Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 64 – MISTERI BENUA BARAT



“Dik Rizard, kok kamu tiba-tiba tertarik dengan ilmu pengobatan? Biasanya kamu kan hanya tertarik dengan pedang saja?”


Aku sempat panik pada pertanyaan Kak Ara yang tiba-tiba itu. Apakah aku akan ketahuan olehnya bahwa aku bukan Rizard yang asli yang mendiami tubuhnya saat ini bahkan belum genap sehari aku merasukinya?


Walaupun ini hanya di dalam dunia ingatan dan itu tak akan berdampak apa-apa secara fisik bagi tubuhku di dunia luar, sebisa mungkin aku tidak boleh sampai ketahuan agar bisa menarik informasi sebanyak-banyaknya tentang kejadian masa lalu ini yang menjadi kunci kekacauan yang sedang terjadi saat ini di masa sekarang.


Kalian bertanya mengapa aku tak jujur saja pada mereka dengan mengatakan bahwa aku berasal dari dunia masa depan dan di sini tidak lain hanyalah dunia di dalam ingatan seseorang?


Ya itu tentu saja karena mereka takkan mempercayainya. Coba pikirkan jika itu kalian di posisi mereka dan secara tiba-tiba saja mengatakan hal yang absurd tersebut. Kalian pastinya akan segera dibawa ke kuil suci untuk dilakukan ritual pengusiran arwah jahat.


Sebisa mungkin, aku ingin menjaga situasinya terkendali agar rencanaku dapat tetap berjalan dengan lancar untuk menarik informasi dari dunia ingatan ini sebanyak mungkin. Dan untuk mencapai tujuan itu, aku tak boleh sampai ketahuan oleh orang-orang penghuni dunia ingatan ini, termasuk Kak Ara.


Dengan berusaha tampak sewajar mungkin, aku pun menjawab pertanyaan Kak Ara tersebut, “Yah, itu supaya aku bisa lebih berguna saja bagi Kak Aries dan kawan-kawan. Aku tak ingin selamanya menjadi lemah dan menjadi penghambat bagi kalian.”


Mendengar jawabanku itu, Kak Ara pun tertawa cekikikan.


“Hahahahaha. Tak kusangka adikku ini sudah tumbuh dewasa. Awalnya bahkan kukira kamu ini seorang doppelganger. Semangat yang bagus, Dik Rizard. Kalau begitu, ayo kita mulai saja pelatihannya.”


“Doppelganger? Apa itu Kak Ara?”


“Eh? Dik Rizard belum tahu soal doppelganger? Kukira Lucas selalu membicarakannya. Itu adalah sejenis legenda dari benua timur. Katanya kalau kamu terlalu lama menatap dirimu di cermin karena kagum dengan parasmu sendiri, kamu akan ditarik masuk ke dalam cermin lantas doppelganger-mu yakni bayanganmu di cermin yang sangat mirip denganmu itu akan keluar dari cermin lantas menggantikanmu.”


“Hahahahahaha. Legenda yang sangat absurd ya, Kak.”


Malam itu, aku pun menghabiskan waktu bersama Kak Ara sampai tibanya waktu tidur untuk belajar banyak soal pengetahuan obat-obatan zaman dahulu.


Kak Ara adalah tipe kakak perempuan yang baik yang bahkan membuat aku berandai-andai semisalnya saja aku juga punya kakak perempuan yang berkepribadian lembut sepertinya.


Nyatanya, aku hanya punya seorang kakak laki-laki. Yah, walau Kak Tius juga baik padaku, tetapi tentu saja mempunyai kakak laki-laki yang baik tidak bisa dibandingkan dengan mempunyai kakak perempuan yang baik.


Yah, ada saudara perempuanku Ilene juga yang lemah lembut. Bagaimana pun, dia adikku, jadi tidak mungkin aku memperoleh sosok kakak perempuan yang kuinginkan darinya. Lagipula, sejak ramalan kuil suci itu, Ilene selalu menjauh dariku dan lebih sering bergaul dengan adikku yang lain, Leon.


Apakah itu karena Leon lebih memiliki sifat sosok kakak laki-laki ideal yang lebih kuat di mata Ilene dibandingkanku? Terus terang untuk aspek itu, aku sedikit iri pada Leon. Tetapi jika kuingat kembali beberapa poin imut Leon sebagai adik laki-laki, aku jadi bisa memaafkan segala kesalahannya yang memonopoli Ilene itu.


***


Tak terasa, pagi sudah tiba. Tentu saja ini adalah waktu di dalam dunia ingatan. Aku bisa merasakan dengan jelas melalui aliran mana di luar bahwa belum genap sepuluh menit waktu berjalan di dunia luar.


Aku hendak bangun, tetapi entah mengapa aku merasakan berat di seluruh tubuhku. Betapa aku kaget, rupanya malam itu aku dan Kak Ara tanpa sengaja ketiduran di ruang laboratoriumnya karena keasyikan belajar bahan obat-obatan.


Aku tidak bisa bangun karena Kak Ara sedang menggunakan aku sebagai gulingnya.


Bukannya aku membenci hal tersebut sebab tubuh asliku di dunia luar sana sama sekali tak bisa untuk tidur. Jadi, merasakan sensasi tertidur di dunia ini melalui tubuh bocah bernama Rizard tersebut adalah benar-benar pengalaman yang berharga bagiku. Aku bisa merasakan sensasi pemulihan mental karenanya. Namun ketika kumeraba tubuh fisikku di dunia luar, sensasi itu rupanya sama sekali tak memiliki pengaruh apa-apa di sana.


Namun bukan itu yang penting aku sayangkan sekarang. Bukankah kondisiku ini sedang gawat? Meski ini bukan tubuhku yang sebenarnya, tetapi adalah fakta bahwa aku sedang tidur bareng wanita lain selain Talia sambil berpeluk-pelukan. Yah, namun untuk kondisi yang satu ini lebih tepat untuk disebut dipeluk secara sepihak.


Ini tidak bedanya dengan aku mengkhianati Talia, tunanganku yang berharga, jika aku tetap berada dalam posisi ini. Juga, jika aku tidak salah menafsirkan, Kak Arxena seharusnya menaruh rasa kepada Kak Ara. Akan gawat jikalau sampai dia melihatku dalam posisi yang seperti ini.


Satu yang tak kuduga, walau ini bukan tubuh asliku, aku masih dapat menggunakan kemampuan es-ku. Aku pun menggunakan sedikit mana es-ku untuk membentuk sekat antara kulitku dan kulit Kak Ara sedikit demi sedikit, lantas bagai belut, aku melepaskan diri dari pelukan Kak Ara.


Dengan perasaan lega, aku keluar dari laboratorium untuk menyambut pagi di luar. Namun, keributan pun terjadi. Bahkan belum sempat aku membersihkan diri dengan sihir air-ku, tiba-tiba saja terdengar suara orang-orang ribut di luar.


“Serangan monster! Serangan monster! Cepat lari atau kalian akan mati!”


Aku pun dari jauh bisa melihat monster yang dimaksudkan itu. Tetapi itu bukanlah monster yang biasa aku lihat di masa sekarang. Itu menyerupai manusia, tetapi berbadan hitam legam dengan mata hitam pekat sehitam mataku dan memiliki tanduk.


Kalau dilihat dari deskripsinya, ini menyerupai demon yang aku baca di buku, tetapi ukuran tubuh dan kekekarannya sangatlah jauh berbeda. Yang ini tampak begitu lemah.


“Hei, apa yang terjadi?” Aku lantas mencoba mencari tahu secara lebih detail kepada salah satu penduduk yang sedang berlari ketakutan.


“Monster yang datang dari barat lagi-lagi mengamuk kemari.”


Rupanya deduksiku benar. Itu memang benar-benar adalah demon penghuni benua barat.


Tetapi ini benar-benar aneh. Apa karena ini di zaman dahulu sehingga mereka belum cukup kuat sehingga demon di zaman ini memiliki tubuh yang kecil serta kurus kerempeng seperti itu?


Aku layak untuk menyelidiki informasi ini lebih lanjut.


Sesuai dugaan, Kak Aries dan kawan-kawan pun, kecuali Kak Ara yang masih tertidur, segera datang lantas membasmi para demon kurus itu. Para demon kurus itu lantas segera lari pontang-panting menyeberangi lautan dengan sayap mereka menuju kembali ke kampung halaman mereka.


Ah, sekadar kalian ketahui bahwa di zaman ini, formasi hutan monster belum terbentuk sehingga bagian barat benua masih berbatasan dengan pantai dan pelabuhan. Juga sekadar tambahan bahwa di zaman dahulu ini, Benua Ernoa ini masih terdiri dari banyak kerajaan-kerajaan kecil di mana apa yang nantinya akan menjadi bagian Kota Painfinn ini saat ini dimiliki oleh kerajaan yang bernama Ondzel.


Lalu aku? Aku menyembunyikan keberadaanku dari Kak Aries dan party-nya karena berniat menyusup bersama kawanan demon ke benua barat.


Aku memutuskan untuk menyusup ke benua barat demi menguak semua misteri yang selama ini tak kuketahui jawabannya. Apa yang sebenarnya terjadi di benua barat, lantas apa yang menyebabkan para demon itu di masa depan ingin menghancurkan dunia.


Demi mencari informasi itulah, aku memberanikan diri menyusup ke tengah-tengah markas musuh. Tentu saja aku melakukannya karena aku sangat percaya diri pada skill stealth-ku yang tidak bisa dibandingkan dengan tingkat pemahaman sihir di masa ini yang bisa dikatakan walau kaya akan sumber daya, tapi masih minim akan pengelolaan mantra.


Semula, aku ragu apakah cara ini akan berhasil sejak ini adalah memori ingatan Rizard, sementara seharusnya berdasarkan sejarah, tidak ada catatan sedikit pun tentang penduduk Benua Ernoa mengunjungi benua barat. Karena Rizard tidak pernah ke sana, aku pun menduga bahwa rekam jejak benua barat itu takkan tersimpan di memori ingatannya.


Namun rupanya aku salah. Aku sukses menyusup ke benua iblis tersebut, Benua Armtemis. Benua itu juga benar-benar ada di dalam memori ingatan ini.


Tapi tak kusangka proses untuk menuju kemari akan sangat sulit. Siapa sangka bahwa angin laut akan begitu kencang. Syukurlah, aku bisa mempertahankan sayap es-ku ini untuk tidak meleleh atau diterbangkan oleh angin sembari mempertahankan sihir tembus pandangku.


Begitu mendarat ke pantai, aku pun melihat ke sekeliling benua itu. Benar-benar seluruh penduduknya adalah demon. Bahkan hewan-hewan serta tumbuhan beserta buahnya di sini semuanya memiliki bentuk yang sangat aneh yang sama sekali tak menggugah selera untuk dimakan.


Akan tetapi, jika aku membandingkan dengan bentuk demon zaman sekarang dengan di zaman ini, mereka benar-benar tidak ada apa-apanya. Semuanya lemah.


Tapi kalau dipikir-pikir, kekuatan Kak Aries yang seharusnya menjadi sumber legenda pahlawan pertama yang sejarahnya diambil alih oleh Rizard, juga tidak ada apa-apanya. Maksudku dia kuat seperti Leon. Tapi hanya itu saja. Bahkan dengan kekuatanku yang sekarang, aku memiliki peluang untuk bisa mengalahkannya.


Kak Aries tak salah lagi adalah master pedang yang sangat kuat. Tapi dia belum memiliki kekuatan setara dengan grand master yang dapat memberikan pengaruh kepada seisi benua. Ini jelas-jelas tak seperti apa yang dilegendakan. Atau apakah aku keliru menafsirkan ucapan Milanda dan memang bukan Kak Aries ini sebagai pahlawan pertamanya, tetapi benar-benar si Rizard bocah ini?


Dengan banyak pikiran yang tak pasti itu, aku pun menjelajahi seisi tempat yang bisa aku jelajahi di benua barat tersebut.


“Ini… Ini tidak mungkin!”


Di dalam suatu bangunan, yang menjadi tempat tinggal salah satu demon, aku mendapati suatu potret yang terselip di dalam suatu buku harian.


Itu adalah potret keluarga seseorang yang hidup sangat bahagia yang tidak ada bedanya dengan keluarga lain di Benua Ernoa, kecuali rambut mereka yang semuanya berwarna merah, serta mata mereka yang merah seperti rata-rata warna mata penduduk kepulauan utara benua selatan.


Lalu kubacalah buku harian itu.


Informasi yang benar-benar membuatku shok. Rupanya, apa yang menjadi demon-demon itu awalnya adalah manusia, manusia normal layaknya seluruh penduduk benua lain.