
Malam itu aku mengunjungi Ilene di pengasingannya di kuil suci. Tampak Ilene sedikit lelah, namun dia secara keseluruhan baik-baik saja. Mungkin ekpresi lelahnya disebabkan olehku yang mengganggu waktu istirahat malamnya.
Kulihat Ilene menyajikanku teh favoritnya seperti biasa. Kemudian ada Mellina di belakangnya, menunduk dengan elegan juga seperti biasanya. Aku pun menyimpulkan bahwa firasat burukku barusan bukanlah sekadar apa-apa selain kekhawatiran terlalu berlebihan dari seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya.
“Hoam… Mengapa Kakak mengunjungiku larut malam begini?”
Uapan dari Ilene memperjelas semuanya bahwa ekspresi lelahnya itu benar-benar perihal kantuk semata.
“Kakak tiba-tiba hanya rindu pada adik Kakak yang imut ini. Hehehehehehehe.”
Tampak seketika Ilene memandangiku jijik begitu aku mengucapkan kalimat itu padanya.
“Kalau Kakak hanya ingin mengatakan semua omong kosong itu, aku akan segera lanjut tidur saja.”
“Hahahahahaha. Maaf, Ilene, Kakak bercanda. Omong-omong, apa semua baik-baik saja di kuil suci? Kalung yang Kakak berikan kepada Ilene masih senantiasa Ilene pakai kan, termasuk waktu ke toilet?”
“Kalau dipikir-pikir lagi, barusan aku sempat melepasnya karena kelupaan. Lagian, itu risih kan, Kak, memakai benda seperti itu juga di saat Ilene mau mandi?”
“Tetapi tidak terjadi apa-apa kan pada Ilene?”
“Memangnya apa yang bisa terjadi padaku di tempat yang seaman kuil suci ini, Kakak?”
Begitu aku mendengar penjelasan Ilene, aku pun jadi lega. Tidak terjadi apapun pada adikku itu. Itu hanya kecerobohan sesaatnya saja yang tanpa sengaja melepaskan kalung itu sewaktu mandi.
“Tapi Ilene harus ingat perjanjian dengan Kakak waktu itu, ya. Kakak mengizinkanmu untuk tinggal di kuil suci ini, jauh dari Kakak, dengan syarat Ilene tidak akan pernah melepaskan kalung pemberian Kakak itu sebagai ganti Kakak yang melindungi Ilene. Dengar?”
“Iya, iya, aku paham, Kak.” Ilene pun menjawab jutek.
Kunjunganku ke kuil suci diakhiri dengan cepat perihal Ilene yang segera mau istirahat, mengingat jam istirahat memang sudah dari tadi terlewatkan.
***
Beberapa hari setelahnya, istana tiba-tiba saja digegerkan dengan penemuan banyak mayat di ibukota.
Tepat tiga hari setelah aku mengunjungi Ilene, sudah jatuh empat korban, tiga orang wanita dan seorang pria.
Korban pertama secara kebetulan adalah salah seorang pelayan suci dari kuil suci di mana Ilene tinggal yang kebetulan keluar untuk mengambil jemuran pakaian di sekitar pukul 7 malam dua hari yang lalu, lantas telah ditemukan meninggal keesokan harinya yakni kemarin di jam 5 pagi.
Kondisinya sangat aneh karena tidak ditemukan sisa darah sedikit pun di tubuhnya. Badannya betul-betul tiba-tiba kurus kerempeng seolah dia baru saja diserbu oleh ribuan nyamuk rakus yang membabat habis darahnya.
Itu berada di sekitar tempat tinggal Ilene, makanya aku sangat mengkhawatirkan dirinya. Namun bagaimana pun aku membujuknya, dia tetap bersikukuh untuk tinggal di sana. Yang lebih menjengkelkan lagi adalah orang-orang istana yang mendukung keputusan Ilene dan para anggota kuil suci lainnya tentang tetap tinggalnya Ilene di sana mengingat bahwa itu adalah aturan yang telah tarmaktub dengan jelas pada konstitusi kekaisaran.
Keluarga kekaisaran yang terasingkan tidak boleh meninggalkan kuil suci untuk selamanya.
Bukankah itu terlalu kejam? Padahal baru saja ada kasus pembunuhan di sana, wajar jika aku khawatir dan ingin agar Ilene segera keluar dari sana. Namun, aku tidak bisa membantahnya perihal jika demikian, itu sama saja aku mengatakan bahwa orang lain selain Ilene di kuil suci itu biar saja meninggal.
Tetapi seandainya saja Ilene menyetujui proposalku, aku pasti akan melakukan segala secara untuk mewujudkannya. Siapa lagi yang bisa menentangku di benua ini sejak aku adalah penguasa mutlak? Namun karena itu adalah keinginan Ilene sendiri untuk tetap tinggal di sana, aku tidak bisa membantahnya.
Terus terang, itu membuatku sedih dan sedikit sakit hati karena itu sama saja Ilene mengatakan bahwa aku lebih menyeramkan daripada sosok yang melakukan pembunuhan berantai itu.
Korban kedua adalah seorang petani berusia 50-an yang dikabarkan tidak pulang-pulang dari lahannya lantas ditemukan meninggal keesokan harinya yakni kemarin sekitar pukul 8 pagi dalam keadaan persis sama dengan kondisi mayat yang pertama. Tidak jelas apa dia adalah korban pertama atau kedua, itu diurutkan saja berdasarkan waktu penemuan jenazahnya. Yang jelas, semuanya akan terungkap ketika hasil dari tim forensik tiba.
Sekadar tambahan, karena telah ada dokter spesifik yang menangani soal perawatan ibu hamil dan kelahiran bayi, Dokter Minerva pun kembali pada profesi yang digandrunginya, yah walaupun tetap sedikit melenceng dari ilmu anatomi kedokteran. Dia kini berperan sebagai dokter ahli forensik yang bertugas mengalisis berbagai bukti-bukti kriminal yang tertinggal pada mayat di TKP.
Korban ketiga dan keempat, yakni diketahui sebagai seorang wanita ecek-ecek di dunia malam, ditemukan di tempat yang sama sekitar pukul 7 pagi hari ini di salah satu gang sempit di lokasi pasar yang juga berdekatan dengan pemukiman kuil suci.
Yang paling aneh lagi, tidak ditemukan sedikit pun luka pada tubuh korban. Malahan, berdasarkan keterangan istri korban pada kasus kedua, bekas luka suaminya di bagian punggungnya itu yang seharusnya tetap dia biarkan apa adanya karena kekurangan biaya untuk penyembuhan permanen di kuil suci, ikut menghilang tanpa bekas.
Lantas, apa yang dipikirkan oleh pelaku dengan menghilangkan bekas luka korban dulu lalu membunuhnya dengan menghilangkan semua darahnya? Apa ini semacam ritual black magic? Aku tidak dapat memikirkan hal lain selain daripada itu.
Namun, bagaimana pun aku berusaha mengingat segala informasi yang telah kukumpulkan di otakku ini, tidak ada satu pun yang pernah aku baca membahas hal yang serupa.
Ada beberapa pertanyaan yang muncul di benakku.
Pertama, apa tujuan sang pelaku menyembuhkan keseluruhan luka di tubuh korban? Berbagai hipotesis muncul di kepalaku. Bisa saja itu adalah syarat ritualnya untuk mengorbankan tubuh manusia yang tanpa cacat luka. Hipotesis yang lain adalah untuk menutupi sesuatu seperti bukti penting yang mengarah kepada pelaku, termasuk cara korban dibunuh.
Kedua, mengapa darah korban mesti diambil? Apa ritual black magic-nya hanya membutuhkan darah korban? Lantas jikalau demikian, mengapa korban mesti dibunuh? Jika butuh darah untuk ritual black magic, bukankah lebih aman memelihara budak untuk diambil darahnya dalam jangka waktu tertentu? Itu hanya mungkin jika kematian korban yang diambil darahnya juga adalah suatu prasyarat.
Atau mungkin aku berpikir terbalik. Justru korban mati karena diambil darahnya, terus untuk menutupi cara pengambilan darah itu, sang pelaku menyembuhkan seluruh luka-luka di tubuh korban.
Namun, di dalam hipotesis ini juga terdapat kejanggalan sejak kekuatan penyembuhan baik sihir suci, potion, maupun mana mati sekalipun takkan berfungsi pada makhluk yang telah mati, termasuk mana mati yang kubilang terakhir tadi terlepas dengan adanya kata mati yang menyertainya.
***
Beberapa saat kemudian, perwakilan tim forensik yang kutunggu-tunggu pun tiba. Namun berita apa yang mereka bawa bukanlah sesuatu yang kutunggu-tunggu.
“Yang Mulia Kaisar, gawat! Para mayat yang meninggal kembali hidup lantas menyerang orang-orang!”
Suatu hal yang tak pernah kuperkirakan sama sekali. Mendengar hal itu, aku pun segera menuju ke lokasi kejadian.
Namun apa yang kulihat sesampainya di sana adalah suatu pemandangan yang sangat menyeramkan. Itu lebih gila dari necromancy.
Kulihatlah mata merah menyala dari para korban yang hidup kembali itu, dengan haus darah mengisap tiap darah orang hidup yang dapat ditemuinya tepat di lehernya.
TIdak, itu bukan lagi manusia. Namun, mereka bukan pula mayat hidup. Itu adalah monster dengan gigi-gigi taring yang tajam di setiap giginya!
“Albert, Yasmin, ayo bantu Dokter Minerva!”
“Siap, Master.”
“Baik, Master.”
Tanpa punya waktu mencerna apa yang terjadi, aku pun bersama semua rekan yang kubawa membantu Dokter Minerva mengendalikan bencana itu.
Akan tetapi, bagaimanapun aku menyerang orang-orang itu… tidak, maksudku monster-monster itu, mereka hanya akan utuh kembali seperti sedia kala. Tiap luka yang kuberikan pada monster yang kulawan, hanya akan kembali sembuh seperti tak pernah terkoyak sedari awal. Tidak hanya aku, bahkan Albert, Dokter Minerva, dan para ksatria lainnya pun tampak mengalami hal yang sama.
Yasmin-lah yang pertama kali memecahkan kebuntuan itu.
“Master! Serang jantungnya! Selama jantung makhluk-makhluk ini hancur, mereka tidak akan bisa bangkit kembali!”
Dengan caranya itu, Yasmin berhasil membunuh satu monster yang ada. Caranya pun seketika diikuti olehku, Albert, dan Dokter Minerva. Para monster pun tumbang dan tak bisa bangkit kembali. Tidak, mereka tiba-tiba menjadi abu lalu tertiup bercampur angin seakan tidak pernah ada sedari awal.
Sayangnya, masih ada satu monster yang tersisa. Tetapi tampaknya kami tidak dapat lagi berbuat apa-apa untuk itu. Itu adalah monster yang ditangani oleh Dokter Minerva yang tampaknya dia sengaja untuk tidak melukai jantung sang monster seutuhnya sehingga sang monster masih bisa bangkit sebagian.
Tetapi jika itu keperluan penyelidikan bagi Dokter Minerva menguak kebenaran dari kasus ganjil itu. kurasa tindakannya dengan menyelamatkan satu monster yang tersisa adalah keputusan yang tepat.
Namun lebih daripada itu, aku lebih penasaran bagaimana Yasmin yang telah kehilangan ingatan masa lalunya bisa mengetahui kelemahan sang monster yang bahkan aku pun sama sekali tak tahu. Apakah itu sekadar keberuntungan semata atau itu berasal dari ingatan yang terkubur di masa lalunya? Tiada jalan mengetahuinya selain bertanya langsung padanya.