
“Nona Yasmin! Lihat di sana!”
Begitu memasuki wilayah Kerajaan Cabalcus, Talia segera mendapati keberadaan objek aneh di salah satu sudut ibukota kerajaan tersebut.
Itu adalah gumpalan es yang cukup besar, seukuran ukuran tubuh manusia dewasa.
“Tidaaaaaaak!”
Talia seketika menjerit ketakutan begitu memperhatikan baik-baik objek tersebut. Dia hampir saja jatuh dalam keadaan hamil besarnya itu, namun Yasmin segera memapahnya.
Apa yang membuat Talia sampai kaget adalah perihal isi di dalam gumpalan es tersebut.
Itu berisi mayat Tius yang telah terpotong-potong yang tampak disatukan kembali melalui gumpalan es.
“Jadi Yang Mulia Putra Mahkota benar-benar telah…”
“Tenanglah, Nyonya Talia.”
Yasmin tampak merangkul tubuh Talia yang gemetaran itu dengan penuh perlindungan.
-Gresek.
Suara yang tidak lazim kemudian segera terdengar di dekat mereka.
Merasa waspada, Yasmin menyiapkan ancang-ancangnya dengan seksama sembari melindungi Talia.
Namun lama menunggu, tampak belum ada ancaman bahaya apapun yang ditunjukkan oleh sumber suara tersebut.
Yasmin dan Talia yang penasaran pun, perlahan mendekati sumber suara. Itu ternyata terkubur jauh di antara tumpukan mayat yang telah membusuk dimakan belatung yang benar-benar mengeluarkan bau yang menyengat hidung.
“Hueeeeek!”
Tidak tahan akan baunya, Talia segera muntah.
Yasmin pun segera memberikan sihir perlindungan penyaring udara kepada Talia dan dirinya sendiri agar bau mayat yang sangat busuk itu tidak sampai mengganggu pernafasan mereka.
“Nona Yasmin, tampaknya ada sesuatu di antara tumpukan mayat itu.”
“Baiklah, akan kuperiksa.”
Yasmin mulai menggunakan sihir melayang kepada para mayat untuk menggali ke dalam, dalam rangka mencari tahu apa yang sebenarnya membuat gerakan di antara tumpukan mayat-mayat tersebut.
Jelas itu bukan tikus atau sejenisnya karena volume gerakannya sangat nampak lebih besar.
Akhirnya, Yasmin pun menemukannya. Namun betapa kagetnya dia, terlihat dari wajah datarnya yang sedikit terpelintir di bagian mata dan ujung bibirnya. Ternyata, masih ada korban selamat di antara para tumpukan mayat itu.
“Tuan Swein!”
“Tuan Swein siapa, Nyonya Talia?”
“Itu Tuan Swein fou Lambarg, Nona Yasmin, pengawal Yang Mulia Putra Mahkota. Tetapi dalam keadaannya sekarang, apakah dia masih bisa diselamatkan?”
Di luar dugaan, walau telah terkurung selama tujuh hari di dalam tumpukan mayat, Swein fou Lambarg, rupanya belum mengembuskan nafas terakhirnya. Akan tetapi, kondisinya sangat mengenaskan. Beberapa bagian tubuhnya tampak telah hancur karena dimakan oleh belatung.
“Aku akan menyelamatkannya.”
Walau demikian, sebagai seseorang yang telah berpengalaman melayani Pangeran Helios sebagai healer, tampak Yasmin tetap percaya diri pada kemampuan penyembuhannya itu.
Dia mulai mengeluarkan kekuatan sucinya kepada tubuh Swein yang terkapar tak berdaya. Perlahan, pemuda itu mulai sembuh. Luka-luka yang sebelumnya terbuka dan kulitnya yang busuk dimakan oleh belatung, perlahan mulai sembuh.
Beberapa jam kemudian, berkat perawatan yang tepat dari Yasmin, Swein fou Lambarg akhirnya kembali sadarkan diri walau sebelumnya sudah berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
“Kamu… Kamu siapa?”
Namun begitu Swein menoleh ke arah wanita di sebelah Yasmin, kali ini dia segera mampu mengenalinya.
“Nyonya Talia? Apa yang sebenarnya terjadi…”
Ekspresi Swein tiba-tiba menegang. Tampak dia baru saja mengingat sesuatu.
“Yang Mulia Putra Mahkota… Bagaimana dengan keadaan Tius?!”
Swein menunjukkan tanda-tanda amukan yang menyebabkan Yasmin segera menunjukkan reaksi dengan melindungi Talia.
“Tuan Swein, Yang Mulia Putra Mahkota telah…”
Talia menghentikan ucapannya. Dia terlihat tak sanggup untuk meneruskan ucapannya itu. Akan tetapi walau ucapan itu tertahan, Swein dapat segera mengerti maksudnya. Itu karena ketika dia menoleh lebih jauh lagi, dia segera mampu melihat sendiri mayat Tius yang diawetkan di dalam bongkahan es.
“Ini? Yang Mulia? Tidaaaaaaakkkk!”
“Kenapa…. Kenapa bisa berakhir seperti ini?”
Lama terlarut dalam kesedihannya, tampak Swein tiba-tiba kembali teringat sesuatu.
“Ah, Nyonya Talia, mengapa Anda bisa ada di sini?”
“Itu… Kakanda Helios yang sedih dengan kematian Yang Mulia Putra Mahkota tampaknya sedang mengamuk untuk membalas dendam kepada seisi kerajaan. Tuan Swein, mungkin aku sedikit keterlaluan mengatakan hal ini di saat Anda baru saja mengetahui kematian Yang Mulia Putra Mahkota, tetapi aku mohon, bisakah Anda menjelaskan secara detail tentang apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
Terlihat tekad yang begitu kuat dari sorot mata seorang wanita yang terlihat sangat rapuh itu.
***
Sementara itu di sisi lain, tepatnya di perbatasan utara Kerajaan Cabalcus,
“Kakak, ini sudah genap satu minggu, tapi belum juga ada kabar dari dalam. Jika menunggu lebih lama lagi, saya takut kita akan segera kehabisan persediaan makanan.”
Pangeran Bonivetto de Vlonhard, pangeran kedelapan Kekaisaran Vlonhard, mengutarakan kegelisahannya itu kepada kakak kandungnya, Brian de Vlonhard, pangeran keempat Kekaisaran Vlonhard.
“Kamu benar juga, Boni. Baiklah. Para prajurit, ayo bersiap-siap menyerbu ke dalam kerajaan!”
Brian pun memutuskan untuk segera mengatur kembali pasukannya dan memilih untuk tidak menunggu waktu lebih lama lagi dalam melakukan penyerbuan.
Tampak kedua pangeran tidak lagi memperhatikan masalah diplomatik luar negeri dan memilih menyerang walau belum menemukan alasan pembenaran atas tindakan mereka sejak mereka terlalu yakin bahwa kekaisaran mereka adalah yang terkuat di Benua Ernoa.
Rencana awalnya, mereka akan menyerbu masuk setelah menemukan alasan meredakan konflik di antara beberapa negara yang tiba-tiba saja berselisih di tengah-tengah pertemuan mereka. Namun lama menunggu, belum ada pula kabar datang dari sekutu mereka di dalam, Kerajaan Cabalcus.
Alasan penyerbuan bisa dipikirkan nanti, yang penting sekarang bagi mereka adalah mengukir prestasi pada perang.
Tidak ada kesempatan yang lebih baik dalam melakukan penyerangan daripada sekarang sejak mereka akhirnya mampu memasuki benteng kokoh yang terpampang di sepanjang tiga kerajaan selatan yang dikuatkan oleh struktur geografi pegunungan di sekitar pula yang memisahkan dengan jelas bagian selatan dan utara benua itu.
Apa yang paling lucu menurut mereka adalah Kerajaan Cabalcus sendiri-lah yang dengan senang hati membukakan pintu masuk benteng tersebut. Tidak ada kesempatan yang lebih baik lagi untuk menghancurkan tiga kerajaan selatan melebihi waktu sekarang.
Rencana awal mereka adalah menguasai Kerajaan Cabalcus, lantas masuk menyerang di perbatasan barat dan barat daya Kerajaan Ignitia untuk mengepung kerajaan tersebut dari tiga arah sejak tentara Pangeran Ketiga telah bersiap-siap pula di perbatasan utara Kerajaan Ignitia.
Setelah Ignitia takluk, sisa menunggu waktu bahwa Kerajaan Meglovia yang terjepit akan juga ikut takluk perihal semua suplai mereka telah ditutup dengan takluknya kedua kerajaan selatan yang lain sejak mereka tahu bagaimana hubungan Kerajaan Meglovia sendiri terhadap negara kepulauan selatan yang terletak di sisi lain.
Kerajaan Meglovia yang tak mampu lagi mempertahankan suplai, terutama makanan yang biasanya mereka peroleh dari Kerajaan Ignitia, tentu akan segera jatuh dalam bencana kelaparan, kecuali mereka mampu memenuhi kebutuhan pangan rakyat mereka sendiri atau meminta bantuan negara kepulauan selatan.
Tetapi jelas Pangeran Keempat dan Pangeran Kedelapan tahu bahwa itu adalah hal yang mustahil. Dan juga sebagai puncak dari semua itu, Ibelal Star Vlonhard, pangeran kedua yang telah ditunjuk sebagai putra mahkota baru-baru ini di Kekaisaran Vlonhard, telah menunggu pula di perbatasan utara mereka.
Tidak ada lagi jalan menurut mereka bagi aliansi tiga kerajaan selatan itu untuk selamat di bawah kekuatan kekaisaran. Setidaknya, itu ketika tidak ada joker yang bernama Helios de Meglovia terlibat di dalamnya.