Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 115 – KELAHIRAN SANG BUAH CINTA



“Kau! Mengapa kau membuka surat orang sembarangan?! Ini semua salahmu!”


Luic yang akhirnya mengetahui hilangnya Talia dan mengetahui pula bahwa itu semua berawal dari tindakan Olo yang secara seenaknya membuka surat yang ditujukan kepada Luic lantas menyebarkan isi suratnya secara sembrono, tidak dapat lagi menahan amarahnya kepada mantan pelaut bersifat barbar itu.


“Tolong tahan amarah Anda, Tuan Luic. Olo hanya belum terbiasa saja dengan budaya di Benua Ernoa. Ini salahku yang tidak mendidiknya secara tepat.”


Nunu bersujud di hadapan bangsawan itu demi mendapat pengampunan Luic.


“Aaaaaakkkhhhh, hah.”


“Tuan Luic.”


“Berdirilah, gadis kecil. Aku sekarang tidak butuh permintamaafan. Tapi kalau sesuatu terjadi pada Talia, maka aku…”


Luic tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Dia tidak bisa membayangkan kemungkinan terburuk jika sampai adiknya yang sedang berada dekat pada masa-masa melahirkannya itu kenapa-kenapa.


Nunu jelas mengerti hal itu. Itulah sebabnya dia yang selalu marah jika dikatai gadis kecil, sama sekali tidak marah saat itu kepada Luic. Dia lebih merasa bersalah atas tindakan lancang yang dilakukan oleh juniornya, Olo, yang menyebabkan situasinya sampai menjadi seperti ini.


“Hei, namamu Curtiz, bukan? Apa utusan yang kamu kirimkan untuk menyusul Talia itu akan benar-benar mampu sampai tepat waktu?”


Jelas keraguan nampak di wajah Curtiz pada pertanyaan Luic tersebut.


“Maafkan aku, Tuan Luic. Alice dan Albert adalah ksatria paling berbakat di kota kami saat ini. Satunya adalah magic swordsman yang langka dan satunya lagi swordsmaster level 5. Mereka akan berjuang sekuat tenaga untuk sampai ke ibukota Kerajaan Cabalcus secepatnya. Walau demikian, dengan tubuh super mereka, mungkin tetap akan membutuhkan beberapa hari bagi mereka untuk sampai ke sana.”


Curtiz tidak ingin menggunakan kata-kata kosong demi menenangkan Luic. Dia lebih memilih jujur bagi Luic agar menyadari situasinya.


“Ah, tidak, sial!”


Namun Luic tetap tidak dapat berbuat banyak.


***


Sementara itu di perbatasan utara Kerajaan Cabalcus.


“Talia, berjuanglah!”


“Mas Lou.”


“Pertahankan nafas Anda, Nyonya Talia. Kita akan mulai proses persalinannya.”


Talia dengan dibantu oleh Dokter Minerva memulai proses persalinannya.


Itu adalah momen terberat di hidup Talia. Tidak pernah dia merasakan rasa sakit yang teramat sangat seperti itu sebelumnya. Perutnya rasanya akan meledak dan bagian tubuh paling sensitifnya itu serasa akan robek. Itu amat sangat terasa sakit.


Walau demikian, Talia berusaha menahan rasa sakit itu. Dia menggenggam erat tangan suaminya, menggunakan harapan suaminya itu sebagai kekuatan untuk menguatkannya.


Helios sebelumnya hendak memberikan sihir pemati rasa kepada Talia sejenak agar Talia tidak merasakan kesakitan yang teramat sangat itu. Namun, Talia sendiri yang telah menolak uluran tangan suaminya.


Dialah sendiri yang ingin merasakan rasa sakit itu. Rasa sakit seorang ibu ketika melahirkan yang menjadi puncak tertinggi rasa sakit yang dimiliki oleh seorang wanita. Rasa sakit yang merupakan mahkota kewanitaan terindah di dalam hidup setiap ibu mana pun.


Helios sempat bersikeras untuk akan tetap menerapkan sihir itu kepada Talia. Akan tetapi, Dokter Minerva kemudian berkata bahwa itu lebih baik jika Helios tidak melakukannya sejak besar kemungkinan bahwa kontraksi otot yang berfungsi mendorong bayi keluar pada proses kelahiran akan terganggu yang dapat menyebabkan bahaya pada kondisi bayi yang dilahirkan.


Mendengar penjelasan Dokter Minerva itu, akhirnya Helios pun mengurungkan niatnya. Helios bisa dikatakan seorang ahli medis yang sangat andal. Namun, spesifikasinya adalah di bidang obat-obatan herbal. Pengetahuannya masih kalah sangat jauh dibandingkan Dokter Minerva yang ahli di bidang anatomi tubuh manusia, yang walaupun bukan pula ilmu spesifik tentang kebidanan.


“Ngeaaaaak, ngeaaaaaak.”


Lama proses kelahiran itu berlangsung, akhirnya terdengar juga suara yang mereka tunggu-tunggu. Itu adalah suara tangisan bayi. Bayi mereka yang sangat berharga sebagai hasil buah cinta mereka.


“Selamat, Tuan Helios, Nyonya Talia, bayi laki-laki Anda lahir dengan sehat.”


Mendengar ucapan dari sang dokter, Talia pun menitihkan air mata bahagia. Namun tampaknya, justru karena perasaan lega akhirnya menghinggapi hatinya, rasa kelelahan Talia yang selama ini telah dia tumpuk pun seketika terkeluarkan semuanya. Tidak lama bagi Talia untuk merasakan rasa kantuk yang teramat sangat lalu dia pun segera tertidur.


-Cup


Helios pun mengecup kening istrinya sebagai pengantar tidurnya dengan membaringkan bayi mereka tepat di samping sang ibu.


Sama halnya dengan Talia, tiada yang menggambarkan rasa bahagia Helios saat itu. Dia menatap lembut ke arah putranya seraya tersenyum.


Itu adalah senyum konyol yang belum pernah Helios tunjukkan kepada siapapun.


“Kuekekekhe.”


Sang bayi tertawa dengan riang seakan menyambut senyum ayahnya. Tangan mungilnya yang lembut itu menggapai-gapai wajah Helios dengan penuh kegirangan.


“Rupanya inilah rasanya menjadi seorang ayah.”


Desah Helios dengan ekspresi yang penuh kesyahduan.


Namun sesaat kemudian, ekspresi Helios tiba-tiba berubah muram.


“Maafkan Ayah, bayiku karena Ayah sempat berpikir untuk melenyapkanmu demi keselamatan ibumu. Syukurlah kini kamu lahir dengan selamat dan nyawa ibumu juga baik-baik saja. Namun, Ayah berjanji akan melindungimu dari dunia yang kejam ini.”


***


Helios cukup lama bermain dengan putranya. Namun sesaat kemudian, pandangannya segera teralihkan. Helios menatap secara bergantian di antara Yasmin dan Dokter Minerva.


Pandangannya menelisik dengan curiga, memperhatikan setiap gelagat kecil yang mereka tunjukkan.


“Jadi, kau bilang bahwa ini kehendak Talia sendiri yang ingin kemari. Lantas kau dengan ceroboh mengantarnya ke tempat ini padahal sudah tahu kalau kondisi Talia tengah hamil besar bahkan dekat waktu persalinannya, Yasmin?”


“…”


“Bagaimana pun, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu. Jika bukan karena Talia yang berada di sisiku, aku mungkin sudah akan menjadi monster yang kehilangan arah. Tetapi aku berharap lain kali apapun yang terjadi, kau akan lebih mengutamakan keselamatan Talia, Yasmin. Sejak jika Talia tidak ada lagi di dunia ini, maka aku pun akan segera menyusulnya.”


“Master!”


Ini pertama kalinya muka datar itu menunjukkan ekspresinya. Dia yang selalu tanpa ekspresi itu seketika menunjukkan ekspresi frustasinya ketika Helios menyatakan niat bunuh dirinya itu jikalau ada apa-apa sampai terjadi pada Talia.


“Hah… Itu hanya sebagai pretensi jika kemungkinan yang terburuk itu sampai terjadi. Aku tentu tidak pernah berharap akan melakukannya. Itulah kuharap kau juga akan menjaga Talia sama pentingnya ketika kau menjagaku, Yasmin.


“Aku mengerti, Master.”


Pandangan Yasmin terlihat frustasi. Sedikit di hatinya ada rasa cemburu melihat kedua insan yang saling mencintai tersebut bahkan rela mengorbankan nyawa mereka satu sama lain. Namun demikian, Yasmin tahu bahwa itu adalah perasaan salah yang seharusnya tidak dimilikinya. Untuk kesekian kalinya, dia pun kembali mengubur perasaannya itu dalam-dalam.


-Kruyuk.


Dalam suasana diam itu, tiba-tiba terdengar suara perut kelaparan seseorang. Ketika Yasmin melirik ke arah Helios, muka Helios tampaknya telah merah padam. Suara tersebut rupanya berasal dari suara perut Helios yang kelaparan.


“Kalau dipikir-pikir, aku belum makan selama tujuh hari ini. Aku bisa mencukupi nutrisiku, terima kasih berkat kemampuanku mengolah energi mana. Pada akhirnya semuanya ada batasannya tentang bagaimana seseorang bisa menggunakan energi mana untuk nutrisi.”


Dengan muka yang memerah, Helios menjelaskan situasinya tersebut kepada yang lain.


“Aku akan pergi untuk segera mencarikan Master makanan.”


Lalu Yasmin pun segera berinisiatif.


Tinggallah berdua di ruangan itu di samping Talia yang masih tertidur pulas bersama bayinya yang ceria di sebelahnya, Helios dan juga Dokter Minerva.


“Jadi, Dokter Minerva, bukankah ini saatnya Anda menjelaskan tentang siapa Anda sebenarnya? Talia dan Yasmin bisa sampai kemari dengan menggunakan sihir sayap mana milik Yasmin. Tetapi bagaimana orang biasa seperti Anda bisa sampai kemari? Bukankah 7 hari yang lalu, aku masih sempat bertemu dengan Anda di Kota Painfinn. Tidak ada orang biasa yang mampu mencapai tempat ribuan kilometer jauhnya hanya dalam beberapa hari perjalanan.”


Helios pun menatap tajam ke arah Dokter Minerva.