Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 235 – KEINGINAN HELIOS TENTANG MASA DEPAN



Helios beristirahat malam itu sambil duduk di ruang kerjanya setelah sekian lama baru bisa tinggal di istana lebih lama.


Selama ini, Helios harus bolak-balik mengurusi berbagai masalah di Benua Armtemis, belum lagi masalah-masalah internal kekaisaran yang urgen untuk diurusi.


Terlihat Helios memain-mainkan sebuah pemberat dokumen agar tidak diterbangkan angin begitu jendela terbuka.


Itu terbuat dari bahan dasar logam dengan beberapa ukiran kayu di beberapa tempat di sekelilingnya.


Bukanlah desainnya yang fantastis, melainkan bentuk dari objek itu sendiri yang unik.


Itu menyerupai wujud kura-kura Yasmin yang pertama kali ditemui oleh Helios dalam perjalanannya menuju ke Kota Painfinn dahulu.


“Master, Anda memanggil kami?”


Ucapan Albert yang datang secara tiba-tiba bersama Albexus segera membuyarkan Helios dari lamunannya.


“Ah, kalian sudah datang rupanya?”


Namun ketimbang memperhatikan wajah kusut Helios, mereka berdua lebih terfokus pada pemberat kertas yang sedang dimain-mainkan oleh Helios di tangan kanannya.


“Wah, bentuknya cantik! Nostalgia sekali rasanya…”


Albert segera menghentikan ucapannya di tengah-tengah.


Dia baru tersadar bahwa perasaan nostalgia yang dirasakannya itu karena bentuk objek tersebut mirip dengan wujud kura-kura Yasmin terdahulu.


Albert sadar benar bagaimana masternya bahkan sampai saat ini masih memendam rasa kesedihan pasca kehilangan Yasmin.


“Hahahahahahahaha. Iya kan? Kakek Grodzky memang berbakat tidak hanya menciptakan alat-alat mekanik dan senjata, tetapi juga produk karya seni.”


“Ah, itu dari dwarf itu ya?”


Albexus yang tidak tahu-menahu soal sejarah Yasmin seketika ikut terlibat dalam pembicaraan.


Namun berkat itu pula, suasana canggung yang tidak diharapkan baik oleh Helios maupun Albert segera sirna.


“Curtiz memberikanku ini, katanya hadiah ulang tahunku dari Kakek Grodzky. Entah apa yang dipikirkannya padahal ulang tahunku masih empat bulan lagi. katanya agak jauh kalau mesti bolak-balik dari Painfinn ke Megdia, jadi sekalian saja dia memberikannya di acara ulang tahun Helion. Hahahahahahaha. Benar-benar Kakek itu. Masak bisa berpikir begitu sih padahal sudah ada transportasi gate buah karya Dokter Minerva.”


“Sesuai kabar yang beredar, hubungan Anda dengan wilayah Painfinn benar-benar akrab ya, Yang Mulia.”


“Hahahahahaha. Begitu kah? Iya sih, aku akui bahwa seluruh warga Kota Painfinn memang orang-orang yang hangat. Oh iya, Venia juga menghadiahiu sebuah vitamin, katanya tidak mau kalah sama Dokter Minerva. Hahahahahaha. Aku senang melihat peneliti yang bersemangat sepertinya.”


Sesaat kemudian, pandangan Helios tiba-tiba menajam.


“Jadi, aku mengundang kalian kemari tidak lain untuk membicarakan persoalan tower.”


“Monster-monster lantai bawah sudah pulih sepenuhnya dan mulai bergerak meninggalkan tower.”


“Saat ini Alice dan para tentara lainnya di sana berusaha sekuat tenaga untuk menahan monster-monster itu.”


“Tampaknya, ekspedisi ke tower bagi party pahlawan akan dilaksanakan lebih cepat daripada yang direncanakan sebelumnya.”


Terhadap pernyataan Helios itu, Albert dan Albexus pun sama-sama mengangguk.


Helios membelai kepala sang boneka kura-kura lantas Albert memperhatikannya dengan ekspresi yang muram.


***


Usai bertemu dengan Albert dan Albexus lantas mengabari Dokter Minerva dan melakukan segala persiapan yang diperlukan untuk ekspedisi, kini yang tersisa bagi Helios adalah bagaimana mengabarkan hal ini kepada keluarganya.


Farhaad, anak keempat Helios dari ratu keduanya, Lusiana, justru kini yang lebih sering Helios andalkan untuk urusan keluarga.


Walaupun Farhaad lebih muda daripada Helion, dia lebih bijak.


“Serahkan saja segala urusan internal padaku dan Paman Luic, Ayah.”


“Ayah, cukup berfokus pada ekspedisi saja.”


Helios tersenyum akan jawaban Farhaad yang sangat dapat diandalkan itu.


Helios pun berdiri untuk menepuk pundak putranya.


“Kamu memang paling bisa diandalkan, Farhaad.”


Namun sejenak kemudian, ekspresi Helios mengusut.


Dia memandang Farhaad, putranya, dengan pandangan yang penuh arti.


“Kamu cerdas, wawasanmu luas, kamu juga mengerti politik dan hubungan luar negeri dengan sangat baik. Tapi Farhaad… Apa jangan-jangan kamu mengincar posisi kakakmu, Helion?”


“Jika Kak Helion lolos dalam penilaianku sebagai calon kaisar yang baik, tentu saja aku sama sekali tak berniat melakukannya, Ayah.”


Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata kekusutan ekspresi Helios mendengarkan jawaban Farhaad saat itu.


Dia tiba-tiba saja sangat mengkhawatirkan masa depan keluarganya sepeninggalnya.


Helios menyayangi Helion, namun seberapa besar rasa sayangnya kepada Helion, begitu pula besar rasa sayang Helios kepada Farhaad.


Namun untuk berpikir bahwa kedua anaknya itu akan terlibat konflik perebutan tahta pasca kepergiannya di masa depan, itu membuat Helios menjadi egois dan berharap ingin hidup lebih lama di dunia luar.


Namun, Helios sadar akan tanggung jawabnya sebagai pahlawan.


Pahlawan hanya boleh ada ketika dunia membutuhkannya.


Namun pahlawan harus segera menarik diri mereka sendiri ketika ancaman dunia itu telah menghilang.


Dengan wajah sayu, Helios pun berbicara kepada Farhaad,


“Aku tak melarangmu untuk mewujudkan ambisimu, Farhaad. Namun, apapun yang terjadi, kumohon utamakan nyawa keluargamu. Kalian itu bersaudara…”


Farhaad yang pembawaannya tenang tiba-tiba saja gelisah melihat ayahnya mengucurkan air mata sambil memohon padanya.


Mungkin karena kecapaian dengan aktivitasnya yang sangat padat belakangan ini, Helios jadi lunglai.


Farhaad pun dengan perasaan sangat khawatir segera mendukung ayahnya yang tampak sebentar lagi akan roboh.


“Apa yang Ayah katakan? Tentu saja keluarga adalah yang utama. Apa Ayah pikir aku akan tega membunuh Kak Helion hanya karena tahta atau semacamnya? Yang kuinginkan hanya yang terbaik untuk keberlangsungan kekaisaran. Demi masa depan keturunan kita.”


“Apalah arti semua itu tanpa rasa persaudaraan. Aku hanya tak suka dengan sikap Kak Helion yang serampangan sampai-sampai aku berpikir sebaiknya aku saja yang mengurusi masalah negara daripada dia.”


“Jadi Ayah tenang saja. Apapun yang Ayah khawatirkan, itu takkan terjadi. Walaupun nanti aku akan memilih jalan ekstrim untuk menyadarkan kakak serampangan itu, aku pastikan bahwa tidak ada satupun darah yang akan menetes. Ayah tentu tahu bahwa aku sanggup melakukannya dengan baik, bukan?”


Senyum Helios pun akhirnya nampak kembali dengan jawaban Farhaad itu.


“Syukurlah, Ayah punya anak yang berpikiran luas sepertimu, Farhaad.”


“Ya, Ayah.”


***


Di suatu pagi sebelum keberangkatannya ke Benua Armtemis, Helios menyempatkan diri mengunjungi anaknya, Helion, yang sedang melakukan pemberontakan kepadanya secara sembuyi-sembunyi melalui gate portable hasil buah karya dirinya dan Dokter Minerva tersebut.


“Jadi, apakah kamu memperoleh kesenanganmu dengan melakukan ini semua, putraku?”


“Ah! Ayahanda?!”


Helion seketika kaget dengan kedatangan Helios yang tiba-tiba itu.


“Jadi Ayahanda mau apa sekarang? Serius Ayahanda datang sendirian ke sini? Apa Ayahanda mau menangkapku sebagai pemimpin pemberontak? Apa Ayahanda pikir sanggup untuk melakukannya? Jangan anggap enteng aku dan para pasukan pemberontak!”


Helios seketika menggeleng atas pernyataan Helion itu.


“Aku hanya ingin melihat wajah putraku sebelum ekspedisiku ke Benua Armtemis dimulai.”


“Ayahanda selalu begitu! Hanya sibuk dengan urusan negara tanpa pernah memperhatikan Ibunda dan aku. Aku benci Ayahanda!”


Walau Helios disambut dengan amarah putranya, Helios tetap merasa lega bisa melihat setidaknya wajah putranya sekali sebelum kepergiannya.


“Akur-akurlah dengan saudaramu yang lain, Lion. Sebagai anak tertua, itu akan menjadi tanggung jawabmu untuk menyatukan mereka.”


“Dan mengenai protesmu ini yang membuatmu sampai mengumpulkan banyak orang untuk memberontak, bicarakanlah baik-baik dengan adikmu, Farhaad. Kuyakin dia punya solusi yang jauh lebih baik.”


Helion masih ingin berteriak marah kepada ayahandanya itu.


Namun ketika dia menoleh ke belakang, ayahandanya rupanya telah menghilang.