
[POV Theia]
Hari ini, hari-hariku pun berlangsung dengan bahagia. Anakku baru bangun tidur dengan muka yang kucel sebelum akhirnya kami sarapan bareng dengan sarapan yang aku buat sendiri. Usai sarapan, kami berdua sama-sama berangkat ke tempat kerja yang sama pula.
Aku bekerja sebagai penjual obat. Adapun Lios bertugas untuk mencari herbal di hutan. Memang pekerjaan yang cukup berbahaya karena di hutan banyak hewan liar yang berbahaya, tetapi Lios telah memintaku untuk tidak terlalu mengkhawatirkannya karena katanya kemampuannya cukuplah hebat.
Aku tahu kalau anakku itu memang hebat, tetapi sebagai ibunya, aku tetap tidak dapat melepaskan rasa khawatirku itu padanya.
Demikianlah, hari-hariku berlalu pula hari ini dengan menyenangkan. Namun, itu sampai ketika Lios mengemukakan keinginannya usai makan malam.
“Bu, aku telah memutuskan. Mulai besok, aku akan ikut Paman Surya untuk menjadi petualang. Kudengar, ada monster bermunculan di area hutan yang lebih dalam. Kekuatanku dibutuhkan untuk mengalahkan monster-monster itu, terlebih aku juga bisa tetap mencari herbal dari sana tiap kali pulang dari bertualang, jadi itu tidak akan sampai mengganggu pekerjaan utama kita.”
-Puak.
Tanpa sadar, aku menggedor meja dengan keras. Bagaimana tidak. Bisa-bisanya Lios berpikiran hal macam itu setelah apa yang terjadi padanya selama ini! Mengapa setelah pada akhirnya kami hidup di tempat yang tenang, Lios tetap ingin terlibat dalam masalah demikian?!
Tidak! Aku tidak ingin itu terjadi!
Ah, benar juga. Entah karena alasan apa, ingatan Lios tampaknya telah tergantikan. Kini dia meyakini bahwa dirinya sendiri hanyalah seorang penduduk biasa dari desa yang baru-baru ini bermigrasi ke kota ini demi memperoleh penghidupan yang lebih layak.
Aku tidak tahu dengan apa yang telah terjadi. Namun ini kesempatanku untuk melindungi putraku itu agar tidak lagi menjerumuskan dirinya ke dalam bahaya.
Selama bisa, aku hanya ingin tinggal bersama Lios di tempat ini untuk selamanya sebagai warga biasa.
“Tidak! Sampai kapan pun, kamu tidak boleh menjadi petualang!”
Aku marah lantas segera beranjak masuk ke kamar mengabaikan raut wajah muram anakku yang malang itu.
Tidak! Aku tidak boleh kasihan pada ekspresinya itu. Aku harus tetap tegar. Lagipula, ini semua demi kebaikan Lios anakku tercinta.
Keesokan paginya, kulihat Helios tetap pergi bekerja bersamaku seperti biasa. Dia juga tetap berbicara sopan kepadaku seolah kejadian kemarin itu tidak pernah terjadi. Aku tahu ini karena tabiat anakku Lios yang pada dasarnya adalah anak yang baik dan sopan, namun entah mengapa ini membuatku lebih khawatir.
Aku lebih suka jika dia akan membentak dan memarahiku demi meredam rasa sakit hatinya daripada dia harus memendamnya dalam hati yang hanya akan menyakiti dirinya sendiri. Aku pun justru semakin khawatir padanya.
Demi jaga-jaga jika dia pergi melaksanakan niatnya tanpa memberitahuku, aku meminta orang kepercayaanku yang sering pergi bersama Lios ke hutan untuk melaporkan kegiatan Lios selama berada di sana. Aku tahu aku seharusnya mempercayai anakku itu, terutama dia adalah anak yang jujur dan amanah. Hanya saja naluri keibuanku membuatku buta perihal begitu aku menyayangi Lios.
Berdasarkan laporan orang kepercayaanku itu, Lios hanya menjalankan tugasnya dengan baik dan tidak pergi ke mana pun. Aku pun menjadi lega karenanya.
Kami berdua lantas pulang ke rumah lalu menyantap makan malam kami bersama-sama. Kulihat Lios tetap tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, sebagai seorang ibu yang telah lama mengenalnya, kutahu Lios sangat tertekan.
Aku pun kembali mempertanyakan keputusanku itu apakah telah tepat bagiku melarang Lios melakukan apa yang sangat disukainya?
Itu pekerjaan berbahaya, tetapi dengan kemampuan Lios, aku sebenarnya yakin dia akan baik-baik saja. Walau hanya ada kemungkinan kecil bahwa dia akan terluka, namun sebagai seorang ibu, bagaimana bisa aku mengabaikan kemungkinan kecil itu?
Akan tetapi, kebahagiaan itu sekali lagi telah terenggut dari Lios perihal keegoisanku.
Aku tak ingin anakku itu menderita lagi. Cukup sudah dengan penderitaan yang dialaminya sebagai seorang pangeran, sebagai seorang kaisar, dan sebagai seorang sahabat baik. Jika berpetualang memang akan membuatnya bahagia, mungkin aku harus mengizinkannya memenuhi keinginannya itu.
Pagi harinya, tanpa Lios berkata apapun, akulah yang akhirnya dengan sendiri memberikan izin itu kepada Lios. Dia terlihat sangat senang sampai-sampai memelukku dengan sangat erat yang disertai dengan linangan air mata bahagia. Namun, apakah keputusanku membawa anakku itu ke tempat bahaya sudah merupakan keputusan yang tepat?
Tak ada lagi yang dapat kulakukan lagi selain mendoakan anakku itu agar selamat sampai kembali ke rumah di tiap petualangannya.
Hari berlalu dan terus berlalu. Image Lios yang rapi dan bersih pun mulai tergantikan oleh aura petualang yang bau dan kotor. Namun, anaknya siapa dulu, bagaimanapun Lios berpenampilan, dia selalu yang paling cakep di antara pemuda-pemuda lainnya di kota ini. Bahkan tak jarang aku menerima permintaan dari ibu-ibu tetangga untuk menjodohkan anak mereka dengan Lios.
Aku tak enak kepada Italiana, Lusiana, dan Vierra, akan tetapi bagi Lios yang kini berada di tempat ini, keberadaan mereka hanya menjadi kenangan masa lalu belaka. Itu pun tak bisa juga disebut kenangan karena Lios bahkan sama sekali tak mengingat lagi keberadaan mereka.
***
Ini adalah petualangan pertamaku sejak memperoleh izin dari Ibu menjadi petualang. Tiada yang dapat menggambarkan perasaan senang yang kurasakan saat ini.
Aku benar-benar mendengarkan instruksi Paman Surya dengan serius demi keselamatan tim.
Menghadapi hewan liar dengan monster pada dasarnya berbeda. Hewan liar dalam bertarung hanya mengandalkan instingnya saja. Tetapi tidak begitu adanya pada monster. Mereka sudah mengembangkan sedikit akal mereka melalui mana yang mereka serap, walaupun tidak sempurna.
Semakin tinggi level monster tersebut, semakin cerdas pula mereka dalam bertarung. Itu sebabnya kita harus lebih ekstra berhati-hati jika melawan monster yang sangat berbeda ketika berhadapan dengan hewan liar.
Berdasarkan laporan saksi mata, telah muncul retakan dimensi di bawah air danau di tengah hutan. Retakan dimensi itu mengalirkan miasma yang menyebabkan hewan-hewan di sekitarnya berevolusi menjadi monster.
Dan inilah hewan pertama yang akan kami hadapi kali ini.
Monster katak.
Monster itu begitu alot. Mereka kebal dengan senjata pedang biasa sehingga kami hanya bisa melukai kulitnya yang tebal itu dengan sihir.
Selain itu mereka juga menjijikkan. Tiap kali kami akan menyerang mereka, mereka akan memuntahkan air liur lengket nan beracun yang akan seketika melelehkan pakaian kami. Anehnya, itu hanya melelehkan pakaian kami termasuk zirah baja yang dikenakan oleh beberapa petualang, namun tidak dengan kulit kami.
Itu adalah hal yang baik karena air liur mereka berbeda dengan asam yang dapat seketika melelehkan kami hingga tersisa tulang… Tidak, apanya yang baik?! Siapa juga yang ingin pulang dari tempat ini dalam kondisi telanjang bulat?!
Aku pun menghindari tiap serangan air liur monster-monster katak itu sembari terus menyerang bagian perutnya dengan pedangku. Aku sedikit spesial dengan para petualang lainnya yang mampu mempertajam pedangku dengan aliran sihir sehingga itu bekerja untuk memotong tiap kulit dari sang monster katak, malahan jauh lebih baik daripada sihir biasa para petualang yang dirapalkan dari jarak jauh.
Pada akhirnya, timku berhasil mengalahkan keseluruhan monster katak di mana aku sebagai pendatang baru, justru memberikan kontribusi yang paling besar. Berkatnya, aku memperoleh pujian dari Paman Surya. Walau demikian, karena aku yang paling berkontribusi besar dalam serangan, aku pula yang memperoleh damage paling besar dari serangan air liur para monster katak itu.
Berkatnya, kini pakaian yang kukenakan sampai compang-camping dan bolong di mana-mana. Aku benar-benar merasa malu, apalagi ada anggota party wanita yang datang bersama kami.
Namun karena kami sementara berada di tengah hutan, tiada yang dapat kulakukan pada keadaanku saat ini. Yang jelas bagian vital yang merupakan sumber kejantananku masih tertutup dengan baik, kurasa itu akan masih aman-aman saja untuk saat ini. walau demikian, tatapan wanita-wanita itu yang terus saja melirik ke arah otot-otot dadaku membuatku sangat tidak nyaman.
Ini seketika mengingatkanku kepada Nunu…
Ah, Nunu? Siapa itu Nunu?
Entah mengapa kepalaku tiba-tiba sakit dan aku tersungkur ke tanah.
“Helios! Waspada! Di belakangmu!”
Salah seorang anggota party-ku memperingatiku.
Rupanya telah ada seekor monster lipan yang berencana menyergapku dari arah belakang. Karena takut mereka juga akan mengenaiku, mereka tidak bisa menyerang monster lipan itu dengan sihir jarak jauh mereka. Aku pun terpaksa mengorbankan lenganku digigit lantas aku membasminya dengan tebasan pedangku yang diperkuat oleh sihir angin.
Andai saja itu Nunu yang di sini dan bukannya mereka, kuyakin dia sudah merapalkan sihir ledakannya, tanpa peduli dia akan mengenaiku atau tidak sebagaimana dia dulu melakukan itu pula kepada Albert…
Sudah kubilang siapa pula itu Nunu? Mengapa gadis itu tidak lepas-lepasnya dari pikiranku? Apakah ini sejenis pelet atau semacamnya? Lalu siapa pula Albert itu…
Namun entah mengapa, begitu aku menyebut nama Albert, air mataku keluar dengan sendirinya.