Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 206 – MAAFKAN AKU, ALICE



Aku menemui Alice keesokan harinya di Kota Litrum tanpa pemberitahuan sebelumnya. Tampaknya itu sedikit membuat Duke Litrum muda yang baru terangkat di posisinya sekarang kerepotan dalam mengurusi masalah administrasi, tetapi itu bukanlah hal yang benar-benar sulit pula. Jadi aku pun hanya menatapnya dengan wajah kasihan.


Alice tampaknya menjalankan tugas yang kuamanahkan padanya dengan baik di kota ini untuk berjaga-jaga jikalau sampai serbuan Benua Asium terjadi sekali lagi. Di sela-sela kesibukannya itu, dia tetap sempat meluangkan waktunya untuk berlatih setidaknya ketika dia sedang sendirian.


-Tuk, tuk, tak, tak.


Karena tampak menyadari langkah kakiku, Alice berhenti dari latihannya lantas menoleh ke belakang.


“Ah, Yang Mulia.”


Sapa Alice sembari menundukkan kepalanya.


Aku sedikit shok dengan sikap Alice barusan. Padahal seingatku, terakhir kali kami bertemu, dia masih memanggilku sebagai Master jikalau tidak ada orang di sekitar. Saat ini pun tidak ada orang di sekitar, jadi mengapa dia memanggilku sebagai ‘Yang Mulia’ bukannya sebagai ‘Master’?


“Kok Yang Mulia sih? Bukan Master seperti biasanya?”


Aku seketika itu merasakan urgensi kalau aku harus mempertanyakan hal itu sebelum hubunganku dengan Alice semakin bertambah renggang lagi. Entah mengapa, hubunganku dengan Alice, seiring berjalannya waktu, bukannya bertambah baik setelah kasus adikku Ilene, tetapi malah bertambah renggang. Tidakkah waktu seharusnya mampu meredakan kedinginan hubungan seseorang?


“Ah, itu. Maaf, Master.”


Dapat kutangkap kecanggungan di balik ucapan Alice yang terbata-bata tersebut.


Entah apa yang dipikirkan oleh Alice padaku saat ini.


Apakah itu perasaan sedih bercampur kecewa karena pengabaianku padanya? Ataukah kekesalan karena aku tak dapat memposisikan diriku sebagai pemimpin negeri ini dengan benar yang mencampurkannya dengan perasaan pribadi yang telah membuatnya tak nyaman? Ataukah itu malah kemarahan karena aku telah menyerahkan semua beban kematian Ilene padanya lantas aku bersikap seolah semuanya baik-baik saja di saat dia harus menanggung semua kesedihan itu?


Karena pengabaianku, aku membuat wanita di hadapanku itu bersedih. Padahal, aku sendiri yang telah berjanji padanya akan memberikan kebahagiaan manis itu jikalau dia mengikutiku sebagai masternya. Kalau seperti ini, aku bukankah tidak ubahnya seperti Kaisar Ethanus dan pendahulunya yang hanya memanfaatkan Alice hingga kering demi kepentingan pribadi mereka masing-masing?


Bedanya hanya mereka membuangnya setelah kering. Tetapi bukankah sikapku yang mengabaikannya hingga hatinya terdeteriorasi hingga layu lantas membusuk dalam pengabaianku malah jauh lebih kejam?


“Maaf, Alice!”


Ujarku sembari membungkuk minta maaf kepada Alice.


Terus terang, aku tidak tahu kata apa yang pantas kuucapkan lagi padanya selain meminta maaf. Pasti hatinya selama ini juga terus terbebani oleh kematian Ilene bahkan setelah lima tahun berlalu. Lantas mengapa pula aku terus-terus menaburkan garam pada hati wanita yang telah terluka cukup lama itu?


Tiada kata yang bisa terpikirkan di kepalaku saat ini yang bisa dijadikan penghiburan bagi Alice. Sehingga dengan tak tahu malunya, hanya ucapan maaf simpel itu yang akhirnya terucap lewat mulutku.


“Ah, apa yang Master lakukan? Mengapa Master tiba-tiba membungkuk seperti ini padaku?”


“Maaf, Alice. Aku selama ini menggunakan kematian Ilene sebagai alasan untuk menekanmu padahal aku sama sekali tak pantas melakukannya. Kamu melakukan itu semua demi negara ini karena besarnya rasa cintamu padanya, namun aku yang justru mengabaikannya, kini memberikanmu semua perasaan bersalah lantas membuatmu mesti merasakan kecewa sendirian. Maafkan aku… Maafkan aku, Alice, atas ketidakdewasaanku selama ini.”


Nampak raut wajah kaku ditunjukkan oleh Alice beberapa saat. Namun kemudian, senyum lembut pun dia keluarkan.


“Master tidak usah berpikir seperti itu kok. Sejak memutuskan untuk mengabdi pada Master, aku telah memutuskan untuk mendukung Master dengan segala cara demi mewujudkan impian Master. Itu karena aku tahu walau Master tampak kuat di luar, sejatinya hati Master begitu lembut sehingga akan sulit pastinya bagi Master menghadapi banyaknya situasi yang memungkinkan Master tersiksa oleh kelembutan hati Anda.”


“Rupanya firasatku itu benar setelah melihat keadaan Master sekarang. Itulah sejak dari dulu aku memutuskan untuk menutupi sisi lemah Master itu dengan kemampuanku. Aku sudah tahu bahwa Master itu orangnya penyayang dan aku tidak ingin hati Master itu terluka dan tetap murni selamanya. Mana mungkin aku membiarkan Master yang menghabisi nyawa adik Master sendiri.”


“Setidaknya, aku ingin mengisi peran itu menggantikan Master yang merupakan sosok panutanku. Ini bukan demi kepentingan siapa-siapa, melainkan demi kepentingan diriku sendiri, Master, karena aku ingin melihat sampai akhir seperti apa sosok kaisar yang aku dukung akan bersinar di masa depan. Itu karena aku percaya dengan potensi Master. Jadi untuk persoalan itu, Master tidak usah merasa bersalah lagi.”


Begitulah Alice. Dia sering mengatakan bahwa terkadang aku ini lembut, namun melebihi siapapun, Alice justru berhati lebih lembut. Alice memiliki sifat yang terlalu baik hingga itupun dimanfaatkan oleh Kaisar Ethanus dan pendahulunya untuk mengisapnya sampai kering dengan dalih tugas negara. Jujur, dengan sikapnya yang sebaik itu, perasaan bersalah ini semakin besar.


Aku benar-benar… Apa yang telah kulakukan pada gadis berhati polos ini? Mengapa aku selama ini menaruh beban berat perasaan bersalah itu padanya?


“Alice! Aku… Soal kematian Ilene… Itu bukan salahmu! Maaf… Maafkan aku karena selama ini mengabaikanmu. Semua ini aku lakukan karena aku terlalu naif. Ini bukan salahmu, tapi salahku yang tak ingin merasakan sakitnya hatiku terluka karena rapuh, lantas menjadikanmu sebagai sumber pelampiasan kesalahan agar perasaan di hatiku terasa lebih baik. Aku benar-benar munafik! Aku sama sekali tak pantas menerima kebaikan hatimu!”


Tanpa sadar, aku kehilangan ketenanganku. Aku sendiri bingung mengapa aku tidak bisa mengontrol emosiku kala itu yang biasanya selalu tenang ini. Mungkin itu, alih-alih caci-makian yang kuharapkan justru kata lembut Alice-lah yang kuterima. Walaupun, sebelumnya sudah kuduga bahwa Alice yang baik hati pasti lebih memilih seperti itu. Sebaik itu Alice. Dia benar-benar gadis yang baik.


Kata-kata itu pun tanpa sadar terucap di lisanku. Kepalaku kosong. Bayang-bayang kematian Ilene terus saja memenuhi isi kepalaku tanpa sadar ketika aku menatap wajah Alice hingga membuatku pikiranku semakin kacau. Padahal jelas Alice tidak bersalah sama sekali. Aku benar-benar membenci diriku yang terlalu rapuh untuk menyalahkan Alice yang bersedia menanggung beban itu untukku.


“Master. Aku baik-baik saja. Anda tidak perlu terluka lagi.”


Entah terlihat serapuh apa diriku kala itu di matanya sehingga akhirnya membuat Alice yang justru datang untuk memelukku di saat seharusnya aku yang memberikan padanya kalimat penghiburan.


“Maaf, Alice.”


Seketika aku berubah menjadi orang idiot yang hanya mengenal kosakata ‘maaf’. Namun entah mengapa pelukan Alice itu terasa begitu menghangatkan hatiku.


Itu benar. Bukanlah Alice sejatinya sumber masalahnya di sini, melainkan diriku. Aku terlalu meremehkan pendirian Alice. Dia adalah wanita yang kuat. Karena menyadari kelemahanku, Alice berdiri di tempat itu untuk menutupi kelemahanku tersebut.


Apa yang menjadi sumber masalah selama ini adalah diriku sendiri. Karena kepengecutanku yang tidak berani menerima kematian Ilene secara langsung. Ini semua karena aku yang berpikir bahwa dengan menyalahkan orang lain di dalam hatiku, semua masalahnya menjadi lebih mudah untuk diterima oleh akal sehatku.


Aku sejatinya telah berumur 26 tahun, tapi aku tak ubahnya layaknya anak kecil yang merengek. Sudah saatnya aku menjadi dewasa lantas bangkit dan menghadapi masalah ini secara langsung.


Suatu fakta jelas yang selama ini tidak berani aku pikirkan secara langsung di kepalaku karena setiap kali memikirkan sebagian kecilnya saja, serasa akan membuat otakku meledak.


Itu benar. Ilene telah lama meninggal karena terkena virus vampir akibat kecerobohanku yang gagal mendeteksi musuh. Aku gagal mendeteksi sedari awal niat jahat Rahib Vyndicta Eros padaku sehingga pada akhirnya aku membiarkan Ilene jatuh ke tangannya. Ilene yang telah berada di markas musuh pun akhirnya menjadi korban pelampiasan dendam musuh padaku.


Virus vampir ketika terlanjur menjangkiti seseorang, maka itu akan segera mengambil alih kesadaran tubuh yang dijangkitinya dengan tetap mempertahankan ingatannya untuk dimanfaatkannya demi menipu orang-orang yang dekat dengan tubuh sang inang.


Dengan kata lain, Ilene saat itu sudah lama meninggal, digantikan oleh vampir yang hanya menggunakan ingatan Ilene untuk keperluannya belaka. Itu artinya apa yang dibunuh oleh Alice itu sejatinya bukanlah Ilene, melainkan vampir yang menyamar sebagai Ilene.


Dengan demikian, tidak ada alasan bagiku lagi untuk menaruh dendam pada Alice. Yang dibunuh oleh Alice adalah vampir, bukan Ilene. Ilene sejatinya dibunuh oleh virus vampir sehingga seharsunya aku berterima kasih kepada Alice yang telah melenyapkan virus vampir yang telah membunuh Ilene itu selamanya dari dunia.


Aku benar-benar harus menanamkan pikiran ini baik-baik ke alam bawah sadarku.


“Maaf, Alice.”


“Tidak, Master. Tidak ada di antara kita berdua yang salah. Jadi kumohon Master jangan merasa terbebani lagi.”


‘Tidak ada di antara kita berdua yang salah’. Entah mengapa justru setelah mendengar kalimat itu terucap melalui Alice, hatiku baru terasa lega.


Begitu rupanya. Ada dua hal yang menyebabkan aku merasakan rasa sakit ini di hatiku. Pertama, aku yang merasa bersalah karena telah membenci Alice pada sesuatu yang tidak seharusnya. Namun ada hal lain selain itu. Aku hanya tak ingin dibenci oleh Alice karena merasa membencinya dalam hati.


Itu benar. ‘Tidak ada di antara kita berdua yang salah’. Bukan aku maupun Alice yang salah. Sedari awal tidak ada di antara kami berdua yang salah.


Seketika perasaan hangat membanjiri hatiku. Ah, inikah yang dinamakan perasaan lega setelah terlepas dari rasa bersalah? Namun kemudian, bagian tengkuk di leher Alice pun bersinar lalu tanda perisai Alkasa itu akhirnya benar-benar muncul pada Alice.


Orang kelima pada party pahlawan tidak lain dan tidak bukan memang benar-benar adalah Alice Garcia Fallenstone.