Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 57 – LEON VS LEPRECHAUN



“Yang Mulia Pangeran, ini adalah hasil penyelidikan Rabbit terhadap target.”


Leon kemudian menerima selembar kertas dari salah seorang penjaga bayangannya.


“Kerja bagus, Rooster. Tetap bersikap seperti biasa agar kalian tidak menarik perhatian para familiar Pangeran Kedua.”


“Siap laksanakan.”


Bersamaan dengan itu, pajurit wanita dengan topeng ayam itu pun kembali menyatu bersama dengan bayangan.


“Hmm. Ini aneh. Mengapa Kakak masih mempunyai kekuatan mengawasiku bahkan setelah dua hari memasuki hutan monster?”


Leon merebahkan badannya pada sandaran kursi bersikap sebiasa mungkin.


“Jadi bagaimana aku bisa memulai penyelidikanku padanya jika Kakak masih terus saja mengawasiku?”


Akan tetapi beberapa saat setelah Leon mengatakan hal tersebut, familiar dari kakaknya yang sejak dari dahulu mengawasinya itu secara tiba-tiba saja terjatuh ke tanah. Familiar itu telah kehilangan aliran mana-nya yang berarti koneksinya terhadap Helios telah menghilang. Seakan menjawab doa Leon, Leon benar-benar telah lepas dari pengawasan sang kakak.


“Hmm. Akhirnya yang ditunggu tiba juga. Inilah saatnya aku bemain proaktif. Rooster, panggilkan Jilk kemari. Kita harus segera memastikan niat anjing kuil itu datang ke Kota Painfinn ini.”


“Siap laksanakan.”


Tanpa perlu menunggu lama, Jilk dengan membawa Damian bersamanya datang menghadap ke hadapan Leon.


“Oho, halo Damian. Apa haruskah aku memanggilmu sebagai anjing kuil suci?”


“Maafkan hamba yang hina ini, Yang Mulia Pangeran Ketiga. Aku sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Anda.”


Namun, alih-alih mendengarkan Damian, Leon segera melemparkan belati yang dilapisinya dengan aura api kepada Damian. Damian pun menangkap belati itu dengan mudahnya hanya dengan memanfaatkan satu tangan.


“Jadi kamu mau mengelak?”


“Jika Anda berbicara soal keyakinan hamba soal kuil suci, sebagai rakyat Kerajaan Meglovia yang taat hukum, itu tentu saja, Yang Mulia Pangeran.


“Hah, sebagai rakyat jelata, tidak hanya kemampuan bertarungmu, kemampuanmu dalam berkilah lidah ternyata juga sangat hebat ya, Damian. Di mana kamu belajar?”


“Aku tidak tahu apa-apa soal berkilah lidah yang Anda maskudkan itu, tetapi jika itu kemampuan bertarung, ini semua hamba dapatkan berkat didikan Baron Giberont fin Losso yang hebat, Tuanku. Dibandingkan Beliau, hamba tidak ada apa-apanya, Tuanku.”


“Oho. Kukira sebelumnya itu semua berkat didikan Keluarga Peronaz.”


Damian tampak berusaha berekspresi sedatar mungkin, tetapi dia tak dapat menyembunyikan ekspresi kagetnya itu untuk sesaat di kala Leon menyebutkan nama Peronaz di hadapannya.


“Sebagai anak penjaga kebun di Keluarga Peronaz, kamu telah mencapai prestasi yang luar biasa, Damian. Jika kedua orang tuamu masih hidup, mereka pasti akan merasa sangat bangga kepada putra tunggalnya.”


“Anda terlalu memuji, Yang Mulia Pangeran.”


“Kalau diperhatikan, walau wajahmu ini terlihat biasa, kamu rupanya cukup tampan juga. Apakah ini sebabnya Kak Vierra sempat ragu menikahi Kak Tius? Ada gosip yang mengatakan bahwa kamu sempat menjalin hubungan terlarang dengan tuan putri Keluarga Peronaz yang saat ini menjabat sebagai putri mahkota.”


“Tolong tarik perkataan Anda itu, Yang Mulia Pangeran. Ini penghinaan terhadap Tuan Putri. Hamba dan Tuan Putri mana mungkin melakukan perbuatan tercela seperti itu.”


“Tenang-tenang. Aku tak bermaksud menyalahkan Kak Vierra karena kutahu bahwa dia adalah tipe yang sangat setia dan sangat mencintai kakakku. Tapi aku tidak tahu dengan yang satunya.”


Ujar Leon sembari melirik ke arah Damian. Damian hanya dapat tertunduk sembari menggetarkan giginya. Bagaimana pun, dia harus tetap mampu menjaga sikapnya di hadapan seorang pangeran yang diagungkan.


Leon kemudian berjalan mendekat ke arah Damian yang sedang menundukkan badannya sebagai bentuk penghormatan berdiri di hadapan pangeran. Leon pun menepuk pundak Damian.


“Aku pun juga kurang tertarik mengurusi urusan asmara orang lain, jadi aku tidak akan terlalu memperpanjang masalah ini. Tetapi lebih penting daripada itu, hei, Damian, bagaimana kalau kita berlatih tanding satu ronde?”


Damian yang tak punya kuasa menolak perintah dari seorang pangeran pun, turut mengikuti langkah Leon ke salah satu area latihan prajurit sembari menahan amarahnya. Damian belum dapat memaafkan Leon karena telah menghina cintanya itu.


Pertandingan terjadi di antara keduanya.


Pertandingan kian seru yang semakin banyak menarik perhatian para warga, termasuk para prajurit sekitar untuk menontonnya. Namun, musibah itu pun tiba.


Entah datang darimana, seekor monster ghost, Dullahan, secara tiba-tiba saja datang menyerang ke tengah-tengah pertandingan antara Leon dan Damian.


Leon hampir saja telat menghindari serangan dadakan yang dilancarkan oleh Dullahan tersebut. Akan tetapi, Damian segera menarik kerah Leon sehingga Leon pun berhasil tepat waktu menghindari serangannya.


“Apa-apaan ini? Mengapa seekor dullahan tiba-tiba ada di sini?”


“Yang Mulia Pangeran, harap segera mengungsi. Serahkan saja masalah monster ini pada kami.”


Leon tidak menanggapi perkataan Damian itu. Malahan, pandangan matanya mengandung kecurigaan. Leon masih curiga bahwa ini juga termasuk sabotase Damian. Kemunculan Dullahan yang secara tiba-tiba di sela-sela pertandingan mereka berdua terlalu baik untuk dikatakan murni suatu kebetulan belaka.


Tetapi belum sempat Leon mengatur pikirannya, lagi-lagi terdapat laporan dari para prajurit tentang kemunculan dua monster ghost lainnya secara tiba-tiba di kota itu yang pada awalnya tenang.


“Apa? Leprechaun dan Pooka juga ada di kota ini berbuat kekacauan? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa monster dari dungeon ghost terus bermunculan kemari?”


Dengan laporan yang datang dari Rooster, Leon tidak dapat menahan rasa frustasinya. Kota itu seketika berhasil disusupi oleh monster di waktu yang langka yang seharusnya Leon bisa manfaatkan untuk menyelidiki siapa Damian sebenarnya di kala kakaknya itu, Helios, kehilangan kemampuannya untuk menebarkan familiar penyelidiknya di mana-mana untuk menyelidiki dirinya.


“Sial! Hei, Damian! Aku tugaskan kau untuk mengalahkan Dullahan yang ada di sini.”


“Sesuai perintah Anda, Yang Mulia Pangeran.”


Leon pun tak punya lagi waktu memikirkan soal penyelidikan Damian. Bagaimana pun, keselamatan warga kota adalah prioritas. Entah kakaknya akan meledak seperti apa jika tahu-tahu dia keluar dari wilayah hutan monster lantas menyaksikan pemandangan kehancuran kota.


“Dragon, kamu tetap di sini mengawasi Damian. Sheep, Dog, Horse, Pig, Rat, kalian menuju ke selatan kota berhadapan dengan Pooka. Sisanya ikut aku ke utara kota menghadapi Leprechaun.”


“Siap.” [11x]


Tim itu pun segera terbagi menjadi tiga untuk menjalankan perannya masing-masing.


Di tempat di mana Leon dan para prajurit bayangannya tiba, bagian kota itu mutlak telah diporak-porandakan oleh suatu makhluk kecil yang sama sekali tak tampak mampu menyebabkan kerusakan separah itu dengan tubuhnya yang kecil tersebut.


Dengan kendi di tangannya, Leprechaun mengeluarkan angin yang menghempaskan segalanya. Dengan kendi itu pula, dia mencuri emas, ternak, dan termasuk manusia yang kesemuanya dia hisap masuk ke dalam kendi kecil tersebut.


“Apa-apaan kehancuran ini?”


Melihat pemandangan kehancuran itu, Leon hanya dapat mengutuk frustasi.


Tanpa pikir panjang, Leon segera maju menerjang ke arah Leprechaun yang diikuti oleh keempat prajurit bayangannya di belakang. Namun sayangnya, Leprechaun yang lincah hanya menari-nari melepaskan diri dari pengejaran Leon dan para prajuritnya seakan meledek mereka.


“Sial! Kalau seperti ini, bagaimana bisa aku punya muka lagi menghadapi Kakak?!”


Namun, di saat gundah Leon itu, sesosok bayangan tiba-tiba menghampirinya dengan cepat.


“Yang Mulia Pangeran, harap tenang. Leprechaun memang adalah tipe monster yang seperti itu. Daripada menyerang secara langsung, itu adalah tipe monster yang lebih senang melakukan serangan gerilya. Untuk menghadapinya, kita harus tenang dalam melihat pola pergerakannya. Mari manfaatkan jumlah untuk mendesaknya.”


Leon yang awalnya frustasi, seketika mendapatkan kembali ketenangannya melalui nasihat dari salah satu prajurit bayangan yang paling dia percayai itu. Dialah Rabbit alias Jilk, yang saat ini dia amanahi tugas untuk memata-matai kakaknya sendiri, Helios, yang secara tiba-tiba saja muncul di hadapan Leon lantas menenangkannya.


Jilk pun segera mengambil alih komando dan tampak bahwa Leon juga sama sekali tidak merasa keberatan terhadap hal itu.


Dengan komando Jilk, Rooster, Oxen, Monkey, dan Tiger berhasil menyudutkan Leprechaun. Lalu dengan dorongan dari Jilk, monster Leprechaun itu tanpa sadar berlari ke arah Leon. Leon pun yang sejak dari tadi menunggu di sana dengan senyum intimidasinya yang menakutkan, lantas segera menyambutnya dengan tarian pedang apinya yang indah.


Leprechaun berhasil dikalahkan. Namun, apa yang telah terhisap ke dalam kendi Leprechaun itu, walaupun itu akhirnya berhasil keluar dari kendi, tetapi semua makhluk hidup yang sebelumnya sempat terhisap tersebut, telah lama berada dalam kondisi terbujur kaku tak bernyawa.


Leon pun mengutuk ketidakbecusannya itu. Dia marah, tetapi akhirnya memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Sejak jumlah yang dapat diselamatkannya masih jauh lebih besar daripada yang tidak berhasil diselamatkannya dan juga sejak mereka hanyalah rakyat jelata yang tidak memiliki hubungan yang penting bagi dirinya.


Yang jelas sekarang, apa yang harus dipikirkan oleh Leon adalah soal keamanan kota. Perihal rupanya, itu bukanlah akhir dari kekacauan. Muncul lagi monster yang menyerang secara tiba-tiba di salah satu titik kota yang lain.