Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 95 – AWAL MULA KETEGANGAN DI IBUKOTA



Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat dan kini telah memasuki masa kehamilan delapan bulan Talia. Karena perutnya yang semakin membesar, Talia tidak bisa lagi leluasa bergerak ke mana-mana sehingga kebanyakan menghabiskan waktunya di mansion.


Tak banyak pula yang dapat dilakukannya di mansion. Palingan, kegiatan sehari-hari Talia di mansion hanyalah merajut pakaian calon bayi kami ataukah membaca novel. Belakangan Talia kelihatannya menyenangi membaca novel bergenre pahlawan.


Karena aku tak tega melihat istriku bosan terus-terusan di rumah dan terlebih aku sering keluar mengurus berbagai hal dan hanya meninggalkan Alice menjaga Talia, aku pun mengembangkan penemuan yang aku sebut sebagai televisi.


Itu adalah sejenis alat yang mampu merekam kejadian yang terjadi di luar lalu menampilkannya kembali dalam bentuk reka ulang pada gambar yang bergerak yang tersaji pada kotak kecil yang disebut sebagai televisi itu.


Dengan adanya televisi, terlihat bahwa Talia tidak lagi terlalu bosan karena walaupun dia harus menghabiskan kebanyakan waktunya di mansion, dia tetap mampu mengamati perkembangan keadaan yang terjadi di luar.


Yah, walaupun itu mungkin sebagian besar karena sifat Talia yang pada dasarnya memang menggemari kegiatan membaca buku. Kesehariannya di ibukota kebanyakan memang dihabiskan untuk mengunjungi perpustakaan besar di istana demi membaca buku. Oleh karena itu, Talia tampak tidak terlalu terbebani dengan perubahan mendadak pada pola hidupnya tersebut.


Bagaimana pun, aku senang hanya dengan melihat istriku selalu bahagia.


“Mas Lou, kalau anak kita lahir, akan kita namai apa ya, Mas?” Itu adalah pertanyaan Talia suatu ketika di saat kami sedang asyik minum teh bersama di beranda.


“Hmm, bagaimana kalau Ruvaliana? Itu kan identik dengan namamu, Sayang? Untuk menunjukkan betapa kita mencintai anak kita.”


“Ruvaliana. Hmm, kedengarannya bagus untuk nama bakal calon putri kita, Mas. Kita bisa memanggilnya dengan nama kecil Valia kalau begitu. Hmm… kalau begitu, jika anak ini laki-laki, maka mari kita namai dengan Helion, Mas.”


“Helion?”


“Yah, Helion. Itu diambil dari namamu, Mas, yang menunjukkan betapa kita mencintai anak kita, bukan? Sekaligus kita bisa memanggil nama kecilnya sebagai Lion. Bukankah itu imut, Mas?”


Helion kah? Bukan nama yang buruk. Tapi ngomong-ngomong, bukankah itu salah satu nama yang pernah disebutkan Nunu waktu marah sebelumnya? Dan juga, dengan panggilan Lion, bukankah lebih terasa bahwa anakku itu ayahnya Leon ketimbang aku?


Ngomong-ngomong, apa yang kami lakukan minum teh di beranda saat ini adalah demi menunggu Dokter Minerva yang sementara dijemput oleh Albert dari klinik Venia.


Sekitar dua atau tiga bulan lalu, Guru Zizi memperkenalkan aku dengan salah satu dokter berbakat yang berasal dari sisa-sisa pelarian Kerajaan Rimuru yang bernama Minerva.


Rambut dan matanya berwarna hitam persis sama denganku. Itu adalah ciri-ciri fisik yang umum ditemukan di bagian paling timur benua.


Mungkin itulah alasannya daripada di ibukota, Minerva lebih memilih menetap di Kota Painfinn yang adem dari rasisme. Untuk alasan dia tidak memilih menetap di Kerajaan Ignitia saja, sebenarnya aku juga kurang tahu terhadap hal itu. Tetapi itu adalah hal yang bagus jika kota ini ketambahan satu orang lagi yang berbakat.


Minerva-lah yang saat ini bertugas memeriksa kandungan Talia menggantikan Venia sejak sedari awal bakat Venia berspesialisasi terhadap ilmu biologi walaupun dia sedikit memahami ilmu tentang kebidanan.


Namun sejak Minerva yang memiliki spesialisasi terkait anatomi tubuh datang ke kota ini, tugas memeriksa kondisi kesehatan kandungan Talia pun diserahkan kepadanya.


Walau Minerva juga bukan spesialis yang spesifik di bidang kebidanan, setidaknya spesialisasinya lebih dekat dengan itu.


Ini adalah masa-masa penting pula di ibukota kerajaan. Sejak agresi Kekaisaran Vlonhard semakin brutal, persatuan ketiga kerajaan selatan pun berencana mengadakan pertemuan diplomatik dalam rangka membahasnya. Tampaknya, Kak Tius sebagai pemimpin delegasi dari Kerajaan Meglovia sangat sibuk mengurus segala persiapannya.


Untunglah saat ini, masih ada kubu Putra Mahkota Albexus Star Vlonhard yang menekan kubu Kaisar Ethanus Sun Vlonhard di Kekaisaran Vlonhard dalam melakukan agresi terhadap kerajaan lain tersebut sehingga sang kaisar belum bisa berbuat seenaknya.


Namun, sampai kapan kira-kira sang putra mahkota dan kubunya dapat bertahan mengingat rata-rata bangsawan Kekaisaran Vlonhard malah mendukung sang kaisar? Tidak lama lagi, Benua Ernoa akan segera ditimpa kekacauan yang besar. Jika itu terjadi, lantas bagaimana dengan nasib rakyat?


Melebihi nasib rakyat, aku sebenarnya hanya tidak ingin melihat bayiku dilahirkan di tengah pertumpahan darah. Pada dasarnya, aku memang hipokrit. Aku bukanlah manusia yang sebaik Kak Tius yang bisa lebih mengutamakan kepentingan kerajaan di atas kepentingan segalanya. Bagiku, tiada yang lebih penting daripada keluargaku sendiri.


Akan tetapi, demi mewujudkan lingkungan yang aman bagi keluargaku tersebut, tentu saja kerajaan harus tetap aman untuk itu. Oleh karena itu, aku akan berjuang melakukan apapun demi tetap terwujudnya kedamaian di kerajaan ini.


Di sekitar waktu-waktu sibuknya Kak Tius mengurus delegasi diplomatik, Ayahanda tiba-tiba saja pingsan sewaktu memimpin salah satu pertemuan di aula istana. Tampaknya, kondisi Ayahanda kembali memburuk dipengaruhi oleh stres berlebihan akibat permasalahan agresi Kekaisaran Vlonhard tersebut.


Mendengar berita itu, aku bergegas kembali bertolak ke ibukota demi memeriksa kesehatan Ayahanda. Untunglah kondisinya tidak begitu parah sehingga Ayahanda segera dapat kembali baikan.


Aku tidak bisa lagi mengabaikan keadaan istana melihat situasinya yang penuh dengan kekacauan seperti ini. Namun, bukan berarti aku bisa mengabaikan Talia yang sedang hamil besar di Kota Painfinn. Aku pun terpaksa melakukan perjalanan bolak-balik antara Kota Painfinn dan Kota Megdia demi mengakomodir keduanya.


Perjalanan terbang dengan menggunakan sayap mana selama 14 jam tiap kali terbang memang sangat melelahkan. Tetapi apa boleh buat, aku harus melakukannya untuk saat ini. Itu karena aku tidak bisa mengabaikan salah satu di antara keduanya, entah itu kesehatan Talia dan bakal calon bayi kami yang dikandungnya, entah itu kesehatan Ayahanda dan berbagai permasalahan pelik di istana yang menjadi penyebab stres Ayahanda itu.


Karena Kak Tius untuk sementara waktu berfokus di Kerajaan Cabalcus demi mengurusi masalah pertemuan diplomatik tersebut, sementara kami tidak bisa membiarkan Ayahanda terlalu stres mengingat usianya yang sudah tua sehingga kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi untuk terlalu stres, maka aku dan Ilene berinisiatif untuk membantu tugas Ayahanda sebagian dalam menangani masalah internal di istana.


Jika Ilene mengurus masalah administrasi istana termasuk masalah perpajakan yang merupakan bidang keahliannya, maka aku yang mengurus masalah kebijakan pertanian, perdagangan, termasuk sanitasi warga.