Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 47 – ADIK YANG BERGUNA



[POV Leon]


Entah sejak kapan hubungan persaudaraan kami menjadi renggang. Apakah itu sejak Kak Helios mengalami pengasingan perihal ramalan tiran kuil suci ataukah sejak aku dan Kak Tius menempuh jalan yang berbeda-beda dan kami mulai dipersiapkan memperoleh tahta oleh faksi kami masing-masing, aku sudah tidak dapat mengingatnya lagi.


Padahal jelas bahwa masa kecil kami sangatlah menyenangkan.


Aku masih teringat hari itu. Hari ketika kuterjatuh dari pohon lantas menangis tersedu-sedu layaknya anak kecil.


“Hiks, hiks, Kakak, kakiku sakit karena jatuh dari pohon.”


“Kasihan, adikku sayang. Sini Kakak obati.”


“Perih, Kakak.”


“Seorang laki-laki itu harus bisa menahan rasa sakit. Sakit segini saja tuh belum apa-apa.”


“Hiks, hiks.”


Masih jelas benar di ingatanku kala itu, Kak Helios lantas mengusap kepalaku dengan lembut seraya berkata, “Kalau begitu, mau kutunjukkan suatu pertunjukan yang keren? Tetapi dengan syarat Dik Leon tidak akan menangis lagi.”


“Hmm.” Aku pun mengangguk dengan penuh antusias akan pertunjukan seperti apa yang akan Kak Helios lakukan untukku itu.


Seketika kulihat uap-uap air di udara berkumpul lantas membeku membentuk percikan-percikan es. Lalu percikan-percikan es itu menyatu lantas membentuk sesuatu menyerupai burung.


Aku seketika terkesima menyaksikan pemandangan puluhan burung-burung es terbang mengelilingi langit di atas kepalaku.


“Wah, indahnya! Kak Helios memang hebat! Bisakah ketika aku seusia Kakak juga menggunakan jurus yang seperti ini?”


Tak kusangka aku yang masih berusia 4 tahun kala itu begitu terkesima dan takjub akan penampilan jurus es Kak Helios itu. Begitu aku besar, perlahan aku memahami bahwa keluarga kerajaan Meglovia adalah keluarga yang diberkahi oleh api suci sehingga eksistensi seperti Kak Helios yang memiliki elemen es adalah justru kecacatan bagi keluarga.


Pengguna jurus api-lah yang diagung-agungkan oleh orang-orang. Begitulah aku, Kak Tius, dan Ilene dinilai tinggi oleh warga kerajaan, sementara Kak Helios dicerca. Kemudian, semuanya pun bertambah parah ketika ramalan suci tentang Kak Helios akan menjadi tiran masa depan itu tiba.


Perlakuan mereka benar-benar buruk padanya. Padahal, apa sebenarnya yang membedakan antara pengguna jurus api dan es? Keduanya samalah hebatnya. Mengapa di negara ini eksistensi pengguna sihir es dianggap sebagai sesuatu yang hina? Dan mengapa hanya Kak Helios saja di kerajaan ini yang memiliki kekuatan yang seperti itu? Mungkin karena melihat kakakku diabaikan itulah, aku bersimpati padanya.


Lalu mungkin sekitar aku berusia 9 tahun, sekitar lima tahun sejak Kak Helios mengalami pengasingan itu, aku menyaksikannya sendiri bahwa bagaimana ibu kandung kami sendiri merencanakan pembunuhan kepada kakakku itu dengan meracuni makanannya.


Dengan polosnya, kakakku itu memakan makanan pemberian Ibunda dengan bahagia setelah tidak menerima cintanya dalam waktu yang lama. Alhasil, kakakku pun keracunan. Syukurlah, Kak Helios bisa selamat dari maut berkat tekadnya yang kuat untuk hidup.


Tiada yang bisa kulakukan kala itu karena aku masih kecil. Aku tidak dapat melindungi kakakku itu dengan kekuatanku saat ini. Di situlah, aku memutuskan untuk bisa menjadi orang yang kuat yang cukup kuat untuk melindungi Kakak dari kuil suci dan orang-orang fanatik pengikutnya yang senantiasa ingin mencelakai Kakak.


Aku sadar bahwa Kakak memanglah kuat, bahkan lebih kuat dariku. Namun demikian, dia tidaklah punya sekutu yang mampu diandalkannya. Ah, aku lupa bahwa dia punya Albert. Dan juga sejak kedatangannya di Kota Painfinn ini, sekutu yang dapat diandalkannya pun bertambah. Namun, itu belumlah cukup untuk menantang kuil suci yang sudah berakar kuat di benua.


Setidaknya, aku harus melindungi Kakak sampai akarnya telah cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri dari kuil suci.


Mengenai ramalan itu tentang Kakak akan membunuh saudara-saudarinya demi tahta? Mana mungkin aku percaya terhadap semua omong kosong itu! Itu pastilah hanyalah trik dari kuil suci belaka yang tidak suka eksistensi yang betolak belakang dengan mereka seperti Kak Helios yang berelemen es.


Mana mungkin kakakku yang berhati lembut itu dan tak pernah tertarik hal lain selain ilmu pengetahuan itu akan melakukan hal nista membunuh saudara-saudarinya demi tahta.


Lagipula, mengapa kakakku itu harus begitu berbeda dari keluarga kerajaan lain? Tidak hanya sihirnya, tetapi juga warna rambut dan matanya. Ini semua salah Ayahanda yang mewarisi genetik dari Kakek kepada Kak Helios.


Lalu sekarang, bahaya baru kembali mengintai Kak Helios begitu kuil suci mendapati eksistensi Kak Helios yang mulai mengancam pasca insiden the king of undead itu.


Mengingat kembali pembicaraanku dengan Ilene di suatu malam.


“Tampaknya Pahlawan dari kuli suci telah muncul, Kak Leon.”


“Kakak masih ingat ramalannya kan tentang apa syarat pahlawan dari kuil suci akan diakui oleh dunia?”


“Kak Helios?”


“Benar. Mereka perlu untuk membuat eksistensi Kak Helios dibenci dulu oleh publik lalu pahlawan akan datang untuk mengalahkan sang tiran Helios. Tetapi nyatanya sekarang, Kak Helios malah membuat famor-nya meningkat di Kota Painfinn. Kuil suci pasti sedang geram karena masalah ini.”


“Lantas, semuanya akan baik-baik saja kan untuk saat ini sejak tidak ada alasan bagi mereka untuk mengganggu Kak Helios sekarang?”


Terhadap pertanyaanku itu, Ilene menggelengkan kepalanya.


“Kak Leon terlalu menganggap enteng kepicikan kuil suci. Jika tidak ada alasan, maka mereka cukup membuatnya sendiri saja. Itulah sebabnya mereka mulai menyusupkan sang pahlawan membaur di sekitar Kak Helios di Kota Painfinn.”


Menurut jaringan informasi Ilene yang ditempatkan di kuil suci, sang pahlawan telah berhasil menyusup ke Kota Painfinn ini dan bersiap untuk menerkam Kak Helios. Kurang lebih, aku telah menemukan satu sosok yang mencurigakan, tetapi aku tidak boleh gegabah dalam bertindak sebelum aku memastikan benar bahwa dialah orangnya.


Aku yang akhirnya tiba kembali di Kota Painfinn setelah mengurus masalah dugaan mata-mata kekaisaran yang menyelinap di kota ini serta ancaman perang masa depan dengan kekaisaran, kemudian berjalan-jalan di sekitar halaman mansion.


Tiba-tiba aku mendengar suara ribut-ribut di sekitar sana lalu aku pun menghampirinya. Tak kusangka, aku menyaksikan sosok kakakku, Kak Helios, yang sedang bersama orang yang mencurigakan itu, Damian.


Apa yang sebenarnya dilakukannya? Apakah dia sama sekali tidak mengindahkan peringatan bahayaku terhadap Damian padanya?


***


Kala itu sekitar sore hari, Nunu berlatih tanding dengan Damian dan Alice. Walau demikian, sejatinya hanyalah Damian yang terlihat serius berlatih dengan Nunu.


Berkali-kali Alice melayangkan pedang besarnya untuk menangkis tombak Nunu, dia selalu saja meleset padahal target hanya berjarak kurang lebih 20 sentimeter di hadapannya.


Alhasil, tombak Nunu selalu mampu mengenai zirah Alice. Namun, berkat kekuatan fisik Alice yang sangat luar biasa itu, berapa kali pun tombak sihir menyerang zirahnya, stamina Alice tampak selalu baik-baik saja.


Leon yang kemudian datang lantas melihat pemandangan itu, hanya bisa geleng-geleng kepala.


“Kakak Sampah, apakah Kakak serius melatih anak buah Kakak seperti ini?”


“Yang Mulia Pangeran Ketiga! Aku tahu bahwa Anda memang keluarga kerajaan, tetapi sampai memanggil kakak Anda sendiri yang juga keluarga kerajaan dengan sebutan yang sangat tidak sopan seperti itu, aku sebagai pengawal Yang Mulia Pangeran Kedua, tidak bisa tinggal diam.”


“Dan juga Kakak Sampah, sudah kubilang berkali-kali untuk melatih anjingmu agar tidak menggonggong di hadapan orang yang salah.”


Sesaat, Leon beserta Helios dan Albert yang ada di hadapannya beradu tatapan dalam diam. Sampai kemudian Leon kembali memecah sauasana diam dalam ucapannya,


“Hah, sudahlah. Aku hanya mau bilang, hei gadis pendek (Nunu), caramu mengalirkan mana itu benar-benar tidak efisien. Daripada membayangkan image besar dan kuat, coba bayangkan aliran mana yang tipis tapi tajam. Itu pasti akan lebih membantumu menghemat mana di samping seranganmu akan jauh lebih kuat dan tajam.”


“Tetapi sirkuit sihirku rusak, aku tidak akan bisa melakukan seperti apa yang Yang Mulia Pangeran Ketiga katakan.”


“Ini tidak ada kaitannya dengan sirkuit sihir yang rusak. Ini tentang manajemen pikiran. Ingat bahwa kekuatan seorang penyihir itu berasal dari kekuatan pikirannya dalam berimajinasi. Lalu kau gadis bongsor (Alice), sampai kapan kamu akan menghindari rasa takutmu itu? Kamu tidak akan bisa menjadi pedang Kak Helios jika kamu terus-terusan menjadi sampah seperti itu!”


“Aaaaaaah! Takkan kubiarkan tekadku ini surut hanya karena hinaan Anda, Yang Mulia Pangeran Ketiga.”


Walau kata-katanya seperti itu, berbeda dari makna ucapannya, ekspresi Alice sama sekali tidak menunjukkan pertentangan batin, malahan dia terlihat senang oleh makian Leon itu.


Lalu melihat Alice yang demikian, jangankan malu, Leon malah turut menyengir puas akan ekspresi terintimidasi Alice itu.


Helios yang menyaksikan pemandangan memuakkan itu tepat di depan matanya sendiri, hanya dapat menepuk jidatnya dengan putus asa.