirasakannya perihal dalam pernikahannya yang sudah melebihi tiga tahun bersama Kak Tius, dia belum juga dikaruniai seorang anak.
Tentu saja apa yang paling penting di dalam kehidupan rumah tangga untuk bahagia adalah kasih sayang di antara satu sama lain. Keberadaan seorang anak hanyalah semacam bonus dari semua itu. Walau demikian, bagaikan memakan hidangan tanpa hidangan penutup, sebahagia apapun kehidupan rumah tangga seseorang, tetap akan dirasakan hambar tanpa kelahiran seorang anak.
Ini bukannya persoalan Kak Tius adalah seorang kasim atau sejenisnya. Dia hanya terlalu bersikap hati-hati sesuai sifatnya sejak kecil. Dia selalu ingin semuanya berada dalam kendali sesuai dengan rencananya. Termasuk ketika merencanakan kelahiran seorang anak, dia ingin itu terjadi di saat situasi kerajaan telah benar-benar kondusif.
Ekspansi Kekaisaran Vlonhard karena keserakahan kaisar-nya telah menunggu di depan mata, belum lagi Kerajaan Maosium di Benua Ifrak yang sudah mulai melirik wilayah Benua Ernoa. Jika mereka tidak disibukkan oleh penaklukan berbagai dungeon liar di wilayah mereka, mereka sudah pasti akan melakukan hal yang sama dengan Kekaisaran Vlonhard. Tentara Kerajaan Maosium bahkan lebih menakutkan lagi dibandingkan milik Kekaisaran Vlonhard.
Dan terlebih, raja iblis yang sedang menunggu kebangkitannya serta ancaman tower yang dibawa oleh Rahib Ngezot, benua akan sangat sulit memperoleh kedamaian seperti yang diharapkan oleh Kak Tius.
Jika ini terus-terusan terjadi, maka aku kasihan pada Kak Vierra, seolah-olah kakakku dengan sengaja mengabaikan sang peri cantik itu. Bahkan sekarang saja, banyak beredar rumor aneh di masyarakat yang menyamakan Kak Vierra sebagai sosok boneka pajangan, yang hanya berfungsi sebagai hiasan kamar saja, yang saking dijaganya agar tidak rusak, bahkan pemiliknya saja tidak berani untuk menyentuhnya.
Itulah sebabnya, beberapa hari kemudian, aku datang kembali menemui Kak Vierra dengan membawa suatu ramuan bersamaku. Itu adalah ramuan yang terbuat dari ekstrak ***** milik orc yang dicampur dengan akar tanaman baryotte. Aku tambahkan dengan beberapa bahan herbal lainnya sehingga nampak sebagai teh herbal biasa.
Aku katakan kepada Kak Vierra bahwa itu adalah obat penambah stamina yang sangat cocok untuk kondisi Kak Tius belakangan ini yang sering kelelahan karena mesti berurusan dengan berbagai masalah pelik diplomatik kerajaan.
Kebetulan, hari ini Kak Tius akan kembali ke ibukota menemui Kak Vierra. Ini adalah waktu yang tepat bagi Kak Vierra melihat khasiat obatnya.
Tentu saja aku tidak mengatakan secara detail tentang khasiat obat itu kepada Kak Vierra karena jika mengingat sifat Kak Vierra, dia tidak mungkin akan memberikan obatnya kepada Kak Tius jika dia tahu tentang obat apa itu sebenarnya.
Sebenarnya, itu adalah obat untuk meningkatkan gairah pria ketika berada di tempat tidur.
Alhasil, bahkan kesabaran yang luar biasa milik Kak Tius dalam menahan hawa nafsunya tersebut mampu dikalahkan oleh efek obat. Malamnya, Kak Vierra akhirnya merasakan kenikmatan sebagai seorang istri untuk yang pertama kalinya.
Walau kelihatannya memaksa, itu adalah hasil yang baik menurutku. Tidak hanya Kak Vierra, pastinya Kak Tius juga akan bahagia berkat kejahilanku tersebut. Jadi apa yang kulakukan itu pada dasarnya bukanlah suatu kejahatan.
Tidak hanya Kak Tius, aku pun sebenarnya cukup sibuk belakangan ini di ibukota, terutama dalam mengurusi masalah kebijakan pangan dan kesehatan warga, di samping aku harus tiap selang tiga hari, kembali ke Kota Painfinn demi mengecek kesehatan istriku yang telah hamil besar.
Sesuai dengan permintaan Rahib Vindycta sebelumnya, aku menyosialisasikan terkait peran masing-masing antara medis dan seni suci dalam penyembuhan penyakit. Keduanya saling melengkapi, keberadaan seni suci dapat membantu mempercepat keefektifan obat-obatan medis. Jadi, pada dasarnya keduanya sangat dibutuhkan.
Seiring dengan sosialisasiku itu, rumor terkait famor kuil suci pun perlahan mulai membaik dan kepercayaan masyarakat kembali pulih untuk kuil suci.
Aku juga melakukan sosialisasi tentang pola hidup sehat demi mencegah kejadian yang sama terulang untuk yang kedua kalinya di Kerajaan Meglovia seperti mencuci tangan sebelum makan dan tidak buang air besar sembarangan. Tidak hanya di Kota Lobos saja, tetapi termasuk juga Ibukota Megdia, serta kota-kota dan desa-desa lainnya.
Aku menciptakan penemuan baru yang kusebut sebagai sabun dengan menggunakan ekstrak minyak tanaman dan garam gunung yang berfungsi sebagai alat pembersih demi membantu menerapkan pola hidup sehat itu.
Aku sebenarnya juga berencana ingin menciptakan septic tank serta sistem pembuangan yang khusus mengelola pup manusia seperti yang aku buat di Kota Painfinn, namun rupanya, hal itu cukup sulit terealisasikan karena masih banyak warga yang belum paham tentang pentingnya arti pola hidup bersih.