Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 26 – SANG PENYIHIR TIDUR



Setelah menghabiskan waktu sekitar dua setengah hari di dalam hutan monster, aku, Alice, dan Yasmin pun berhasil mencapai perbatasan antara hutan monster dan padang luas yang terletak tepat di depan benteng pertahanan Kota Painfinn.


Akan tetapi, begitu kami hendak meninggalkan wilayah hutan monster tersebut, aku tiba-tiba bisa merasakan aliran mana yang ganjil berkumpul di sekitar Yasmin lalu Yasmin pun seketika mendadak pusing hingga hampir saja menjatuhkan badannya.


Aku menggapai Yasmin sebelum dia terjatuh ke tanah lalu menanyakan tentang bagaimana keadaannya. Namun, syukurlah Yasmin masih dapat tersenyum seperti biasa dan mengatakan bahwa dia tidak apa-apa kecuali sedikit lelah karena hampir tidak memperoleh tidur yang nyaman selama dua malam ini.


Karena kurang yakin akan pertanyaannya, aku pun menelisik ke dalam aliran mana di tubuh Yasmin dan rupanya pernyataannya itu benar. Aliran mana-nya sedikit pun tidak mengalami gangguan.


Selain itu, tidak terihat lagi aliran mana yang ganjil di sekitar, jadi kusimpulkanlah bahwa itu bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan sehingga aku, Alice, dan Yasmin pun segera meninggalkan hutan monster setelah memastikan bahwa Yasmin dapat berjalan mengikuti kami tanpa ada masalah di tubuhnya.


Tepat ketika kami keluar dari hutan monster itu, Albert dan tampaknya dia membawa seorang lagi bersamanya yang kalau tidak salah namanya Damian, pemuda biasa-biasa saja yang sama sekali tidak memiliki satu pun ciri-ciri yang menonjol di fisiknya, telah berada di sana untuk menyambut kepulangan kami.


Aku pun hanya membalas sambutan Albert itu dengan senyuman tipis lantas segera bergerak menuju ke mansionku kembali.


Aku sejenak mengintip ke belakang. Tampak bahwa Albert sangat dekat dengan pemuda itu di mana ini pertama kalinya kulihat dia dapat mengobrol santai dengan seseorang.


Aku merasa bersalah padanya perihal dia yang menjadi ksatriaku, Albert tak satu kali pun pernah memperoleh respon yang baik dari para prajurit lain di istana. Syukurlah, kini di Kota Painfinn ini, di mana orang-orang tampak tidak terlalu peduli dengan ramalan tiranku, akhirnya Albert benar-benar memperoleh seseorang yang dapat dijadikannya teman.


“Akhirnya artifak di hutan monster telah diperbaiki ya, Yang Mulia Pangeran. Apakah itu artinya mulai saat ini, kita tak perlu lagi mengkawatirkan soal serangan gelombang monster dari hutan monster?”


Alice bertanya padaku lalu aku pun menjawabnya, “Monster tidak akan muncul lagi dengan beringas dengan intensitas seperti yang sudah-sudah kita dapati. Tetapi layaknya tiga tahun yang lalu sebelum artifaknya rusak, monster tetap akan menyerang, tetapi dalam skala yang cukup bisa diatasi hanya dengan mengandalkan personel prajurit dari Kota Painfinn saja.”


Setelah mendengar itu, entah mengapa raut wajah Alice berubah menjadi sedih. Namun, apa yang menjadi gundah di hatinya itu pun segera dilontarkannya.


“Yang Mulia Pangeran, seperti yang Anda tahu, aku datang ke kota ini sebagai prajurit bayaran. Jika kondisi kota sudah membaik dan prajurit luar mutlak tidak diperlukan lagi, masih bisakah aku berada di sisi Yang Mulia Pangeran untuk melayani Anda.”


“Apa yang kamu katakan, Alice? Kamu telah bersumpah setia padaku sebagai anak buah langsungku. Itu artinya kamu akan tetap bersamaku selamanya.”


Seketika mendengar jawabanku itu, terlihat bahwa gundah di raut wajah Alice telah menghilang. Hanya saja, ekspresinya itu agak membuatku sedikit risih. Itu adalah ekspresi yang biasanya hanya ditunjukkan oleh pria paruh baya yang mabuk ketika memikirkan hal-hal mesum.


Namun, mari kita abaikan itu. Aku khawatir bahwa sedikit saja aku salah menyentuh bagian Alice yang itu, sifat bejat yang tak kuinginkan darinya itu akan tiba-tiba menunjukkan taringnya.


“Tapi mengapa Yang Mulia Pangeran tampak terburu-buru begitu? Akankah Yang Mulia Pangeran masih akan mengunjungi tempat lain alih-alih segera beristirahat di mansion?”


“Seperti yang kusebutkan sebelumnya bahwa masih ada kutukan monster lain yang dimiliki oleh seorang rekan yang harus segera aku atasi sebelum nyawa rekan itu berada dalam kondisi yang lebih mengkhawatirkan.”


“Siapa itu?”


“Yah, kamu juga akan segera mengetahuinya.”


Kami berempat pun akhirnya sampai ke dalam mansion-ku lantas kami segera menuju ke suatu kamar yang benar-benar aku perintahkan Jilk untuk menjaganya dengan baik menggantikan Yasmin yang sedang menemaniku dalam misi.


Itu adalah kamar di mana Nunu terbaring tidak berdaya akibat kutukan banshee.


“Yang Mulia Pangeran, gadis ini…”


“Oh iya, kamu belum pernah menemuinya selama ini ya, Alice. Dia adalah salah satu rekanku yang berharga pula. Namanya Nunu. Dia nekat mengorbankan dirinya sendiri menggantikanku terkena kutukan banshee demi melindungiku.”


“Kutukan banshee?! Itu kan…”


“Yah, salah satu kutukan paling berbahaya di benua yang dimiliki oleh monster tipe kematian. Berkat Nunu yang menghalau kutukan itu, aku pun berhasil selamat darinya. Tetapi sebagai gantinya, justru dialah yang kini terbaring tidak berdaya karena kutukan itu.”


“Sudah lebih dari sebulan sejak dia dalam kondisi seperti ini. Dikabarkan bahwa orang paling lama bisa bertahan dari kutukan banshee ini hanya sekitar dua bulan saja. Jika tidak segera disembuhkan, maka kutukan banshee ini akan terus menggerogoti nyawa Nunu, dan pada akhirnya Nunu pun bisa meninggal.”


“Itulah mengapa tadi rupanya Yang Mulia Pangeran terlihat terburu-buru… Tapi kalau Yang Mulia Pangeran terburu-buru ke mansion, itu artinya Yang Mulia Pangeran sudah menemukan solusinya, bukan?”


“Oh iya, mengapa sedari awal, Yang Mulia Pangeran tidak memanfaatkan status Anda sebagai pangeran untuk memanggil para saint dari kuil suci kemari agar segera mengobati kutukan ini? Bukankah sebagai pangeran, Anda seharusnya bisa dengan mudah melakukannya? Dan jika itu saint dari kuil suci, kutukan kematian seperti ini seharusnya bukanlah hal yang sulit untuk diatasi.”


“Apakah menurutmu mereka akan sudi memberikan bantuan kepada pangeran yang mereka cap sendiri sebagai tiran masa depan?”


“Tapi kan ini terkait dengan keselamatan prajurit negara ini sendiri yang sedang mengorbankan nyawanya di medan perang.”


Aku tak dapat menyangkal pernyataan Alice itu. Jika sedari awal kuil suci lebih menurunkan egonya demi kepentingan negara, mereka pasti sudah dari dulu mengirimkan salah satu saint mereka kemari untuk mengobati Nunu.


Tetapi tampaknya, rasa kebencian mereka padaku jauh lebih besar daripada jiwa nasionalisme mereka terhadap negara.


Yah, lagian sejak dari dulu, kuil suci memang tidak pernah menyukai kerajaan yang suka menindas kaum rakyat jelata dengan alasan perbedaan derajat kemuliaan garis darah. Untuk alasan mereka yang satu itu membenci keluarga kerajaan, aku juga tidak bisa membantahnya.


“Yah, begitulah adanya keadaan kerajaan saat ini, Alice. Tergantung dari siapa yang kamu layani, kamu akan diperlakukan baik atau buruk. Dan sebenarnya tidak ada untungnya bagi kamu melayani pangeran yang akan diramalkan menjadi tiran masa depan sepertiku yang sangat dibenci keberadaannya oleh negara. Walau demikian, akankah kamu masih bersedia untuk mengikutiku?”


Di luar dugaan, tak ada satu pun keraguan dari jawaban yang diberikan oleh Alice itu, “Tentu saja, Yang Mulia Pangeran. Kesetiaanku selamanya hanyalah milik Yang Mulia Pangeran Helios seorang sampai ajal ini menjemput selama Yang Mulia Pangeran meniti di jalan kebenaran.”


Dengan kata lain, di saat aku termakan oleh hasrat tiranisasi, di saat itu pulalah Alice akan berbalik menikamku dari belakang untuk mencabut nyawaku sendiri bersamaan dengan nyawanya.


Aku hanya bisa merinding merasakan tekad Alice yang kuat itu. Namun, aku sama sekali tidak membencinya.