Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 238 – THE TOWER – TAMAT



Ekspresi Helion kacau.


Dengan tergesa-gesa dia menghampiri para ibunda.


Baik Talia dan Lusiana tampak lesu.


Hanya Vierra-lah yang tampak sedikit tegar.


Itulah sebabnya Helion memilih Bunda Vierra-nya untuk bertanya.


“Bunda, apa yang sebenarnya terjadi?!”


“Informasi yang kudengar itu keliru kan?”


“Ini hanya akal-akalan belaka Ayahanda untuk menarikku ke sini kan?!”


“Nak…”


Vierra ingin menenangkan Helion, namun suasana hatinya saat ini pun terlalu sedih baginya untuk berbicara.


“Jangan sok-sokan peduli lagi dengan Ayahanda, Kakak sialan! Ini semua karena Kakak yang kekanak-kanakan sehingga Ayahanda tidak bisa berkonsentrasi terhadap misinya dengan baik dan malah berakhir celaka!”


Itu Illios muda yang penuh amarah terhadap sikap kekanak-kanakan kakak tertuanya itu.


Illies yang berada tepat di samping Illios sama sekali tak menahan amukan saudara kembarnya itu.


Namun pandangan jijiknya seakan melihat seonggok sampah pada kakak pertamanya itu memperjelas situasinya bahwa dia justru mendukung tindakan Illios.


Amarah Illios baru mereda ketika Farhaad datang dari belakang lantas memeluk Illios dan Illies secara bersamaan.


“Illio, Illie, kalian tenang dulu. Pasti Kak Lion punya alasannya sendiri.”


“Semua ini karena kamu, bajingan! Jangan pura-pura tidak bersalah! Kamu selama ini menghasut Ayahanda agar membenciku!”


-Puak.


Namun alih-alih Helion ikut tenang, Helion segera melayangkan pukulannya kepada adik tirinya itu, namun segera dileraikan oleh peserta yang hadir di pemakaman.


“Karena kamu… Karena kamu… Kau mencuri kasih sayang Ayahanda, bajingan!”


Namun Farhaad layaknya Illios juga hanya menunjukkan ekpresi jijik kepada Helion.


“Hei, Kak. Kamu sudah dewasa. Tidakkah sekarang sudah saatnya kau mengenyahkan sikap kekanak-kanakanmu itu?”


“Kau!”


Helion merasa frustasi oleh sikap kekurangajaran Farhaad itu kepadanya.


Namun ketika dia turut menatap tatapan Illios dan Illies, dia baru tersadar, dirinyalah yang terkucilkan di situ.


“Sial!”


Helion pun segera meninggalkan pemakaman tersebut.


Bahkan Ilyaas yang datang bersamanya barusan, tak lagi mengikuti kepergiannya.


***


Konflik Helion dan Farhaad tidak reda sampai di situ.


Karena berbagai pertimbangan senat, akhirnya yang justru terpilih menjadi kaisar menggantikan Helios adalah Farhaad.


Di acara penobatan Farhaad sebagai Farhaad sun Meglovia, sekali lagi Helion datang untuk mengacau.


“Selamat! Sekali lagi selamat, adik durhaka! Akhirnya impianmu terwujud kan dengan merebut semua apa yang kupunya, entah itu tahta, entah itu kasih sayang Ayahanda!”


Seketika Farhaad teringat perkataan ayahnya di masa-masa sekolahnya dulu.


Farhaad yang terlahir dengan mata hitam terkadang masih memperoleh perlakuan yang rasis walaupun fakta mengenai kebohongan Baal telah terungkapkan ke dunia.


Walau demikian, sang ayah yang memiliki mata segelap abyss seperti dirinya tak henti-hentinya menyemangati sang anak.


“Ayah juga heran mengapa banyak yang takut akan mata hitam kita ya? Padahal itu indah kan? Sepetti permata sihir yang nilainya jauh lebih mahal daripada berlian.”


Jauh lebih mahal daripada berlian.


Mendengar jawaban unik dari sang ayah, Farhaad akhirnya tertawa.


Dan entah mengapa itu seketika menghilangkan kekesalannya pada orang-orang yang mengejeknya tersebut.


Seorang ayah yang bijak dan penuh belas kasih.


Itulah pandangan Farhaad tentang sosok ayahnya, Helios.


Dia sangat bangga akan ayahnya itu.


Namun berpikir bahwa seorang ayah yang telah berusaha sebaik yang dia bisa, malah mesti dihujat oleh sang kakak, Farhaad tak lagi dapat menahan geramnya.


Farhaad segera melayangkan bogeman mentah ke arah sang kakak tanpa hesitasi di hari penobatannya sebagai kaisar benua tersebut.


“Memangnya apa yang kamu tahu tentang Ayah, Kakak sialan?!”


Dan itu pun segera tercatat di sejarah sebagai peristiwa penobatan terkacau dalam sejarah keluarga kekaisaran Meglovia.


***


Segala apa yang dulu menjadi miliknya seketika direnggut oleh Farhaad.


Namun itu pulalah kini yang menjadikannya punya arti hidup baru.


Dengan menjadikan balas dendamnya pada Farhaad sebagai tujuan hidupnya yang baru, Helion kembali mulai memperbaiki dirinya.


Tanpa diduganya, bantuan sang istri, Elisa, yang dikiranya telah meninggalkannya, tiba-tiba saja datang menghampirinya.


Tentu saja Helion saat itu sama sekali tidak punya gambaran bahwa apa yang terjadi padanya selama itu sebenarnya hanyalah rencana Farhaad dan Elisa belaka untuk mengembalikan Helion ke jalan yang benar.


Sedari awal, Farhaad tidak pernah tertarik akan tahta.


***


“Mas Lou, apakah ini yang terbaik, Mas?”


Di luar dugaan, Talia yang sangat mencintai Helios tersebut tetap tegar meski dengan kematian sang suami.


-Tuk, tuk.


Suara pintu diketuk tiba-tiba terdengar.


“Ah, Leon.”


Rupanya yang datang menemui Talia adalah sang adik ipar, Leon, yang juga baru-baru ini telah kehilangan istrinya, Alice, dalam musibah yang sama dengan Helios.


Namun sama halnya dengan Talia, Leon sama sekali tidak menunjukkan ciri-ciri kesedihan.


“Aku sudah menerima kabar dari Kak Helios bahwa mereka baik baik saja.”


“Saat ini mereka telah mencapai tower lantai ketiga belas.”


“Syukurlah kalau demikian.”


“Semoga di mana pun Mas Lou berada, dia akan baik-baik saja.”


Kabar kematian Helios dan party pahlawan sebenarnya merebak ketika Helios dan party menghadapi sang naga kuno.


Itu mengirimkan esensi palsu pada para pengamat di bawah yang menyebabkan Helios dan party terjebak di tower secara permanen.


Itu pun disalahartikan dengan dugaan bahwa pahlawan dan party-nya telah diluluh-lantakkan oleh tower.


Namun usai terlepas dari sang naga kuno di lantai sebelas, Helios dan party baru mengetahui hal tersebut setelah Helios terhubung kembali dengan para familiarnya di luar tower.


Akan tetapi, Helios memutuskan untuk membiarkan saja informasi tersebut beredar demikian.


Itu karena semuanya justru akan diuntungkan dengan berita kematian pahlawan dan party-nya tersebut.


Ditambah amukan tower pun telah mereda sejak dikalahkannya sang naga kuno di lantai kesebelas, pahlawan mutlak tak lagi dibutuhkan oleh dunia.


Tidak banyak yang tahu hal ini, bahkan Helios merahasiakan ini kepada anak-anaknya.


Hanya para istrinya-lah, sang ibunda Theia, serta para suami/istri dari party pahlawan yang diberitahukan hal yang sebenarnya.


Walau mengetahui suaminya selamat, Talia tetap bersedih hati karena dia tetap tak mampu menemui sang suami.


Itu karena Helios dan party pahlawan, perkara perbuatan naga kuno, jadi terjebak secara permanen di tower.


Syukurlah kutukan itu akan lenyap jika jantung penghuni lantai kedua puluh dua berhasil dihancurkan.


Itu sebabnya Helios tidak kehilangan harapan dan memilih untuk merahasiakan hal ini untuk sementara selama dia dan party-nya terjebak di dalam tower lantas menyerahkan kepada Farhaad sisanya selama kepergiannya.


“Apakah semuanya baik-baik saja begini, Master?”


“Apa yang kamu khawatirkan, Albert?”


“Sekarang bukan lagi generasi kita.”


“Masalah generasi sekarang mari kita serahkan kepada generasi sekarang pula untuk menyelesaikannya.”


“Kita sebagai generasi tua hanya perlu menyediakan jalan yang aman bagi anak-anak itu untuk tumbuh.”


“Itu sebabnya tower harus segera dilenyapkan.”


Pahlawan ada ketika ada yang membutuhkannya.


Pahlawan yang tak dibutuhkan lagi akan segera menarik dirinya dari dunia.


Walau demikian, sang pahlawan tak pernah sama sekali mengutuk nasibnya.


Itu karena di balik pengorbanannya, akan ada senyum keluarga mereka yang menjadi hadiahnya.


Kebahagiaan bisa diwujudkan dengan pengorbanan.


Dan itulah misi sang pahlawan untuk mewujudkannya.


Helios merasa bahwa waktu yang dinikmatinya telah cukup baginya untuk mengecap yang namanya kebahagiaan sekaligus menjalani harapan terakhir dari Yasmin.


Kini saatnya Helios dan party pahlawan menjalankan misi terakhir mereka.