
Semuanya menjadi jelas ketika Rowen membawa ayah dan ibunya, Paman Algebra beserta istrinya, mengungsi ke wilayah Meglovia.
Itu adalah pemberontakan yang direncanakan oleh Vultan de Ignitia, sang mantan putra mahkota Ignitia yang sebenarnya tidak pernah setuju Ignitia diakuisisi oleh Meglovia.
Ini benar-benar lucu mengingat aku dan Vultan sejatinya adalah saudara sepupu. Namun bahkan dengan hubungan darah yang tebal itu, dia tetap melakukan pengkhianatan dengan mengincar kepalaku. Begitulah yang namanya tahta, bahkan pertumpahan darah tiada artinya walau di antara sesama saudara kandung, apa tah lagi jika hanya sekadar sepupuan.
Pemberontakan terjadi di seluruh wilayah timur kekaisaran dan pada akhirnya ini memutus rute perdagangan kami dengan Benua Timur Asium yang harus melewati daerah itu.
Aku sama sekali tidak menduga bahwa rute perdagangan alternatif yang beberapa tahun lalu kucanangkan demi membantu pertumbuhan ekonomi Geria justru menyelamatkan kami di saat-saat genting sekarang ini.
Rute perdagangan dengan Kerajaan Indonesista melalui samudra selatan menuju ke Geria, lalu dari Geria ke kepulauan selatan, lantas dari kepulauan selatan memasuki wilayah kekaisaran kami di Kota Painfinn.
Kerajaan Geria merasa berutang budi oleh rute perdagangan itu yang berhasil meningkatkan kemakmuran negeri mereka secara signifikan. Itulah sebabnya, kini mereka akhirnya bersedia membantu kami dalam memasok kebutuhan pangan selama pemberontakan dalam negeri kami yang berasal dari Indonesista melalui rute perdagangan tersebut.
Aku merasa bersyukur karenanya. Setidaknya, tidak hanya ada orang-orang yang tidak tahu terima kasih di dunia ini. Ketulusan dalam saling membantu sesama manusia rupanya masihlah hidup di dunia ini.
***
Selama pemberontakan timur belangsung, Helios memutuskan untuk menarik mundur Alice yang menjaga gerak-gerik Kerajaan Maosium dari perbatasan selatan dan menggantikannya dengan Olo.
Alice ditempatkan bersama dengan Buron da Corner untuk membantu mantan permaisuri serta mantan pangeran keenam dan ketujuh bekas kekaisaran Vlonhard dalam menangani pemberontakan di wilayah Litrum dan Aamora. Adapun Stephanus van Cabalcus yang bekerjasama dengan Swein von Lambarg yang menangani pemberontakan di daerah Ignitia.
Sementara itu, Albert ditugaskan oleh Helios untuk menenangkan rakyat di wilayahnya yang menjadi pemicu utama pemberontakan.
Di saat-saat itu, Damian mengunjungi Albert.
“Apakah negeri ini selalu ditakdirkan untuk terjadi pertumpahan darah? Baru saja negeri ini damai usai perang antara selatan dan utara, dan kali ini apa? Perang antara barat dan timur? Apa itu karena penguasanya adalah seorang tiran?”
“Damian, walau kau seorang pahlawan, aku takkan segan-segan menebas lehermu jika kau berani menghina Yang Mulia Kaisar Helios.”
Beberapa paladin pun menarik pedangnya dari sarungnya lantas menghunuskannya kepada Albert begitu Albert mengutarakan ancamannya.
“Tidak, tidak, bukan seperti itu maksudku, Senior Albert. Aku hanya melihat Yang Mulia Kaisar Helios dengan perasaan simpati. Dia sejauh ini telah bekerja keras, tapi tampak tak dapat terlepas dari jeratan takdirnya yang dibenci oleh rakyat. Aku hanya bertanya-tanya apakah semua ini terjadi karena Beliau adalah tiran dalam ramalan yang pada akhirnya akan dibunuh oleh pahlawan.”
“Kau berniat membunuh Master?!”
Dengan tatapan merah membara, Albert meringis marah pada Damian.
“Bukan begitu. Maksudku, kita ini hanya bisa memutuskan baik dan buruk perbuatan kita, namun ujung-ujungnya kita tidak dapat lari dari jeratan takdir. Bukankah Senior Albert jauh lebih memahaminya? Selama ini, Yang Mulia Helios telah berupaya keras melindungi rakyatnya. Tapi nyatanya apa? Beliau justru hidup semakin menderita dan harus merasakan pengkhianatan dari berbagai sisi. Hei, Senior Albert. Bukankah kita harus menolong Beliau?”
“Apa maksud ucapanmu?”
“Bukanlah para pemberontak atau iblis, musuh yang harus kita kalahkan di sini, tetapi takdir itu sendiri. Kita harus memutuskan Yang Mulia Helios dari takdirnya yang kejam sebagai tiran yang akan dijadikan pengorbanan bagi pahlawan. Jika dibiarkan terus, Yang Mulia Helios hanya akan terus menderita sampai akhir hingga nyawanya terenggut. Nah, di sini aku punya satu usul buat kamu, Senior Albert.”
“…”
“…”
“Kamu? Apa yang kamu rencanakan?!”
“Percayalah bahwa aku melakukan semua ini juga untuk Yang Mulia Helios. Kini, aku hanya dapat menunggu keputusan dari Senior Albert. Hanya Senior Albert-lah seorang yang dapat menyelamatkan Beliau dari takdirnya.”
Mata Albert jelas terlihat bergetar setelah dibisikkan sesuatu oleh Damian.
***
Di masa-masa kacau itu, anakku yang kelima dan keenam terlahir sebagai anak kembar. Aku menamakan yang laki-laki sebagai Illios, sementara yang perempuan yang lahir lima menit setelah Illios, aku namakan sebagai Illies. Penamaan itu bersumber dari penggabungan namaku bersama Talia. Italiana dan Helios, disingkat menjadi Illios atau bisa juga Illies.
Itu adalah termasuk masa-masa paling membahagiakan dalam hidupku jika saja negeri ini tidak dalam keadaan rusuh.
Di waktu itu pula, departemen kehakiman mengumumkan hukuman buat mantan pangeran ketiga dari bekas kekaisaran Vlonhard, Fabian, yaitu eksekusi mati. Hal ini lantas semakin memperkeruh situasi di wilayah Litrum.
Sebagai hasil kericuhan, Duke Hugord van Litrum, salah satu pendukung terkuat mantan putra mahkota dari bekas kekaisaran Vlonhard, Albexus star Vlonhard, di masa jayanya tewas karena dibunuh oleh para pengikutnya sendiri.
Sebenarnya situasi politik di Litrum memang sudah simpangsiur. Mereka awalnya adalah pendukung sang putra mahkota, alih-alih Fabian yang terlahir dari rahim ratu kedua yang berasal dari sana. Itu semua berkat Duke Litrum. Namun, itu pulalah kini yang menjadi cikal-bakal dia dibunuh oleh para pengikutnya sendiri yang lebih mendukung Fabian.
Pemberontakan wilayah Litrum semakin kuat. Mereka menuding bahwa keterlibatan Fabian dalam bencana black death hanyalah hasil rekayasaku belaka. Ini diperkeruh oleh pernyataan korban dari wilayah Lugwein sendiri yang membenarkan statement mereka. Aku pun seketika menjadi orang jahatnya.
***
Bahkan setelah Helios menjadi penyelamat wilayah Lugwein sebanyak dua kali, yakni ketika bencana black death terjadi, dan juga ketika ancaman invasi monster di utara, tidak, bahkan jauh sebelum itu, Helios juga telah membantu wilayah itu melalui sumbangan pangan dan infrastruktur demi perbaikan wilayah, mereka tetap memperlakukan Helios dengan dingin.
Jangankan ucapan terima kasih, Helios malah ditunding oleh mereka sebagai penyebab bencana yang mereka alami yang kesemuanya dianggap mereka sebagai hasil rekayasa licik Helios semata.
Albert hanya tidak habis pikir bahwa penduduk yang sangat baik dan ramah padanya itu sangat membenci tuannya sampai segitunya yang bisa dikatakan di luar nalar yang jika diberikan kesempatan bahkan mereka akan tidak segan-segan menghabisi nyawa tuannya itu.
Di sinilah Albert mulai berpikir, ‘Ah, apa jangan-jangan yang dikatakan Damian padanya itu benar?’
Damian berkata kepada Albert bahwa takdir adalah sesuatu yang sulit kamu hindari seberapa besarnya pun upaya yang kamu lakukan untuk menghindarinya. Dan Albert berpikir bahwa itulah yang kini terjadi pada Helios. Sejauh apapun Helios berusaha, dia tidak akan pernah lari dari takdirnya sebagai tiran yang akan dikorbankan dunia bagi keberadaan pahlawan.
Helios tidak akan lepas dari jeratan takdir itu. Bukan karena perbuatannya, tetapi karena takdirnya-lah penyebab Helios tetap menerima kebencian dari rakyat bahkan setelah pengorbannya hingga sejauh ini.
Namun Albert tidak ingin tinggal diam saja dan melihat tuannya berakhir dalam kehancuran secara tidak adil. Albert ingin menyelamatkan tuannya.
Albert pun membulatkan tekadnya.