
Hanya dengan mengunjungi dungeon secara langsung, Helios akan mampu untuk menemukan akar masalah keanehan di hutan monster itu bahkan setelah artifak pengendali monsternya diperbaiki sejak tiada jalan baginya untuk mempertahankan koneksinya terhadap para familiarnya itu ketika menembus daerah berkabut.
Namun sejak Yasmin jatuh sakit dan Albert baru saja pulih setelah cedera parah dari Leon, sulit bagi Helios untuk bergerak. Namun demikian, karena dia merasakan urgensi terhadap masalah ini, walau tanpa kehadiran Yasmin dan Albert pun, Helios akhirnya tetap memutuskan untuk memulai ekspedisi dengan anggota-anggota yang tersedia yakni Alice, Nunu, dan Damian.
“Apa kamu bilang, Kakak Sampah?! Kamu tidak hanya sampah, tapi juga bodoh! Mana bisa kamu mengajukan diri pergi ke hutan monster di kala situasinya tidak jelas?!”
“Hah. Kamu sungguh-sungguh mengkhawatirkanku sekarang, Leon?”
“Hah! Siapa yang mengkhawatirkanmu?! Kalau Kakak mati di sana malah itu lebih mudah buatku! Namun sejak reputasiku di sini yang dipertaruhkan dan juga pastinya akan ada skema dari kakak tertua licik itu setelahnya, mana mungkin aku membiarkanmu mati begitu saja!”
Leon menolak tegas rencana itu yang dengan tegas menyatakan bahwa alasannya bukanlah karena afeksi.
Namun, sejatinya dia berbohong.
Leon melakukan semua itu perihal dia yakin bahwa Damian tidak salah lagi adalah pahlawan terpilih dari kuil suci yang diutus untuk mencelakai kakaknya itu sejak kakaknya adalah musuh bersama umat manusia yang telah ditetapkan oleh ramalan kuil suci.
“Aku paham maksudmu, Leon. Aku juga bukan orang bodoh yang akan membuang nyawa secara sia-sia.”
“Makanya duduk diam saja di sini dan amati situasi dulu. Lagipula belum ada ancaman langsung yang diakibatkannya bagi kota ini maupun kerajaan.”
“Apa kamu akan menunggu sampai ancaman muncul dulu baru bergerak? Lagipula ini tampaknya akan menjadi ancaman yang lebih besar dari yang kita duga. Yasmin tampaknya juga mulai tercemar akan sesuatu di hutan monster itu.”
Leon terlihat kewalahan dalam berdebat dengan kakaknya sejak dia selama ini adalah karakter yang lebih suka main hantam sebelum berbicara. Dia jelas tidak suka pembicaraan yang muluk-muluk. Namun demikian, tekad Leon kuat untuk tidak membiarkan kakaknya untuk terjun ke dalam bahaya, tidak hanya hutan monster, sejak Helios juga berencana untuk membawa Damian turut bersamanya yang justru bagi Leon adalah ancaman yang jauh lebih besar.
“Sekali tidak boleh pokoknya tidak boleh! Aku yang pemimpin sekarang dan Kakak adalah bawahan, jadi Kakak harus memenuhi semua perintahku!”
Leon terdiam sejenak, lalu dia mulai menyadari keanehan di ucapan Helios.
“Tunggu, apa maksudmu pelayanmu itu tercemar? Apakah ada sesuatu yang belum kuketahui?”
Helios nampak bingung. Hal itu karena dia tidak bisa menjelaskan kemampuannya yang sensitif terhadap mana sejak itu adalah salah satu kartu truf-nya yang kelak mungkin akan menyelamatkannya dan semua bawahannya jikalau nanti terjadi kekacauan perebutan tahta dan nyawanya diincar oleh salah satu saudaranya Tius atau Leon.
Helios percaya akan kebaikan hati kakak pertamanya dan dia juga tidak berpikir bahwa adiknya yang baginya imut tapi bodoh itu akan tega untuk membunuhnya. Tetapi Helios tidak bisa memastikan masa depan apa yang akan terjadi.
Helios tidak punya keyakinan yang teguh jika kedua saudaranya itu tidak akan terpengaruh oleh para pengikutnya. Ditambah melalui berbagai sejarah yang dibacanya, Helios tahu bahwa harga nyawa saudara yang paling murah itu dimiliki oleh keluarga kerajaan yang terpesona oleh kegemilangan tahta.
“Aku tidak bisa menjelaskan detailnya. Tapi percayalah, Leon, Kakak akan melakukan yang terbaik. Aku mau tidak mau harus keras kepala kali ini sejak ini melibatkan nyawa semua orang yang aku cintai di kota ini.”
Helios akhirnya memutuskan untuk menyembunyikan detailnya tentang bagaimana dia bisa merasakan mana Yasmin terkoneksi pada salah satu dungeon di sana yang tidak lain adalah dungeon Milanda tersebut melalui sensitifitasnya pada mana tersebut.
“Apa bagimu nyawa pelayan rendahanmu itu dan semua orang di kota ini segitu pentingnya dari nyawamu sendiri, Kakak Sampah?! Sampai kapan kamu akan terus merendahkan status keluarga kerajaan?! Mereka hanyalah orang rendahan yang hanya pantas jadi bidak bagi kita, para kaum bangsawan!”
Helios seketika terdiam. Dia memang menganggap bahwa adiknya itu telah berubah menjadi angkuh setelah sekian lama tidak ditemuinya. Namun, untuk berpikir Leon hanya menganggap nyawa para rakyat jelata itu tak ubahnya sebagai seonggok sampah, Helios pun mulai naik pitam. Hampir tiada afeksi lagi darinya buat adiknya itu.
“Memangnya apa bedanya nyawa kita dengan nyawa orang lain?! Kita sama-sama manusia, Leon. Aku tidak suka kamu membeda-bedakan siapa yang pantas diselamatkan dan mana yang tidak, hanya dari status sosialnya.”
“Itu…” Leon sejenak kehilangan kata-kata.
Namun dengan cepat, dia mengubah ekspresinya menjadi datar dan tampak tak tertarik lagi melanjutkan pembicaraan itu.
“Ya, aku tidak peduli dengan nyawa mereka semua. Aku hanya peduli pada untung rugi termasuk reputasiku jika terjadi apa-apa dengan Kakak sewaktu kamu di bawah pengawasanku. Setidaknya lakukan itu jikalau aku sudah tiada.”
Leon sejatinya khawatir kepada kakaknya, tetapi itu gagal disadari oleh Helios perihal ketidaktahuannya soal informasi Damian yang berhasil dikumpulkan oleh Ilene dan Leon. Walaupun curiga kepada Damian, itu hanya kecurigaan tingkat rendah saja sehingga Helios tidak terlalu memikirkan soal Damian yang ikut pada tim ekspedisinya sejak tiada orang lain yang lebih baik lagi dirinya untuk menggantikan posisi Albert.
Tentu saja sampai saat ini, baik Ilene maupun Leon, belum memiliki bukti konkrit sama sekali bahwa Damian memang terlibat dengan skema jahat kuil suci sesuai kecurigaan mereka, makanya Leon pun belum bisa bertindak gegabah.
Leon kemudian hanya pergi saja meninggalkan kakaknya itu tanpa menyetujui keinginannya. Leon lantas memerintahkan empat prajurit bayangannya untuk mengawasi pergerakan kakaknya itu agar tidak bertingkah macam-macam.
Berapa kali pun Helios mengganggunya untuk mengajak bertemu setelah itu, Leon tak pernah menggubrisnya lagi.
“Hah. Lagi-lagi aku melihat burung Kakak. Apa Kakak berniat mengawasiku lantas memutuskan untuk pergi ketika aku lengah?”
Leon hanya berpura-pura tak melihat burung es transparan, familiar milik kakaknya itu, yang sedari tadi terbang di sekitar jendelanya. Leon pun dengan santainya melanjutkan tidurnya.
Sebenarnya tidak sulit untuk menyadari familiar kakaknya itu asalkan seseorang memiliki kesensitifan mana. Termasuk diri Leon, dia memiliki kesensitifan mana yang juga tak diketahui oleh Helios.
Walau sang adik tak sehebat sang kakak, tetapi tidak diragukan lagi bahwa kedua kakak-beradik itu sama-sama dianugerahi kesensitifan mana yang prominen, tetapi saling merahasiakan kemampuannya masing-masing. Hal itu karena Helios takut akan keserakahan Leon, sementara sebaliknya, Leon takut diwaspadai dan akhirnya dijauhi oleh kakaknya.
Leon kemudian meninjau kembali situasinya bahwa dengan kepergian kakaknya ke hutan monster, mungkin ini bisa menjadi peluang baginya untuk mengisolasi kakaknya yang bisa memiliki mata di mana-mana itu melalui familiarnya.
Tekanan mana di hutan monster yang sangat kuat akan menyebabkan mana Helios terisolasi untuk sementara waktu di sana sehingga dia akan kehilangan koneksinya terhadap para familiarnya yang tersebar di seluruh penjuru kerajaan termasuk benua, bahkan beberapa di selatan dan timur benua.
Dengan demikian, Leon akan punya waktu yang cukup agar dirinya mampu menyelidiki Damian yang dia curigai tersebut asalkan Damian tidak turut pergi bersama kakaknya di dalam ekspedisi.
Jika Damian yang merupakan potensi ancaman terbesar bagi Helios tidak akan ikut dan dia yakin benar akan kemampuan kakaknya cukup hebat untuk sekadar mempertahankan diri, Leon pun tidak perlu mengkhawatirkan lagi kakaknya itu.
Namun sebagai jaga-jaga terhadap variabel tidak terduga lainnya, Leon juga berencana mengutus salah seorang bawahannya untuk menjaga Helios yang akan bertugas menjamin kakaknya mampu melarikan diri jika sesuatu yang tak terduga benar-benar terjadi.
Tekadnya pun bulat setelah memikirkan semuanya secara matang. Di pagi hari itu, Leon kembali menemui Helios untuk memberitahukannya tentang perubahan keputusannya.
“Aku sudah memutuskan, Yang Mulia Pangeran Kedua. Kamu boleh pergi. Akan tetapi karena Damian sangat dibutuhkan keberadaanya di kota saat ini sejak sang komandan sementara, Albert, masih sakit, jadi aku tak bisa membiarkannya turut pergi. Sebagai gantinya, salah satu pengawal bayanganku yang akan menemanimu. Snake.”
Seiring Leon menyebutkan nama Snake sesosok pria bertopeng ular tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.
“Mulai sekarang, orang inilah yang akan menggantikan Damian menjadi bagian dari ekspedisimu. Oh iya, panggil saja dia dengan nama Codi.”
Seraya Leon mengatakan hal itu, Snake alias Codi segera melepaskan topengnya. Rupanya, dia adalah seorang pria muda dengan kulit putih yang sangat menawan. Rambutnya yang coklat menandakan bahwa dia adalah rakyat biasa dari ibukota kerajaan layaknya Damian.