
Pandangan Albert tenang. Dia terlihat tidak terprovokasi oleh segala omong kosong Ibelal.
Namun, jika Helios berada di sana, Helios akan segera tahu bahwa itulah justru titik di mana amarah Albert memuncak.
Albert adalah seseorang yang polos yang selalu mengekspresikan emosinya secara langsung lewat mimik wajahnya. Namun hanya ada suatu titik keganjilan dalam hal itu, yakni ketika Albert begitu teramat marah, wajahnya justru akan terlihat tenang, seolah tidak peduli lagi dengan segala yang terjadi di dunia ini. Dan itulah yang sedang terjadi saat ini.
Albert pun dengan mengacungkan pedangnya di hadapan Ibelal, berniat untuk maju menyerangnya.
Namun kemudian,
“Tahan, Albert.”
Alice tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.
“Pangeran Ibelal adalah seorang magic swordsman. Dia adalah lawan yang berbahaya bagimu yang baru di ranah swords master. Sebagai gantinya, akulah yang akan mengalahkannya. Kamu tolong bantu aku mengalahkan kelima anak buah sisanya. Terutama, kamu harus hati-hati terhadap dua lawan yang ada di belakang yang levelnya sama denganmu. Kamu sanggup, bukan?”
Albert lantas mengangguk.
“Maaf, aku kehilangan ketenangan. Itu adalah keputusan yang tepat, Alice. Pastikan jangan mati di tangan bajingan itu atau Master akan jadi sangat sedih.”
Mendengar perkataan Albert itu pun, Alice tersenyum.
“Hmm. Kamu juga, Albert.”
Tangan kanan Alice dan tangan kiri Albert pun beradu jotos, tampak telah memutuskan lawan mereka masing-masing.
Dengan kecepatan yang luar biasa, Alice lari menerjang sang Putra Mahkota Ibelal.
Charlot terlihat akan menghadangnya, namun kemudian tendangan Albert segera memisahkan Charlot dari Ibelal. Tidak sampai di situ saja, Albert juga turut menendang kedua swords master level 4 lainnya, lantas menghunuskan pedangnya kepada dua orang swords master level 5 yang tepat berada di belakang.
Aura Albert begitu mendominasi sehingga walaupun berlevel sama, kedua swords master itu segera terhempas oleh sapuan aura pedang milik Albert.
Alhasil, kelima anak buah yang mengelilingi Ibelal pun seketika tersingkirkan.
Ibelal menatap Alice dengan senyum kecut di wajahnya.
“Kamu pikir bisa menang kalau satu lawan satu denganku, pengkhianat?!”
“Hah. Pengkhianat?! Sejak Anda membuang aku, aku bukan lagi Alice yang Anda kenal, Pangeran.”
-Tuaaak, trang, trang.
Terdengar suara pedang yang beradu. Petir menyambar di mana-mana, beradu dengan kobaran api yang membara. Elemen-elemen milik kedua sang magic swordsman saling menghempaskan untuk menentukan siapa yang terkuat.
Jika kita berbicara soal pembagian kelas profesi ketika seseorang dilahirkan, maka itu bisa dikategorikan sebagai normal dan bertalenta.
Kelas normal tidak memiliki peluang berevolusi yang banyak. Paling mentok, mereka hanya dapat berevolusi menjadi class non kombatan saja.
Adapun kelas bertalenta dapat memiliki kemungkinan evolusi menjadi lebih banyak kelas. Tiga di antaranya yang terkenal adalah champion, wizard, swordsman.
Kelas swordsman bisa berevolusi menjadi lancer, axer, dan sebagainya, tetapi jika seseorang serius menggeluti bidang pedang, maka dia akan berevolusi menjadi swords master. Swords master terdiri dari 9 tingkatan yang ketika kamu mencapai tingkatan kesepuluh, itu tidak lagi disebut sebagai swords master, melainkan grand master.
Lantas di mana posisi magic swordsman?
Swords master level berapapun, entah itu 1, 2, dan seterusnya, bahkan sampai 9, ketika seseorang mencapai pencerahan mana, maka orang itu akan segera berevolusi menjadi magic swordsman tidak peduli level swords master berapa dia sebelumnya.
Itulah yang terjadi pada Alice di mana dia berevolusi dari swordsmaster level 3 langsung menjadi magic swordswoman dengan melampaui batasannya yang selama ini terhambat akibat traumanya.
Lantas di level berapakah Ibelal berevolusi menjadi magic swordsman?
Dia telah lama berevolusi menjadi seorang magic swordsman di kala dia berada pada level 5 swords master.
Walaupun tidak ada standar mutlak untuk menentukan kekuatan siapa yang terkuat di antara kedua magic swordsman, itu secara kasar akan bisa terlihat dalam pengalaman yang mereka raih di dalam pertempuran. Dengan kata lain, walau sama-sama seorang magic swordsman, Ibelal yang telah duluan start dan dengan level yang lebih tinggi tentu saja akan lebih unggul daripada Alice.
“Aaaaaakkkkkhhhh!”
Alice pun pada akhirnya terpental.
Aura petirnya termakan dalam kobaran api yang menyala.
Kekuatan Ibelal berada di atas Alice.
“Panggil aku Putra Mahkota, dasar sialan!”
“Oh, maaf. Aku tidak menyadarinya kalau Anda telah terpromosikan sejak aku tidak bisa melihat aura pemimpin seperti Yang Mulia Putra Mahkota Albexus di dalam diri Anda.”
Ibelal sama sekali tidak menunjukkan rasa simpatiknya kepada Alice. Dia langsung menyerang Alice kembali di kala Alice baru saja roboh.
-Tuak.
Alice menggetarkan giginya. Otot-otot lengannya berkontraksi menahan pedang besarnya sekuat tenaga yang berusaha dihempaskan oleh Ibelal melalui pedang rampingnya itu.
“Hmm. Dulu aku mengakuimu sebagai pejuang yang hebat, Alice. Seorang anak berusia 12 tahun bisa menunjukkan prestasi yang begitu gemilang dengan mengalahkan para seniornya dan bahkan ksatria terlatih. Tetapi karena sebuah trauma bodoh, nilaimu hilang begitu saja dan bahkan tidak sulit bagi sang kaisar mengorbankanmu demi menjalankan rencananya. Tetapi apa ini? Bagaimana sampah sepertimu bisa bangkit kembali ke titik ini?”
-Trang, trang, trang.
Pada akhirnya, Alice berhasil menghempaskan pedang Ibelal mesti dengan harus mengeluarkan kekuatannya sekuat tenaganya di saat stamina Ibelal tampak baik-baik saja dengan itu.
“Hmm. Pada akhirnya hanya begini rupanya kekuatanmu. Walau kamu sudah bangkit pun, kamu bukan lagi apa-apa.”
Tanpa mendengarkan ucapan Ibelal itu, Alice kembali mensummon petirnya mengarah ke segala arah pada Ibelal.
“Kamu pikir listrik mainan seperti ini bisa melukaiku?”
Sayangnya, tidak butuh waktu lama bagi Ibelal untuk menangkal serangan-serangan petir itu dengan kobaran apinya.
“Satu kekuranganmu, Alice. Kebaikan hatimu telah menghambatmu untuk berevolusi menjadi orang terhormat kekaisaran. Andai kamu dilahirkan dengan sedikit sifat egois, pasti sudah lama kamu akan menjadi prajurit kekaisaran dengan jabatan yang tinggi.”
“Aku tidak butuh semua itu jika itu berarti aku mengorbankan apa yang aku yakini. Selain itu, …”
Karena suara kobaran api, Ibelal tidak sanggup mendengarkan suara Alice dengan jelas.
“Apa yang kamu bilang?”
“Maksudku hati-hati dengan sekeliling Anda, Pangeran. Serangan petirku tidak sesederhana dari apa yang Anda bayangkan.”
Kini giliran Alice yang tersenyum licik di hadapan Ibelal.
“Apa?”
Ibelal segera menyadari apa yang dimaksudkan oleh Alice itu.
Sisa-sisa gumpalan petir yang dihempaskan oleh Ibelal rupanya tidak segera menyerap ke dalam tanah, melainkan saling beresonansi satu sama lain, mulai membentuk suatu bentukan seperti bola besar yang menjebak Ibelal di dalamnya. Sayangnya, Ibelal terlambat menyadari semua itu dan terlanjur terkurung di dalam bola besar yang dibentuk oleh sisa-sisa gumpalan petir itu. Lalu kemudian,
“Aaaaaaakkkkkkhhhhhh!”
Ibelal terperangkap dalam zona sambaran petir yang maha dahsyat.
“Kurang ajar kamu, wanita sialan! Akan kucincang-cincang kamu atas perlakuan kurang ajarmu padaku!”
Pertarungan sebenarnya antarsesama magic swordsman itu baru saja dimulai. Kini Ibelal tidak lagi menunjukkan hesitasi.
***
Sementara itu di pertarungan kubu lain,
-Tuaaaang, trang, trang.
Adu pedang juga terjadi. Hanya saja itu adalah pertarungan yang tidak adil sejak Albert dikeroyok oleh lima orang musuh, ditambah dua di antara mereka berlevel yang sama dengan Albert.
Walau demikian, Albert tidak gentar sedikit pun.
‘Ingat apa yang diajarkan oleh Kanazawa Sensei. Di saat menghadapi banyak musuh sekaligus, ketenangan adalah kuncinya. Jangan biarkan pertahananmu turun, namun di lain pihak jangan pasif karena hanya akan merugikan dirimu sendiri saja dalam pertarungan ketahanan stamina sejak lawan ada banyak.’
Albert mengingat kembali apa yang diajarkan oleh guru berpedangnya itu.
“Teknik kelopak sakura!”
-Slash, slash.
Albert melakukan gerakan berputar sembari melayangkan pedangnya dengan gerak zig-zag menyerupai bentuk kelopak bunga.
Satu orang berhasil gugur dalam sekejap, menyisakan dua orang swords master level 5 beserta dua orang orang swords master level 4 yang berhasil mereka lindungi masing-masing di belakang terhadap serangan pedang liar milik Albert tersebut, salah satunya adalah Charlot.
“Lincah seperti kucing, defensif seperti landak alih-alih kura-kura. Itulah gaya bertarung pedang besar keluarga kerajaan Kanazawa.”
Albert benar-benar mengingat tiap nasihat yang gurunya ucapkan itu di pertarungan yang sangat mempertaruhkan nyawanya.
Bagaimana pun, Albert telah mulai letih setelah bertarung sepanjang hari sejak tiba di medan pembantaian itu.