Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 195 – MASA-MASA DAMAI BERSAMA ANAK-ANAK bag. 1



Aku terbangun dari pingsanku. Berbeda dari apa yang sebelumnya aku bayangkan, suasananya damai. Entah pada saat itu aku yang berhalusinasi melihat Noel Dumberman ataukah dia benar-benar muncul namun tidak melakukan apa-apa. Tampaknya, yang pertama lebih masuk akal untuk terjadi. Yang jelas, aku lega bahwa semuanya baik-baik saja.


Yasmin rupanya telah menyampaikan kabar duka kematian Albert kepada Kakek Rodriguez dan keluarganya perihal dibunuh oleh Damian. Bisa kulihat wajah shok Kak Vierra begitu mengetahui bahwa teman masa kecilnya itu ternyata seorang psikopat. Jika saja aku bangun lebih awal, mungkin saja keterlibatan Damian ini akan aku rahasiakan untuk selamanya demi kenyamanan Kak Vierra. Toh, apa lagi gunanya sekarang, Albert terlanjur telah tiada.


Namun, kini ayah dan ibu Damian juga harus turut menanggung kejahatan yang diperbuat oleh anak mereka.


Aku menghadiri pemakaman Albert. Suasananya hening. Itu karena Albert hampir tidak memiliki keluarga selain Lilia yang juga sudah wafat serta anak mereka, Allios. Kakek Glenn Rodriguez memimpin jalannya pemakaman lalu akulah sebagai master Albert yang memberikan kalimat penghiburan terakhir. Albert mati sebagai pahlawan, setidaknya itu akan dibanggakan oleh Allios ketika sudah besar nanti.


Namun yang menjadi masalah sekarang,


“Ayah… Ayah… Ayah! Hiks, hiks, hiks.”


Allios masih sangat kecil yang baru akan genap berusia 4 tahun.


“Kakek Glenn, serahkan saja perawatan Allios padaku.”


Aku menawarkan hal itu kepada Kakek Glenn.


“Aku mana bisa melakukan itu pada Yang Mulia. Akulah kakek buyut dari anak ini.”


“Tapi sebagai duke, pasti Anda akan sangat sibuk.”


“Tapi Yang Mulia tidak kalah sibuknya.”


“Aku bisa menyerahkan penjagaan Allios kepada para maid, setidaknya aku bisa mengontrol tumbuh-kembang Allios di istana, dan walaupun aku tidak sedang berada di tempat, ada juga para istriku yang bisa mengawasinya. Tidak seperti Kakek Glenn yang harus sibuk di luar. Walaupun tidak ada lagi ancaman invasi Vlonhard, tetapi ancaman monster gunung masih nyata.”


“Aku bisa melakukan hal yang sama, Yang Mulia, sesibuk apapun aku.”


“Bukannya tidak sopan, Kakek Glenn, tapi Anda sudah tua. Di samping banyak dari cucu-cucu Anda yang lain yang mesti Anda perhatikan. Allios akan sulit menjadi prioritas Anda.”


“…”


“Percayakanlah Allios padaku, Duke. Aku takkan mungkin menelantarkannya sejak Albert sudah kuanggap layaknya kakakku sendiri. Di samping jika Anda merindukan Allios, pintu istana akan selalu terbuka untuk menyambut kunjungan Anda.”


Setelah lama terdiam, akhirnya Duke Rodriguez pun menjawab, “Baiklah, jika Yang Mulia memaksa, maka aku tidak akan menanyakan banyak hal lagi. Aku percayakan penjagaan Allios ke tangan Anda.”


Demikianlah, hak asuh Allios jatuh ke tanganku. Dia tidak seperti Ilyaas yang bisa aku jadikan anak adopsi perihal ketatnya konstitusi kekaisaran yang menyangkut urusan adopsi seseorang masuk ke keluarga kekaisaran. Itulah sebabnya, sama halnya dengan Albert dulu, aku memasukkan Allios di daftar keluarga sebagai calon ksatria eksklusif keluarga kekaisaran.


Kemudian yang tersisa, eksekusi para paladin pemberontak yang hampir saja meruntuhkan pundi-pundi kekaisaran. Akan sangat menyakitkan untuk kehilangan orang-orang berbakat di saat pertarungan dengan benua iblis sudah semakin dekat. Tapi membiarkan potensi bahaya seperti mereka untuk masih hidup berkeliaran secara bebas, kurasa itu akan menjadi potensi bahaya yang lebih besar.


Itulah sebabnya aku memutuskan untuk menyegerakan eksekusi mati mereka tanpa melihat ke belakang lagi. Bersamaan itu pula, eksekusi Fabian pun turut dilakukan.


Tiada lagi pertentangan dari bekas wilayahnya di Litrum. Mereka dengan rela hati kini menerima nasib eksekusi mati Fabian sepenuhnya. Andai saja aku bisa menyadari adanya pengaruh sihir hitam dalam pengambilan keputusan mereka untuk memberontak lebih cepat, pastilah bawahan seberharga Duke Hugord van Litrum tidak harus meninggal dalam pemberontakan karena prosesnya.


Betapa aku sangat menyesalinya.


Rupanya, apa yang menyebabkan selama ini wilayah Litrum dan juga Aamora dan Ignitia melakukan pemberontakan adalah karena semuanya terhipnotis oleh pengaruh air kutukan.


Meskipun orang-orang itu melakukan pemberontakan lantaran di bawah pengaruh sihir hitam, namun pada dasarnya itu berasal dari amarah terdalam di hati mereka sendiri yang dicuatkan ke permukaan oleh air kutukan. Itu sebabnya akan sulit pula untuk membebaskan mereka dari jeratan hukum kekaisaran.


Aku sudah berusaha meringankan hukuman mereka seringan mungkin, tetapi tetap saja Departemen Kehakiman membutuhkan kambing hitam atas semua kejadian ini. Mereka yang membantu dalam pemberontakan pun walau di bawah pengaruh air kutukan sekalipun, pada akhirnya dilepaskan dari gelar bangsawan mereka dan harus menjalani sisa-sisa hari mereka sebagai rakyat jelata.


Setidaknya, aku berhasil mencegah eksekusi mati atau penjara seumur hidup bagi mereka. Tentu saja, sedari awal mereka memang tidak pantas mendapatkan hal tersebut.


Hukuman itu dijatuhkan kepada semua pemberontak, tidak terlepas kepada kakak sepupuku sendiri, Vultan de Ignitia.


Kak Vultan mengutuk dirinya sendiri karena termakan nafsu jahatnya. Dia berkali-kali memohon maaf padaku walaupun aku berulang kali sudah mengatakan bahwa telah memaafkan dia.


Kalau aku memikirkannya kembali dengan pandangan objektif, wajar jika semua orang memiliki pikiran negatif di dalam dirinya kecuali jika orang tersebut benar-benar orang suci sejati. Itu bukanlah dosa jika seseorang berpikir jahat selama mereka tidak mempraktikannya. Namun aku pula bisa memahami darimana hesitasi Kak Vultan itu berasal.


Kekacauan yang terjadi perihal ulah Damian dan para paladin tidaklah sepenuhnya menghasilkan hasil yang negatif. Berkatnya pula, kini Kekaisaran Meglovia di Benua Ernoa, Kerajaan Geria dan Persatuan Pulau Kembar di utara Benua Selatan Ifrak, serta Kerajaan Indonesista di selatan Benua Timur Asium telah mengokohkan hubungan unilateral mereka baik di bidang perdagangan maupun diplomasi.


Dalam prosesnya, Kerajaan Rosea di barat daya Benua Asium yang merupakan sekutu lama Kerajaan Indonesista juga turut bergabung bersama fraksi kami. Alhasil, sebagian besar kekuatan dunia kini telah berkumpul bersamaku.


Itu tentunya akan membuat Kekaisaran Tong Kong semakin waspada kepada kami dan tak akan pernah berpikir secara enteng lagi untuk mengacaukan kekaisaran kami.


Kabar yang menggembirakan datang pula dari Benua Ifrak di selatan. Karena kekacauan yang kubuat di Kerajaan Maosium dengan membunuh raja serta keturunan-keturunannya, Kerajaan Geria kini telah berhasil mencaplok wilayah tersebut.


Tentu saja sebelum melakukannya, mereka meminta pendapat dulu dariku sejak kekaisaran kamilah yang secara resmi telah menaklukkan Kerajaan Maosium. Aku juga tidak tertarik menguasai wilayah yang terpisah daratan dengan wilayah kekuasaanku. Gate kata Dokter Minerva sulit untuk dijalankan di wilayah yang terpisah oleh lautan karena adanya gangguan aliran mana yang berasal dari lautan yang juga belum bisa dia jelaskan penyebabnya.


Akan lebih efektif bagi kami untuk memberikan saja wilayah itu kepada sekutu kami. Tentu saja aku memberikannya dengan catatan bahwa mereka tidak akan pernah melakukan diskriminasi kepada rakyat sipil yang dulunya berasal dari Kerajaan Maosium. Untuk memastikan hal itu, aku menempatkan beberapa familiarku di sana untuk mengawasinya.


Ada pula ketakutan kalau mereka justru bisa memanfaatkan hal tersebut untuk menyusun kekuatan demi menjatuhkan Kekaisaran Meglovia. Itulah sebabnya, aku tidak boleh lengah.


Oh iya, jika ada di antara kalian yang penasaran tentang Persatuan Kepulauan Kembar yang kusebutkan di awal, itu tidak lain yang dikenal di Benua Ernoa sebagai Persatuan Kepulauan Selatan, tempat tinggal asal Nunu dan Olo.


Dan di sinilah aku saat ini, setelah hari-hari yang berat yang kujalani selama ini, aku akhirnya bisa bersantai kembali. Jika ada yang berbeda, kini tidak ada lagi Albert di sisiku yang bebas aku permainkan sesuka hatiku yang selalu menunjukkan ekspresi yang menarik di wajahnya tiap kali kupermainkan.


Sebagai gantinya, ada Allios di sisiku.


Kulihat dia dan anak-anakku bermain dengan begitu cerianya.


Sementara itu, Illies disusui dengan penuh cinta oleh sang ibu tercinta, Talia. Adapun saudara kembarnya, Illios, sedang digendong oleh istriku yang lain, Lusiana. Kak Vierra kebagian merawat anak-anak yang sudah lumayan besar.


“Kiyaak.”


“Ummmaaah.”


Tapi pemandangan apa yang kulihat barusan?


“Valia, apa yang sudah kamu lakukan pada Allios?!”


Anakku yang masih berusia dua tahun itu men-sun Allios tepat di mulutnya, suatu adegan yang tak pernah terbayangkan di kepalaku sebelumnya akan dilakukan oleh seorang anak kecil yang bahkan masih tertatih-tatih dalam berjalan.


“Huek, huek, huek.”


Mungkin karena mendengarkanku berteriak keras, Ruvaliana menjadi kaget lantas pada akhirnya menangis. Tangisan anak kecil itu bagaikan rantai yang terus sambung-menyambung. Melihat Ruvaliana yang menangis, Allios yang ada di dekatnya pun turut menangis. Setelah itu diikuti oleh Ilyaas, Farhaad, hingga pada akhirnya Illies dan Illios yang ada di pangkuan para ibu pun, turut menangis.


Hanya Helion, anakku yang tertua yang tidak turut menangis, malahan kulihat dia membelai-belai rambut Ruvaliana, mungkin dengan maksud untuk menenangkannya. Anakku Helion itu memanglah dewasa. Dia memanglah anak kebanggaanku.


Akan tetapi, tiba-tiba kulihat Helion melangkah ke arahku. Lalu secara tiba-tiba,


“Ouch!”


Dia menyepak tulang keringku tanpa pemberitahuan hingga aku mengeluarkan suara aneh.


Apa ini? Apa ini wujud protes Helion karena aku baru saja membentak adiknya?


Wah, anakku ini benar-benar sesuatu melebihi bayanganku.


Jujur, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa sebagai ayahnya pada saat itu. Jelas tindakan Helion saat itu tidak terpuji karena di samping tidak hormat pada ayahnya sendiri, dia juga menyelesaikan sesuatu dengan kekerasan. Tetapi di sisi lain, aku bangga padanya karena berani membela adiknya sendiri sebagai bentuk rasa sayangnya kepada adiknya itu.


Entah ini sikap yang akan mendidik Helion dengan baik, tetapi aku hanya menepuk kepalanya lantas menggendongnya, lalu kukatakan kepadanya yang sudah berusia lima tahun menjelang enam tahun yang artinya sudah bisa berbicara dengan baik dan paham dengan kata-kata sampai taraf tertentu pula,


“Helion, itu sikap yang buruk. Jika kamu marah pada seseorang, maka terlebih dahulu kamu harus menyampaikannya dengan kata-kata dan berusaha sebisa mungkin menyelesaikannya tidak dengan kekerasan. Paham?”


Namun Helion tidak menjawabku. Tetapi dia justru memelukku dengan erat sembari membenamkan kepalanya di dadaku. Aku bisa merasakan air matanya tumpah yang membasahi pakaian yang kukenakan. Aku pun hanya menepuk pundak putraku itu dan merahasiakan tangisannya baik kepada para ibu maupun kepada adik-adiknya.