Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 179 – KEMATIAN MEMILUKAN SANG SAHABAT



Albert sadar betul bahwa dirinya bukanlah pemikir yang baik. Terngiang kembali di ingatannya kejadian sewaktu dia masih kecil. Pernah suatu ketika di kala dia baru-baru saja memasuki istana setelah dibawa oleh Helios, dengan polosnya Albert menerima makanan dari orang asing.


“Nyam, nyam, nyam.”


“Albert, apa yang kamu makan itu?”


“Ah, entahlah, Master. tadi ada seorang maid yang memberikannya padaku. Katanya pemberian Duchess Orsena.”


-Plak.


Helios serta-merta menampik sisa makanan yang belum dimakan oleh Albert lantas memaksanya untuk muntah.


Albert kala itu sama sekali tidak mengerti tentang kejadian yang terjadi. Namun, di kala pengaruh racun dari makanan mulai terasa, akhirnya Albert baru tersadar dari kebodohannya itu. Beruntung, Helios dapat memberikannya pertolongan pertama kali itu sehingga dirinya masihlah hidup.


Pernah suatu ketika pula, seorang senior menghadiahkannya topi aneh yang katanya sebagai bentuk penghargaan yang diberikan kepada seseorang yang dinilai sangat serius dalam latihan selama sepekan. Kata senior itu, Albert harus mengenakan topi itu selama latihan sebagai bentuk kebanggaannya.


Dengan polosnya, Albert percaya itu dan benar-benar mengenakan topi lelucon itu dengan bangga selama latihannya bersama prajurit lain di istana. Alhasil, semua orang yang menghadiri latihan itu menertawainya di belakangnya mengejek kebodohan Albert.


Albert yang polos sama sekali tidak mengetahui hal itu dan terus saja latihan. Dia memang bertanya-tanya tentang apa yang menyebabkan para prajurit itu sampai tertawa terbahak-bahak di belakangnya, tapi tetap sama sekali tak ada yang mau memberitahunya bahwa seseorang baru saja mejadikannya bahan lelucon.


Albert baru tersadar ketika Helios sendiri yang menjemputnya lantas memberitahukan Albert kebodohannya.


Di situlah Albert baru tersadar tentang kengerian istana dalam sudut pandang lain. Tidak hanya serangan assassin yang berbahaya, namun serangan mental tidak kalah parahnya terjadi di sitana, dan Albert yang bodoh menjadi sasaran empuk untuk itu.


“Ah, kalau dipikir-pikir, aku memang bodoh ya. Padahal kupikir sejak menjadi pemimpin di wilayah bekas Ayah, aku telah berubah. Rupanya keramahan mereka itu pula tak ubahnya hanya lelucon.”


Albert bergumam dalam sekaratnya. Perlahan kesadarannya mulai menghilang sembari menyaksikan tuannya disiksa karena kebodohannya.


Albert pun tahu akan kondisinya seperti apa. Itu adalah air kutukan. Kutukan yang sekali diaktifkan, akan terus menggerogoti tubuhmu dari dalam hingga tak butuh waktu lama bagimu untuk tewas.


Albert percaya pada masternya. Namun karena itu pula dia yang meyakini kehebatan kekuatan Helios karena telah lama menjaganya dari depan juga tahu batasan masternya itu. Masternya yang pernah membantai seisi Cabalcus dan bahkan mengalahkan salah seorang grand master dunia, tetap tidak akan sanggup menghadapi artifak yang melanggar hukum alam.


Apa yang menyegel kekuatan Helios bukanlah sembarang artifak. Bahkan Helios yang hampir kebal terhadap semua jenis artifak terkuat sekalipun bertekuk lutut di hadapan artifak itu. Itu karena artifak itu berasal dari kekuatan sang witch objek Isis, sorcery yang mampu menangkal segala jenis pelepasan mana bagaikan labirin menyesatkan yang takkan pernah ditemukan jalan keluarnya karena terus berubah objeknya menyesuaikan dengan perubahan keadaan sang target.


Albert tahu betul bagaimana sifat masternya itu. Sampai kapanpun, dia tidak akan pernah memilih pilihan untuk mengorbankan nyawa bawahannya meski itu jalan satu-satunya untuk keluar dari marabahaya. Helios adalah tipe orang yang lebih cenderung mengorbankan dirinya sendiri daripada melihat orang yang disayanginya mati di hadapannya. Seperti itulah tipe orang seperti Helios yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Albert.


Itulah sebabnya, demi keselamatan Helios, Albert sendirilah yang harus memilih berkorban secara sukarela.


“Maafkan atas kebodohanku selama ini, Master. Aku percaya pada Master.”


“Tentu saja, aku pasti akan menyelamatkanmu, bodoh.”


“Maaf, Master karena aku bodoh. Lagipula, Master kini dapat bertahan tanpaku. Aku titip Allios pada Master.”


“Hei, apa yang kamu katakan?! Albert?”


Helios yang bertanya-tanya mengapa tiba-tiba Albert mengatakan sesuatu yang aneh, akhirnya menoleh ke belakang.


“Bangkitlah, Master! Jadilah kaisar terhebat yang pernah ada! Jangan biarkan para penjahat ini mengalahkan Master!”


Namun begitu Helios menoleh ke belakang, Albert telah menggunakan skill yang sama seperti Lucas, sang party pemegang perisai pahlawan pertama, dulu gunakan ketika melawan Raja Iblis Ozazil, skill pengorbanan.


Dengan mengorbankan nyawanya, Albert menyegel artifak milik sang witch objek Isis itu.


“Albert?”


Seketika Helios mematung. Begitu tersadar, Albert telah membeku kehilangan nyawanya.


“Hahahahahahaha. Siapa yang menduga orang yang bodoh itu memilih mengobankan nyawanya sendiri demi menyelamatkan masternya. Tapi apa yang orang sekarat itu kini bisa perbuat? Sebentar lagi, master yang dilindunginya itu juga akan segera menyusulnya!”


Damian tertawa terbahak-bahak menertawai kematian Albert. Helios pun kini berada dalam kondisi bagai kehilangan salah satu skrup di kepalanya.


“Matilah, Helios! Dengan ini, aku akan mengambil alih posisimu sebagai kaisar, lantas mempersunting Erre, lalu membunuh sisa-sisa keluargamu yang lain, termasuk anak haram yang lahir dari bangsat Tius itu!”


Namun Damian terlalu meremehkan Helios. Hanya dalam sekejap setelah mana-nya kembali, seluruh luka di tubuh Helios terpulihkan kembali seolah tak ada.


Helios pun mensummon pedang aura-nya. Hanya dalam satu kali sapuan pedang aura itu, seluruh paladin yang berada pada jarak serangannya seketika menjadi abu tanpa ada yang bersisa. Mereka semua mati dalam kondisi yang sangat kesakitan dengan seluruh daging, kulit, dan bahkan tulang mereka terbakar menjadi abu sedikit demi sedikit.


“Apa ini? Dasar monster! Jangan dekat-dekat!”


Damian yang sebelumnya meremehkan Helios seketika ketakutan begitu melihat kegilaan amarahnya.


Damian lantas mensummon semua monster iblis yang dia bisa untuk mencegah Helios mendekatinya. Namun, monster-monster itu sangat lemah di hadapan kekuatan mutlak Helios sampai bahkan itu tidak menghalangi langkahnya sama sekali.


Dengan meringis, Damian turut mensummon pedang auranya untuk menghadapi Helios. Akan tetapi, Damian tetaplah pahlawan palsu. Apa yang membuatnya memiliki tanda-tanda kepahlawanan adalah perihal rekayasa Baal menggunakan keahlian summoner Damian untuk membuatnya menunjukkan ciri-ciri kepahlawanan itu. Dan sebagaimana barang palsu yang lain, itu sama sekali tiada bandingannya dengan yang asli.


-Trang.


Dalam hanya satu benturan pedang, Damian terlempar sangat jauh ke pohon hingga mulutnya mengeluarkan darah.


“Dasar monster!”


“Kau… Kau tega mengambil nyawa Albert hanya karena persoalan sepele cintamu pada Vierra?”


“Tentu saja. Bagiku, cintaku kepada Yayang Erre adalah segalanya!”


-Trang.


-Krak.


Pedang aura Damian itu pun retak berkeping-keping.


“Bagaimana bisa?”


-Slash.


“Aaaakkkkhhhhh!”


Di luar dugaan Damian, Helios menyerangnya secepat kilat hingga memutuskan semua jari di tangan kanannya.


“Masihkah kamu mengatakan cinta itu segalanya dengan nyawamu sebagai taruhannya? Akan kupastikan kematian mengenaskanmu hingga Vierra pun akan jijik untuk melihat mayatmu lagi.”


“Aaaaakkkhhhh!”


Raungan Damian terdengar tanpa henti. Itu begitu menakutkan hingga para pasukan paladin di belakangnya tidak berani untuk mendekati mereka untuk menyelamatkan Damian.


“Nah, sekarang, mana yang lebih penting? Yayang Erre atau rasa sakitmu?”


“Maafkan aku. Aku salah. Ampuni aku.”


-Buak.


“Aaaakkkhhhh!”


“Aku tidak menyuruhmu meminta maaf! Aku bertanya apa Yayang Erre penting bagimu?!”


“Tidak. Tidak. Tidak. Percular itu bukan apa-apa bagiku. Dia hanya seonggok sampah.”


Helios pun tertawa sinis kepada Damian.


“Benar. Itulah wujud aslimu. Kamu pada dasarnya tidak mencintai Vierra. Itu hanyalah keegoisanmu yang menganggap Vierra sebagai barang yang aku rebut darimu. Bagimu dia tak lebih dari sekadar barang. Begitulah jalan pikiran sampah sepertimu, Damian.”


Pikiran Damian telah rusak. Dia tidak peduli lagi dengan semua omongan Helios. Yang diinginkannya hanyalah keselamatan.


“Kumohon, ampuni aku!”


“Sebelum itu, satu lagi pertanyaanku padamu. Tujuh tahun lalu di Kota Painfinn sewaktu Leon meninggal karena serangan monster Perseus, semua itu rekayasamu, bukan?”


“Tidak. Tidak. Bukan aku, sungguh! Jadi ampuni aku!”


Namun Helios tidak peduli dengan apa yang diucapkan Damian secara lisan. Penyimpangan aliran mana-nya yang mengisyaratkan kebohongan ucapannya telah membuktikan segalanya.


“Jadi begitu.”


“Iya benar…”


“Sudah kuduga bahwa Leon tidak mungkin mati hanya karena serangan monster berperingkat heroik tingkat tinggi. Itu semua kamu rupanya yang telah merekayasanya dengan menyerangnya dari belakang dalam kelelahannya. Bukankah begitu?”


“Apa yang…”


“Begitulah sampah sepertimu bertindak. Aku yang bodoh menahan diri sedari dulu menginterogasimu ketika kau mencurigaimu. Jika saja aku bisa menyingkirkan duri berbahaya sepertimu sejak dulu, maka Albert pasti masih ada di sisiku saat ini.”


Dalam linangan air mata, Helios mengangkat pedangnya.


“Tidak, tidak, tunggu! Ampuni aku, kumohon!”


“Mengampuni? Memangnya kamu pikir aku akan mengampuni duri dalam daging sepertimu?”


-Slash.


Damian pun tak dapat berkata apa-apa lagi. Nyawanya telah hilang dari jasadnya.


Setelah kematian Damian, para paladin telah dari dulu menarik ekor mereka untuk melarikan diri dari hutan, menyisakan di tempat itu Helios seorang diri dengan jibunan mayat bertumpuk di dekatnya.


Helios pun menatap kosong kepada salah satu jasad yang terbujur kaku itu, jasad Albert.


“Hei, bodoh! Bangun! Semuanya telah berakhir. Aku telah membunuh Damian. Jadi segeralah bangkit kembali!”


Namun tentu saja Albert yang telah menjadi mayat tak akan mampu untuk menjawab panggilan Helios.


“Sudah kubilang bangun, bodoh! Jangan tiduran terus seperti itu! Kutahu daya tahan fisikmu itu kuat dibandingkan orang normal, jadi kamu tidak akan kalah hanya karena segitu!”


Namun berbeda dari ucapannya, Helios paling tahu bahwa telah lama Albert meregang nyawa perihal dia tak mampu lagi melihat aliran mana dari Albert yang menandakan nyawanya telah terputus.


Helios meraung sejadi-jadinya.


“Bangun! Bangun! Bangun! Dasar bodoh!”


Di kala itulah Helios teringat virus yang dikembangnya melalui virus vampir sebagai dasarnya.


“Benar. Dengan cara itu, aku bisa membangkitkan Albert kembali. Ayo bangkit kembali, Albert! Mari kita balaskan dendam kita kepada semua orang yang telah membuatmu jadi seperti ini.”


Helios telah gila.