
Dini hari itu Helios berlatih. Dia tampak berlatih dalam keadaan baik-baik saja dengan sungguh-sungguh sama seperti hari-hari sebelumnya tanpa terlihat adanya masalah. Namun, itu adalah apa yang nampak dari luar. Pikiran Helios saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Helios masih memikirkan saat perpisahannya kemarin terhadap Noel Dumberman yang entah mengapa membuat Helios merasa bahwa dia tidak akan lagi pernah bertemu dengannya setelah hari itu.
“Padahal sudah kuajarkan berkali-kali jangan hanya fokus pada musuh di depanmu, tapi waspadalah juga dengan sekitarmu karena kamu takkan tahu kapan musuh akan menyergapmu. Andai saja aku mendapat perintah dari Raja Iblis hari ini untuk menghabisimu, sudah pasti itu akan menjadi pekerjaan yang sangat mudah.”
Mendengar suara itu, Helios refleks membalikkan badannya. Ekspresinya terlihat datar. Namun jika diperhatikan dengan seksama, sedikit di sudut mulut Helios tersungging. Helios tidak dapat secara sempurna menutupi kebahagiaannya itu bertemu dengan sang guru berpedang keduanya yang dikiranya takkan bisa ditemuinya lagi, Noel Dumberman.
“Syukurlah firasatku yang kemarin salah.”
Secara naluriah Helios menggumamkan kalimat itu di hatinya. Namun di kala logika kembali menguasai nalarnya, seketika Helios merasakan perasaan tidak nyaman. Bagaimana mungkin dia senang bertemu dengan seorang musuh, pikirnya.
Demikianlah di hari itu, Noel Dumberman sekali lagi kembali melatih Helios, tanpa mereka berdua sadari sebuah objek telah mengawasi pergerakan mereka berdua. Sebuah objek yang sangat pandai menyembunyikan keberadaannya hingga Helios yang sangat sensitif terhadap aliran mana pun tidak dapat menyadari keberadaannya dan juga luput di bawah pengawasan familiar Helios yang selalu berkeliling ke mana-mana di sekitarnya.
Tanpa diketahui Helios di hari itu, firasatnya kemarin adalah benar adanya. Helios hanya salah dalam menerapkan harinya. Itu sejatinya bukan kemarin, melainkan hari inilah hari di mana mereka harus berpisah selamanya sebagai guru dan murid. Di pertemuan mereka yang selanjutnya, hanyalah medan perang yang menanti di mana salah satu dari mereka akan harus ada yang mati.
***
Usai melatih Helios, Noel Dumberman pulang seperti biasanya ke markasnya. Rupanya di situ telah berdiri Isis yang menunggunya sedari tadi dengan tampang yang langsung bisa ditebak bahwa dia sedang sangat marah.
Namun Isis menahan amarahnya itu lantas berjalan dengan anggun dan perlahan menuju ke pelukan Noel Dumberman.
“Kamu pergi ke mana lagi, mainanku?”
Ujar Isis seraya meraba dada Noel Dumberman dengan penuh birahi. Noel Dumberman segera menggenggam tangan Isis yang sedang meraba-raba dadanya itu hingga tergelitik tidak menyenangkan lantas balik tersenyum kepada Isis layaknya seorang gigolo profesional.
“Seorang pria lebih keren jika punya satu atau beberapa rahasia, bukan, ratuku?”
Dengan bertampang nakal, Noel Dumberman mengarahkan tangan Isis yang digenggamnya itu ke arah bibirnya lalu diciumnya.
Kini giliran Isis yang dengan paksa menarik tangannya lantas menampar pipi Noel Dumberman dengan keras. Amarah yang ditahannya segera meledak.
“Kamu tidak usah berbohong! Aku sudah melihatmu sendiri bertemu dengan mantan kakakmu itu untuk melatihnya! Berani-beraninya kamu menggunakan kebijaksanaan Raja Iblis yang dianugerahkan kepadamu untuk mengkhianati keagungannya! Dasar bedebah tidak tahu malu!”
“Apakah kamu berpikir kamu itu masih manusia, hah?! Sadar dirilah! Kau itu bukan lagi Leon de Meglovia! Leon de Meglovia telah lama mati dan jasadnya aku ambil untuk menciptakan dirimu!”
“Apa itu alasannya… Apa itu alasannya sehingga kamu bisa membiarkan Angele mati di hadapanmu di bunuh oleh bajingan itu?!”
Noel Dumberman ternyata bukanlah mirip dengan Leon de Meglovia, tetapi dia memang benar-benar adalah Leon.
“Maafkan aku ratuku. Aku hanya menjalankan perintah sesuai keagungannya.”
“Apa kamu bilang, hah?! Berani-beraninya kamu masih bohong di situasi seperti ini sampai-sampai membawa nama keagungannya!”
“Itu benar ratuku. Apalagi untuk masalah sang witch Angele, bukankah sudah kulaporkan bahwa saat itu di sana juga ada sang witch nomor dua di dekat sang terpilih. Ceroboh sedikit, maka dia akan segera mengetahui jati diri dan kelemahanku yang sejatinya sangat rapuh ini. Atau apakah Anda tidak masalah jika di tempat itu mainanmu yang berharga ini sampai rusak untuk selamanya?”
“Kau… Noel! Berani-beraninya padaku… Kau di depanku…”
Di saat Isis sekali lagi akan menggunakan tangan bersisiknya itu untuk menampar Noel Dumberman hingga wajah Noel Dumberman yang bersisik dan keras itu yang biasanya takkan bisa terluka dengan senjata tertajam manapun bisa sampai luka-luka, sebuah suara tiba-tiba menggema di tempat itu.
“Itu benar. Akulah yang memberikan izin kepada Noel Dumberman untuk melatih boneka mainanku itu agar bisa sedikit menghibur.”
Terhadap suara yang menggema itu, Isis segera bersujud dengan penuh penghambaan. Tidak hanya Isis saja, Noel Dumberman juga melakukan hal yang sama.
“Maafkan hamba yang tidak tahu rencana agung Anda, wahai keagunganku.”
Suara yang menggema itu tidak lain adalah pimpinan benua iblis sendiri, Raja Iblis Ozazil.
Seraya suara yang bergema itu mengatakan demikian, aliran mana mati yang pekat merasuk ke dalam tubuh mereka berdua yang membuat mereka berdua semakin jauh bertambah kuat.
***
Dialah Isis. Berbeda dengan para witch lainnya, Isis tidaklah terlahir di Benua Ernoa, melainkan berasal dari Benua Ifrak.
Berbeda dengan witch lain yang akhirnya memutuskan menjadi witch setelah kejatuhan mereka dengan cerita mereka masing-masing, Isis sendirilah yang memilih jalan hidupnya untuk menjadi witch.
Dia memulai pengaruhnya sebagai peramal. Dia membuat banyak orang sukses dengan ramalannya, nyatanya itu hanyalah kelicikan yang pada akhirnya membuat orang-orang tersebut jatuh ke dalam jurang kehinaan yang lebih dalam di akhir hayat mereka.
Itu tidak terlepas dari Gilgamesh, raja angkuh nan sombong yang memimpin Kerajaan Aegyst yang tanahnya meliputi hampir seluruh Benua Ifrak. Gilgamesh lantas tertipu dengan kekuatan spesial Isis lantas mengundangnya ke istananya untuk membantunya meramalkan masa depan di mana dia bisa mempertahankan kekuasaan, kejayaan, dan kekayaannya untuk selamanya.
Di situlah witch yang licik itu memulai tipu dayanya pada raja angkuh yang sangat mudah dimanipulasi itu.
Tipuannya sangat sederhana. Dia hanya mengungkapkan rahasia absurd kepada Gilgamesh bahwa ada satu cara untuk membuatnya menjadi abadi dan akan bertahan dalam kekuasaan, kejayaan, serta kekayaannya untuk selamanya, yakni dia harus menjadi tuhan.
Dengan muslihatnya yang licik, Gilgamesh tertipu dengan perkataan Isis bahwa kekuatan spirit yang datang dari orang-orang yang mempercayainya dan menyembahnya adalah sumber di mana dia bisa memperoleh keawet-mudaannya.
Dengan sombongnya pun, Gilgamesh mengakui dirinya sebagai tuhan lantas memaksa semua rakyatnya untuk menyembahnya, dan bagi yang tidak menurutinya akan diganjar dengan sanksi berupa kematian yang teramat menyakitkan.
Ada suatu kasus di mana dia memanggang seorang janda bersama anak-anaknya yang masih sangat kecil di dalam minyak mendidih. Setelah itu, tiada lagi yang berani menentang keabsurdan Gilgamesh.
Perlahan, dengan bisikan sesat Isis, Gilgamesh semakin melangkah ke jalan yang terlampau melanggar batas hingga pada akhirnya merusak keseimbangan dunia. Dia yang melawan takdir pun harus merasakan konsekuensi kematian dalam penuh kehinaan.
Gilgamesh, sang raja yang sangat terkenal akan keangkuhannya bahkan sampai pada generasi sekarang, pada akhirnya hanya menjadi salah satu korban Isis sebagai sapi perahnya dalam mengumpulkan mana matinya dalam jumlah besar.
Raja Iblis pun tertarik dengan kebiadabannya dan mulailah Isis yang sudah dari awal menempuh jalan witch, menjadi witch yang semakin sempurna lagi melalui bantuan Raja Iblis.
Dan di sinilah kali ini, sang witch objek, Isis, bersiap-siap untuk ladang panen baru mana matinya.
“Selamat datang Nyonya Isis. Aku harap perjalanan Anda menyenangkan.”
“Oh Perdana Menteri Han Xinqiang, terima kasih atas sambutannya.”
“Jadi, bagaimana dengan alat-alat perangnya?”
“Semuanya sudah jadi sesuai dengan pesanan Anda tentunya, Perdana Menteri.”
Kedua sosok bejat itu pun lantas bersama-sama melihat kumpulan objek raksasa yang telah dibentuk melalui sorcery Isis.
Ada sesuatu yang menyerupai burung tetapi berbahankan baja yang dilengkapi dengan alat yang bisa menembakkan ledakan. Ada juga sesuatu yang berupa kapal, namun semua kerangkanya terbuat dari bahan baja yang sangat kokoh lengkap dengan meriam-meriam yang terpasang canggih di lambung kapalnya tidak mirip seperti teknologi di zaman itu, melainkan teknologi yang sangat canggih melampaui zamannya.
“Dengan ini… Dengan ini… Pada akhirnya kami bisa menjatuhkan para ras kulit pucat itu yang terlalu menganggap tinggi ras mereka sendiri ke dasar jurang kehinaan melalui kami yang selalu mereka hinakan sebagai ras monyet.”
Melihat amarah yang tercermin secara jelas di wajah Han Xinqiang, Isis tak mampu menahan eksitasi yang dia rasakan di dalam dadanya. Sudut mulutnya pun tersungging tampak menahan tawa. Sang witch sudah tidak sabar ingin melihat kehancuran Helios sang hero beserta para rakyatnya, tidak, lebih tepatnya bagaimana kehancuran umat manusia secara general karena saling menghancurkan di antara sesama mereka sendiri.
“Baguslah jikalau kau puas Perdana Menteri. Kami tunggu kabar baik darimu. Kita akan mulai prosesnya pada hari yang dijanjikan.”
“Tenang saja, Nyonya Isis. Kekaisaran kami pasti akan sanggup meyakinkan kelima negara lainnya untuk menyetujui rencana pemusnahan para pemuja iblis yang menyembunyikan diri mereka melalui topeng religious itu. Ah, untuk bayarannya…”
“Aku sudah menghitungnya dan itu sudah cukup.”
Terlihat wajah penuh dengan rencana jahat yang ditujukan oleh seorang perdana menteri dari Kekaisaran Tong Kong bernama Han Xinqiang itu, tanpa sadar bahwa seseorang yang diajaknya bertransaksi bukanlah developer apalagi merchant, melainkan sang witch itu sendiri, pemuja iblis yang menjadi objek kebencian nyata bagi para manusia mana pun di dunia itu.