
“Pemandangan apa ini?”
Rowen de Ignitia yang kala itu digendong oleh salah satu familiar golem es milik Helios, akhirnya mampu melihat pemandangan horor apa yang sedang terjadi di dalam internal Kerajaan Cabalcus tersebut.
Di situlah Rowen baru mengingat kembali bagaimana penampilan Helios yang ditemuinya. Tangannya mengenakan cakar yang diselimuti darah serta aura hitam nan dingin mencekam yang mendalam bagaikan pemburu sadis yang sedang memburu mangsanya.
Timbullah imajinasi-imajinasi liar di dalam pikiran Rowen dengan menghubungkan kedua hal itu.
“Tidak, tidak, tidak… Itu tidak mungkin begitu kan?”
Dia sempat berpikir bahwa Helios-lah yang melakukan pembantaian berdarah tersebut. Namun ketika tersadar kembali dalam imajnasinya, Rowen segera kuat-kuat menolak hal itu. Pikirnya, mana mungkin hal tersebut dilakukan oleh seorang manusia. Jikalau ada, itu pastilah seekor binatang buas atau monster.
Namun, dengan melihat banyaknya jumlah korban, pastilah akan ada banyak pula hewan buas ataupun monster yang melakukannya. Akan tetapi, lama perjalanan Rowen, dia hanya menyaksikan mayat manusia berhamburan di mana-mana. Dia sama sekali tidak menemukan satu pun sosok binatang buas ataupun monster yang diduganya melakukan hal tersebut.
Karena penasaran, Rowen pun memberontak menggunakan kekuatan sihirnya yang tidak seberapa itu untuk turun dari golem Helios. Akan tetapi alhasil, dia berhasil.
Satu hal yang menjadi rasa penasaannya, siapa atau apa sebenarnya yang menyebabkan pemandangan horor tersebut. Rowen lantas segera bertanya kepada salah satu warga yang selamat yang justru terlihat sangat baik-baik saja tanpa lecet sedikit pun di tubuhnya.
“Siapa yang melakukannya?” Rowen bertanya dengan penasaran.
“Itu… Itu monster! Itu bukan manusia! Dia mengoyak isi perut tiap korbannya lantas mengeluarkan isinya dengan terlihat sangat puas. Itu monster yang berwujud manusia! Lihat saja matanya yang hitam dan juga rambutnya…”
Sang saksi mata lantas melihat baik-baik ke arah Rowen de Ignitia. Itu adalah ciri-ciri yang sama persis dari monster yang diingatnya. Mata hitam dan rambut hitam.
“Aaaaaakkkkkhhhhh! Tidak, tidak, monster! Kumohon setidaknya jangan bunuh anakku. Kumohon!”
Rowen de Ignitia adalah orang yang kikuk, namun bukan berarti dia adalah orang yang tidak cepat tanggap. Menghubungkan semua bukti-bukti yang ada, dia telah meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin apa yang dipikirkannya itu benar.
Walaupun samar-samar, Rowen bisa menyimpulkan dari keterangan saksi bahwa pelaku kejadian tersebut adalah seorang manusia yang terlihat seperti monster dengan ciri-ciri fisik mata hitam dan rambut hitam.
Bukti bahwa saksi tadi berteriak histeris setelah melihat wajah Rowen yang juga memiliki mata hitam dan rambut hitam, yang mungkin memunculkan ingatan sang saksi tentang pelaku kejadian sadis tersebut, memperkuat dugaan itu.
Siapa yang melakukan semua ini adalah tidak lain Helios de Meglovia, sepupu kandungnya sendiri.
Helios de Meglovia adalah seseorang yang dikenalnya memiliki kepribadian yang baik dan lembut. Dia juga cerdas melihat bagaimana dia bisa menemukan banyak penemuan untuk kemajuan umat manusia seperti potion peningkatan mana, mana charger, berbagai obat-obatan herbal, dan lain sebagainya.
Walaupun Helios cukup naif, tetapi tidak salah lagi, Helios yang dikenalnya adalah seseorang yang benar-benar melambangkan seperti apa sosok seorang pangeran yang berwibawa seharusnya.
Namun, menyaksikan pemandangan Helios de Meglovia yang terakhir ditemuinya sebelumnya, dia yakin memang telah terjadi sesuatu yang aneh pada diri sepupu kandungnya itu.
Sebagai salah satu pengikut kuil suci, tepatnya kuil suci sekte penyembah bintang, walaupun dia tidak terlalu mendalami ajaran kuil suci itu, setidaknya dia telah mendengar salah satu ramalan yang dikeluarkan oleh mereka yang paling terkenal.
Tentang kemunculan pahlawan di era krisis umat manusia perihal invasi raja iblis. Dan sebagai awal pemicu kejadian tersebut adalah kemunculan seorang tiran yang menyebabkan kerusakan di seluruh dataran Benua Ernoa. Lalu yang diramalkan sebagai tiran tersebut adalah tidak lain dan tidak bukan seorang pangeran kedua dari Kerajaan Meglovia yang bernama Helios de Meglovia.
Akan tetapi, Kerajaan Ignitia menjalin baik hubungan diplomatik maupun hubungan perdagangan yang erat dengan Kerajaan Meglovia yang tidak memungkinkan mereka untuk melakukan tindakan tidak sopan seperti tidak menghadiri upacara pernikahan salah satu pangeran dari kerajaan itu.
Rowen de Ignitia akhirnya keluar sebagai tumbal untuk menghadiri undangan pernikahan yang dihindari oleh seluruh keluarga kerajaan Ignitia tersebut.
Namun begitu Rowen bertemu Helios de Meglovia sendiri secara langsung dan mengenal karakternya, seluruh prasangka buruk Rowen pun sebelumnya seketika sirna. Dia segera menganggap bahwa ramalan itu hanya sekadar ramalan konyol tanpa arti.
Tetapi di situasi mencekam saat ini, dia kembali berpikir bahwa tampaknya tidak demikian.
Memang mungkin benar bahwa ada sosok monster yang sedang bersemayam di dalam diri adik sepupunya itu dan itulah yang kini telah terbangun yang menyebabkan seluruh dataran Kerajaan Cabalcus menjadi porak-poranda.
Lantas apa yang menyebabkannya?
Rowen seketika teringat kembali sosok Tius Star Meglovia. Dia baru tersadar bahwa ketika Rowen menanyakan keadaan Tius kepada Helios, Helios hanya tersenyum kecut tanpa menjawab pertanyaannya itu.
Bagaimana jika sampai terjadi suatu apa-apa kepada Tius Star Meglovia dan itulah yang menyebabkan terjadinya kegilaan pada adik sepupunya, Helios, tersebut? Memikirkan itu, perasaan Rowen tiba-tiba saja menjadi tidak enak. Dia juga sama khawatirnya dengan keadaan adik sepupunya yang lain, Tius.
Namun, begitu Rowen baru akan menyusun kembali pikirannya, golem es milik Helios segera terlanjur menyeretnya kembali.
Tetapi menurutnya itu tidak bisa dibiarkan. Sebodoh apapun dirinya sebagai seorang keluarga kerajaan yang hanya tahu bersenang-senang, dia setidaknya tahu bahwa dia harus segera melakukan sesuatu pada keadaan itu sebelum semua keadaannya bertambah gawat.
Barier yang kuat sedang menyelubungi seisi Kerajaan Cabalcus sehingga kecil kemungkinan bahwa apa yang sedang terjadi di internal Kerajaan Cabalcus ini telah diketahui oleh dunia luar. Dia tidak bisa menunggu untuk sampai ke Kerajaan Ignitia dulu baru melaporkan keadaannya di sana.
Dia harus segera melaporkan kejadian tersebut kepada istana Kerajaan Ignitia sesegera mungkin.
Dia pun memutuskan untuk menggunakan kartu truf yang menjadi rahasia internal keluarga Kerajaan Ignitia selama ini.
Seni spirit burung gagak bayangan.
Itu lumayan mirip dengan seni sihir objek familiar milik Helios, namun berbeda. Nyatanya, mungkin hanya Helios saja manusia di dunia ini yang mampu meniru kemampuan sang witch objek, Isis, dalam mentransfer antara bentuk astral ke bentuk nyata maupun sebaliknya.
Apa yang dilakukan Rowen adalah versi yang masih bisa dilakukan oleh seorang manusia. Seni sihirnya memiliki prinsip yang sama ketika seseorang mempertajam pedangnya dengan aura atau ketika seseorang penyihir melindungi diri mereka dengan barier astral. Itu adalah versi burung gagak astral yang berasal dari kumpulan mana yang tidak memiliki fisik.
Namun, kehebatan dari seni sihir rahasia keluarga Kerajaan Ignitia tersebut terletak pada bentuk astral yang bisa memiliki memori ingatan untuk sementara waktu. Rowen pun mensummon seni sihir spirit burung gagak bayangannya untuk merekam memori ingatannya lantas segera disampaikan kepada keluarga kerajaan Ignitia yang lain di istana.
Seni sihir yang sampai menghabiskan setengah jumlah mana seseorang dalam keadaan normal. Namun sebagai hasilnya, informasi bisa segera diteruskan secepat kilat. Belum ada yang bisa menyamai kekuatan keluarga Kerajaan Ignitia tersebut dalam kecepatan mereka berbagi informasi di antara sesama mereka sendiri bahkan dengan teknologi sains yang dikembangkan oleh Helios di Kota Painfinn sampai saat ini.
Kuncinya berasal pada teknik spirit yang diadopsi keluarga Kerajaan Ignitia dari Benua Asium. Sebagai ras yang sentimen kepada pemilik rambut hitam, hampir semua negeri di Benua Ernoa menolak teknik spirit itu dan ternyata justru itu pulalah yang menyebabkan perkembangan peradaban mereka menjadi terhambat. Namun, mari kita bahas cerita itu lain kali.
Dalam sekejap, bahkan tidak memakan waktu lebih dari sepuluh detik, pesan Rowen tersebut segera sampai kepada Raja Kerajaan Ignitia, Algebra Star Ignitia. Begitu sang raja mentransfer isi pesannya ke ingatannya, dia pun seketika tak dapat lagi mengendalikan ekspresi paniknya.
Sang raja dengan bergegas segera mengirim pesan lanjutan kepada Kerajaan Meglovia. Tentu saja kali ini hanya dengan menggunakan kurir burung pengantar pesan yang biasa sejak seni spirit burung gagak bayangan hanya bisa dilakukan antarsesama keluarga kerajaan Ignitia saja, sementara adiknya, Alfreon Sun Meglovia, Raja Kerajaan Meglovia tersebut, yang walaupun sebenarnya juga bisa menggunakan seni sihir yang sama, masih terbujur sakit tak berdaya.