Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 39 – PERTEMUAN ALICE DAN LEON



Beberapa hari setelah audiensi dengan raja, Helios dan rombongan akhirnya meninggalkan Ibukota Megdia dan bergegas kembali ke Kota Painfinn.


Masih terngiang dengan jelas di ingatannya soal kejadian beberapa hari yang lalu itu.


“Jika Yang Mulia Raja memperkenankan, aku ingin tetap mempertahankan kepemimpinan Kota Painfinn itu di bawahku.”


“Hah?! Apa yang kamu katakan?! Tidakkah kamu mengerti pembicaraan barusan, Kakak Sampah?! Saat ini para keluarga korban bencana the king of undead menuntut pertanggungjawabanmu atas ketidakbecusanmu yang menyebabkan kematian keluarga mereka.”


“Pangeran Ketiga, harap jaga sopan santunmu di hadapan Yang Mulia Raja!”


“Ah, maafkan atas ketidaksopananku.”


“Ya sudah, sudah. Aku mengerti apa yang ingin kamu katakan, Pangeran Ketiga. Jadi bagaimana kalau begini, Pangeran Ketiga yang akan bertindak sebagai pemimpin sementara Kota Painfinn, sedangkan Pangeran Kedua akan bertindak sebagai wakilnya. Tergantung bagaimana performa Pangeran Kedua setelahnya, semuanya akan ditentukan apakah Pangeran Kedua layak menjadi pimpinan tetap Kota Painfinn ataukah harus digantikan.”


Demikianlah hasil keputusan raja saat itu sehingga Leon pun kini turut bergabung ke dalam rombongan kepulangan Helios ke Kota Painfinn tersebut yang membuat kini rombongannya lebih glamour perihal keberadaan ‘pangeran yang diakui’ di dalamnya.


“Hei, Kakak Sampah, berapa lama lagi kita akan sampai ke Kota Painfinn? Katanya perjalanannya hanya akan memakan waktu sepuluh hari saja. Ini sudah hari kesebelas, tetapi kita masih juga belum sampai.”


“Yah, mau bagaimana lagi, Leon. Kita ada masalah dengan tanah longsor sebelumnya di perjalanan sehingga menyita cukup banyak waktu. Tetapi mungkin kita bisa sampai ke sana keesokan harinya dengan kecepatan ini.”


“Ck, dasar tidak berguna.”


“Dan Leon, tolong kamu perbaiki cara bicaramu itu kepadaku. Begini-begini, aku ini kakakmu lho.”


“Emangnya ada masalah dengan cara bicaraku ya, Kakak Sampah.”


“Ya, sudahlah. Terserah kamu saja, Leon.”


Waktu terus berlalu dan setelahnya, tidak ada lagi hambatan yang berarti pada rombongan Helios dan Leon itu. Mereka pun akhirnya tiba di Kota Painfinn keesokan harinya sesuai dengan perkataan Helios.


***


“Selamat datang kembali, Yang Mulia Pangeran Helios.”


Begitu rombongan kami tiba di Kota Painfinn, Alice segera menyambutku memasuki kota.


“Wah, wah, wah, apa ini? Pantesan Kakak Sampah betah tinggal di kota ini sejak Kakak Sampah punya wanita secantik ini di sini.” Ujar Leon secara tidak sopan sembari melirik ke arah dua gunung besar yang menempel di dada Alice.


Melihat itu, Alice segera naik pitam. Namun rupanya, dia tidak marah lantaran pelecehan verbal yang dilakukan Leon kepadanya, melainkan karena Leon telah memanggilku secara tidak sopan.


“Tenanglah, Alice. Tidak masalah. Dia adalah adikku, Pangeran Kedua Leon.”


“Bagaimana, gadis cantik? Mau bermain bersama adik tampan ini? Berbahagialah karena kecantikanmu diakui oleh yang mulia pangeran agung ini. Aku pasti akan menjadikanmu hewan peliharaan terbaikku.”


“Ti… tidak. Itu tidak bisa! Aku tidak bisa melakukannya karena jiwa dan ragaku telah sepenuhnya kupersembahkan demi melindungi Yang Mulia Pangeran Helios. Dan walaupun Yang Mulia Pangeran memaksa dan bisa memperoleh tubuhku, hatiku selamanya takkan pernah Anda miliki!”


Dan walaupun perkataan Alice itu tampak indah sebagai seorang ksatria. Itu hanyalah premis jika dia mengatakannya dengan ekspresi yang membanggakan. Namun lihat ekspresinya sekarang, wajahnya memerah dibarengi senyum-senyum aneh yang menampakkan jelas bahwa dia sedang memikirkan sesuatu yang vulgar.


Aku sampai lupa karena kecantikannya, tetapi aku baru ingat bahwa wanita ini adalah seorang masokis.


“Slurp.”


Dan apa pula yang dilakukan oleh pangeran yang satu ini. Bukannya jijik dengan sikap Alice yang memalukan seperti itu, dia malah kelihatan semakin bergairah.


“Tenang saja, wahai wanita cantik. Hatiku ini sekuat baja. Dengan tekadku yang kuat, akan kululuhkan dinding besimu itu dan menjinakkanmu menjadi hewan peliharaan yang patuh.”


Aku lupa. Aku melupakan sesuatu yang penting. Aku lupa bahwa tidak hanya Alice, Leon pun memiliki penyimpangan sikap sosial dengan apa yang kita istilahkan sebagai ‘sadistik’.


Ah, mengapa bisa aku melupakan sesuatu yang penting. Lebih dari siapapun, Leon adalah orang yang paling tidak boleh ditemui oleh Alice. Itu karena sifat sadistik Leon akan memungkinkan untuk membangunkan jiwa masokisme Alice yang selama ini berusaha aku kubur dalam-dalam.


Alice yang masokis dan Leon yang sadis, kombinasi yang paling tidak seharusnya terjadi, kini telah mulai terjalin. Ah, apa yang akan terjadi mulai dari sekarang?


Sebelum obrolan berkembang ke arah yang lebih berbahaya, aku segera memisahkan mereka lantas menyuruh Alice untuk melanjutkan patrolinya saja dengan aku sendiri yang mengantar langsung Leon menuju ke mansion di mana dia bisa beristirahat.


Kukira masalah akan selesai sampai di situ saja selama aku bisa menjaga Leon agar tidak berinteraksi dengan Alice. Tetapi justru Alice sendirilah yang kini mencari-cari alasan dan akhirnya menemui Leon dengan kehendaknya sendiri di mansion-nya.


“Aku takkan membiarkan Anda berbuat seenaknya di kota ini. Demi kehormatan Yang Mulia Pangeran Helios, aku sendirilah yang akan mengawasi gerak-gerik Anda.”


Ingin rasanya aku ingin berteriak kepada Alice bahwa daripada kehormatanku, tolong jagalah kehormatanmu saja. Bagaimana bisa seorang ksatria menampakkan ekspresi mesum seperti itu setelah dihina dan direndahkan secara verbal. Bahkan semakin Leon membentaknya dengan kata-kata kasar, semakin dia tampak begitu senang.


Dan Leon juga, mengapa dia terlihat sangat klop dalam memainkan permainan aneh S&M itu bersama Alice?


Kukira, semuanya akan mereda seiring berjalannya waktu karena kutahu sifat Leon itu cepat bosan akan sesuatu, khususnya wanita. Dia tidak bisa bertahan dengan wanita yang sama lebih dari tiga hari. Itu pulalah sebabnya dia sampai saat ini belum juga memiliki tunangan layaknya aku dan Kakak.


Akan tetapi, keyakinanku itu segera terhempaskan. Ketertarikan Leon kepada Alice belum mereda juga bahkan setelah 2 minggu waktu berlalu. Termasuk kali ini, Leon sendirilah yang berinisiatif menemui Alice lebih dahulu di barak pertahanan depan di lini pertahanan monster.


Alasannya adalah untuk inspeksi kualitas pertahanan apakah sesuai standar atau tidak. Tetapi dari ekspresi Leon, jelas apa yang sebenarnya diinginkannya.


Apakah penyebab selama ini Leon belum memiliki pasangan hidup adalah karena dia adalah tipe sadis yang mencari wanita tipe masokis seperti Alice? Aku mulai meragukan kesehatan mental dari adikku yang imut satu itu.


Karena khawatir, aku pun mengawasi mereka dari jauh. Aku tidak bisa terang-terangan memisahkan mereka sejak pasti akan timbul rumor yang jauh lebih buruk jika aku melakukannya.


Tetapi aku benar-benar berdoa untuk kali ini saja agar pasangan seperti Alice dan Leon tidak akan pernah terjadi. Tentu saja itu karena aku berharap bahwa Alice dapat menjalani kehidupan percintaan yang normal di mana jiwa masokismenya itu tidak akan pernah bangkit. Tetapi lebih dari apapun, itu karena aku tulus berharap sebagai kakaknya agar Leon menjadi pribadi yang berjalan di jalan yang tidak menyimpang.


Akan tetapi, di tengah kekhawatiranku terhadap hubungan Alice dan Leon itu, gelombang monster dari hutan monster pun tiba-tiba menyerbu bahkan setelah artifak monster di hutan monster itu baru saja selesai kuperbaiki.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Mustahil gelombang monster bisa muncul ketika artifak pengendali monster di hutan monster itu masih berfungsi dengan baik.”


Aku hanya dapat terpaku tak percaya akan kejadian yang terjadi secara tiba-tiba itu.