
“Nah, alat siksaan apa kira-kira ya yang paling tepat tanpa membunuh seseorang?”
Ludwig terlihat asyik dengan berbagai koleksi alat siksaannya sembari menatap Helios dengan penuh kegirangan.
“Pemotong lidah, pemintal leher, kalung berduri… Ah, bagaimana dengan garpu…”
-Tuak.
Garpu yang dipegang oleh Ludwig itu tiba-tiba saja terjatuh dari tanah.
Tidak, tangan kanannya jelas masih memegang garpu itu, tetapi garpu itu jatuh ke tanah.
Tangannya telah puntung dan bersamaan dengan jatuhnya garpu itu ke tanah.
“Aaaaaaaakkkkkh!”
Semua pengawal Ludwig jika ditotalkan hampir berjumlah seratus orang, itu pun masih mengecualikan para summon-an living armor yang disummon-nya. Naumn dari sekian banyak pengawalnya itu, tiada satu pun yang sempat merespon serangan yang mengarah ke Ludwig itu yang menyebabkan tangan kanannya sampai puntung.
Itu adalah Helios yang menyerang. Dia melapisi tangan kanannya dengan sihir es yang mempertajam bagian kukunya. Itu bukan sekadar tangan manusia lagi. Itu adalah tangan monster.
“Apa yang kalian lakukan para prajurit tidak berguna! Cepat bunuh orang itu!”
Melihat tangan kanannya terlepas dari badannya, Ludwig telah kehilangan akal sehatnya. Dia tidak lagi mengindahkan perintah Rahib Robell untuk tidak menyentuh Helios.
Akan tetapi,
-Puak, puak, puak, puak, puak, puak, puak, puak, puak, puak, puak, puak, puak, puak.
Helios berpesta darah. Tubuh setiap pengawal yang mendekatinya tercerai-berai hingga tak lagi berbetuk bagaikan diterkam serigala yang kelaparan.
Melihat pemandangan horor itu, Ludwig pun tak dapat menahan ketakutannya.
“Tidak. Pergi! Jangan mendekat kemari, dasar iblis!”
“Hahahahahahaha. Iblis kah? Kurasa itu benar? Tapi bukankah kita tidak jauh berbeda? Rupanya inilah yang namanya kesenangan melihat wajah penderitaan orang lain. Pantas saja kamu tertarik dengan hobi ini, Putra Mahkota Ludwig. Hal ini benar-benar menyenangkan. Nah, sekarang mari kita mulai pesta ronde keduanya.”
“Tidak! Tidak! Pergi! Jangan mendekat! Hei, para monster sialan! Bunuh iblis ini!”
Kini giliran para living armor yang berdatangan. Itu adalah monster yang disummon oleh Ludwig sebelumnya.
Tetapi ada yang aneh.
“Hei, hei, apa yang kalian lakukan?! Musuh kalian ada di depan sana. Mengapa kalian kemari?! Tidak! Tidak! Jangan!”
Di luar harapan Ludwig, para monster itu rupanya menyerang tuan mereka sendiri.
“Bagus! Bagus sekali para monster! Ingat! Minimal 3 tusukan tiap individu, tapi pastikan agar mangsanya tidak tewas.”
Itu bukanlah Ludwig, tetapi malah Helios yang memerintah para living armor itu. Tiap living armor pun memberikan tusukan ke bagian tubuh non vital Ludwig setidaknya paling sedikit tiga tusukan sesuai perintah sang tiran.
“Tidak, mengapa?!”
“Itu persoalan yang mudah mengambil alih kendali monster yang dikontrak sebab walaupun itu rumit, polanya sama dengan rune. Selama sirkuit kontrak bisa dimodifikasi untuk memutuskan hubungan dengan tuannya untuk dialihkan ke diri sendiri, kita dapat dengan mudah mengambil alih kendali seberapa banyak pun monster yang dikontrak oleh summoner iblis… Yah, setidaknya dengarkan perkataan orang dong sampai selesai!”
Di saat Helios menjelaskan, rupanya Ludwig telah kehilangan kesadarannya akibat shok siksaan yang teramat sangat. Tubuhnya bahkan hampir tak dikenali lagi saking penuhnya dengan luka. Pakaiannya pun berantakan. Tidak, itu tidak bisa dikatakan lagi berpakaian. Pakaiannya telah berhamburan ke mana-mana selama proses penyiksaan. Kini Ludwig benar-benar telanjang.
Helios lantas menciptakan rune untuk menyembuhkan bagian luar tiap luka Ludwig. Tentu saja tangan kanannya tetap putus apa adanya. Hanya saja, tidak ada lagi darah yang mengalir lewat luka akibat tangannya lepas itu sehingga dia tidak lagi berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan.
Setidaknya, itu untuk yang sekarang.
Begitu Ludwig kembali tersadar setelah dibangunkan dengan paksa,
“Nah, mari kita lihat. Ayo kita mulai pestanya. Aku akan memastikan kau akan memperoleh kematian perlahan yang berkali-kali lebih menyakitkan dari yang dialami oleh kak Tius.”
Dimulai dari memotong bagian kejantanan Ludwig tanpa hesitasi.
“Tidaaaaaaaak! Aaaaaaakkkkkkh!”
“Bagaimana rasanya? Apa masih kurang menyakitkan?”
“Kau? Apa yang kau lakukan?!”
“Apa? Aku hanya membuang bagian yang tidak dibutuhkan. Bukankah kau juga tidak hobi yang begituan? Kau hobinya hanya menyiksa orang, bukan? Bagian itu bukannya diperlukan oleh tubuhmu.”
Ludwig meringis kesakitan. Air matanya menetes deras, suaranya serak akibat keseringan berteriak. Pikirannya kosong, tidak tahu lagi harus berpikir apa. Dia hanya mengutuk nasibnya mengapa harus mengalami penderitaan sekeji itu. Baginya kini, dia hanya ingin mati saja daripada merasakan rangkaian siksaan yang menyakitkan itu.
Tentu saja dia sangat menikmati menyiksa orang, bahkan itu telah menjadi hobi favoritnya yang tak diketahui oleh khalayak. Namun, itu bukan berarti dia tahan untuk disiksa. Dia menyenangi penyiksaan, namun tidak ingin berada dalam posisi yang disiksa. Sekali lagi, dia pun mengutuk nasibnya itu telah bertemu dengan orang yang lebih gila darinya.
Helios benar-benar menyiksa Ludwig dengan kejam. Setelah memutilasi bagian vital kejantanannya, Helios mengelupas kuku-kuku kaki Ludwig secara perlahan, dilanjutkan dengan kuku-kuku tangannya.
Setelah tidak ada lagi tersisa kuku-kuku untuk dikelupas, kali ini bagian gigi Ludwig yang dia cabuti satu-persatu. Tidak sampai di situ, Helios mulai mengelupas kulit ari Ludwig dimulai dari bagian leher hingga ke bagian bawah tubuhnya. Semuanya dikelupasnya kecuali bagian wajah.
Apa yang paling sadis dari tindakan Helios itu adalah dia melakukannya sambil merapalkan sihir penyembuhan lewat rune sehingga vitalitas Ludwig tetap terjaga. Dia pun merapalkan sihir peningkatan indera perasa lewat rune yang lain. Akibatnya, Ludwig harus merasakan tiap detail siksaan itu berkali-kali lipat lebih sakit dari yang seharusnya yang walaupun sesakit itu yang dia rasakan, dia sama sekali tidak bisa pingsan sebab vitalitasnya terus saja terpulihkan.
Siksaan itu benar-benar sangat menyakitkannya sehingga jika dia boleh memilih, dia ingin segera mati saja di tempat itu.
“Kumohon… Kumohon ampuni aku. Aku bersalah. Cepat bunuh saja aku, Tuan!”
Ludwig benar-benar telah kehilangan dignity-nya hingga dia pun memohon belas kasihan dari sang penyiksa sendiri agar segera dibunuh saja.
Walau demikian, siksaan itu belum berakhir untuknya.
“Aaaaakkkkkkhhhhh!”
Rasa sakit yang teramat sangat lagi-lagi harus dirasakan ole Ludwig ketika dalam keadaan sadar, dia melihat sendiri ususnya dikeluarkan dari perutnya.
“Tidak. Kumohon bunuh saja aku cepat.”
Dia merintih kesakitan. Namun itu hanya semakin meningkatkan gairah kesadisan Helios saja dalam menikmati pertunjukan mengasyikkan itu. Rasa senang tak terukirkan Helios rasakan ketika melihat penderitaan Ludwig.
Penyiksaan itu terus berlanjut. Daun telinga Ludwig dipotong sambil ditusuki bagian dalamnya hingga mengeluarkan darah, hidungnya disembelih lantas dijejali besi panjang di kedua ujungnya, hingga pada suatu ketika, matanya pun turut dicongkel dengan kejam.
“Aaaaaaakkkkkhhhhh.”
Seberapa pun Ludwig berteriak kesakitan, Helios tidak merasa iba sedikit pun. Malahan, dia jadi bertambah senang.
Hingga kemudian, sebagai penutup dari semua itu, Helios pun memotong lidah Ludwig. Dia sengaja menyisakan itu sebagai bagian paling akhir agar dia bisa menikmati senandung teriakan Ludwig itu hingga akhir.
Akhirnya, apa yang diharapkan Ludwig pun terkabul. Dia akhirnya meregang nyawa.
Akan tetapi, walau melihat musuh yang telah membunuh kakaknya itu tewas,
“Mengapa? Mengapa rasa sakit ini masih ada?”
Rasa sakit yang mengganjal di kalbu Helios tetap tersisa. Helios menitihkan air mata penuh kesakitan. Dia telah menyelesaikan balas dendamnya, walau demikian, hatinya masih diterjang oleh rasa pilu yang sangat menyiksa.
Helios sangat mencintai keluarganya sehingga begitu kehilangannya, perih membara seketika menggelegar di kalbunya. Tidak hanya Leon, kini dia juga harus kehilangan kakaknya, Tius. Balas dendam saja dirasakannya tidak cukup untuk mengubur pilu di hatinya. Walau demikian, dia tidak tahu lagi apa yang harus diperbuatnya demi mengatasi rasa sakitnya itu.
Helios bertindak bukan lagi atas nama keadilan, melainkan atas rasa keegoisannya sendiri yang ingin mengenyahkan rasa sakit di hatinya itu.
“Bagaimana aku bisa merasakan rasa sakit ini? Ah, itu karena yang merasakan rasa sakit itu bukan aku sendiri, melainkan keluarga terkasihku. Bukankah aku seharusnya balas dendamnya pada keluarga Ludwig juga? Begitu kan seharusnya?”
Dengan pemikiran yang rusak itu, Helios pun berjalan dari sudut ibukota menuju ke tengah-tengah ibukota Kerajaan Cabalcus, tempat para keluarga kerajaan Cabalcus bersemayam.
Hanya ada satu yang ada di pikiran Helios saat itu, ‘balas dendam’.