
“Hahahahahahaha. Sungguh aku tidak membayangkan hari di mana aku bisa membunuhmu ini benar-benar akan tiba!”
Angele tertawa terbahak-bahak melihat Yasmin yang kesakitan oleh serangan para bakterinya yang menembus sampai ke tulang-tulangnya.
Dalam mulut yang bersimbah darah itu, Yasmin tetap bangkit.
Angele kemudian sekali lagi menyerangnya. Perihal tubuhnya yang tengah luka-luka, Yasmin tidak lagi mampu untuk menghindar. Dia pun memilih untuk menangkis serangan itu.
-Pluk, pluk, pluk
Cahaya pink berbentuk hati seketika berbenturan dengan awan gelap yang dibentuk oleh jutaan kumpulan bakteri yang terbuat dari sihir.
Cahaya pink kalah dan akhirnya terdegradasi oleh awan hitam setelah beberapa saat. Namun karenanya, Yasmin memiliki peluang beberapa detik untuk bergerak mundur.
Dia merapalkan jurus jarak jauh dalam prosesnya untuk menyergap Angele dari arah belakang. Namun seolah sang witch itu punya mata di belakang kepalanya, dia segera menyadari serangan itu tanpa bergeming sedikit pun lalu menangkisnya.
“Hanya segitukah kekuatan witch yang telah hidup dua ribu tahun lamanya? Di sini kita akan membuktikan antara witch yang menghancurkan kekaisaran purba Cassandra atau witch yang menghancurkan kekaisaran kuno Angele, mana yang terhebat!”
“Jadi begitu rupanya. Kau melakukan ini karena rasa inferioritasmu padaku?”
“Diam kau! Dasar percular!”
-Swooosh.
-Pluk, pluk, pluk.
“Entah apa yang merasukimu, Angele. Tapi kau salah dalam satu hal. Sedari awal aku tidak pernah menghancurkan kekaisaran purba. Itu semua perbuatan Apollo. Dan pembantaian seisi penghuni kekaisaran, itu seharusnya bukanlah ingatan yang baik untuk dibanggakan. Pasti ada yang salah di kepalamu.”
“Diam kau, dasar percular! Mengapa kau tidak seperti karaktermu yang biasa saja, pendiam layaknya es!”
-Swooosh.
-Pluk, pluk, pluk.
Yasmin sekali lagi mampu menghindari serangan sang witch wabah. Namun, dia pun tahu betul bahwa staminanya hampir berada di ambang batasnya.
“Aku tidak suka tatapanmu itu. Itukah tatapan dari seorang witch? Ah, begitu rupanya. Pemuda manusia itu telah menggoyahkan hatimu sehingga kamu kehilangan jati dirimu sebagai witch. Sungguh menyedihkan.”
“Kaulah yang menyedihkan, Angele, karena sampai sekarang masih termakan dendam masa lalumu dan ingin melampiaskannya kepada siapa saja.”
“Tidak usah sok tahu kau!
-Prak.
-Dash.
“Ukh.”
“Bahkan dalam keadaan sekaratmu itu, kau masih saja menyebalkan, Cassandra!”
“Apakah ucapanku barusan begitu mengena di hatimu, Angele, sehingga kau semarah itu?”
“Diam! Diam! Sudah kubilang diam kau, dari percular murahan! Kau takkan pernah mengerti dendamku! Aku mendedikasikan segala ilmu pengetahuanku untuk kemanusiaan, tetapi mereka justru menjadikan aku bidat lantas membakar semua penelitianku. Tidak sampai di situ, mereka juga mengejarku untuk dibakar hidup-hidup! Orang-orang seperti mereka layak mati!”
Tatapan mata sang witch itu semakin menggila begitu dia mengingat dendam masa lalunya.
“Jika bukan karena orang itu. Itu benar! Andai saja orang itu tidak ada… Jika saja aku tidak dihentikan oleh Irgard, maka aku pasti akan membalaskan dendamku secara sempurna.”
Angele lantas menoleh ke arah Yasmin.
“Oh iya, bukankah orang yang kau cintai itu, Helios atau siapalah namanya, adalah keturunan Irgard Meglovia, bukan? Bagaimana kalau kuhancurkan saja seisi kekaisarannya mumpung dia tidak ada? Jika dia pulang dan melihatnya, aku tak sabar untuk menikmati ekspresi menyedihkannya itu.”
Hanya ketika berhubungan dengan Helios-lah Yasmin akhirnya menunjukkan ekspresinya.
“Takkan kubiarkan tangan-tangan kotormu itu menyentuh Master!”
-Prak.
-Dash.
Yasmin tiba-tiba saja kembali memperoleh energinya lantas melawan balik Angele.
“Kau dasar murahan! Segitu cintanya kah kau pada anak manusia itu sehingga kau melupakan harga dirimu sebagai seorang witch.”
Di kala itulah Angele memperhatikan raut mata Yasmin dengan seksama.
“Begitu rupanya. Sungguh menyedihkan. Kau menipu dirimu sendiri dengan cinta yang tidak pernah ada. Kau yang ditakdirkan untuk mempermainkan cinta di mana saja, mengapa sampai berakhir diperbudak oleh pelet cintamu sendiri. Sadarlah, hei murahan! Batalkan sihirmu pada dirimu sendiri itu! Kau sendiri juga sadar kan kalau semua tindakanmu itu karena jurus cintamu sendiri yang berbalik padamu!”
Yasmin hanya terdiam menatap Angele.
“Siapa bilang kepalsuan tidak bisa menjadi nyata?!”
“Kau sudah gila rupanya. Baiklah, sedari awal kaulah yang membunuh Marie, bukan? Itulah sebabnya aku diperintah oleh Nyonya Isis untuk membunuhmu jikalau ada kesempatan. Kurasa aku mau tidak mau harus menuruti perintah itu. Matilah dalam penyesalan, dasar percular bodoh!”
-Woooosh.
-Bang, bang, bang.
Namun pada akhirnya, bakteri-bakteri itu berhasil menggerogoti tubuhnya.
“Ukh.”
Yasmin dengan sisa-sisa sihir sucinya yang dia peroleh dari koneksinya dengan aliran mana Helios berupaya mengobati tubuhnya dari dalam agar tidak terinfeksi lebih jauh oleh bakteri milik Angele. Namun, dia telah pada batasnya.
“Yang Mulia Helios. Aku tidak salah kan mencintai Anda? Walau cinta ini berasal dari pelet sekalipun, itu juga nyata kan?”
“Tentu saja, Yasmin. Cintamu itu nyata sejak kau membuat wajahku jadi memerah begini.”
Tanpa diduganya, sosok sang pujaan hati benar-benar ada di hadapannya lantas memapah tubuhnya yang hendak akan terjatuh.
“Yang Mulia… Tidak, Master. Mengapa Anda justru berada di sini? Bukankah kehidupan di dunia ini telah membuat Anda begitu menderita?”
-Tak.
“Ouch.”
Dengan ekspresi tersenyum, Helios menyentil jidat Yasmin.
“Lain kali jangan lakukan hal yang tidak perlu. Siapa juga yang menyuruhmu menyediakan dunia palsu itu? Kenyataan tetaplah kenyataan. Tetap tidak bisa digantikan posisinya oleh ribuan dunia mimpi sekalipun.”
“Maaf, Master.”
“Terlebih daripada itu, serahkan masalah di sini padaku.”
Helios lalu mengalihkan pandangannya kepada Angele.
“Halo, Angele. Kita bertemu lagi. Mengapa kau justru marah pada Yasmin jika kakek moyangku, Irgard-lah yang membuatmu kesal? Kini aku sebagai keturunannya telah ada di hadapanmu. Nah, jadi apa yang akan kamu lakukan?”
Angele seketika berkeringat dingin begitu melihat Helios. Dia masih teringat kejadian terakhir kali ketika dia berhadapan dengannya dan harus berakhir dalam kondisi tubuh yang mengenaskan. Jika bukan karena Isis yang memperbaiki tubuhnya, pastilah tubuh Angele sudah akan membusuk berkat virus yang diinfeksikan oleh Helios padanya itu.
Angele ingin kabur. Namun begitu pandangannya tertuju ke sekeliling, dia segera sadar bahwa itu tak mungkin lagi sejak ribuan bom-bom es kecil telah terpasang di udara sekitar di sekelilingnya. Kabur dengan ceroboh hanya akan seketika menjadikannya sate panggang. Mau tidak mau dia harus berhadapan dengan sosok mimpi buruknya tersebut, Helios sang tiran es.
“Dasar manusia hina! Beraninya kau menghinakanku!”
Angele sadar bahwa dirinya tidak punya peluang lagi untuk kabur. Dengan penuh amarah, dia pun hendak menyerang Helios yang sedang memeluk Yasmin.
Akan tetapi kemudian,
“Akh! Apa yang… Sejak kapan kau memasang perangkap-perangkap ini?”
Ribuan jarum-jarum es raksasa menusuk ke sekujur tubuh Angele. Sang witch wabah pun sekarat. Mata, hidung, dan mulutnya mulai mengeluarkan darah.
Setidaknya, dia ingin menyerang orang yang telah membuatnya sekarat. Sayangnya, bakteri-bakteri kesayangannya pun tak mampu berbuat apa-apa di tengah suhu dingin ekstrim yang diakibatkan oleh es-es Helios yang berseliweran di mana-mana.
“Hahahahahahahaha. Jangan kira ini akhirnya, sang terpilih! Kau tahu kenapa aku kemari? Pasti kau bisa menebaknya bahwa aku kemari pastinya bukan untuk sesuatu tujuan yang baik. Aku datang karena akhirnya diberikan kesempatan oleh Raja Iblis untuk membalaskan rasa sakit hatiku pada manusia-mansusia yang tidak tahu terima kasih itu!”
“Apa yang kau lakukan?”
“Tunggu saja kejutan dariku, sang terpilih! Dahulu kala nenek moyang kalian membakar bahan-bahan eksperimenku lantas hendak membakarku hidup-hidup. Padahal aku sudah berjasa menyembuhkan orang-orang yang sakit di kekaisaran kuno, tetapi itulah malah yang jadi balasan untukku. Itulah balasan yang setimpal untuk orang-orang yang tak tahu terima kasih seperti kalian.”
“Tidak, kau salah Angele.”
“Salah? Aku salah?!”
“Memang benar beberapa tindakanmu telah menyelamatkan nyawa beberapa orang berkat kemampuan medismu yang hebat. Tetapi puluhan ribu orang juga kau bunuh dengan alasan eksperimen. Apa yang kau lakukan itu bukanlah praktik medis, tetapi pembunuhan terencana secara massal.”
“Bagaimana bisa ilmu pengetahuan berkembang tanpa ada sesuatu yang harus dikorbankan?!”
“Begitulah memang jalan pikiranmu, Angele. Kau jelas berbeda dengan Dokter Minerva, yang walaupun dia eksentrik, tetapi dia benar-benar tulus menyelamatkan nyawa pasiennya. Sedangkan kau menganggap pasienmu tidak lebih dari sekadar objek eksperimen belaka. Apa yang kau tuju hanyalah kesempurnaan medismu bukanlah kebahagiaan pasien. Jelas kau adalah dokter sesat, jadi wajar saja kau akhirnya menjadi witch.”
“Kau… Kau dasar kurang ajar, anak ingusan! Kau menghinaku sebagai witch, tapi malah bersimpatik pada witch yang usianya empat kali lipat dariku! Dasar munafik! Lagipula dia bisa menurut patuh padamu lantaran jurus yang diaktifkannya pada dirinya sendiri itu. Begitu jurus itu hilang, dia tak ubahnya sama saja denganku. Ukh…”
Darah mengucur semakin deras membasahi gaun putih Angele. Dia sekarat dalam keadaan beku. Namun, Helios sama sekali tak bersimpati padanya.
“Kalau begitu, kuakhiri saja penderitaanmu sampai di sini, Angele, sejak aku bisa mencari tahu sendiri melalui para familiarku tentang apa yang kau lakukan di tempat ini.”
“Kau akan menyesalinya, Helios!!!”
-Srarararak.
“Aaaaaakkkkkhhhh!”
Es-es yang tertancap ditubuh Angele yang menghalangi darahnya tersembur keluar seketika dicabut oleh Helios. Darah mekar membasahi area di sekitar hutan itu. Sang witch wabah Angele telah kehilangan nyawanya dalam kesakitan yang teramat sangat.
“Master.”
Dengan pandangan yang sayu, Yasmin menatap Helios. Namun Helios malah membalas tatapan itu dengan dingin.
“Ini perintah, Yasmin. Sudah saatnya kau melepaskan jurus peletmu itu.”