
Secara bergiliran, para bangsawan berdatangan mengungkapkan dukungannya kepada Ilene.
“Putri Ilene memang adalah sosok yang bijak. Tiada yang menyamai kepatutan Anda untuk menjadi ratu negeri ini.” Dialah sang rubah licik, Duke Ares van Orsena yang mengucapkannya.
“Harus Anda-lah yang menjadi ratu, tiada yang lain, Yang Mulia Tuan Putri Ilene!” Dialah yang selalu tampak bersemangat berapi-api di luar, namun pengecut di dalam, walaupun seorang kepala militer, Viscount Aloquince von Maxwell.
“Masa depan negara ada di tangan Anda, Yang Mulia Putri.” Yang terakhir adalah sosok yang tenang yang biasanya selalu meninjau masalah dalam aspek yang lebih luas. Namun dia adalah fanatik kuil suci sehingga dia pun mendukung Ilene menempati singgasana. Dialah Marquise Roderick van Moriant.
Ilene justru semakin gelisah dengan banyaknya dukungan yang dia peroleh dari kalangan bangsawan. Tidak hanya dari kalangan bangsawan saja, para sarjana, murid akademi royal dan ksatria, semuanya berbondong-bondong menyatakan dukungannya kepada Ilene.
Padahal sewaktu kedua kakaknya itu masih hidup, Tius dan Leon, tiada yang sama sekali meliriknya untuk menjadi pewaris tahta. Itu wajar. Melupakan sikap Ilene sendiri yang terkesan pengecut dan tidak tegas, sejak awal, Ilene sendiri adalah seorang wanita yang sulit dalam situasi normal tentu saja menjadi penguasa di negara yang menganggap kedudukan pria lebih tinggi daripada wanita.
Namun, situasinya kali ini berbeda. Demi mencegah sang pangeran tiran es naik tahta, mau tidak mau Ilene-lah sebagai pewaris lain yang tersisa yang harus merebut tempatnya.
Dari hari ke hari, kegelisahan Ilene pun semakin menjadi-jadi sampai-sampai membuatnya kesulitan untuk tidur. Hingga di suatu malam, Ilene yang frustasi akhirnya memilih untuk menjatuhkan dirinya dari lantai dua balkon istana. Itu tentu tidak cukup untuk merenggut nyawanya, tetapi telah cukup untuk membuatnya terluka hingga bisa beristirahat dengan tenang selama perawatannya di rumah sakit.
Namun Helios secara kebetulan menyaksikan kejadian tersebut.
“Ilene! Apa yang kamu lakukan?! Cepat turun dari sana!”
-Tap.
Beruntungnya Helios berhasil menangkap Ilene sebelum hal yang buruk terjadi padanya. Itu benar-benar beruntung bahwa Helios ada di tempat itu di waktu yang tepat. Tidak, itu bukanlah suatu kebetulan apalagi keberuntungan karena sedari awal, tiada henti Helios mengawasi Ilene dengan menggunakan para familiarnya itu demi menjaga sang adik tersayang, satu-satunya saudaranya yang tersisa.
“Apa yang kamu lakukan sebenarnya, Ilene? Mengapa kamu jadi begini?”
Dalam pelukan Helios, Ilene pun mencengkeram kuat-kuat pundak kakaknya tersebut.
“Aku takut, Kak. Para rubah tua itu, tiba-tiba saja menyuruhku untuk menjadi ratu dan menawarkan anak-anak cucu mereka untuk aku nikahi.”
“Apa Ilene ingin jadi ratu?”
“Tidak! Siapa juga yang mau menaiki benda najis yang penuh darah itu?!”
Helios lantas tersenyum sembari membelai rambut emas adiknya yang halus itu.
“Kalau begitu, Kakak yang akan jadi raja untuk melindungi Ilene. Kakak telah membulatkan tekad Kakak. Kakak tidak akan bersembunyi lagi seperti pengecut, dilindungi oleh Kak Tius maupun Leon. Kini giliran Kakak yang melindungi Ilene.”
“Hiks, hiks.”
Hanya isak-tangis yang dapat didengarkan dari suara Ilene.
-Ceklek.
Tanpa diduga-duga oleh Ilene, Helios memasangkannya sebuah kalung cantik dengan permata putih indah di ujungnya.
“Ini apa, Kak?”
“Ini bentuk perlindunganku padamu, Ilene. Ini sejenis artifak sihir yang dapat memberikan perlindungan padamu untuk menangkal sihir monster tingkat legendary kelas atas selama 3 menit. Setidaknya itu cukup sampai Kakak datang untuk melindungimu sendiri. Jadi apapun keadaannya, di mana pun kamu berada, jangan pernah melepaskan kalung ini dari lehermu. Mengerti?”
Ilene pun hanya mengangguk diam dalam menanggapi permintaan kakaknya, Helios, tersebut.
***
Beberapa hari kemudian, kini giliran Rahib Vyndicta Eros yang mengunjungi Ilene.
“Bagaimana dengan kondisi kesehatan Tuan Putri?”
“Aku sedikit tidak enak badan, Rahib. Oleh karena itu, percepatlah jika Anda ada urusan denganku.”
Namun alih-alih menjawab pertanyaan Ilene tersebut, tampak sang rahib justru menatap tajam ke arah kalung yang dikenakan oleh Ilene lantas menatap ke arah kekosongan di udara sekitar yang sebenarnya tidak terdapat apa-apa di sana.
“Rahib?”
Rahib Vyndicta tidak menanggapi Ilene.
-Plek.
Namun secara tiba-tiba, sang rahib menjentikkan jemarinya lalu seketika muncullah barier putih yang mengisolasi mereka berdua dari dunia luar.
“Apa ini?”
“Tenang saja Yang Mulia Tuan Putri Ilene, ini hanyalah barier yang aku buat agar tidak ada yang bisa mendengarkan percakapan kita dari luar. Yang lebih penting daripada itu…”
Pandangan mata Rahib Vyndicta Eros seketika tertuju kepada Ilene dengan tajam.
“Apa Anda benar-benar mempercayai Kakak Anda, Yang Mulia Pangeran Helios de Meglovia, Tuan Putri Ilene?”
“Tentu saja.”
“Yang Mulia Pangeran Leon tewas di saat mengunjungi kota di mana Yang Mulia Pangeran Helios ditempatkan. Yang Mulia Pangeran Leon memang dilaporkan meninggal karena serangan monster, tetapi Anda pikir Yang Mulia Pangeran Leon selemah itu untuk dikalahkan oleh monster? Terlebih, ada saksi mata yang melaporkan bahwa dia melihat sendiri kejadiannya bahwa Yang Mulia Pangeran Helios sendirilah yang membunuh Pangeran Leon.”
“Tidak! Saksi mata itu dihipnotis oleh seseorang yang tidak diketahui! Bukankah itu juga sudah jelas di laporan bahwa ada jejak sihir hitam di ingatan saksi tersebut?!”
“Jejak sihir hitam yang sangat jelas. Bagaimana jika itu ulah Pangeran Helios saja untuk membuat dirinya tertuduh oleh tuduhan dengan bukti yang mencurigakan hingga pada akhirnya dia dibebaskan dari tuduhan karena seakan ada yang mencoba memfitnahnya?”
“Lantas apa bukti Anda mengatakan semua itu?!”
Ilene yang tak terima kakaknya dihinakan lantas menatap baik-baik Rahib Vyndicta Eros dengan tatapan penuh amarah.
Rahib Vyndicta lantas merebahkan pundaknya ke sandaran kursi sembari menghela nafas panjang sebelum lanjut berucap,
“Lantas bagaimana dengan pembantaiannya di Kerajaan Cabalcus? Dia beralasan dendam dengan kematian Yang Mulia Putra Mahkota Tius, tetapi nyatanya dia hanya membunuh kaki tangannya sendiri setelah menjalankan tugas mereka membunuh sang putra mahkota agar tidak meninggalkan saksi satu pun atas perbuatan bejatnya.”
“Hei, Rahib Vyndicta! Justru ucapan Anda itu yang penuh spekulasi. Apa Anda memiliki bukti atas segala apa yang Anda ucapkan itu? Jelas-jelas Kerajaan Cabalcus mengkhianati aliansi kerajaan selatan dengan memihak Kekaisaran Vlonhard…”
“Apa Anda juga punya bukti terhadap hal itu? Sudahkah Kekaisaran Vlonhard mengakui sendiri keterlibatan mereka itu? Tidakkah ini juga salah satu siasat Yang Mulia Pangeran Helios?”
“Diam! Ada Swein sebagai saksinya. Diplomat dari Kerajaan Ignitia juga membenarkan hal tersebut!”
Ilene yang biasanya pengecut, ketika itu menyangkut soal kakak-kakaknya, dia akan meledak-ledak. Hal yang paling tidak diinginkan oleh Ilene adalah kakaknya dihinakan. Dia pun sampai lupa akan sikap ketakut-takutannya yang seperti biasa perihal adrenalinnya yang membara.
“Heh, mereka bisa saja disuap, Tuan Putri. Daripada itu, Yang Mulia Pangeran Helios memang adalah sosok Kakak yang sangat baik ya, Tuan Putri, sampai-sampai tampak sangat tertarik terhadap segala apa yang Anda bicarakan dan kerjakan dengan memasang artifak penyadap di dekat Anda.”
Ujar sang rahib sembari menunjuk ke arah kalung yang dikenakan oleh Ilene tersebut.
Seketika mulut Ilene menganga agape begitu mengetahui fakta itu.