
[POV Alice]
“Ukh.”
Aku segera mampu merasakan miasma yang kuat begitu aku dan timku memasuki area hutan di salah satu tempat di kota selatan.
“Yang Mulia Helios kejam juga. Jadi dia ingin aku menghadapi traumaku dulu secara langsung ya?”
Ini mengingatkanku pada kejadian traumatis yang sempat terjadi padaku sewaktu berusia 12 tahun itu.
Bau miasma pekat yang sama yang dihasilkan oleh para demon yang telah membantai party-ku dua kali. Namun sekarang, aku takkan membiarkan hal itu terjadi lagi. Aku telah tumbuh menjadi kuat dan kini sanggup untuk melindungi apa yang penting untukku.
“Kapten! Di depan sana!”
Seseorang di party-ku segera berteriak yang membuyarkan lamunanku. Rupanya, di hadapan kami telah berdiri seekor harimau yang sedang dalam perubahan wujudnya menjadi seekor monster.
Keberadaan dungeon-dungeon liar di kota selatan sebagai akibat dihancurkannya dungeon Apes, tidak hanya berakibat ancaman monster dari dalam dungeon liar saja. Dungeon-dungeon liar itu sendiri mengalirkan miasma ke dunia luar yang jika sampai terpapar kepada makhluk hidup selain manusia, akan menyebabkan perubahan fisiologis pada tubuh makhluk hidup tersebut yang menyebabkan mereka berubah menjadi monster.
Dan hewan memiliki peluang untuk terpapar miasma tiga puluh kali lipat lebih tinggi daripada tumbuhan. Itu adalah hal yang wajar jika kami segera berpapasan dengan hewan yang terinfeksi miasma lantas menjadi monster. Lalu jika iu sudah menginfeksi tumbuhan pula, pasti tingkat polusi miasma sudahlah pada ranah yang sangat tinggi sehingga tidak mungkin lagi bagi orang biasa untuk bernafas di area yang dipenuhi miasma pekat itu.
Masih kurang jelas alasan mengapa miasma tidak bisa menginfeksi manusia. Untuk manusia yang bisa menggunakan mana dan memiliki aliran mana itu wajar sejak aliran mana di dalam tubuhnya menolak miasma. Namun pada kenyataannya, manusia yang terlahir tanpa aliran mana pun tidak akan terinfeksi oleh miasma ini dan menjadi monster. Tetapi itu adalah hal yang bagus sejak kami tidak perlu menghadapi monster yang asalnya dari manusia.
Akan tetapi, itu berbeda dengan mayat. Mayat manusia bisa terpapar miasma dan pada akhirnya akan terbangkitkan sebagai zombie. Aku hanya berharap bahwa tidak ada area pekuburan di sekitar sini yang akan bisa memunculkan zombie-zombie manusia itu.
“Kapten, apa yang harus kita lakukan?”
“Tetap tenang. Harimau itu masih belum sepenuhnya berubah menjadi monster. Itu bukan apa-apa. Tapi tetap waspada dengan keadaan sekitar. Cion, kamu yang maju. Yang lain, support dari belakang untuk mencegah serangan mendadak. Biasanya harimau tidak pernah berburu sendiri. Bisa saja ada kawanan harimau lain yang bersembunyi yang bersiap menyergap kita.”
Salah satu anggota party-ku pun maju. Lalu sesuai dugaanku sebelumnya, harimau itu hanya pancingan dari para kawanannya yang telah sepenuhnya berubah menjadi monster.
Kami yang tidak lengah pada tipu muslihat monster-monster itu segera mampu menyesuaikan diri lantas dengan cepat menyelesaikan monster-monster itu.
“Kerja bagus. Tetap waspada.”
Kami kemudian kembali berjalan menyusuri hutan.
Beda halnya dengan menghadapi monster dari dalam dungeon yang tercipta oleh energi negatif dari dungeon itu sendiri, kekuatan monster yang tercipta dari makhluk hidup yang terpapar miasma tidak bisa diprediksi. Namun, rata-rata itu lebih kuat sejak vitality-nya masih tinggi. Akan tetapi, berkat mereka yang belum sepenuhnya mampu menyesuaikan diri dengan kekuatan monster mereka, walaupun lebih kuat, itu relatif lebih mudah dihadapi.
“Als dan Danial, kalian berjaga di kiri. Arsen dan Mudi di kanan. Lylo, Pupun, dan Amanda, kalian berjaga-jaga di belakang. Para wizard tetap berkonsentrasi agar sihir kalian selalu vit. Cion dan Raka, kalian bersamaku di depan memimpin laju party.”
Perburuan monster pun berlanjut.
Tidak butuh waktu lama bagi kami menjumpai kawanan monster selanjutnya. Kali ini ada sekitar empat ekor beruang yang semuanya telah berevolusi menjadi monster. Mata mereka memerah, kuku-kuku dan taring mereka memanjang dan bertambah tajam, serta yang tidak kalah menyeramkannya, otot-otot tumbuh secara ganas di seluruh badan mereka.
“Sesuai dengan latihan, semuanya pada formasi menyerang alfa!”
“Siap!”
Hanya butuh satu tebasan di area leher yang segera memutus kepala monster beruang itu bagiku untuk mengeliminasi satu monsternya.
Adapun Cion dan Als harus bekerjasama di mana terlebih dahulu Als melukai kaki sang monster hingga sang monster terjatuh ke tanah. Lalu Cion pun menggunakan ultimate skill-nya untuk menusuk tepat ke jantung sang monster. Kulit sang monster begitu alot hingga Cion harus berjuang lebih untuk menembus kulit yang pertahanannya sekuat baja itu namun di sisi lain lunak bagaikan karet.
Di sisi lain, Raka dan Arsen sama-sama bertubuh kecil hingga mereka lebih menerapkan strategi serang mundur untuk menarik amarah monster tertuju kepada mereka. Lalu begitu ada kesempatan, salah seorang wizard menyupport mereka dengan serangan standar. Begitu pandangan sang monster teralihkan, barulah Raka dan Arsen bersalto memberikan tebasan di area punggung sang monster.
Sayangnya, itu begitu alot. Namun, berkat serangan bertubi-tubi yang datang dari berbagai sisi, akhirnya monster terakhir yang masih hidup dapat dikalahkan juga yang ditutup oleh serangan pamungkas tombak berputar Mudi.
Kami baru menghadapi dua puluh kawanan monster dan baru menjelajahi hutan kurang dari sepuluh persen luasnya. Tapi karena semakin ke dalam, maka semakin jauh dari pusat miasma, kuyakin tidak banyak lagi hewan yang berevolusi menjadi monster yang akan kami temui. Namun tetap saja stamina anggota timku tampak sudah mau habis.
Ini benar-benar mengingatkanku pada traumaku yang dulu. Jika itu Alice berusia 12 tahun yang masih polos dan bodoh seperti di masa lalu, maka aku sudah pasti akan memaksakan timku untuk mengikuti pace-ku dengan mengabaikan kondisi kelelahan mereka.
Namun kini, aku telah berubah. Yang Mulia Helios telah memberikanku kesempatan sekali lagi untuk bangkit menghadapi traumaku. Aku yang terkungkung di dalam cangkangku bahkan hampir mendengarkan bisikan Kaisar Ethanus untuk mengakhiri segalanya dengan melakukan bom bunuh diri di wilayah kekuasaan musuh yang penduduknya sama sekali tidak salah apa-apa. Jika bukan karena Yang Mulia Helios, aku pasti sudah berakhir menyedihkan.
Aku sangat merasa bersalah pada Beliau. Dengan tangan ini, aku mengakhiri sendiri nyawa adik Yang Mulia Helios, Yang Mulia Putri Ilene, setelah terjangkit virus vampir.
Sampai saat ini, Yang Mulia Helios masih tetap memperlakukanku dengan baik bahkan setelah kejadian itu.
Hanya saja, ada perubahan yang aku rasakan ketika Yang Mulia Helios menatapku. Aku tahu betul bahwa itu bukanlah tatapan kebencian, amarah, atau sejenisnya. Itu adalah tatapan trauma. Sama seperti aku yang sempat sesak nafas setiap membayangkan darah akan mengalir lewat pedangku, Yang Mulia Helios selalu menghindari tatapan mataku seolah setiap kali melihatku, dia akan teringat kematian adiknya, Yang Mulia Putri Ilene.
Aku merasa sangat bersalah. Benar-benar merasa bersalah. Tetapi bukan berarti aku menyesal atas perbuatanku malam itu.
Posisi seorang kaisar adalah posisi yang sangat berat. Telah terlalu banyak duri tajam yang menusuk dan melukai hati Yang Mulia Helios. Kutakut itu perlahan akan mengikis hatinya sehingga tidak ada lagi kelembutan yang tersisa di dalamnya.
Aku tak ingin melihat Yang Mulia Helios bertambah sakit dengan melihat adiknya, Yang Mulia Putri Ilene, melakukan pembunuhan penduduk lebih banyak lagi. Juga, aku tak ingin kalau kepolosan hatinya itu ternoda rasa bersalah karena membunuh adiknya sendiri. Itulah sebabnya aku putuskan sebagai pengganti yang akan menanggung beban itu.
Padahal aku telah siap menerima rasa benci apapun yang akan Beliau tunjukkan kepadaku. Namun, tak kusangka bahwa rasanya akan sesakit ini. Aku… ingin kembali dekat kepada Master.
Akankah ada hari-hari di mana kami kembali dapat dekat bersama di mana aku bisa melampiaskan candaan-candaan cabul tanpa beban kepada Beliau lantas Beliau menanggapinya dengan senyum canggung menahan ekspresinya agar tetap terlihat bijak tanpa dosa? Aku rindu akan ekspresi Master yang pura-pura polos menanggapi candaan cabulku.
Aku rindu dekat kembali dengan Master.
Namun, di masa-masa kritis kekaisaran saat ini, kutahu itu bukanlah waktu yang tepat.
Kuharap pertarungan dengan demon segera berakhir dan Raja Iblis Ozazil beserta Tower bisa segera tersingkirkan untuk selamanya dari dunia Gaia ini. Dengan demikian, kami dapat tertawa kembali menikamti masa-masa damai.
Aku ingin menyupport Master dengan segenap kekuatanku sebagai seorang magic swordswoman untuk membasmi musuh-musuh yang menghalangi jalannya. Terkadang, aku iri pada Yasmin dan Albert yang selalu saja berada di sisi Master. Tetapi aku pula lebih tahu dari siapapun, di posisi sekarang aku inilah berada yang paling dibutuhkan oleh Master dariku.
“Kapten, ratusan monster landak terlihat di arah jam 2!”
Aku harus fokus pada misiku.
Sesuai yang diperintahkan oleh Master, aku harus bisa melindungi kedamaian kekaisaran ini dari ancaman invasi monster.