Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 83 – SUMBER WABAH YANG TAK TERDUGA



Itu adalah suatu keanehan melihat penyakit kolera justru menimpa kepada kalangan masyarakat yang tingkat sanitasinya lebih baik.


Beranjak dari hal itu, aku pun melakukan survey kepada para penduduk maupun keluarga mereka yang terkena kolera mengenai di mana saja sumber makanan dan air minum yang mereka akses. Sebagai data pembanding, aku juga menyurvei beberapa penduduk yang terlihat baik-baik saja yang tidak terdampak penyakit kolera terhadap pertanyaan yang sama.


Mengapa aku memilih untuk menyurvei sumber makanan dan air minum mereka adalah karena demi memutus mata rantai sumber penyakit kolera. Penyakit kolera adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh salah satu jenis bakteri yang menginvasi daerah usus.


Ah, jikalau kalian bertanya tentang apa itu bakteri, itu adalah sejenis makhluk hidup yang sangat kecil yang bahkan sangat kecilnya, sampai tak nampak di mata dan hanya bisa diamati dengan menggunakan kaca pembesar khusus yang disebut sebagai mikroskop.


Kalau kalian bertanya lagi apa itu mikroskop, yah wajar saja mungkin kalau kalian belum tahu, sebab alat itu baru-baru ini aku kembangkan di laboratoriumku dengan bekerjasama terhadap tim riset obat-obatan herbal di akademi sihir. Jadi kalau kapan-kapan kalian ada waktu, silakan berkunjung sendiri ke sana untuk melihat seperti apa mikroskop itu.


Intinya adalah bakteri khusus penyebab penyakit kolera ini masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman. Ada juga peluang dengan terhirup lewat udara, tetapi peluangnya sangat sangat kecil dan hanya terjadi pada kondisi ekstrim di mana udara yang kita hirup sangat kotor.


Mengingat Kota Lobos yang walaupun adalah termasuk kota petualang dan mercenary, tetapi termasuk kota yang sangat terjaga dari pencemaran udara, hal itu tidak mungkin terjadi. Jadi peluang terbesar infeksi bakteri kolera masuk lewat makanan atau minuman.


Berdasarkan hasil survey, para penderita mengakses makanan mereka lewat distribusi di pasar, serta minuman mereka lewat sumur-sumur terdekat. Tetapi ini cukup aneh, karena orang-orang yang tidak terkena kolera juga mengakses makanan dan minuman mereka di tempat yang sama.


Namun sebagai jaga-jaga, aku segera memastikan sendiri ke sana apakah memang terdapat bakteri kolera di sumber makanan atau minuman tersebut. Terlihat bahwa beberapa orang kuil suci sudah cukup terampil sendiri merawat pasien sehingga aku bisa mempercayakan penanganan pasien kepada mereka untuk sementara.


Mungkin yang jadi masalah hanyalah resep untuk membuat cairan infus di mana bahan dasar di persediaan kota yang dibutuhkan sisa sedikit. Tetapi aku telah menyampaikan hal ini langsung kepada Kakek Glenn sehingga hal itu telah akan diatasi. Hanya saja mungkin akan memakan waktu sekitar sehari bagi persediaan itu akan datang dibawa oleh kurir burung.


Oh iya, aku dengar-dengar juga akan ada bantuan medis yang hendak kemari untuk menolongku dari ibukota. Itu pasti akan sangat membantu. Sayangnya, perjalanan normal dari ibukota sampai ke tempat ini biasanya akan memakan waktu sampai delapan hari, maka mari untuk tidak terlalu mengharapkan bantuan itu.


Aku menyelidiki langsung ke lokasi kejadian. Dengan menggunakan rune, aku berhasil membuat tiruan mikroskop dan itu terbukti cukup berguna. Aku mengambil beberapa sampel dari berbagai jenis makanan dan minuman yang dapat aku temukan di pasar dan sumur-sumur warga, lalu mengujinya, tetapi ini benar-benar jalan buntu. Tidak ada satu pun tanda-tanda ditemukannya bakteri kolera.


Aku juga telah menguji tinja beberapa pasien dan itu memang menunjukkan hasil positif terhadap bakteri kolera. Jadi dari mana bakteri itu berasal?


“Makanan dan minuman yang hanya bisa diakses dari kalangan kelas atas kah?”


Sambil menggumamkan hal itu, aku mencoba mengingat-ingat kembali tentang kebiasaan kelas atas yang tidak akan pernah dilakukan oleh kelas bawah.


“Daging sapi A5? Wine merek tertentu? Makanan monster langka?”


Tidak, itu tidak mungkin, persoalan kelompok pasien yang bisa mengakses makanan langka itu hanyalah para bangsawan dan pedagang yang sangat kaya saja, sementara ada juga pasien yang berasal dari kelompok petualang kaya dan mercenary kaya, tetapi tetap tidak sanggup untuk mengakses bahan langka seperti itu di luar uang mereka yang berlimpah.


Aku seketika terpikirkan oleh suatu pemikiran liar. Ada satu bahan yang memungkinkan bagi semua kelompok pasien itu untuk meminumnya, tetapi tak mampu diakses atau tidak berguna bagi kelompok kelas bawah yang hanya menjalankan kehidupan slow life.


Tentu saja jawabannya bukanlah wine, tetapi satu jenis minuman yang cukup mirip yang juga memungkinkan bagi para petualang dan mercenary untuk meminumnya. Itu adalah potion atau air suci.


Tepatnya, itu adalah air katalis yang mereka gunakan untuk membuat potion atau air suci tersebut.


Aku pun mulai kembali mensurvey para pasien tentang jenis potion atau air suci apa yang mereka telah minum serta mereknya. Dan bingo. Aku akhirnya menemukan kesamaan dan ketika aku uji, hasilnya juga positif.


Itu adalah berasal dari merek dagang Stone yang berasal dari Kerajaan Cabalcus. Tetapi ini cukup merepotkan karena juga berkaitan dengan air suci, maka pastinya kuil suci juga akan turun tangan. Jadi, aku hanya cukup melaporkannya saja kepada Kakek Glenn untuk ditindaklanjuti.


Sekarang, aku mengerti bahwa mengapa pasien lambat sembuhnya bahkan dengan penanganan yang aku lakukan. Itu karena sampai saat ini, mereka masih diminumkan air suci oleh para anggota kuil suci dengan alasan untuk menjaga stamina mereka. Itu logis karena dengan banyaknya pasien saat ini, sihir suci mereka akan terbatas. Lebih efektif jika menggunakan air suci tentu saja.


Aku pun segera mengeluarkan ultimatum untuk menghentikan pemberian air suci yang kudapati terkontaminasi bakteri kolera tersebut. Tentu saja ini akan mendapatkan pertentangan pada awalnya, tetapi untunglah ada beberapa dari mereka yang mendukungku sehingga semuanya bisa dikatakan masih berjalan dengan lancar.


Setelah mata rantai berhasil ditemukan, perlahan, tidak lagi banyak muncul korban baru yang berjatuhan dan bahkan dalam sehari, jumlah pasien baru yang masuk berhasil jatuh hingga ke angka dua persen saja dibandingkan dengan hari sebelumnya.


Di hari ketiga setelah diumumkannya larangan mengonsumsi potion atau air suci dari merek dagang Stone tersebut, akhirnya tidak lagi muncul pasien baru sehingga kami bisa lebih memfokuskan diri untuk pemulihan pasien yang sudah terlanjur terjangkit wabah tersebut.


Lalu di hari kelima, bantuan yang tak terduga-duga itu pun datang, tiga hari lebih cepat dari waktu yang diprediksikan.


Mereka adalah rekan-rekan penelitiku dari akademi sihir Tuan Erick fin Hygone, Anna Rosse Bridgette, serta satu orang lagi yang cukup spesial. Dia adalah Rasiel, cucu kesayangan dari guru yang telah mengajarkanku tentang obat-obatan herbal, Guru Zizi.


Rupanya, mereka sengaja mengurangi waktu istirahat mereka demi bergegas kemari dalam membantuku serta alih-alih gerobak kuda, mereka memilih untuk berangkat dengan menunggangi kuda secara langsung. Itulah alasan mengapa mereka bisa cepat sampai kemari.


Semuanya mereka lakukan setelah mendengar masalahku di Kota Lobos ini. Mendengar hal itu, aku tak mungkin tidak dapat menjadi terharu. Masih ada rupanya orang-orang yang menganggapku sebagai teman mereka.


Berkat bantuan dari orang-orang yang ahli seperti mereka, penanganan pasien kolera pun berjalan semakin lancar.


Setelah itu, seharusnya semuanya akan berjalan baik-baik saja. Tetapi kemudian, Kekaisaran Vlonhard menyerang.