
Dengan penuh kekesalan, Leon meninggalkan sekumpulan orang-orang tidak berguna yang mengaku sebagai pengikutnya itu, tetapi tak satu pun di antara mereka yang bisa dijadikannya berguna pada saat dibutuhkan.
Tiada yang menyanggupi proposalnya untuk menggantikan kakak sampahnya, Helios, sebagai pemimpin Kota Painfinn demi mencegah momentum kakak sampahnya itu meningkatkan kekuatannya di sana yang akan membahayakannya dalam rencana meraih tahta kerajaan perihal semuanya terlalu pengecut dalam kemungkinan menghadapi bahaya invasi gelombang monster walaupun sejatinya situasi di sana telah kembali terkendali berkat prestasi Helios.
Dia awalnya begitu bangga perihal memiliki banyak pengikut yang mendukungnya dalam perebutan tahta yang meliputi kemiliteran, perkumpulan bangsawan timur, dan perkumpulan bangsawan selatan. Namun baru kali itu dia menyadari bahwa semuanya hanyalah orang-orang yang tidak berguna.
“Praaak.”
Di saat berjalan di salah satu koridor istana itu, Leon tiba-tiba saja menghentikan langkahnya lantas menyalurkan segala kekesalannya itu pada dinding yang tidak bersalah yang sampai-sampai saking kesalnya, dinding yang dipukuli Leon itu sampai retak.
“Tidak bisa dibiarkan begini. Aku harus mencegah kakak sampah itu tetap di sana. Oh iya, ngomong-ngomong pesta perayaan istana dalam merayakan kesuksesan Ilene memasuki akademi kerajaan sudah dekat. Si kakak sampah itu juga pasti hadir di sana sejak dia masih akan berada di ibukota. Aku bisa memanfaatkan kesempatan itu. Kurasa hanya inilah jalan yang tersisa.”
Leon pun tersenyum licik dengan sangat menakutkan, tampak menyusun suatu rencana yang sangat jahat di pikirannya.
***
Lalu waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa malam perjamuan yang ditunggu-tunggu Leon itu pun tiba.
Sesuai dugaannya, Helios datang ke perjamuan yang diadakan oleh istana demi memberikan ucapan selamat kepada adik perempuan satu-satunya itu secara langsung. Helios tampak pula didampingi oleh pengawal dan maid kepercayaannya, Albert dan Yasmin.
“Wah, Master! Tempat ini begitu berkilau. Inikah yang namanya perjamuan istana?”
Yasmin yang tampak baru pertama kali menyaksikan pemandangan yang seperti itu lantas melayangkan pandangannya ke sana ke mari, mengamati dengan antusias segala seluk-beluk pesta, mulai dari pakaian para bangsawan yang berkilauan, para pelayan berpakaian seragam yang rapi, sampai pada hidangan mewah yang tertata dengan sangat menggiurkan di atas meja.
“Yasmin, jaga sikapmu! Kamu adalah maid eksklusif dari Yang Mulia Pangeran Helios. Tindakanmu akan dihitung sebagai harga diri keangungan-nya. Jadi jangan membuat malu di sini.”
“Maafkan aku.”
Mendengar teguran Albert padanya itu, segera membuat Yasmin tersadar akan sikapnya yang tidak pantas yang dapat merusak harga diri dari Helios, masternya, tersebut. Dia pun dengan cepat beralih gear dengan segera mengerem sikapnya yang kampungan menjadi tampak lebih anggun layaknya maid profesional berkat pelatihan Jilk padanya selama ini.
“Hahahahaha. Tidak apa-apa kok, Yasmin. Aku tidak terlalu peduli terhadap pandangan orang-orang sejak aku hanyalah pangeran yang diabaikan, jadi tidak apa-apa bagimu untuk bersikap santai seperti biasa.”
Helios mengucapkan kalimat itu dengan tulus tanpa ada satu kebohongan pun di dalamnya dan Yasmin yang sangat peka merasakan aura seseorang hingga bisa mendeteksi di antara kejujuran dan kebohongan orang lain segera menyadari hal tersebut, tetapi itu justru yang membuatnya semakin merasa bersalah.
‘Mulai hari ini, aku berjanji akan selalu bersikap terhormat agar Master tidak akan pernah lagi dipandang rendah oleh orang-orang.’ Dia pun jadi memiliki kebulatan tekad di tempat yang aneh yang sama sekali tak pernah diharapkan oleh Helios.
Perjamuan berselang beberapa waktu dengan damai. Namun demikian, tampak hampir tak satu pun dari para tamu undangan yang menunjukkan niatnya untuk berinteraksi dengan Helios. Semuanya hanya menatap Helios dengan pandangan yang mencurigakan sembari tetap pada lingkaran perkumpulan mereka masing-masing yang benar-benar terdiri dari dua kubu besar.
Kubu pertama adalah milik faksi pendukung sang putra mahkota, Tius Star Meglovia, yang diprakarsai oleh Marquise Roderick van Moriant, kepala akademi kerajaan sekaligus pemimpin faksi wilayah tengah, Baron Giberont fin Losso, kepala akademi ksatria, serta yang terkuat di antara mereka adalah Duke Glenn van Rodriguez: pemimpin faksi wilayah utara.
Kemudian kubu kedua adalah faksi pendukung sang pangeran ketiga, Leon de Meglovia, yang diprakarsai oleh Marquise August van Tellborne, pemimpin faksi wilayah timur, Marquise Vince van Rodhelton, pemimpin faksi wilayah selatan, serta Viscount Aloquince von Maxwell, pemimpin kemiliteran.
Tentu saja para bangsawan yang menganut kenetralan pun tetap menunjukkan sikap hati-hati dengan tidak berinteraksi dengan Helios sejak keberadaan Helios di bawah pengawasan ketat orang-orang dari kuil suci.
Sayangnya, Talia tidak pula menghadiri perjamuan itu, sementara Ilene sebagai sang pemilik pesta pun hanya bersopan santun standar kepada Helios yang menghadiri pestanya dengan menyambutnya seadanya lantas bercengkerama sebentar sewaktu Helios memasuki pintu pesta lalu meninggalkannya begitu saja tanpa niat sedikit pun untuk berinteraksi dengannya lagi padahal Helios adalah kakak kandungnya sendiri.
Helios terasingkan di pesta yang penuh keramaian itu yang tidak biasanya hal itu terjadi pada sosok seorang pangeran yang akan selalu mencuri pusat perhatian di mana pun mereka berada dengan keglamouran posisinya.
Hal itu sungguh benar-benar aneh mengingat wajah Helios pun sangat tampan untuk ukuran standar seorang pangeran.
Warna rambut dan matanya memang berbeda di antara para pangeran lain di Kerajaan Meglovia, tetapi jika ditelisik, hal itu tidaklah juga terlalu tidak biasa sejak warna rambut dan mata seperti itu adalah justru hal umum di benua selatan dan timur, bahkan juga termasuk di Kerajaan Ignitia yang merupakan salah satu negara sekutu Kerajaan Meglovia.
Hanya satu hal yang pasti bisa menyebabkan hal itu. Pengawasan kuil suci padanya.
Akan tetapi, sosok sang putra mahkota pun, Tius Star Meglovia, turut tiba di tempat itu yang langsung memecahkan kecanggungan dengan mengajak Helios berbicara secara langsung dengan penuh senda-gurau layaknya seorang kakak yang baik dan bukannya sebagai posisinya sang putra mahkota.
Lalu di luar dugaan Helios, ada sosok lain selain kakaknya, Tius, yang bersedia memecah kesunyiannya dalam keramaian itu. Mereka adalah Erick fin Hygone dan Anna Rosse Bridgette yang rupanya berasal dari akademi sihir yang sangat tertarik dengan berbagai penemuan brilian Helios, tidak hanya tentang potion peningkatan mana permanen dari tanaman grassfilt, melainkan juga beraneka ragam artifak brilian yang berhasil diciptakan oleh pangeran cerdas itu.
Suasana di hati Helios pun perlahan mencair dan dia mulai merasakan kembali kebahagiaan di tengah-tengah pesta itu. Hanya pujian sederhana yang datang dari mereka berdua, tetapi bagi Helios yang sudah terbiasa diabaikan, hal itu sudah merupakan oasis yang sangat berarti buatnya.
Bagi Helios yang sudah biasa dalam keterasingan, pujian kecil dan perhatian akan tampak sama dengan ungkapan kasih sayang di matanya. Begitulah hal yang tampak kecil di mata orang lain adalah justru sangat berharga baginya.
Semuanya berjalan dengan lancar bagi Helios di perjamuan tanpa ada satu pun masalah yang berarti terjadi setelahnya. Akan tetapi, sang pangeran ketiga, Leon de Meglovia pun turut datang menghadiri perjamuan tersebut.
Dia terlihat melangkah dengan sengaja ke hadapan Yasmin yang sedang beristirahat di pojok sembari memegang minuman merah di tangannya. Yasmin akhirnya tanpa sengaja menabrak Leon lantas menumpahkan minuman merah itu tepat ke seragam kerajaan Leon.
Alhasil, Leon meledak.
“Dasar wanita rendahan! Siapa yang mengundang wanita rendahan ini kemari, hah?!”
Tentu saja Leon sudah tahu jawabannya bahwa Yasmin adalah salah satu pengikut kakaknya, Helios, sejak mereka sudah pernah bertemu tempo silam. Semuanya hanyalah bagian dari rekayasa yang telah direncanakan dengan matang oleh pangeran licik itu.
Mendengar keributan yang dibuat oleh Leon di saat Yasmin berada di dekatnya, Helios segera berinisiatif untuk menghampirinya untuk melihat apa yang sedang terjadi. Betapa Helios tidak dapat menahan keterkejutannya karena rupanya apa yang membuat Leon marah adalah perihal maid eksklusifnya itu sendiri.
“Leon, ada apa? Dia adalah maid esklusifku. Jika dia berbuat salah padamu, silakan dibicarakan padaku. Aku akan mengganti kerugiannya.”
“Hah?! Mengapa mesti repot-repot seperti itu?! Dia kan hanyalah pelayan rendahan, tetapi berani mengotori pakaian seorang pangeran. Hanya satu hukuman yang pantas untuknya, bukan? Kakak pasti juga setuju, bukan? Hukuman yang pantas bagi orang rendahan yang kurang ajar sepertinya hanyalah hukuman pancung.”
Leon tertawa licik sambil menatap Helios sembari merendahkan maid berharganya itu. Helios yang biasanya tenang pun tak sanggup lagi untuk menahan amarahnya.