
Aku terkadang kurang mengerti dengan jalan pikiran Albert.
Aku sama sekali tidak mengerti mengapa dia bisa terlihat begitu putus asa hanya karena aku mempercayakan Yasmin untuk mengawalku di dalam misi ekspedisi hutan monster ini alih-alih dirinya.
Dia bahkan sampai lari pontang-panting ke benteng lantas segera kembali ke mansion dengan membawa seorang pemuda yang tampak seusia Leon bersamanya.
“Master, perkenalkan, ini Damian. Dia memang terlihat biasa, tetapi aku bisa jamin akan kemampuannya. Tidak hanya dari segi bertarung saja, tetapi juga dari segi kepemimpinan walaupun dia bukan bangsawan. Kita bisa mempercayakan kepemimpinan pertahanan benteng padanya, Master. Jadi kumohon, biarkan aku ikut serta dengan Master ke ekspedisi itu.”
Ucap Albert dengan begitu putus asa.
Melihatnya bersikap bodoh seperti itu, kesabaranku padanya pun habis lantas aku membentaknya.
“Hei, Albert. Apa kamu menganggap aku ini gampangan?!”
“Tidak, Master, itu tidak mungkin. Mengapa bisa Master berpikir seperti itu padaku…”
“Jika kau memang menghormatiku, mengapa kamu tidak bisa mengikuti perintahku! Hanya karena kamu bilang kamu percaya padanya, lantas kamu pikir aku juga akan langsung percaya padanya?!”
“Tidak, Master. Itu…”
“Dengar, Albert. Mungkin karena selama ini aku terlalu baik padamu sehingga kamu lupa tipikal orang seperti apa aku sebenarnya. Aku ini bukan tipe orang yang mudah percaya pada siapapun. Memangnya kamu pikir kamu siapa sampai berani ikut campur dalam keputusanku?!”
“Hiks hiks.”
Tiba-tiba saja Albert menangis karena bentakanku. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa seseorang yang berbadan besar dan kekar sepertinya akan menangis hanya karena kubentak sedikit.
Aku kasihan padanya. Tetapi jika dibiarkan begini, aku bisa tahu bahwa sifat tidak baik yang disebut posesif karena menganggap dialah satu-satunya pengawalku yang layak akan menggerogoti Albert dan ini jelas akan merusak mentalnya.
Setidaknya untuk saat ini, kupikir aku harus tegas padanya dengan mengabaikan air mata itu.
Tetapi apa yang diucapkan Albert selanjutnya benar-benar semakin membuatku tak menduganya.
“Apa itu karena kini Master telah menemukan pengawal yang lebih baik dariku, jadi kini Master sedang merencanakan untuk membuangku?”
“Tidak, itu karena pertahanan benteng membutuhkan kepemimpinanmu!”
“Persetan dengan keamanan kota! Yang penting buatku hanyalah keamanan Master saja! Hiks hiks.”
Begitulah ucapan aneh yang dilontarkan oleh Albert sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan mansion begitu saja sambil berlari sekencang-kencangnya dengan lengan menutupi matanya yang basah oleh air mata.
Seketika itu aku berpikir, jika aku tidak menangani ini dengan hati-hati, maka kartu truf yang bernama Albert itu bisa saja lepas dari tanganku kapan saja.
Senja itu, pada akhirnya kutemukan Albert setelah kucarinya dengan susah-payah. Namun, pemandangan apa yang kusaksikan, dengan badannya yang besar itu, dia memojok di salah satu bagian dalam sudut dinding benteng dengan mukanya yang menghadap ke dinding.
Hal itu sampai-sampai membuat semua prajurit yang ada di sekitarnya menjadi tidak nyaman. Mereka ingin menyapa sang komandan, tetapi ekspresi Albert saat itu benar-benar menunjukkan permusuhan.
Aku pun melangkah perlahan mendekatinya lantas kutepuklah pundaknya dari arah belakang.
Tampaknya Albert segera menyadari bahwa itu adalah aku sejak aku memiliki aliran mana yang tidak biasa. Dia pun segera menenggelamkan kepalanya jauh-jauh ke antara dua kakinya.
Melihat itu, aku pun tak dapat menahan kekesalanku lagi padanya. Aku lantas berujar,
“Albert, berdiri. Ikuti aku. Ini perintah.”
Mendengar kata perintah, di luar dugaan, Albert segera menurut kemudian mengikuti aku tanpa perlawanan. Yah, walaupun kepalanya masih saja tertunduk dan ekspresinya begitu muram.
Aku kemudian menuangkan minuman itu ke dalam sebuah gelas lantas hendak kuberikan kepada Albert.
Namun Albert segera bersujud di hadapanku sembari mengatakan bahwa itu adalah merupakan suatu hal yang tidak pantas bagi orang yang statusnya lebih rendah seperti dia menerima secangkir kafka dari yang mulia pangeran agung seperti diriku.
Tetapi ketika kumengatakan bahwa itu adalah perintah, dia langsung segera menerima gelas itu dan lantas memperlakukannya dengan sangat hati-hati seolah-olah apa yang baru saja aku berikan kepadanya adalah sebuah pusaka suci.
Aku pun mulai membuka pembicaraan padanya.
“Kamu tahu, Albert, bahwa kamu adalah temanku satu-satunya ketika semua orang tiba-tiba saja meninggalkanku setelah munculnya ramalan tiran itu. Hanya kamu yang berani mendekatiku dan mau menjadi temanku sejak munculnya ramalan tiran itu.”
“Tidak, Master. Justru Master-lah yang sangat berjasa padaku telah menyelamatkanku dari kolosium saat itu. Jika Master saat itu tidak membeliku sebagai seorang budak, tentu aku akan sudah mati di sana sejak lama. Bagiku, Master adalah segalanya.”
Ucap Albert yang seketika air matanya kembali mengucur deras.
Sedikit, aku akhirnya bisa menebak apa yang ada di jalan pikiran Albert. Tindakan aku menyelamatkannya kala itu benar-benar telah membekas di benaknya sehingga terpatri di dalam dirinya bahwa aku adalah sosok pahlawan baginya.
Oleh karena itu, ketika aku menunjuknya sebagai ksatria pribadiku, betapa dia senang akan hal itu.
Salah satu kebanggaan yang tertanam kuat di dalam diri Albert yang membuatnya memiliki arti di kehidupannya di kala dia tidak lagi memiliki keluarga di dunia ini sejak semua keluarganya telah dibantai atas tuduhan pengkhianatan terhadap keluarga kekaisaran.
Albert beruntung bisa selamat waktu itu karena dinilai masih belum cukup umur untuk menghadapi guillotine berdasarkan hukum kekaisaran.
Akulah satu-satunya yang bisa dianggapnya sebagai keluarga. Dan hubungan antara majikan dan pengawal adalah koneksi kami satu-satunya yang dapat menghubungkan kami sebagai keluarga itu.
Mungkin itu sebabnya ketika aku mengatakan kepadanya bahwa Yasmin akan menggantikan posisinya mengawalku pada misi ekspedisi ke hutan monster kali ini, Albert menjadi sangat tidak terima karena alam bawah sadarnya menerimanya sebagai pemutusan satu-satunya hubungan yang menghubungkan kami selama ini sebagai keluarga.
Aku benar-benar merasa bersalah karena tidak menyadari hal itu dan telah membangunkan trauma Albert kembali. Sebelas tahun adalah waktu yang lama. Tetapi tentu saja itu tidak cukup baginya untuk menghilangkan trauma seperti kematian keluarga.
Dengan lembut, aku pun berkata padanya,
“Aku bisa lega melangkah maju melaksanakan ekspedisi itu karena kutahu ada orang yang bisa kupercaya seperti Albert di benteng ini untuk menjaga rumah kita. Tidakkah kamu juga berpikir bahwa Kota Painfinn ini telah menjadi rumah kedua kita? Oleh karena itu, kita akan melindunginya apapun yang terjadi, bukan?”
Terhadap Albert yang diam tanpa jawaban ataupun sanggahan, aku pun melanjutkan,
“Lagipula, kamu memakai ini kan? Kalung yang aku ciptakan di saat kita berusia 12 tahun dari inti monster pertama yang kamu kalahkan yang dicampur dengan sedikit esensi es-ku.”
Aku berujar sembari mengeluarkan kalung putih yang melingkari leherku yang semula tertutupi oleh bajuku. Kulihat Albert mengikuti gerakanku pula dengan mengeluarkan jenis kalung yang sama dari dalam kerah bajunya.”
“Selain sebagai alat cadangan mana maupun pembatas mana, kalung ini punya keahlian lain. Jika kalung ini pecah, maka bagian kalung yang lain akan segera merespon. Dengan kecepatan Albert dalam berlari, kuyakin jika aku berada dalam situasi bahaya sekalipun di dalam hutan monster, kamu bisa segera menyusulku ke sana dengan berlari sekencang-kencangnya lantas menyelamatkanku tepat waktu, bukan? Jadi tidak ada yang patut dicemaskan.”
“Tugas Albert saat ini adalah untuk penjagaan keamanan benteng. Namun jika aku berada dalam bahaya, maka Albert pun bisa dengan sigap menyelamatkan aku di sana. Makanya seperti apa yang aku bilang tadi, aku bisa merasa lega karena kutahu ada Albert di sisiku.”
Ujarku seraya menunjukkan senyumku pada Albert.
“Master.”
Terlihat wajah Albert masih penuh dengan air mata, tetapi kini tampak bukan lagi air mata frustasi, melainkan air mata kebahagiaan.
“Hiks hiks. Master, aku berjanji… aku berjanji bahwa seumur hidupku, aku akan melindungi Master, meski nyawa taruhannya.”
Dengan demikian, aku pun kembali berbaikan dengan Albert.