Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 119 – INVASI WILAYAH RODRIGUEZ (bag. 2)



-Tuk tuk tak tak


-Tuk tuk tak tak


Suara langkah kaki terdengar dengan ritme yang sangat cepat bahkan melebihi kecepatan berlarinya seekor cheetah. Tidak, itu bahkan jauh berkali-kali lipat lagi bagaikan membandingkan larinya seekor kelinci dengan seekor kura-kura.


“Alice, apa menurutmu kita akan dapat sampai ke tempat Yang Mulia Pangeran berada tepat waktu?”


“Entahlah, namun daripada Yang Mulia Pangeran, aku lebih mengkhawatirkan kondisi Nyonya saat ini. Semoga dia dan bayi yang dikandungnya akan baik-baik saja.”


Mereka adalah Alice dan Albert yang bergerak dengan kecepatan yang di luar nalar manusia biasa. Hanya dalam waktu dua hari, mereka mampu menempuh jarak apa yang seharusnya bisa dicapai oleh seekor kuda dalam waktu lima hari berlari non-stop tanpa istirahat.


Namun tiba-tiba sebuah objek berbentuk persegi aneh mulai muncul di hadapan mereka.


-Sreseeeeeet


“Albert, waspada!”


“Ah, ya. Aku juga bisa melihatnya.”


Kedua ksatria itu terlihat waspada. Namun tampak tak ada satu pun dari mereka yang ingin melakukan gerakan ceroboh terhadap objek yang belum mereka kenal itu. Mereka pun hanya mengamati untuk sesaat sambil memasang kuda-kuda bersiap menyerang.


Akan tetapi sesaat kemudian, liontin hadiah pemberian tuan mereka bersinar putih. Tidak butuh waktu lama bagi mereka berpikir bahwa itu tanda tuan mereka ada di ranah jangkauan sinyal kalung yang mereka gunakan yang berarti posisi tuan mereka sedang berada di dekat situ.


Itu pun lantas membuat Albert kegirangan sejenak melupakan objek aneh yang ada di hadapannya.


“Master! Master ada di dekat sini rupanya! Anda di mana, Master?”


Namun berbeda dengan Albert, Alice tetap waspada. Walau demikian, wanita itu juga tak bisa melepaskan rasa penasarannya terhadap jawaban apa yang akan muncul dari dalam kalung.


Sejatinya antarsesama pemilik kalung, bisa melakukan komunikasi satu sama lain, yang berarti tidak hanya Helios saja, mereka mungkin pula dihubungi oleh Yasmin atau Nunu. Hanya saja saking mereka memikirkan tuan mereka saat itu, mereka langsung berkesimpulan bahwa yang memanggil mereka lewat kalung adalah tuan mereka tersebut.


Akan tetapi untuk saat itu, insting mereka tepat. Yang memanggil mereka benar-benar adalah Helios de Meglovia, tuan tercinta mereka.


[Ya, ini aku, Helios de Meglovia. Dengar, Albert, Alice. Aku saat ini tidak berada di dekat kalian. Aku saat ini masih berada di wilayah Kerajaan Cabalcus. Aku bisa menghubungi kalian berkat kemampuan portal milik salah satu rekan kita.]


“Portal?”


Alice tampak tak dapat menahan rasa penasarannya.


[Itu adalah objek berbentuk persegi kecil di depan kalian. Aku akan menjelaskan detailnya nanti. Ada yang lebih penting yang harus kalian lakukan saat ini. Ah, dan ingat bahwa mengenai kemampuan portal ini, kalian harus benar-benar rahasiakan kepada siapapun.]


Baik Alice maupun Albert mengangguk atas permintaan Helios tersebut. Terlihat ekspresi yang benar-benar cerah di wajah mereka berdua. Tuannya kini dapat berbicara normal kepada mereka berdua, itu hanya berarti bahwa desas-desus yang mereka dengarkan sebelumnya di Kota Painfinn tentang tuan mereka mengamuk di negeri tetangga itu salah ataukah tuannya benar-benar telah mengamuk, namun kini bisa memperoleh kesadarannya kembali.


Apa yang paling penting bagi mereka adalah bahwa tuan mereka baik-baik saja sekarang yang terbukti dari ketenangannya yang seperti biasa dalam memberikan mereka instruksi.


Namun tiba-tiba, bermunculan para objek aneh di sekeliling Alice dan Albert yang menyerupai bentuk burung yang terbuat dari es. Objek-objek itu kemudian menyublim dalam waktu singkat menghasilkan hawa dingin yang sangat menusuk.


Hal itu membuat baik Albert maupun Alice semakin waspada terhadap sekeliling mereka.


Barulah setelah mendengar penjelasan Helios kembali, mereka berdua dapat tenang.


Dalam waktu singkat butiran-butiran kristal es memadat menjadi satu bentuk. Itu ternyata membentuk suatu objek kereta kuda yang sangat cantik, kereta kuda yang berbahankan es. Warnanya bening sebening es. Tidak hanya tampilannya saja yang menyerupai es, hawa dingin menusuk yang dikeluarkannya pun sama. Itu bukan lagi hanya tampilannya, itu benar-benar kereta kuda yang terbuat dari es.


[Dengar kalian berdua. Saat ini tentara kekaisaran menyerbu dan memporak-porandakan wilayah utara Rodriguez di Kota Lobos. Naiklah segera ke kereta kuda itu untuk ke sana lalu kalahkan semua makhluk biadab itu. Aku sebenarnya ingin membunuh para anjing kekaisaran itu dengan kedua tanganku sendiri, tetapi itu akan memakan waktu yang sedikit lebih lama dibandingkan jika kalian yang bergerak dari posisi di mana kalian berada saat ini. Lagipula…]


Helios tampak menjeda cukup panjang jarak antarkalimatnya, sebelum akhirnya menekankan apa yang ingin diucapkannya terakhir.


[Talia baru saja melahirkan, jadi aku harus menjaganya dan bayi kami di sini. Selain itu, aku harus mengurus pula jasad Kak Tius kembali ke Kerajaan Meglovia.]


Baik Albert maupun Alice tidak dapat menahan rasa kegembiraan mereka begitu mendengar bahwa tuan mereka, Helios de Meglovia, akhirnya memiliki seorang keturunan. Bayi tuannya dan Talia terlahir dengan selamat dan itu telah membuat mereka sangat senang.


Namun, mereka tak dapat pula terlalu bergembira karena berita kebahagiaan itu disusul pula dengan berita yang sangat menyayat hati. Akhirnya, mereka dapat mengonfirmasikan melalui mulut tuan mereka sendiri bahwa kabar mengenai sang putra mahkota kerajaan mereka, Tius Star Meglovia, yang wafat juga adalah kebenaran.


Akan tetapi, tidak ada waktu buat mereka untuk bersedih.


“Serahkan saja tentara kekaisaran kepada kami, Master.”


“Kami akan melakukan yang terbaik untuk memberi pelajaran para anjing biadab itu.”


Demikianlah, sesuai perintah tuan mereka, Alice dan Albert pun memasuki kereta kuda yang terbuat dari es tersebut. Namun berbeda dari apa yang mereka bayangkan, suhu ruangan di dalam kereta kuda itu benar-benar hangat, sangat berbeda dengan tampilan di luarnya yang terasa amat sangat dingin.


Lalu, kereta kuda itu pun melaju nak pesawat jet membelah angkasa, sangat sangat cepat.


“Waaaaaaaah!”


“Uwaaaaaaah!”


Sampai-sampai membuat para penumpang di dalamnya mengeluarkan suara aneh yang tak jelas.


***


Sesuai dengan perkataan Helios, hanya dalam waktu satu jam lebih sedikit, mereka akhirnya tiba di perbatasan utara Kerajaan Meglovia tersebut, Kota Lobos.


Namun apa yang mereka saksikan, suatu pemandangan pembantaian yang amat teramat kejam. Para anjing kekaisaran tidak hanya membunuh para prajurit, mereka juga turut membantai rakyat sipil. Dan apa yang tidak kalah kejamnya, mereka juga bahkan dengan biadabnya melakukan pemerkosaan di tengah hari bolong sebelum akhirnya membunuh para korbannya.


Lalu di antara pemandangan itu, Albert bisa segera melihat satu sosok wanita yang sangat cantik jelita dengan rambut berwarna kuning emasnya dan mata birunya yang sama persis dengan Ilene yang akan segera menjadi salah satu korban pemerkosaan biadab secara ramai-ramai oleh beberapa anjing kekaisaran tersebut.


Tidak, jelas wanita itu sangat jauh lebih cantik daripada Ilene menurut pandangan mata Albert. Itu adalah wajah yang sangat sesuai dengan tipe Albert. Tanpa pikir panjang, Albert pun menuju ke tempat di mana wanita itu berada.


Dia menebas tiap anjing kekaisaran yang tampak sedang melayangkan senjata lembek mereka masing-masing kepada sang wanita cantik jelita tersebut yang membuat wanita itu sangat ketakutan. Dalam keadaan senjata lembek para anjing kekaisaran itu tetap terekspos keluar dari celana mereka, mereka mengembuskan nafas terakhir mereka di bawah pedang sang swords master level 5 tersebut.


Dan Albert benar-benar nampak gagah saat itu ketika menyelamatkan sang wanita cantik jelita tersebut, setidaknya itulah yang terpikirkan oleh sang wanita yang cantik jelita, seorang pangeran berkuda putih yang datang menyelamatkan sang tuan putri seperti yang ada di dalam dongeng-dongeng kerajaan yang dibacanya sewaktu kecil.


Sang wanita cantik jelita seketika terpesona dan jatuh cinta kepada Albert pada pandangan pertama.