Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 181 – SANG IBU, THEIA



[POV Theia]


Mana mungkin aku akan membenci anakku Helios.


Aku dilamar oleh seorang pangeran dari negeri sebelah. Itu sangat membuatku bahagia perihal aku berpikir bahwa pada akhirnya aku bisa menghindari persaingan tahta yang penuh darah ini di istana.


Namun perbedaan warna rambut dan mataku dengan penduduk setempat sempat membuatku minder dengan pergaulan sosial di tempat baruku, terlebih aku melahirkan anak pertama yang juga sama persis dengan warna mata dan rambutku.


Semua itu berubah ketika aku melahirkan anak keduaku, Helios, yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan penduduk setempat. Aku merasa mulai diterima di masyarakat dan hidupku lebih bahagia. Jadi mana mungkin aku akan pernah membenci anakku itu yang memiliki ciri-ciri fisik yang sangat berbeda dari kami?


Tidak, itu salah. Walau Helios terlahir dengan ciri-ciri fisik apapun, aku tentu saja akan tetap menyayanginya.


Di usia Helios sekitar dua atau tiga tahun, kami sekeluarga pindah kembali ke kampung asalku. Siapa sangka bahwa seluruh pewaris sah Kerajaan Meglovia selain diriku telah meninggal. Itu menjadikanku sebagai satu-satunya kandidat penerus raja yang selanjutnya.


Kekuasaan raja pun diserahkan kepada suamiku dan aku menjadi permaisuri tunggal Kerajaan Meglovia. Aku sudah menduga bahwa sejak hari itu, kebahagiaan kami seperti yang kami rasakan sewaktu tinggal di Ignitia mungkin akan segera berakhir. Namun siapa sangka itu jauh lebih buruk dari dugaanku.


Kekuasaan raja dan permaisuri diintervensi oleh kuil suci. Namun demi kebahagiaan anak-anakku, aku bertahan sebagai garda terdepan mereka untuk melindungi mereka dari tangan-tangan jahat yang akan memanfaatkan mereka sebagai tumbal untuk kepentigan politik.


Akan tetapi siapa sangka bahwa suatu nubuat akan tiba untuk Helios. Itu seketika meruntuhkan sebagian dari diriku. Mengapa pula anakku yang masih kecil itu harus dicap sebagai penjahat buruk hanya karena masa depannya diramalkan demikian?


Tiap anak terlahir putih bersih dan peran orang tuanyalah untuk mewarnai anaknya itu dengan kebaikan. Lalu sang anak itu sendirilah yang bisa memilih akan jadi apa diri mereka di masa depan. Tiap anak memiliki potensi untuk menjadi baik atau jahat tergantung dari pilihannya itu.


Jadi mengapa anakku Helios serta-merta dicap penjahat tanpa dia bisa memilih sendiri jalan hidupnya? Itu benar-benar tidak adil buat Helios dan itulah yang membuatku mulai mengalami sakit kepala berkepanjangan.


Saat itu aku masih terlalu naif dan benar-benar berpikir bahwa kuil suci adalah tempat pelarian untuk mencari ketenangan. Aku pun meminum air suci yang mereka berikan yang mereka katakan sebagai obat yang akan meredakan segala sakit kepalaku. Aku sama sekali tak menduga bahwa itu adalah racun, racun yang mengacaukan seisi pikiranku yang berakhir dengan membuatku membenci anak malangku itu.


Meski aku melakukan berbagai perbuatan yang menyebabkan trauma mendalam bagi anak malangku itu lantaran pengaruh racun, itu tidak mengubah fakta bahwa perihal akulah kini anakku berakhir dengan trauma yang besar kepada ibunya. Aku pun merasa sangat bersalah terhadapnya.


Andai saja ada yang bisa kulakukan sebagai ibu kandungnya untuk membuat anakku itu melupakan segala traumanya dan bisa hidup bahagia, maka aku pun pasti akan melakukannya apapun hal itu.


Lalu suatu hari ketika aku terbebas dari pengaruh racun yang mengacaukan isi pikiranku, hari itu benar-benar tiba. Aku dan Lios tiba-tiba saja berada di tempat yang aku tidak kenal sama sekali dengan pakaian asing yang kami kenakan pula.


“Duh, mengapa ibu bengong saja? Bukankah hari ini kita harus wawancara kerja untuk memperoleh pekerjaan sebagai pengurus toko obat-obatan itu, Bu? Ayo cepat.”


Lios ada di hadapanku. Namun ada yang aneh, kami berpakaian layaknya rakyat biasa dan Lios tersenyum dengan tulusnya setelah sekian lama.


Aku tidak tahu dengan apa yang terjadi. Apa yang kami lakukan di tempat ini, mengapa kami ke mari, dan mengapa kami berpakaian seperti ini, semuanya benar-benar ambigu bagiku.


Kalau tidak salah, hal yang terakhir kuingat adalah sosok pelayan setia Lios yang mengikutinya dari Kota Painfinn membawaku ke tempat Lios berada. Di sana, rupanya pelayan Lios lainnya yang sudah mengikutinya sejak usia tujuh tahun meninggal sehingga Lios terlihat begitu putus asa. Lalu kemudian, aku memeluk Lios dengan hangat untuk berbagi kesedihan dengannya. Setelah itu… Mengapa aku tidak dapat lagi mengingat apa yang terjadi setelahnya?


Aku sama sekali tidak paham akan situasi yang sekarang yang menyebabkan kami berakhir si tempat seperti ini. Namun karena kulihat Lios begitu tersenyum bahagia, aku pun turut senang dan mengikuti alurnya begitu saja.


Apakah ini mimpi? Jikalau ini benar-benar mimpi, mungkin tidak mengapalah aku tertidur sejenak untuk menikmati kebahagiaanku bersama Lios kembali, walau dalam mimpi sekalipun.


“Selamat datang.”


“Selamat siang, sang pemilik. Kami aplikan yang akan melamar kerja di toko cabang Anda.”


“Oh, begitu rupanya. Silakan masuk.”


Kulihat Lios berbicara sopan pada seorang biasa. Dia memanglah anak yang sopan yang sering memperlakukan rakyat jelata sekalipun dengan penuh santun. Tetapi tetap saja, aku merasa ada sikap Lios yang aneh hari ini. Dia terlihat seakan-akan berbicara dengan seorang petinggi. Bagaimana mungkin anakku Lios yang telah menjadi seorang kaisar sampai bersikap seperti itu pada orang lain yang terlihat bukan siapa-siapa?


Aku benar-benar tidak paham. Kulihat orang itu melihatku sejenak sembari tersenyum padaku. Aku seketika bergidik dan refleks membuang mukaku. Lalu Lios pun memegang tanganku dengan lembut.


Dia pun berkata, “Maafkan ibuku ini, Bos. Ayah kami sudah meninggal sehingga dia sedikit sensitif pada seorang pria. Biasanya Beliau adalah orang yang ramah.”


“Jadi terkait pekerjaannya, kapan kami bisa bekerja?”


“Oh, itu, kalian bisa bekerja mulai besok. Untuk akomodasi, aku telah menyiapkan kalian rumah…”


Cukup lama Lios mengobrol dengan pria seusiaku itu sebelum meninggalkan bangunan semacam toko tersebut. Lios pun membawaku ke tempat lain setelahnya. Itu adalah rumah yang sangat kecil yang tidak dapat dibandingkan dengan istana megah kami. Walau demikian, terlihat Lios sangat bahagia tinggal di dalamnya dengan terlihat dia segera membersihkan rumahnya dengan penuh kesenangan. Aku turut membantu Lios bersih-bersih.


Di sore harinya, Lios pergi untuk membeli bahan masakan yang biasanya akan dilakukan oleh koki istana kami. Sepulang dari belanja, Lios kemudian mulai memasakkanku makanan untuk makan malam. Kalau diingat-ingat kembali, selama ini Lios tinggal hanya berdua di istana terpencil bersama pelayannya yang telah meninggal itu. Mungkin itu sebabnya Lios telah terbiasa memasak makanannya sendiri sehingga dia bisa ahli dalam memasak.


Tak kusangka masakan Lios benar-benar lezat, lebih lezat dari masakan koki istana manapun yang pernah kurasakan. Kulihat Lios tersenyum padaku karena senang dengan ekspresiku yang jelas terlihat menyukai masakannya. Aku pun ikut tersenyum padanya.


Hari ini adalah hari yang benar-benar indah bagiku sampai-sampai kutakut ketika malam tiba. Itu berarti aku harus tidur. Aku takut bagaimana seandainya ketika aku bangun, aku akan kembali kepada kehidupan memilukan itu di mana Lios harus merasakan penderitaan yang teramat mendalam karena aku yang tak bisa menjaganya?


Membayangkan hal itu saja membuat seluruh tubuhku gemetaran.


“Ada apa, Bu?”


“Ah, tidak ada apa-apa kok, Sayang.”


“Kalau begitu, ayo segera tidur saja, Bu.”


“Iya, Nak.”


Sayangnya, aku hanyalah manusia yang lemah. Aku pun tak kuasa untuk mengalahkan kantuk lalu aku pun tertidur.


Namun keesokan harinya ketika aku bangun,


“Bu, ayo sini lihat. Ini beberapa herbal yang Lios temukan di dalam hutan. Beberapa Lios coba kembang-biakkan sendiri di halaman rumah kita. Juga ada beberapa biji herbal yang Lios tanam. Kuharap ini pun dapat tumbuh dengan baik.”


Lios terlihat sangat senang dalam menikmati hobi-nya bercocok tanam. Tapi tunggu,


“Di dalam hutan?! Lios, apa yang sudah kamu lakukan ketika Ibu tertidur?!”


“Ah, maaf telah membuat Ibu khawatir. Tetapi tenang saja kok, Bu. Lios ini kuat. Tidak ada hewan liar di dalam hutan yang bisa melukai Lios. Jikalau pun ada, aku akan segera mengalahkannya dengan sihir Lios.”


Begitulah ucap Lios sembari menunjukkan sihirnya.


Semua yang sampai saat ini ditunjukkan oleh Lios di dalam mimpiku adalah memang segala kemampuan yang dimilikinya, mulai pengetahuan herbal, sihir, sampai kemampuan hebatnya dalam bernegosiasi. Tapi ada satu yang aneh, Lios berbicara seakan-akan hanya ada kami berdua di dunia ini.


Apakah jangan-jangan ini bukan mimpi? Apakah kami berada di semacam dunia paralel di mana aku dan Lios versi lain di dunia paralel bertukar tempat?


Namun begitu aku memikirkannya baik-baik, aku pada akhirnya menyadari keanehan terbesar saat itu. Aku dan Lios selama ini berkomunikasi tidak dengan menggunakan bahasa Meglovia, melainkan bahasa lain yang kemungkinan milik salah satu negara di Benua Asium berdasarkan dari ciri-ciri leksikalnya.


Kenapa aku sampai telat menyadari hal sepenting itu? Tidak, lebih daripada itu, sejak kapan kami berdua mampu berbicara menggunakan salah satu bahasa dari Benua Asium? Kalau itu hanya Lios seorang masih mungkin karena anakku itu memang pembelajar sejati. Tetapi bagaimana aku yang tak pernah berinteraksi satu kali pun dengan mereka bisa menguasai bahasa mereka?


Ketika menyadari hal itu, aku seketika merinding. Ada yang salah pada kami, terutama dengan fakta bahwa kami melakukan itu dengan tampak begitu alami.


Apakah ini semacam sihir?


Jikalau pun itu benar, apakah tak mengapa jikalau aku berpikir tak masalah?


Karena bagiku, kehidupan sekarang ini jauh lebih menyenangkan, ketimbang kehidupan menyesakkan di istana di mana aku harus melihat anakku hidup menderita.