
Usai bencana vampir yang dibayar dengan kematian adiknya, Ilene, Helios menyelidiki kembali virus yang menyebabkan bencana vampir itu. Dari hasil penelitiannya, Helios pun berhasil menemukan struktur dasar sang virus lantas berhasil pula memodifikasinya menjadi senjata biologis yang mampu mendengarkan perintahnya.
Virus itu kemudian Helios gunakan untuk membuat kedua witch, Angele dan Marie, terluka parah sewaktu pertarungannya melawan mereka berdua.
Namun, virus modifikasi yang dikembangkan oleh Helios itu sejatinya adalah virus yang menginfeksi r-RNA tiap sel tubuh, yang berarti adalah mungkin untuk membangkitkan seseorang dari kematiannya dengan menginfeksikan virus tersebut ke dalam tubuh mayat yang ingin kita bangkitkan tersebut.
Namun, perkara jiwa adalah hal yang lain yang di luar kekuasaan manusia yang bahkan sampai saat ini tidak ada satu pun ilmuwan yang mampu mengungkap misteri di baliknya, Dokter Minerva berhipotesis bahwa itu terletak jauh di dalam hati seseorang, berkebalikan dengan pandangan para ilmuwan lain yang menyatakan bahwa itu letaknya di jantung, berkat beberapa hasil eksperimennya selama ini terhadap mayat manusia.
Tetapi bahkan setelah Dokter Minerva membedah secara keseluruhan hati manusia tersebut satu demi satu, sama sekali tidak ditemukannya petunjuk satu pun mengenai keberadaan jiwa itu di dalamnya.
Begitulah misteriusnya jiwa sehingga seharusnya Helios jauh lebih tahu bahwa dengan serta-merta membangkitkan tubuh orang mati dengan virus, itu tidak akan membuatnya hidup karena kekurangan esensi jiwa tersebut. Orang mati yang dibangkitkan hanya akan menjadi zombie.
Namun Helios saat ini tidak berada dalam kondisi normalnya. Dia mengalami kegilaan pasca trauma akan kematian Albert. Dia pun melakukan itu tanpa lagi bisa berpikir dengan jernih.
Virus-virus modifikasi dimasukkan ke dalam tubuh Albert melalui perantara aliran mana. Dalam sekejap, virus-virus itu mulai menginfeksi tiap-tiap sel baik yang sudah mati ataupun yang masih hidup yang terdapat di seluruh tubuh Albert.
Alhasil, Albert benar-benar terbangkitkan. Namun tentu saja bukan sebagai manusia, melainkan sebagai zombie yang tak punya pikiran.
“Albert, akhirnya kamu hidup kembali. Nah, mari sekarang kita balaskan dendammu pada orang-orang yang telah melakukan semua ini padamu.”
“Ba… ik… Mas… te… r…”
Sang zombie Albert kemudian mulai melakukan perburuannya. Dimulai dari dalam hutan, dia memburu tiap paladin yang sebelumnya melarikan diri hingga tak bersisa.
Sang zombie Albert berjalan dengan lambat, namun berkat Helios yang memberikan tangkapannya kepada sang zombie Albert, tiap paladin berhasil dibunuhnya dengan mengoyak tiap daging dan kulit mereka.
Usai perburuan paladin di hutan monster, kini sang zombie Albert dan Helios bertolak ke wilayah Lugwein. Dari ingatan yang masih tersisa di otak Albert dan berdasarkan aliran mana yang membuat Helios bisa mendeteksi perasaan bersalah atau bahkan ketakutan karena menyembunyikan kebohongan, Helios dengan mudah menemukan para pengkhianat yang telah membantu Damian menjalankan rencananya meminumkan air kutukan kepada Albert.
Tanpa hesitasi, Helios menyerahkan mereka kepada sang zombie Albert untuk dihabisi.
Helios benar-benar dalam kegilaannya hingga dia mengacaukan sendiri negeri yang selama ini berusaha dia jaga kedamaiannya. Usai membasmi semua pengkhianat di barat laut benua itu, Helios dan sang zombie Albert bertolak, langsung terbang menuju ke timur benua untuk membasmi para paladin tersisa yang menyebabkan pemberontakan beserta para pemberontak pengikutnya.
Sayangnya, sang zombie Albert akhirnya menunjukkan tanda-tanda keanehan yang membuat Helios terpaksa mendarat di kala masih di tengah perjalanan.
Tubuh sang zombie Albert mulai membusuk. Bagaimanapun kuatnya kemampuan sang virus meregenerasi sel, itu tak dapat mengembalikannya ke wujud seratus persen. Secara perlahan, sel-sel di tubuh Albert hanya akan terus terdegradasi perihal kemampuan pemulihan virus jauh lebih lambat daripada kemampuan bakteri alam dalam menguraikan sisa-sisa makhluk hidup yang telah mati.
Keberadaan zombie tak dapat diterima oleh konsep alam, tak jauh bedanya dari asal virus itu sendiri yang berasal dari produk sorcery yang menentang hukum alam.
Albert pun mulai kehilangan kemampuan untuk bergerak.
“Albert?”
“Uaaagghhh.”
Bahkan ucapannya kini semakin tidak jelas.
Lalu tak butuh waktu lama bagi sang zombie Albert, hanya butuh waktu tiga hari dua malam, bagi itu untuk benar-benar tak dapat bergerak lagi. Semua virus di dalam tubuh Albert telah berhasil disirnakan oleh kekuatan alam.
***
Sementara itu di istana, Yasmin dan Dokter Minerva tengah panik karena sampai saat ini mereka belum berhasil untuk mentracking keberadaan Helios.
Lalu jauh di dalam suatu kamar di istana, terbaringlah Theia, ibu Helios, yang belakangan ini sering sakit-sakitan perihal stres berat usai kematian suami dan anak-anaknya secara beruntun.
Tiada yang mengetahui semua ini perihal racun itu begitu murni bahkan lolos dalam deteksian Helios yang bisa dengan jelas melihat aliran mana apapun.
Sejatinya, tidak hanya Albert, Theia pun selama ini telah diberikan minum air kutukan secara rutin untuk menyantetnya. Dan itu bukan baru-baru ini, melainkan sudah sangat lama yang dimulai ketika nubuat ketiranan masa depan Helios diumumkan di kuil suci.
Pelakunya sangat mahir memanipulasi Theia dalam memberikannya racun dengan menyamarkannya sebagai air suci yang dikatakan untuk mengobati sakit kepalanya yang berkepanjangan pasca nubuat itu padahal sejatinya air yang diberikan oleh kuil suci itulah racun yang menjadi penyebab utama sakit kepalanya yang perlahan kian menggerogoti tubuhnya dengan air racun yang berupa air kutukan yang tercipta dari ritual sorcery sang witch kutukan.
Perlahan, air kutukan bekerja merusak pikiran Theia. Dia pun perlahan demi perlahan, melihat anak yang dulunya sangat dicintainya, kini melihatnya seperti najis. Itu semua perihal pengaruh air kutukan tersebut, bukannya Theia benar-benar membenci Helios.
Ya, sejatinya Theia tidak pernah sekalipun membenci Helios. Semua sikapnya selama itu hanyalah buah dari pengaruh air kutukan yang merusak pikirannya.
“Apa yang selama ini telah kulakukan?”
Dengan linglung, dia berlari menuju koridor istana meninggalkan para golem es yang menjadi pelayan dan pengawalnya. Di situlah dia bertemu Yasmin.
“Ayo cepat, kita harus menemukan Lios.”
“Apa yang…”
“Helios, Helios anakku! Aku tahu keberadaannya sejak kami memiliki ikatan batin.”
Yasmin sejenak terpaku dengan perubahan sikap Theia kepada Helios yang tiba-tiba itu yang terlihat sangat mengkhawatirkan Helios padahal biasanya dia justru sangat membencinya. Namun, dia tidak bisa mengabaikan apa yang baru saja dikatakan oleh Theia. Tanpa berpikir panjang, Yasmin pun segera membawa Theia keluar dari istana untuk menunjukkan tempat di mana Helios berada.
***
“Mengapa? Mengapa semua orang yang kusayangi pergi meninggalkanku?! Aaaakkkkkhhhh!”
Dengan putus asa, Helios berteriak.
“Tidak cukup dengan Leon, Ayahanda, Kak Tius, Ilene, kini Albert, satu-satunya bawahan kepercayaanku turut meninggalkan sisiku.”
Air mata Helios jatuh berlinang secara tidak sadar membasahi tanah. Dia hampir merasa dunianya benar-benar berakhir.
Namun di kala itu, sebuah suara tiba-tiba terdengar olehnya.
“Itu salah kan, Master. Aku, Minerva, Alice, Nunu dan yang lain senantiasa menunggu Anda.”
Itu adalah Yasmin.
“Selain itu, bukankah Nyonya Talia, Nyonya Vierra, Nyonya Lusiana, Lion kecil, Valia kecil, Iyas kecil, Aad kecil, juga Illios dan Illies yang masih bayi juga menunggu kepulangan Anda sebagai suami serta ayah mereka?”
“Tapi jika aku aku terus bersama mereka, suatu saat mereka juga akan direnggut dari sisiku. Mungkin benar kata Ibunda, aku adalah anak pembawa sial.”
“Itu salah, Lios sayang!”
Di kala itu, Helios baru memperhatikan rupanya Yasmin tidak datang sendiri ke tempat itu. Dia datang bersama sang ibunda, Theia.
“Ibunda? Lios sayang… Itu… Maksudnya…”
Helios pun keheranan dengan perubahan sikap ibundanya yang tiba-tiba itu. Itu telah terlalu lama hingga sudah samar di ingatannya nama panggilan yang sering ibundanya itu panggilkan kepadanya dengan penuh kasih sayang ketika masih kecil.
Theia seketika memeluk Helios erat lantas menangis bersamanya.
“Maafkan Ibunda, Sayang. Maafkan. Ibunda juga tidak tahu mengapa Ibunda selama ini menggila dan mengabaikanmu sebagai anak Ibunda. Ibunda menyesal.”
“Ibunda… Helios senang setidaknya di akhir, Helios bisa melihat sosok Ibunda yang lembut kembali kepada Helios, walau ini hanyalah ilusi semata.”
Sayangnya, Helios menganggap pemandangan itu hanyalah ilusi baginya dan dia pun jatuh pingsan karena demam tinggi yang dideritanya. Entah mengapa pula Theia yang berada di dekat Helios saat itu yang di dalam tubuhnya memang sudah terdapat air kutukan, juga turut pingsan perihal air kutukan itu menunjukkan suatu reaksi.
Yasmin teramat sedih melihat pemandangan itu. Dia entah mengapa teringat kembali akan sosok kakaknya, Hector, dan ibunya, Ratu Hecuba ketika melihat penderitaan sang master beserta ibunya. Yasmin tidak ingin Helios mengalami nasib yang sama dengan kakaknya yang bodoh hingga berakhir tragis.
Yasmin tidak ingin Helios turut pula dihancurkan oleh nubuat. Yasmin pun memutuskan untuk menggunakan kekuatan witch-nya setelah sekian lama secara besar-besaran untuk membalikkan hukum dunia secara besar-besaran pula.
Bayangan hitam seketika menyelubungi tubuh Helios dan Theia. Sesaat kemudian, mereka berdua sudah tidak berada di tempat tersebut.
“Kumohon, Master. Hidup bahagialah bersama dengan ibu Anda dengan melupakan semua ingatan pahit itu dengan identitas baru Anda.”
Demikianlah ujar Yasmin sebelum akhirnya mulutnya mengeluarkan penuh darah dan dia jatuh tersungkur ke tanah.
“Tak kusangka Cassandra yang terkenal sebagai witch yang sedingin es justru rela mengorbankan dirinya sendiri demi manusia rendahan.”
Siapa menduga di samping Yasmin yang tengah sekarat telah berada Angele dengan hawa membunuh yang pekat.