
Dokter Minerva menatapku dengan tatapan mata yang sangat serius. Tampaknya dia benar-benar ingin mengatakan sesuatu yang penting padaku.
Aku pun memasang telingaku dengan baik untuk mengantisipasi apapun yang hendak dikatakannya.
Aku berharap bahwa itu berkaitan dengan penemuan baru yang akan menjadi proyek spektakuler lagi di mana Dokter Minerva akan mengajakku bergabung di dalamnya, namun dilihat dari siatuasinya saja, mana mungkin demikian.
Pasti ini berkaitan dengan rahasia mengapa Albert dan Albexus masih hidup.
“Yang Mulia, aku dengar dari Albert bahwa Anda punya trik untuk tidak perlu tidur. Cepat katakan padaku agar aku juga bisa menerapkannya.”
Aku bisa mengerti bagaimana perasaan Dokter Minerva karena bagi ilmuwan, makan, tidur, dan mandi itu adalah tiga momok terbesar yang sangat mengganggu kehidupan penelitian. Bagaimanapun seorang ilmuwan mau berfokus pada penelitiannya dengan memaksimalkan sebanyak mungkin waktu yang dimilikinya, mereka tidak akan bisa menghindari tiga hal ini yang minimal mereka harus lakukan minimal sekali setiap harinya.
Terutama tidur, itu minimal membutuhkan waktu 4 jam sehari untuk dilakukan untuk membuat pikiran kita bisa tetap fresh.
Ini akan terutama sangat mengganggu ketika kamu sedang dikejar dateline penelitian yang sangat penting. Di situ jika kamu seorang peneliti, kamu akan baru benar-benar merasakan bahwa tidur itu sebenarnya sangat mengganggu.
Tetapi, itu salah konteks kan jika dibicarakan sekarang? Lagipula darimana Albert tahu rahasiaku tersebut?
Padahal aku selama ini berupaya menutupinya dengan baik hingga tidak ada siapapun yang mengetahuinya selain Yasmin, terutama dari Albert yang kukira akan paling sedih jika mengetahui penyakitku itu. Yah, walaupun sekarang aku juga sudah sembuh jadi percuma lagi untuk aku kecewa sekarang. Hanya saja, mengapa aku merasakan seperti dikhianati oleh Albert yang sudah tahu, namun selama ini diam?
Namun ketika aku melirik ke arah Albert lantas bertanya bahwa darimana dia bisa tahu, dia hanya menjawab bahwa dia baru tahu setelah berpisah denganku di hari itu ketika dia meninggalkan jasadnya bersamaku.
Seketika Albert menyebutkan kata ‘jasad’, aku segera melupakan masalahku lantas lebih penasaran tentang jasad tersebut, tentang apa sebenarnya jasad itu yang telah kusaksikan di hadapanku sendiri telah lapuk, tapi lantas malah sekarang, Albert justru hadir utuh di tempat ini dalam kondisi tubuh tanpa kekurangan sedikitpun sama seperti ingatanku terakhir tentangnya sebelum kejadian naas tentang Damian di hari itu terjadi.
Namun bagaimanapun aku memaksanya, Albert tetap memilih untuk bungkam sama seperti sebelumnya dan Dokter Minerva pun memperingati aku sekali lagi bahwa aku sebaiknya tidak tahu mengenai hal tersebut.
Karena kulihat dari tatapan mereka yang pasti yang tampak telah memantapkan keyakinan mereka, maka aku pun terpaksa melewatkan rasa penasaranku itu sekali lagi. Aku hanya berharap seiring dengan berjalannya waktu, pada akhirnya mereka akan menceritakannya padaku.
Tidak, tidak, tidak. Mengapa dari permasalahan tidak penting seperti tidur, topiknya justru jadi semakin melenceng?
“Kalian bertiga datang berkumpul untuk menemuiku tidak hanya sekadar membahas soal aku yang tidak bisa tidur itu kan? Lagipula sudah lama aku sudah sembuh dari itu. Daripada anugerah, itu seperti kutukan yang membuat mata dan kepalamu berat sepanjang waktu. Tampaknya itu disebakan oleh dorongan trauma masa laluku sehingga ketika trauma itu terpicu sembuh, aku pada akhirnya bisa kembali menikmati kenyamanan tidur.”
Aku menskip detail bahwa kasih sayang seorang ibu-lah yang memicu trauma itu sekaligus pula yang menyembuhkannya. Lagipula, biarlah soal detail mengenai ibuku yang turut teracuni air kutukan sehingga membuatnya merasakan kebencian tak jelas padaku selama terpengaruh sihir hitam tersebut menjadi rahasia kami berdua saja. Yang jelas sekarang, kasih sayang Ibu telah kembali aku genggam.
Setelah cerita panjang lebar yang tiada arti itu, barulah kini akhirnya mereka masuk ke inti pembicaraan mereka yang sebenarnya.
“Yang Mulia tahu mengapa Anda dipilih sebagai hero? Apakah itu sejak lahir ataukah itu setelahnya?”
“Aku tak tahu.” Jawabku singkat pada pertanyaan Dokter Minerva yang membutuhkan konfirmasi tersebut.
“Hero telah ditentukan sejak di dalam kandungan ibunya. Keberadaannya bagaikan matahari yang terus berkembang hingga matang dan akhirnya siap menjadi hero. Selama proses pematangan itu, dia akan terus memancarkan sinarnya untuk menandai party-partynya sebagai persiapan di kala dia siap menjalankan misi hero tersebut.”
“Jadi maksudmu aku sudah ditakdirkan sebagai hero sejak dari jabang bayi? Namun apa maksud dari kalimatmu sesudahnya, Dokter Minerva?” Aku kembali bertanya kepada Dokter Minerva dengan ekspresi wajah yang tak bisa menyembunyikan rasa teramat penasaranku.
“Itu benar, Yang Mulia. Dari awal, hero telah ditentukan, tetapi tidak dengan anggota-anggota party-nya. Itu secara alami tercipta dari para terpilih dari masing-masing kelas swordsman, magic swordsman, wizard, dan priest yang dekat hubungannya dengan sang hero. Dengan demikian, diharapkan bahwa hero dapat membentuk party yang solid ketika hari yang dijanjikan tiba.”
“Jadi maksud perkataanmu, keempat party pahlawan itu sudah ada dan itu adalah orang-orang yang dekat denganku? Lantas siapa mereka? Apakah Dokter Minerva tahu sesuatu?”
Bersamaan dengan pertanyaanku itu, ketiga orang itu pun memperlihatkan tanda yang terukir di tubuh mereka masing-masing yang katanya ini juga baru-baru muncul setelah kemunculan tanda pahlawanku.
Tanda pedang di bahu kanan sang grand master Albert.
Serta yang terakhir, tanda buku kebijaksanaan di punggung bagian belakang Albexus.
Aku bisa mengerti kalau itu Albert, dan bisa dikatakan memang aku cukup dekat dengan Dokter Minerva sejak aku mengenalnya, walau belum lama. Tetapi bagaimana dengan Albexus? Aku merasa sama sekali tidak dekat dengannya dan walaupun kami saling kenal karena dulu kami adalah sama-sama anggota keluarga royal, sejatinya kami tidak banyak bercengkerama satu sama lain untuk bisa dikatakan dekat.
Terhadap pertanyaanku itu, Dokter Minerva berkata bahwa dekat tidak berarti mesti saling kenal sebelumnya. Tetapi itu akan lebih mementingkan karakter kecocokan terhadap sifat masing-masing. Dan proses seleksi itu sendiri dilakukan oleh alam, jadi masih banyak pula misteri yang belum diketahui di dalamnya.
“Lantas siapa orang terakhir? Siapa sang magic swordsman?”
Namun terhadap pertanyaanku kali ini, Dokter Minerva menggelengkan kepalanya.
“Maaf, Yang Mulia. Tapi tampaknya belum ada yang bangkit sebagai pemilik perisai Alkasa. Itu kemungkinan karena terkunci oleh niat di hati Anda yang secara tanpa sadar menjadi keinginan Anda.”
Aku segera terdiam dengan ekspresi yang serius di wajahku begitu mendengar omongan Dokter Minerva itu.
Jika berbicara soal seorang magic swordsman di dekatku, bukankah cuma ada satu orang? Dan perihal musibah yang menimpa adikku Ilene sebelumnya yang harus menyebabkannya kehilangan nyawanya, hubunganku dengan sang magic swordsman itu menjadi dingin.
Dialah Alice Garcia Fallenstone, sang gadis yang menyukai lelucon jorok tetapi selalu pura-pura tak menyukainya. Seorang yang kelihatannya keras, tetapi nyatanya sangat lemah terhadap rayuan lelaki sehingga harus selalu dijaga.
Aku pernah melakukan sesuatu yang tak pantas padanya yang menyebabkan hubungan kami menjadi dingin. Itu bukan berarti bahwa kami berdua saling benci. Alice jika disuruh memilih antara suka atau benci padaku, maka dia pasti akan dengan segera memilih suka. Aku pun tak jauh berbeda jika diminta melakukan hal yang sebaliknya.
Kami sama sekali tak membenci satu sama lain. Hanya saja, tiap aku melihat wajah Alice, aku selalu terbayang wajah Ilene yang meninggal dalam kemalangan yang teramat sangat sehingga tanpa sadar aku selalu memalingkan wajah padanya tiap kali kami berpapasan.
Bagaimanapun, Alice-lah yang telah membunuh Ilene, walau tentu saja dia melakukan semua itu demi alasan kemanusiaan. Namun, itu tak mengubah fakta begitu aku teringat kematian adikku Ilene, tanpa sadar alam bawah sadarku menyalahkan Alice.
Alice juga tahu perasaanku itu padanya dan dia menghargai rasa traumaku itu sehingga dia juga membiarkan saja pengabaianku itu padanya. Lagipula, kami masih sering mengobrol bareng secara biasa di saat jam kerja sehingga sebenarnya bisa dikatakan bahwa hubungan kami baik-baik saja.
Hanya saja, bukankah aku ini jahat?
Aku membiarkan Alice yang menanggung semua beban lantas aku lepas tangan dari rasa bersalahku dengan menimpakan segala kambing hitam kepada Alice. Demi membuat diriku merasa lebih nyaman, aku melampiaskan segala kesalahannya kepada Alice.
Akulah kakak Ilene sehingga akulah yang semestinya menghabisi nyawanya begitu dia terkorupsi menjadi vampir. Namun aku lepas dari tanggung jawab itu sehingga Alice-lah yang mesti maju menanggung semua bebanku itu. Lalu dengan tidak tahu malunya, aku melemparkan segala bentuk penyalahan kepada Alice.
Aku benar-benar sampah. Aku benar-benar menjadi sampah demi mengubur rasa tidak nyaman di hatiku ini dalam-dalam.
Ini sudah saatnya aku menghadapinya dengan serius. Sudah saatnya aku terlepas dari jeratan trauma lantas meminta maaf secara tulus kepada Alice. Kuyakin, itu pulalah yang diharapkan oleh adikku Ilene di alam sana.
“Yang Mulia pasti tahu apa itu buku kebijaksanaan Liza, kan?”
“Ya, aku telah membacanya di dalam buku sejarah. Itu adalah salah satu dari kelima artifak pahlawan yang telah hilang dua ribu tahun silam dalam bencana Apollo sekaligus esensi yang terukir dalam jiwa sang priest, salah satu anggota party sang pahlawan.”
“itu benar. Sebagai pemiliki esensi buku kebijaksanaan Liza, Albexus telah mendapatkan nubuatnya bahwa hari yang dijanjikan itu akan datang tidak lama lagi. Mungkin akan terjadi pada bulan ini, bisa juga bulan depan, yang akan ditandai ketika langit termakan oleh kegelapan.”
“Apapun caranya, kita harus bisa menemukan sang anggota party terakhir sebelum tibanya hari yang dijanjikan itu, Yang Mulia. Jika tidak, kita takkan punya peluang untuk mengalahkan Raja Iblis.”
“Baiklah, Dokter Minerva. Sepertinya aku punya klu tentang apa yang sedang terjadi. Maka serahkan saja hal ini padaku untuk kuselesaikan.”
Aku pun meminta kepada Dokter Minerva dan yang lain agar membiarkanku saja untuk menyelesaikan masalah ini. Sudah jelas apa yang harus kulakukan sekarang. Tentu saja menemui Alice secepatnya.