Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 112 – TRAGEDI BERDARAH CABALCUS (bag. 7)



“Bagaimana hubunganmu dengan putri Duke Aamora, Dik Boni?”


Demi meredakan ketegangan adiknya itu dalam persiapan perang, Pangeran Brian mengajaknya berbicara sebuah topik yang akan meredakan ketegangannya itu, tiada lain dan tiada bukan, tema asmara.


“Hmm. Semuanya berjalan lancar kok, Kak Brian. Cuma, selama di akademi, aku jarang menunjukkan prestasi. Aku kalah sama Kakak-Kakak yang lain. Itu sebabnya, aku ingin menunjukkan kejantananku pada wanita yang kucintai itu dengan membawa prestasi perang yang gemilang dengan mengalahkan kaum barbar wilayah selatan.”


Pangeran Brian terlihat salut pada kebulatan tekad adiknya itu yang demi cinta, rela membahayakan dirinya sendiri dalam perang. Dia sepatutnya baru menginjak tahun pertamanya di akademi kekaisaran. Walau demikian, dia telah memberanikan diri untuk terjun di dalam medan perang pertamanya.


Sesuai dugaan murid terbaik kekaisaran di angkatannya, begitulah pikir Pangeran Brian terhadap adik kesayangannya itu.


“Pasti semuanya akan baik-baik saja. Jangan terlalu terburu-buru. Kamu masih berusia 14 tahun, masih sangat belia. Masa depanmu masih sangat panjang. Cukup jalani saja tahap demi tahap. Kuyakin itu pula yang diinginkan oleh tunanganmu.”


“Hahahahahahaha. Persis seperti Cynthia banget. Kalau itu Dik Cynthia, pasti juga akan sama seperti Kakak yang sangat mengkhawatirkanku. Demi Dik Cynthia, aku akan pulang dengan kemenangan.”


Pangeran Bonivetto berujar dengan penuh tekad. Dia mengangkat tinggi-tinggi tangan kirinya yang tidak sedang memegang tali kekang kuda itu yang terikat sebuah pita berwarna emas.


“Oho. Apa itu ointment dari putri Duke Aamora?”


Pada pertanyaan penasaran kakaknya itu, Pangeran Bonivetto pun tertawa sembari menjawab, “Hahahahahaha. Terlihat jelas ya Kak. Ini diberikan Dik Cynthia padaku sebelum pergi berperang sebagai jimat keselamatanku katanya. Dik Cythia memang sangat perhatian.


“Terlebih dari itu, bagaimana strateginya, Kak? Apakah kita akan menyerang dengan formasi martil atau dengan formasi roda?...”


Namun lama menunggu jawaban Pangeran Brian, Pangeran Brian belum juga mengeluarkan suaranya.


Karena bingung dengan sikap diam Pangeran Brian yang tiba-tiba, Pangeran Bonivetto pun melirik ke arah kakaknya itu.


“Kakak?”


Ekspresi Pangeran Bonivetto segera memucat. Itu karena seluruh badan kakaknya telah membeku tanpa ada satu pun prajurit yang menyadarinya. Pangeran Brian telah mati sekejap dalam kondisi hipotermia.


Menyaksikan pemadangan yang berubah mencekam secara tiba-tiba, Pangeran Bonivetto hanya menganga agape. Karena kurangnya pengalamannya dalam perang, hatinya masih rapuh. Dia tidak sigap dan juga tidak siap dalam menggantikan peran Pangeran Brian memberikan perintah kepada 100.000 prajuritnya.


Tidak lama setelah itu, di kala Pangeran Bonivetto masih menganga agape, panah-panah es pun berhamburan menghantam baik para prajurit maupun kuda-kuda mereka.


“Tidak. Tidak. Apa yang sedang terjadi? Inikah yang namanya perang? Ini berbeda dari cerita guru di akademi. Tidak, perang itu menyeramkan… Perang itu menyeramkan!!! Aku tidak ingin berada di sini. Aku tidak ingin mati!!! Aaaaakkkkhhhh!”


Di kala para prajurit sangat membutuhkan komando, tiada satu pun yang memberikan instruksi kepada mereka di situasi kacau itu. Tidak hanya para pangeran saja yang ketakutan, para jenderal dan pimpinan pleton pun tampak sama sekali tak siap memberikan instruksi.


Mereka hanya sibuk melarikan diri menyelamatkan diri mereka sendiri dari ribuan anak-anak panah es yang meliar yang menerjang mereka dengan kecepatan melebihi cepatnya suara.


Di situasi yang kacau itu pun, Pangeran Bonivetto terjatuh dari kudanya lantas dia harus merasakan sakitnya terinjak-injak puluhan kuda hingga badannya remuk tak lagi berbentuk.


“Mengapa? Mengapa di tempat seperti ini… Aku tidak ingin mati di tempat seperti ini… Aku masih muda, masih banyak impian yang belu aku raih. Mengapa nasibku malang seperti ini? Bahkan aku belum sempat merasakan yang namanya berhubungan intim… Oh, Dik Cynthia…”


Perlahan, Pangeran Bonivetto pun mulai kehilangan kesadarannya.


“Sebelum kamu berpikir kemalangan nasibmu, tidakkah kamu memikirkan nasib orang-orang yang akan kalian bunuh dalam perang? Tanpa merasa berdosa, kalian mengambil nyawa bangsa lain hanya demi kekuasaan dan kejayaan.”


Pangeran Bonivetto yang semula sudah akan menutup matanya, tiba-tiba kembali memperoleh kesadarannya setelah mendengar suara itu.


Kondisi Pangeran Bonivetto sekarat. Jika bukan perlindungan internal mana miliknya, sudah sejak lama dia akan meninggal perihal terinjak-injak oleh kuda.


“Siapa kau?”


Perlahan, image orang yang mengucapkan hal itu kepada Pangeran Bonivetto mulai tampak. Tidak, lebih daripada orang, Pangeran Bonivetto lebih seperti menyaksikan seekor monster di hadapannya.


“Monster…”


Melihat mata pemuda yang penuh kegelapan segelap abyss itu, Pangeran Bonivetto ketakutan. Dia tidak dapat lagi menahan ketakutannya hingga kencing di celana. Dia pun memutuskan untuk membuang segala harga dirinya.


“Kumohon… Kumohon ampuni aku atas segala kesalahanku. Aku masih muda… Itu benar, aku masih anak-anak. Aku hanya disuruh untuk melakukan semua ini di luar dari kemauanku. Jika kau melepaskanku, aku berjanji takkan pernah lagi menampakkan diri di hadapan kerajaan. Aku hanya akan hidup dengan damai di sudut terpencil negeri. Aku juga akan memberikanmu segala informasi yang kuketahui tentang kekaisaran.”


“Jadi kumohon, selamatkanlah nyawaku. Tidak ada gunanya bukan, membunuh anak-anak? Itu hanya akan menyebabkan Anda dinilai pengecut.”


Pangeran Bonivetto yang masih berusia 14 tahun itu benar-benar merendahkan dirinya melupakan fakta bahwa dia adalah murid terbaik di akademi kekaisaran. Dia tanpa hesitasi berniat mengkhianati negaranya sendiri demi keselamatan nyawanya.


Walau demikian, sang monster, tidak, Helios de Meglovia memandang Pangeran Bonivetto dengan pandangan yang menghinakan. Dia merasa jijik terhadap setiap antek-antek kekaisaran.


“Anak buaya walaupun dipelihara oleh seekor ikan, jika besar hanya akan jadi predator yang memangsa ikan tersebut. Begitulah kalian para keturunan keluarga kaisar. Jadi, sebelum kau sempat menajamkan taringmu… Selamat tinggal!”


“Tidak!!! Kumohon Tuan. Biarkan aku hidup! Aku masih anak-anak. Aaaaaakkkkhhhh!”


Leher Pangeran Bonivetto digerek lantas dia pun mengembuskan nafas terakhirnya menyusul kematian Pangeran Brian dan para prajurit kekaisaran lainnya.


Helios memaafkan setiap anak-anak bangsawan pemberontak yang ditemuinya sebelumnya karena berpikir bahwa mereka masihlah memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri mereka sejak mereka belum ternodai oleh kejahatan orang tua mereka.


Namun berbeda dengan Pangeran Bonivetto. Dia telah berbau darah. Dia telah pernah membunuh orang sebelumnya.


Helios pun memutuskan bahwa Pangeran Bonivetto bersalah sejak dia takkan mungkin mampu mengembalikan semua nyawa orang tak bersalah yang telah dibunuhnya.


“Mengapa? Mengapa rasa amarah ini belum hilang walaupun aku telah membunuh semua orang yang menyebabkan kematian Kakak!!!”


Helios berteriak putus asa di tengah puluhan ribu mayat yang bergelimpangan di sekitarnya.


“Tidak, rasa mengganjal ini belum hilang sejak belum semuanya kan? Dalang dari semuanya masih duduk dengan enak di tahta kekaisaran.”


Mata Helios bersinar gelap. Dia benar-benar mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat. Namun seketika, dari mata yang bersinar gelap itu keluar air mata.


“Tidak. Walaupun aku membunuh mereka semua. Kakak tetap tidak akan bisa kembali hidup.”


Pemuda itu seketika dilanda keputusasaan sejak dia tak lagi sanggup menemukan objek untuk melampiaskan balas dendamnya itu.


Dia ingin melanjutkan perjalanannya langsung menuju Kekaisaran Vlonhard demi membunuh sang kaisar Vlonhard di tahtanya. Walau demikian, bagaimana pun Helios adalah manusia. Setelah tidak makan dan minum selama 7 hari 6 malam, dia akhirnya merasakan kelaparan dan kehausan yang menyengat.


Dia pun singgah di suatu sumur yang terletak di perbatasan utara Kerajaan Cabalcus untuk mengisi perutnya setidaknya dengan air minum.


Namun kemudian di sana, dia kembali bertemu dengan seseorang yang tak diduganya. Rupanya masih ada keturunan keluarga kerajaan Cabalcus selain dua anak-anak dan seorang bayi yang dibiarkannya hidup. Dia adalah Stephanus de Cabalcus, pangeran kedua Kerajaan Cabalcus.


Tidak, ada seorang lagi yang bersamanya, seorang ahli strategi Kerajaan Cabalcus, Roggie fin Bayotte.


Mereka saat ini sedang terlihat bersama para rombongan pengungsi dari anggota kuil suci kekaisaran.


“Masih ada tikus yang luput dari pandanganku rupanya.”


Helios maju dengan niat membunuh ke arah mereka.


Namun kemudian, Pangeran Stephanus dengan gagah berani berdiri di depan untuk menghalangi langkah Pangeran Helios tersebut.


“Para pengungsi ini tidak ada kaitannya dengan pengkhianatan kerajaan. Jika Anda berniat untuk membalaskan dendam Anda pada pengkhiantan kerajaan, seharusnya cukup nyawa akulah yang Anda incar… Kak Roggie, tolong bawa para pengungsi pergi dari sini.”


Ujar Pangeran Stephanus tanpa sedikit pun keraguan di balik pandangan matanya.