
“Kejadian sepuluh tahun lalu… Alice, jika boleh aku tahu, berapa usiamu saat ini?”
“Dua puluh dua tahun… Ada apa dengan itu, Yang Mulia Pangeran?”
Begitu aku menerima jawaban konfirmasi dari Alice, betapa aku tak mempercayainya. Rupanya, kejadian traumatis yang menjadi titik balik kehidupannya yang baru saja diceritakan oleh Alice terjadi di kala usianya baru menginjak 12 tahun.
Aku tak dapat mempercayainya.
Bagaimana bisa mantan kaisar Vlonhard itu mengirim anak yang baru berusia 12 tahun untuk menghadapi iblis, terlebih dia harus dikirim ke dalam ekspedisi pembasmian iblis di hutan monster.
Tidak hanya itu saja, dia pun dikirim bukan sebagai anggota cadangan, melainkan pemimpin tim itu sendiri.
Seorang anak yang seharusnya menikmati masa kanak-kanaknya dengan keceriaan bermain dan bersenda-gurau bersama dengan teman-teman sebayanya sampai diberikan beban seberat itu di pundaknya.
Sedewasa apapun seorang anak tampak di luar, mereka tetaplah anak-anak yang mentalnya belum berkembang.
Wajar saja ketika situasinya memburuk, mereka tidak akan dapat membuat keputusan penting dan justru bertindak ketakutan.
Mereka masihlah butuh kasih sayang dan bimbingan dari orang yang lebih dewasa. Tidak ada tanggung jawab yang patut dibebankan kepada seorang anak yang bahkan belum menunjukkan ciri-ciri fisik kedewasaannya.
Dan karena keputusan tak bertanggung jawab dari mantan kaisar itu, Alice akhirnya harus melihat pembantaian sadis nan traumatis orang-orang yang menjadi anak buahnya kala itu dan hanya bisa meringkuk ketakutan perihal kala itu dia masihlah anak-anak.
Alice pun harus terkungkung pada kejadian masa lalu itu dalam trauma mendalam bahkan setelah sepuluh tahun berlalu. Namun, apa yang bisa kau harapkan dari seorang anak-anak?
Wajar saja jika dia belum memiliki syarat yang cukup untuk melindungi anak buah yang berada di bawahnya di kala sesuatu yang dibebankan kepadanya itu jauhlah di atas dari apa yang seharusnya bisa ditanggung oleh seorang anak-anak.
Setelah mendengarkan cerita dari Alice itu, aku pun hanya dapat bersimpati padanya. Tiada yang dapat kulakukan untuk mengubah kejadian masa lalu yang telah lama terjadi.
Pagi harinya, kami melanjutkan ekspedisi kami ke wilayah lebih dalam dari hutan monster. Sampai pada suatu titik, kabut itu tiba-tiba saja sudah tak nampak di mana pun.
Sebagai gantinya, kulihatlah susunan artifak mutiara berjejer di sepanjang garis dari selatan ke utara hutan monster. Lalu dapat pula kulihat dari jauh sana pemandangan sebuah dungeon bawah tanah yang masih dalam keadaan tersegel oleh sebuah batu berlukiskan seorang wanita raksasa dengan mata tersingkap kain.
Namun bukan dungeon itu yang kini menjadi fokus kami, melainkan salah satu formasi artifak mutiara itu yang tampak mengalami kerusakan sehingga tak dapat menjalankan fungsinya dengan benar.
Aku pun menyuruh Alice dan Yasmin untuk berjaga sembari aku mulai memperbaiki artifak yang rusak itu.
Bukan hal yang sulit bagiku untuk memperbaiki sebuah artifak yang rusak, bahkan jika artifak itu berasal dari peradaban masa lalu sekalipun sejak aku dianugerahi dengan bakat kesensitifan mana.
Aku dengan mudah dapat mengidentifikasi pola aliran mana suatu artifak dan dari situ menebak bagaimana mekanisme kerjanya. Dengan cepat, aku akan bisa menemukan di bagian mana artifak itu cacat atau rusak dengan melihat di bagian mana aliran mana-nya mengalami penyimpangan.
Sekitar 30 menit aku menghabiskan waktuku bergelut dengan artifak kuno yang rusak itu, aku pun akhirnya menemukan kerusakannya.
Namun, kerusakan ini bukanlah sesuatu yang bisa terjadi secara alami. Ini adalah kerusakan berkat interfensi paksaan mana seorang manusia. Berbagai teori konspirasi pun mulai merajalela di benakku.
Akan tetapi, hal yang paling bisa kucurigai saat ini adalah Kekaisaran Vlonhard. Waktunya terlalu tepat dengan bagaimana mereka pula mengutus Alice untuk merusak benteng pertahanan Kota Painfinn di saat terjadi banyak gelombang monster berkat keabnormalan fungsi artifak penjaga itu.
Kualirkanlah mana es-ku ke dalam artifak sembari meleburkan inti monster tingkat tinggi yang baru-baru ini kami peroleh dari penaklukan serangan gelombang monster.
Beberapa saat kemudian, aku akhirnya bisa menambal kebocoran artifak itu. Akan tetapi, isinya tetap apa adanya. Sama sekali kosong melompong perihal telah tersebar ke udara sewaktu kebocoran terjadi.
Di sinilah peran kutukan monster Alice bekerja. Energi kematian yang dimilikinya benar-benar persis sama dengan energi kematian yang tertanam pada artifak sebelumnya sehingga dapat menjadi substitusi yang baik terhadap isi artifak yang telah menghilang.
Aku pun menyuruh Alice berdiri di dekatku sembari menyuruh Yasmin untuk tetap bersiaga terhadap kemungkinan akan adanya monster yang menyerang.
Kutusukkanlah mana es-ku ke jantung Alice yang berbentuk kapiler yang sangat tipis. Lalu mulai kuekstraklah mana kutukan monster yang telah berhasil terhisap oleh artifak yang saat ini sedang berada di jantung Alice tersebut.
Sedikit demi sedikit, artifak kuno pengendali pertumbuhan dungeon sekaligus yang membuat monster menjadi kurang beringas pun yang awalnya kosong melompong itu, mulai terisi kembali.
Lalu pada suatu titik, seluruh kutukan monster di dalam tubuh Alice pun habis tersedot semua lantas menghilang.
Kukatakanlah pada Alice, “Kutukan monster itu sebenarnya tidak terlalu buruk juga kamu miliki, Alice.”
Tentu saja Alice sejenak akan marah karena menyalahpahami maksud perkataanku itu. Namun, sebelum dia sempat berujar, aku memberikannya penjelasan terhadap apa yang kumaksudkan.
“Dengan kutukan monster itu, kamu dapat menjadi tanker yang sangat aku butuhkan dalam party, Alice. Kamu bisa menciptakan agro pada monster yang akan sangat banyak bermanfaat pada strategi party ketika kita sedang menghadapi monster.”
“Itu mungkin baik, tapi itu telah membuat hidupku menderita selama ini. Untuk tetap memiliki kutukan itu, sebenarnya aku sangat takut. Tetapi jika ini kehendak Yang Mulia Pangeran Helios, maka tentu saja akan kulakukan sejak aku sudah menyerahkan hidupku sepenuhnya kepada Anda.”
Namun, terhadap ketakutan Alice itu, aku segera menampiknya.
Kuambil sekitar 0,05 % kutukan lalu alih-alih kutaruh di dalam artifak kuno, aku menaruhnya ke dalam kalung putih yang sebelumnya kuberikan kepada Alice sebelum memasuki wilayah hutan monster itu. Kalung pun seketika berubah warna menjadi abu-abu.
“Tidak usah cemas, Alice. Kutukan itu tak lagi tersimpan di dalam dirimu, tetapi berada di dalam kalung ini. Kamu bisa mengaktifkan efek agro monster kapan saja kamu inginkan tanpa khawatir lagi kalau kutukan monster itu akan mencemari aliran mana-mu.”
“Kalau begitu, aku sangat bersedia, Yang Mulia.” Terlihat tiba-tiba mata Alice berkaca-kaca, lalu tak lama kemudian, dia pun menangis tersedu-sedu.
“Terima kasih. Terima kasih, Yang Mulia Pangeran. Berkat Anda… berkat Anda, kini aku dapat terbebas dari kutukan monster itu. Kini aku dapat kembali menjadi seorang swordsman yang aku inginkan. Aku tak perlu lagi khawatir soal monster yang tiba-tiba saja menggila tiap kali berada di dekatku. Juga, pada akhirnya aku akan kembali mampu melukai para monster dengan skill pedang yang aku banggakan ini.”
Aku pun menatap Alice dengan tatapan mata kasihan.
Lalu, aku pun secara jujur berbicara perlahan kepadanya.
“Alice, kutukan monster itu hanya berpengaruh terhadap agro monster saja. Namun, soal kamu tak dapat lagi menggunakan pedangmu, itu adalah trauma. Hanya kebulatan tekad di dirimu saja yang mampu menyembuhkannya.”
Ya, Alice yang tak dapat berhasil sekalipun mendaratkan serangannya kepada musuh adalah hasil dari traumanya ketika dia menyaksikan pembantaian rekan-rekannya oleh monster.
Jauh di lubuk hatinya yang dalam, tertanam ketakutan Alice yang sangat kuat untuk melukai sesuatu perihal hatinya yang lembut itu, terlebih setelah menyaksikan bahwa hasil apa yang diperoleh dari penyerangan adalah kematian tragis lawan yang kita serang.
Juga trauma itu dia peroleh ketika masih kanak-kanak, maka tentu saja luka yang dihasilkannya akan lebih membekas lagi.