Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 62 – KEPERGIAN LEON



“Kalau begitu, mari kita mulai eksekusinya, Pangeran.”


Damian tertawa jahat di hadapan Leon. Seketika itu, muncul lingkaran sihir misterius tepat di hadapan Leon.


“Kamu? Jadi semua itu ulahmu? Kamulah yang mensummon para monster itu tempo hari, bukannya prajurit itu? Jadi kaulah summoner iblis yang sebenarnya!”


“Tepat sekali.”


Damian benar-benar menunjukkan wajah kemenangannya ketika semua kejahatan yang dia sembunyikan itu diungkapkannya di waktu yang benar-benar tepat. Dia benar-benar menikmati wajah putus asa Leon itu.


“Bagaimana caranya kalau begitu prajurit itu melakukan hal yang sama? Mengapa dia meledakkan dirinya sendiri dan mengaku sebagai mata-mata Kekaisaran Vlonhard?”


“Tahukah kamu monster yang bernama Arachnea dari dungeon tarantula, Pangeran?”


Leon hanya menatap dalam diam terhadap ucapan Damian itu.


“Monster Arachnea mempunyai skill yang sangat unik. Dia bisa mengendalikan seseorang dari jarak jauh sekaligus mentransfer skill dari seseorang ke orang lainnya untuk sementara waktu. Monster yang benar-benar berbahaya.”


“Lantas bagaimana kamu bisa menjelaskan kalau Kaisar Vlonhard mengakui kejahatannya itu?!”


“Mana kutahu. Mungkin dia cuma mau cari gara-gara saja karena menganggap kerajaan sangat lemah?”


Damian dengan cueknya mengabaikan keingintahuan mendalam Leon itu. Dia hanya berfokus pada lingkaran summon-nya. Lalu sejenak kemudian, para monster pun mulai berdatangan melalui lingkaran sihir summon itu.


“Nah, rasakanlah rasa sakit yang teramat sangat ini, Pangeran.”


Damian tersenyum jahat. Apa yang disummon-nya itu rupanya adalah sekumpulan semut merah yang tidak lebih besar dari kepalan tangan Leon. Namun jumlahnya amatlah banyak yang bahkan jika ditotalkan mungkin akan berukuran sepertiga kali dari ukuran monster raksasa Perses yang sempat dikalahkan oleh Leon sebelumnya.


Namun, selama ini Leon tidak tinggal diam saja menerima nasibnya untuk dibunuh begitu saja oleh Damian. Dia sengaja mengulur-ulur waktu dengan sengaja mengajak Damian berbicara agar dia bisa sedikit memulihkan staminanya itu yang sempat habis pasca menghadapi monster titan Perses.


Begitu para semut api itu mendekati Leon, Leon segera mengucurkan seluruh aura api-nya ke sekeliling tubuhnya.


Namun, di situlah Leon keliru akan satu hal. Itu adalah monster semut api dari dungeon insect. Monster itu kebal akan api sampai sepuluh ribu derajat Fahrenheit panasnya sekalipun.


Dalam sekejap, seluruh tubuh Leon dikerubungi oleh semut-semut api itu.


“Apa kamu pikir aku tidak tahu rencanamu untuk sengaja mengulur-ulurkan waktu demi mengumpulkan kekuatanmu kembali? Tapi kamu bisa apa? Kamu sekarang terlalu lemah bahkan untuk membunuh para monster semut api itu.”


Perlahan, Damian mendekat ke arah Leon seraya membisikkan sesuatu.


“Bagaimana rasanya, seseorang yang bahkan sanggup menumbangkan monster kelas heroik level tinggi, seseorang yang dijuluki pendekar pedang terjenius di Kerajaan Meglovia, harus tewas di tangan monster be-rank sampah? Pasti sangat memalukan kan? Leon yang hebat ini dimakan dalam ketidakberdayaan oleh para makhluk sampah yang seharusnya sangat mudah dibunuh masing-masingnya jika hanya seekor bahkan oleh prajurit biasa!”


Leon berupaya menahan sakit yang teramat sangat yang dia hadapi itu, merasakan kulit dan dagingnya dikuliti dan dimakan sedikit demi sedikit oleh para semut api. Namun, Leon tidak berdaya. Dia berada pada kondisi terburuknya hingga untuk berdiri pun dia susah.


Walau demikian, Leon tetap ingin tampil gagah. Setidaknya, dia tidak ingin mati dengan terlihat memalukan di hadapan sampah yang bernama Damian itu.


Dia menahan dan terus menahan rasa sakit dikuliti itu, tertusuk-tusuk sengatan tajam dari para semut api. Darah Leon perlahan mengucur dan kian lama kian deras. Namun, dia tetap tidak mengeluarkan suara. Leon berupaya menahan teriakannya hingga akhir meski rasa sakit itu kian mencekam.


Hanya ekspresi kesakitannya-lah yang tidak dapat dia sembunyikan di hadapan Damian yang tertawa akan penderitaannya.


Lalu sejenak kemudian, Damian tidak lagi dapat melihat sosok Leon. Para semut api itu telah sempurna menyelubungi keseluruhan tubuhnya. Lalu, Leon pun menghilang tanpa bekas sedikit pun, termasuk tulang-belulangnya.


Hestia berteriak-teriak, menjerit-jerit di dalam bayangan, hendak keluar untuk menyelamatkan tuannya itu. Namun apalah daya, dia tidak punya cara untuk keluar dari bayangan tersebut. Dia pun harus menyaksikan kematian tuannya secara mengenaskan.


“Oh ho.”


Pandangan mata Damian secara unik tiba-tiba saja terpelintir ke arah kekosongan. Tidak, itu adalah tempat di mana Hestia tersembunyi dalam bayangan.


“Jurus bayangan anak kecil? Dan kamu pikir aku yang hebat ini tidak bisa menyadarinya? Leon, Leon, sampai kamu mati, kamu tetap saja bodoh.”


Damian melangkah ke arah pusat bayangan itu. Hestia menitihkan air matanya dalam ketakutan bersembunyi di balik bayangan tersebut. Lalu, terjadilah hal yang sama sekali tak diduganya. Dia selama ini kehabisan cara untuk menembus barrier bayangan itu. Akan tetapi, Damian melakukannya dengan mudah.


Bagaikan merobek kertas rapuh, Damian merobek bayangan lantas mencekik Hestia yang ada di dalamnya.


Damian menatap Hestia dengan senyuman serta padangan yang sangat menjijikkan.


“Aha, aku punya ide yang lebih menarik. Tidak menarik kalau aku hanya membunuhmu saja.”


Lalu Damian pun menyentuh kepala Hestia. Seketika cahaya terang bersinar di area kepalanya itu, kemudian Hestia pun pingsan.


Damian lalu meninggalkan area pembantaiannya itu lantas segera bergabung dengan para prajurit Kota Painfinn yang lain seolah tidak pernah terjadi apa-apa di tempat tersebut.


***


[POV Leon]


Mungkin, inilah akhirku.


Aku benci terhadap diriku sendiri yang lemah sehingga aku bisa dikalahkan oleh iblis itu.


Namun, jika ada penyesalan yang kurasakan, itu karena aku telah gagal mewujudkan impianku mengembalikan Kak Helios kepada kebahagiaannya, gagal pula melindungi Ilene, serta aku pun gagal memenuhi harapan Kak Tius.


Padahal kami telah bersusah payah mengatur skema ini dengan rapi sehingga para bangsawan korup itu telah berkumpul ke sisiku. Sayangnya, rencana Kak Tius itu tidak mungkin lagi bisa diwujudkan karena kematianku.


Ah, kalau aku tahu akan mati semuda ini, aku takkan perlu berusaha terlalu keras. Mungkin, sebagai anak laki-laki termuda di keluarga kerajaan, menjadi pangeran pemalas yang hanya memikirkan kesenangan kekuasaan dan wanita tidak buruk juga. Andai Kak Helios bisa sedikit diandalkan, mungkin hal itu bisa saja jadi kenyataan.


Kalau tahu jadinya akan begini, aku takkan pernah mengacuhkan Kak Helios. Aku akan lebih jujur di hadapannya. Setiap hari, aku akan mengunjungi kediamannya yang kumuh itu mesti pandangan kuil suci akan senantiasa menatapku dengan tatapan yang tidak mengenakkan.


Tahu begini, aku takkan pernah peduli lagi dengan yang namanya kuil suci itu. Aku akan menghabiskan waktuku bersama Kak Helios dengan lebih santai dan leluasa. Sesekali, mungkin aku bisa mengajak Kak Helios mengunjungi adik kami, Ilene.


Kalau dipikir-pikir, akan seru juga tampaknya jika aku membentuk party petualang bersama Kak Helios sejak aku adalah pendekar pedang terhebat di kerajaan dan yang lain mungkin belum mengetahuinya, tetapi Kak Helios adalah magician terhebat di kerajaan. Tidak, tidak hanya di lingkup kerajaan, Kak Helios tidak salah lagi adalah magician yang terhebat di benua.


Tidak, pandanganku mulai gelap. Inikah yang namanya di ambang kematian? Tidak, aku takut. Aku sangat takut. Kak Helios, tolong selamatkan aku.


Tubuhku dingin, tubuhku sangat sangat dingin. Ini lebih dingin dari es Kak Helios.


Eh, Kak Helios itu siapa lagi? Kenapa aku memanggilnya Kakak? Memangnya dia siapanya aku? Tapi tunggu dulu, aku siapa? Tidak, perlahan pandanganku mulai kabur serasa aku ditelan ke dalam kehampaan.


Lalu Leon pun kehilangan kesadarannya dan tenggelam ke jurang kegelapan tak berdasar itu.