
Sang wujud raksasa Raja Iblis Ozazil menghempaskan sang hero dengan mudahnya layaknya kecoak.
Tiap terjatuh, sang hero akan bangkit dan bangkit sekali lagi.
Namun tiap kali bangkit, sang hero hanya mampu berjuang sekuat tenaga untuk menghindari serangan sang Raja Iblis perihal perbedaan ukuran dan juga kekuatan mereka yang terlalu jauh.
Sang hero lebih lemah daripada Raja Iblis Ozazil.
Dan itu ditambahkan kini dengan ukuran Ozazil yang tiba-tiba menjadi raksasa.
Bagaikan kecoak yang sedang berjuang mengalahkan manusia, itulah penampilan Helios saat ini.
Sayangnya Helios bukanlah kini dari sudut pandang manusianya, melainkan dari sudut pandang kecoaknya.
Sang hero benar-benar lemah.
Namun demi umat manusia yang menggantungkan harapan mereka padanya, Helios sama sekali tidak pernah bertekad untuk menyerah.
Jika tangan patah, dia akan menggunakan kakinya untuk menendang.
Jika kaki itu pula lumpuh, dia akan menggunakan kepalanya untuk menyundul.
Namun jika seluruh badannya bahkan tidak bisa digerakkan lagi, dengan gigitannya sang hero akan membayar rasa sakit umat manusia terhadap sang Raja Iblis.
Itulah tekad sang hero.
Tiada kata menyerah untuknya.
“Jangan remehkan umat manusia, Raja Iblis sialan!”
“Rasakanlah amarah umat manusia yang berniat kamu hancurkan!”
“Aaakkkkhhhh.”
Alih-alih bisa memberikan rasa sakit kepada Raja Iblis, justru Helios-lah yang selalu berakhir dalam ketakberdayaan.
“Sudah cukupkah akrobatmu? Hoaaam. Aku mulai bosan. Bahkan seekor monyet sekarang bagiku lebih enak untuk ditonton.”
“Haruskah aku menghabisi umat manusia sekarang?”
Suara terakhir Raja Iblis Ozazil itu menggema di sanubari tiap insan yang ada di sekitar.
Tidak hanya sang hero Helios.
Alice, Leon, Albert, Albexus, dan Dokter Minerva yang sedang dalam perjalanan menuju ke sana, bisa mendengarkannya pula dengan perasaan yang aneh yang terasa asing bagi mereka.
Albexus dan Dokter Minerva datang belakangan setelah menyelesaikan urusan mereka di Benua Ernoa.
Setelah saling bertemu dengan yang lain dan Albert siuman, mereka pun berangkat bersama-sama untuk menyusul perjuangan sang hero.
Namun, apa yang mereka kini dapati adalah perasaan sesak tak jelas.
Secara tiba-tiba saja, mereka sulit untuk bernafas.
Itu bukan pengaruh karena kekurangan oksigen.
Mana mati walaupun memicu pengapnya pernafasan, sayangnya bukan itu pula penyebabnya.
Itu adalah nuansa horor yang datang dari aura sang Raja Iblis.
Ketakutan, kengerian, kebencian, amarah, serta perasaan-perasaan negatif lainnya serta-merta bercampur di dalam sanubari tiap orang yang mendengarkan suara menggema itu.
Itu jelas terdengar bersuara, namun di lain pihak seakan menembus langsung ke kepala disertai dengan teror yang mencekam.
“Ini tidak baik, hero. Setidaknya di penghujung hayatmu, tunjukkanlah sedikit wajah keputusasaanmu dong.”
Sang Raja iblis menatap Helios sembari tertawa dengan raut muka mengerikan khas wajah iblisnya yang pada dasarnya memang seram.
“Mana sudi…”
Helios menghentikan ucapannya di tengah-tengah.
Itu karena apa yang ditunggu-tunggunya selama ini akhirnya tiba juga.
Pedang Ashbringer miliknya mengeluarkan cahaya yang berkali-kali lipat lebih terang dari yang selama ini pernah artifak pedang itu keluarkan.
***
Aku yang awalnya walaupun seorang pangeran tetapi tidak diakui oleh siapapun, berakhir dengan pembuangan ke Kota Painfinn yang berbatasan langsung dengan hutan monster.
Hutan monster menjadi momok yang begitu menakutkan bagiku saat itu.
Aku berjuang yang terbaik hanya untuk menghindari teror serangan monster yang datang dari hutan monster tersebut.
Itu karena hal itu membuat posisi Kak Tius semakin kuat dan membuat Leon semakin kesulitan mengganggu posisi Kak Tius sejak perhatian oposisi tertuju padanya.
Awalnya aku hanya berniat hidup dengan damai di pinggiran benua, terbebas dari hiruk-pikuk urusan kerajaan.
Menjauhkan diri dari kuil suci adalah benar-benar merupakan anugerah yang sangat besar untukku walaupun sebagai akibatnya aku harus senantiasa diteror oleh para monster dari wilayah hutan monster.
Aku masih ingat bagaimana aku merekrut Nunu kala itu, anak buah yang pertama kali aku dapatkan dengan tanganku sendiri ke sisiku sejak aku menjadi pemimpin wilayah.
Aku masih ingat bagaimana dia memboroskan sihirnya untuk membuat ledakan maha dahsyat hanya untuk membasmi seekor centipede queen.
Jika mengingat kembali hal itu, aku merasakan kelucuan.
Bagaimana bisa satu wilayah dibuat kalang-kabut hanya karena keberadaan seekor ratu lipan, pikirku.
Jika itu sekarang, bahkan hanya dengan menutup mata saja, aku bisa membunuh ratusan ekor centipede queen tanpa mengeluarkan keringat sedikit pun.
Setelahnya ada serangan lich dan para tentara living armornya.
Kukira, di situlah akhir hayatku setelah aku bertemu monster tingkat legendary seperti the king of undead.
Tapi giliran Yasmin-lah yang saat itu menyelamatkanku.
Perlahan, aku dan Yasmin mulai dekat dan Yasmin akhirnya menjadi salah seorang anak buah kepercayaanku.
Mengingat masa-masa awal perjuanganku kala itu benar-benar nostalgia.
Akhirnya, rahasia mengenai eksistensi hutan monster pun terungkap setelah aku mengunjungi dungeon Milanda.
Dan sekarang, siapa yang sangka kalau aku akan menjadi master dari hutan monster itu sendiri.
Aku yang awalnya tidak berdaya hanya untuk menghadapi seekor centipede queen, kini berakhir dengan menguasai seluruh monster di hutan monster.
***
“Hei Ozazil, tahukah kau apa sebenarnya kekuatan dari Pedang Ashbringer ini?”
“Buat apa aku mengetahui sampah buatan manusia tidak penting itu?”
Suara Ozazil menggema layaknya seorang Raja Iblis, penuh kengerian dan teror di tiap suara yang dilontarkannya.
“Ini dibuat oleh Raja Magni Bronzebeard.”
“Lucunya, esensinya dibuat dari abu para prajurit yang gugur karena dibantai oleh serangan demon yang dipimpin oleh seorang arch demon pada suatu waktu.”
“Yang lebih lucunya lagi, holy light dijadikan sebagai pengikatnya.”
“Pemilik pertamanya adalah Alexandros Mograine, dan itu cerita jauh sebelum kau datang ke dunia ini sebelum artifak ini akhirnya jatuh ke tangan pahlawan pertama Aries.”
“Sebelum kedatangan tower di dunia ini, keberadaan iblis memang sudah tercatat dalam sejarah.”
“Itu karena iblis mempunyai banyak celah pintu masuk untuk terhubung ke dunia ini, hanya saja keberadaan tower memicu teror yang disebabkannya berkali-kali lipat lebih dahsyat.”
“Dan kau tahu, apa yang dilakukan oleh Milanda dan Arxena di belakangmu selama menjadi makhluk astral sebagai bayaran karena telah menyegelmu?”
“Mereka selama ini mengumpulkan esensi dari para demon dari tower melalui hutan monster untuk menciptakan senjata yang dapat memusnahkanmu.”
“Dan kau tahu, pedang Arsbringer yang menjadi kunci dari rencana itu sempat hilang, namun secara luar biasa bisa kembali di waktu yang tepat.”
“Nah, para monster sekalian yang telah mengabdikan dirinya dalam kegelapan tanah terdalam wilayah hutan monster, merasuklah ke dalam penjara ini!”
“Menyatulah di dalam balutan holy light untuk menghempaskan dendam yang dibawa oleh tower ke dunia kita yang berharga ini.”
“Mari kita singkirkan sang Raja Iblis!”
Seketika, awan yang lebih gelap lagi dari langit yang saat ini gelap karena gerhana matahari, mulai mengalir dari Benua Ernoa ke benua iblis Armtemis.
Awan-awan gelap itu terhisap ke dalam pedang pipih bersinarkan cahaya yang terlihat sangat suci tersebut.
Anehnya, dengan bertambahnya awan gelap yang merasuk ke dalam pedang itu, itu sama sekali tidak mencemari pedangnya, malahan sinar yang dipancarkannya bertambah semakin terang.
Itu tampak seakan jiwa-jiwa para monster itu tersucikan oleh holy light pada pedang.
Itulah Pedang Ashbringer.
Pedang yang semakin banyak harapan pada orang yang memegangnya, maka semakin kuat dia.
Pedang yang mampu membuat semuanya seketika menjadi abu seolah menyucikan segala dendam yang ada di dunia ini sesuai dengan namanya, ash bringer.
Lalu pedang itu pun berhasil membelah dua Sang Raja Iblis Ozazil.
Raja Iblis Ozazil yang terlambat menyadari apa yang telah terjadi, tiba-tiba saja telah dikalahkan oleh sang hero.