Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 114 – KEKUATAN CINTA



Talia berlari tertatih-tatih dengan perutnya yang telah membesar perihal sebentar lagi tibanya masa kelahiran bayinya itu hanya demi memeluk sang suami yang kehilangan arah.


Talia pun mendekap pundak suaminya itu dari arah belakang.


“Aku mengerti rasa sakit yang Mas Lou rasakan. Aku tahu betapa sakit rasanya kehilangan keluarga itu. Tapi ini sudah waktunya untuk berhenti, Mas. Adinda tidak ingin Mas tenggelam ke dalam kubangan yang penuh kenistaan itu. Demi Adinda dan calon bayi kita yang sebentar lagi akan segera lahir, kumohon Mas, tetaplah ada bersama kami.”


Helios yang awalnya telah bertekad untuk menyelesaikan balas dendamnya yang terakhir itu pun menurunkan cakarnya. Air mata mengalir jatuh dari pipinya. Amarahnya segera sirna digantikan oleh kesedihan yang amat mendalam.


Melihat musuhnya yang sedang lengah, Roggie pun berusaha memberikan serangan kejutan kepada Helios dengan niat demi melindungi sahabat baiknya, Pangeran Stephanus, dari incaran sang tiran gila itu.


Namun belum sempat Roggie menyerang, Pangeran Stephanus sendirilah yang rupanya menghentikan pergerakan Roggie.


Akan tetapi, walau Roggie tidak dihentikan sekalipun, yang akan melayang justru nyawa Roggie sendiri dan bukanlah Helios. Itu perihal ada Yasmin yang telah berdiri di sana, bersiap melindungi sang majikan.


“Sudahlah, hentikan itu Kak Roggie. Tidak ada gunanya lagi melanjutkan pertarungan. Kita sudah kalah. Beruntung, kita bisa menyelamatkan nyawa para pengungsi yang tidak ada kaitannya dengan konflik kerajaan kita ini.”


“Tapi orang itu yang telah membunuh ayah, ibu, dan saudara-saudari Anda yang lain. Apakah Anda tidak memiliki dendam dengan semua itu? Mumpung monster itu tampak melemah, ini kesempatan kita mengalahkannya!”


“Kak Roggie.”


Pangeran Stephanus menatap Roggie dengan tatapan yang begitu sendu.


“Sejak awal kitalah yang salah karena mengkhianati Kerajaan Meglovia dan juga Ignitia, sekutu kita. Sejak kerajaan kita mengambil keputusan demikian, kita tentu harus siap menanggung segala konsekuensinya. Bukankah jika rencana kerajaan kita berhasil, yang terjadi justru sebaliknya? Kita hanya kebetulan berada di posisi yang kalah, jadi mari terima hasilnya saja.”


“Tapi Yang Mulia Pangeran…”


“Roggie. Cukup.”


“Yang Mulia.”


“Aku sudah lelah dengan konflik yang berkepanjangan. Yang aku inginkan hanyalah perdamaian di mana di antara ras yang berbeda, dapat memahami satu sama lain dengan mengesampingkan perbedaan.”


Sembari mengucapkan kalimat itu, Pangeran Stephanus menatap Helios baik-baik. Itu bukanlah tatapan amarah maupun dendam. Di luar dugaan, itu adalah tatapan simpatik.


***


Dengan langkah perlahan, Pangeran Stephanus pun mendekat ke arah Helios dan Talia.


“Yang Mulia Pangeran.”


Roggie berteriak dengan khawatir sementara Yasmin menunjukkan gelagat waspada. Namun rupanya, tidak ada satu pun hostility yang ditunjukkan oleh Pangeran Stephanus baik kepada Helios maupun Talia.


“Istri Anda tampaknya hamil besar. Bagaimana kalau aku mengantar Anda dan istri Anda ke pemukiman terdekat untuk beristirahat?”


Pangeran Stephanus berupaya memapah Talia dengan ramah, namun Helios segera menampik tangannya itu sembari menunjukkan kewaspadaan.


“Mengapa Anda berbuat baik kepada musuh Anda sendiri? Apa Anda berniat menyerang kami begitu kami lengah?”


Pangeran Stephanus hanya menatap Helios dengan tatapan yang simpatik menyaksikan pangeran itu menunjukkan reaksi kegelisahan bercampur ketakutan mendekap sesuatu yang paling berhaga baginya di suatu tempat antah-berantah yang asing baginya.


“Mengenai kematian kedua orang tua dan saudara-saudariku, aku mengerti akan keputusan Pangeran Helios. Aku tidak akan berkata bahwa aku tidak frustasi akannya, tetapi bagaimana pun kamilah yang memulainya dengan kematian Putra Mahkota Tius Star Meglovia, jadi aku tidak akan menaruh dendam terhadap hal itu.”


“Justru, aku ingin berterima kasih kepada Anda karena Anda masih berbaik hati setidaknya menyelamatkan nyawa adik-adikku yang masih kecil. Aku hanya berharap dengan ini Anda juga akan menganggapnya impas dan tidak akan memperpanjang dendam ini lagi demi kebaikan kedua kerajaan.”


Mendengar ucapan Pangeran Stephanus yang diucapkannya hampir dengan tanpa ekspresi itu, timbul kemarahan di dalam diri Helios. Dia pun berdiri lantas meraih kerah baju Pangeran Stephanus.


“Kau bisanya berkata seperti itu dengan santainya padahal kalianlah yang memulai pengkhianatan!”


“Maaf.”


“Apa?”


“Maafkan aku karena aku tidak bisa menghentikan ayahku dan Putra Mahkota Ludwig. Aku tidak ingin beralasan. Ini semua karena kekurangcakapanku. Jadi jikalau Anda berkenan, aku bersedia menawarkan nyawaku sebagai ucapan permintamaafanku jika itu bisa meredakan amarah di dalam diri Pangeran Helios.”


“Kau sialan! Kau pikir nyawamu begitu berharga untukku!”


“Maaf, karena hanya itulah yang dapat kutawarkan untukmu.”


Helios menatap Pangeran Stephanus dengan marah, namun dia sama sekali tidak berniat menuruti kehendak Pangeran Stephanus itu.


Helios yang marah lantas hanya menghempaskan Pangeran Stephanus kuat-kuat ke tanah.


“Yang Mulia Pangeran!”


“Tidak apa-apa, Kak Roggie. Aku baik-baik saja.”


Helios tak lagi mempedulikan Pangeran Stephanus. Dia pun hanya memapah Talia sendiri bersama Yasmin untuk berdiri.


Namun kemudian, Pangeran Stephanus kembali berujar.


“Hei, wanita yang di sana!”


“Tangkap ini.”


Begitu Yasmin menoleh, dia pun langsung melemparkan seutas gantungan kunci pada maid itu.


“Ada villa kecil sekitar 200 meter arah tenggara dari tempat ini. Beristirahatlah di sana sembari menunggu bantuan. Kalian tidak bisa berjalan jauh dengan kondisi istrimu yang sedang hamil besar itu, bukan?”


“…”


“Jika kalian merasa curiga ini jebakan, kalian bisa mengeceknya sendiri terlebih dahulu sebelum memasukinya. Aku benar-benar tulus melakukan ini tanpa niat jahat sedikit pun.”


“Master, bagaimana ini?”


“Buang kuncinya.”


“Pangeran Helios. Aku sumpah tidak punya niat jahat sama sekali. Aku murni melakukan ini karena mengkhawatirkan keadaan istri Anda.”


Helios lantas menatap kembali ke arah Pangeran Stephanus yang mengatakan hal itu.


“Jika itu orang pushover seperti Anda, aku yakin ucapan Anda benar. Tapi maaf, aku harus menolak tawaran Anda. Ini bukanlah kecurigaan. Aku hanya tak ingin lagi terlibat dengan kebaikan Anda.”


Mendengar ucapan tegas Helios tersebut, Pangeran Stephanus tampak tak lagi sanggup membalas perkataan itu.


“Mas Lou.”


“Tenang saja Talia. Aku yang akan mengurus semuanya.”


Demikianlah Helios dan rombongan akhirnya memutuskan meninggalkan tempat itu dengan menolak kebaikan hati Pangeran Stephanus.


“Kalau begitu, biar kusampaikan satu hal terakhir, Pangeran Helios.”


Belum jauh Pangeran Helios dan rombongan melangkah, rupanya masih ada satu hal yang ingin disampaikan Pangeran Stephanus kepada mereka.


“Hati-hati dengan Rahib Robell Zarkan. Dia sangatlah licik dan pandai menyusun skema. Tanpa kau sadari, kau mungkin telah menari di atas telapak tangannya.”


Tanpa berkata apa-apa lagi, Pangeran Helios memutuskan untuk melanjutkan langkahnya bersama rombongannya. Namun apa yang dikatakan oleh Pangeran Stephanus barusan itu benar-benar disimpannya baik-baik di dalam benaknya.


Helios sama sekali tidak menyangkal bahwa sang kepala kuil suci kekaisaran itu memang sangat mencurigakan.


***


Akan tetapi belum jauh berjalan, tampaknya keputusan Helios itu salah.


“Akh. Mas, perutku rasanya sakit sekali.”


“Talia!”


“Master, ini gawat. Ketuban Nyonya Talia mulai pecah. Dia akan segera melahirkan.”


“Apa? Lantas bagaimana ini? Di sini tidak ada yang bisa membantu kelahirannya.”


Dia seharusnya menerima kebaikan hati Pangeran Stephanus saja tadi sehingga setidaknya dia bisa mengistirahatkan Talia yang kesakitan di tempat yang lebih teduh.


Helios kalut.


Dia tidak tahu harus berbuat apa di situasi seperti itu.


Akhirnya, Helios pun memutuskan.


Jika kondisinya memang sudah sangat mengkhawatirkan, dia bertekad akan mengorbankan nyawa bayinya saja yang sangat dicintainya itu, setidaknya agar nyawa istrinya dapat selamat.


Helios akan menggunakan sihir pemati rasanya agar Talia takkan merasa kesakitan. Lalu dengan pengetahuan medisnya yang seadanya, Helios-lah sendiri yang akan membantu persalinan istrinya.


Helios tetap bertekad mencoba sekuat tenaga melakukan yang terbaik. Betapa dia bersyukur jika baik nyawa istrinya maupun nyawa bayi yang dikandungnya, keduanya dapat selamat. Bagaimana pun, tidak berbeda dengan Talia, Helios sebenarnya sangat menanti-nantikan kelahiran anak pertamanya itu.


Namun demikian, yang diutamakannya adalah keselamatan istrinya. Jika Talia keguguran, maka anak masih bisa dibuat lagi, namun jika Talia yang sampai tewas, maka itulah akhir dari cintanya.


Helios telah siap untuk kemungkinan terburuk itu.


Akan tetapi, di kala keputusasaan mulai menghinggapi dirinya, terdengarlah suara wanita yang tidak asing lagi di telinganya.


“Makanya sudah kubilang untuk berhati-hati selama masa kandungan Anda, Nyonya Talia.”


Helios membelalakkan matanya tidak percaya akan kehadiran seseorang yang benar-benar dibutuhkannya di saat-saat yang paling krusial itu.


Dialah Dokter Minerva.


Harapan untuk keduanya bisa selamat pun kembali dimiliki oleh Helios.