Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 214 – IKATAN YANG TERLEPAS



Leon segera terbangun begitu proses alkimia perekonstruksian tubuhnya berakhir.


Aku lega.


Perasaanku benar-benar senang bercampur-aduk sehingga saking senangnya aku justru menanggapinya dengan tetesan air mata.


Mungkin beberapa tetesan air mataku yang mengenai wajah Leon itulah yang sampai segera membangunkannya dari komanya.


“Ukh, Kakak? Apa aku masih hidup atau Kakak yang turut meninggal?”


Sejenak Leon kelihatan linglung sembari menatapi pemandangan sekitar sebelum pada akhirnya sanggup mengerti keadaannya dengan baik.


“Opsi terakhir itu tidak mungkin sejak Kakak sekuat itu. Kalau begitu, itu yang pertama ya. Tapi bagaimana caranya aku masih hidup?”


“Aku menyembuhkanmu dengan alkimia-ku, Leon. Kau tahu kan kalau Kakak ini jenius?”


“Chukle.”


Terlihat Leon tertawa kecil menganggap ucapanku itu candaan, padahal aku serius mengatakannya.


Namun, saat ini di sebelah kami juga ada Alice dan Yasmin. Keadaan Leon yang seperti ini tidak baik untuk keadaan mental kedua wanita itu, termasuk kepada harga diri Leon sendiri.


“Anu, Yasmin. Bisakah kau mencarikan Leon beberapa pakaian untuk dipakai ala kadarnya saja?”


“Ah.”


Leon tampaknya akhirnya tersadar bahwa keadaannya saat ini sedang telanjang bulat.


Walau demikian, kepada Yasmin Leon berkata,


“Tidak usah. Biar aku atasi sendiri saja dengan sihir.”


Sihir dari mana alam pun terbentuk yang awalnya berwujud astral, kini memadatkan bentuknya mengelilingi Leon membentuk pakaian.


“Walau aku tidak memiliki tubuh nagaku lagi, esensinya masih terasa di benakku sehingga akan mudah bagiku menggunakan sihir naga seperti ini.”


“Hmm. Tidak. Tidak boleh seperti itu. Yasmin, kamu lakukan saja.”


“Sesuai perintah Anda, Master.”


Dengan perintahku itu, Yasmin pun segera pergi mencari pakaian asli untuk bisa dikenakan oleh Leon.


Aku hanya berpikir aneh saja.


Konsep sihir pada dasarnya hanya mempengaruhi sistem saraf pemberi dan penerima.


Itu sama sekali tidak mempengaruhi keadaan di dunia nyata.


Jadi bisa dikatakan bahwa walaupun aku dan Alice sedang melihat Leon tengah mengenakan pakaian saat ini yang dibentuk dari sihirnya, sejatinya dia tetap telanjang bulat.


Seorang pangeran yang jalan-jalan di keramaian dalam keadaan telanjang bulat, memikirkannya saja aku tidak bisa.


Hatiku terlalu lemah untuk melihat adikku jatuh serendah itu.


“Kakak, ngomong-ngomong, ke mana Madam Shipton?”


“Ah, dia sudah menuju ke alam sana, Leon.”


Mendengar ucapanku itu, Leon seketika menatapku tajam.


“Apa Kakak membunuhnya?”


“Tidak. Bukan seperti itu. Tampaknya keinginan terkuat yang menahannya dengan kekuatan Raja Iblis dari dunia ini telah sirna seiring keinginan itu telah terwujud.”


“Ah, karena ramalan mimpi buruknya akhirnya bisa dicegah yang dibuktikan dengan aku masih hidup.”


Terlihat sejenak ekspresi Leon seperti merasa bersalah, namun beberapa saat kemudian dia lalu tersenyum dengan penuh haru.


“Syukurlah, Madam Shipton setidaknya di akhir hayatnya bisa meraih kebahagiaannya.”


“Itu benar, Leon.”


Sungguh melegakan rasanya melihat seseorang yang telah terjerumus dalam kegelapan seakan tidak ada peluang lagi untuk kembali ke jalan yang benar seperti Madam Shipton, pada akhirnya bisa terselamatkan.


Jika apa yang memerangkap Madam Shipton ke dunia ini adalah rasa penyesalannya akan ketidakberdayaannya hanya bisa melihat ramalan mimpi buruknya terus terjadi, kira-kira apa yang memerangkap Yasmin di dunia ini?


Kalau diingat kembali, aku jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali menanyakan tentang masa lalu Yasmin.


Apa dia merasa bersalah telah membuat Apollo menggila sehingga menghanguskan seisi kota sehingga dia bersamaku karena tidak ingin melihatku bernasib sama dengan pahlawan gagal itu?


Ataukah apa yang menahannya adalah kasih sayang keluarga? Itukah sebabnya dia selalu dekat denganku karena menganggap sosokku sama dengan kakaknya, Hector?


Tapi begitu aku ingin menanyakan pertanyaan itu secara langsung kepada Yasmin, mulutku seketika terkunci.


Bagaimana setelah aku mengetahuinya?


Apakah aku lantas akan membantunya supaya dia akhirnya bisa terlepas dari ikatan Raja Iblis pada dunia ini?


Bukankah dengan demikian Yasmin akan menghilang dari sisiku untuk selamanya?


Tidak. Aku tidak mau hal itu terjadi.


Setidaknya aku ingin bisa hidup berlama-lama lagi bersamanya.


Aku tanpa sadar menjadi orang yang kejam bagi Yasmin.


Jelas apa yang kurasakan padanya bukanlah cinta.


Namun dengan egoisnya aku menghalangi kepergiannya.


Sebenarnya apa yang kuharapkan dari Yasmin hanyalah bersamanya.


Padahal lebih dari apapun, aku paling takut jika apa yang menahan Yasmin di dunia ini adalah karena ingin mencari cinta sejati.


Seperti dia yang dulu dikhianati oleh Dionysius.


Seperti dia yang dulu dicampakkan oleh Agememnon.


Kuharap bukan demikian.


Aku tidak ingin Yasmin memiliki perasaan seperti itu padaku.


Aku hanya ingin bersamanya.


Akan tetapi, bukankah ketika Raja Iblis dikalahkan, Yasmin juga akan menghilang?


Salahkah aku jika berharap kalau pertarungan penentuan di hari yang dijanjikan itu masih lama?


Aku hanya ingin bersama Yasmin lebih lama.


“Master, ada apa?”


Tanpa aku sadari, Yasmin sudah kembali dengan satu setelan pakaian pria lengkap di tangannya.


Aku pun segera menyuruh Leon untuk mengenakan pakaian yang dibawa oleh Yasmin tersebut.


“Kakak sendiri mau ke mana?”


Aku hendak akan pergi sebentar selama Leon mengenakan pakaian, namun Leon ternyata menyadari hal tersebut lebih awal.


“Bukan apa-apa. Aku hanya ingin jalan-jalan sendirian sebentar.”


“Tapi, Master. Akan berbahaya bagi Anda yang seorang kaisar berkeliaran seorang diri. Juga masih ada ancaman the heavenly four milik Raja Iblis yang bisa saja sewaktu-waktu datang untuk melukai Anda.”


“Aku rasa Raja Iblis Ozazil tidak akan melakukan cara yang menurutnya pengecut seperti menculik karena jika dia ingin, dia pasti sudah melakukannya dari dulu.”


“Itu benar, sih. Selama ini the heavenly four juga belum pernah keluar benua karena sangat sibuk mengendalikan para demon yang bebal.”


Leon-lah yang menguatkan pendapatku tersebut.


“Lagian, siapa di benua ini yang bisa mengassasinasi aku di kala para familiarku ada di mana-mana? Dalam keadaan darurat, para familiarku-lah yang akan bertindak duluan.”


Setelah berargumen sebentar, akhirnya Alice dan Yasmin terlihat luluh dan akhirnya memberikanku waktu sebentar untuk sendirian.


Mau bagaimana lagi.


Aku harus mengatasinya sendirian.


Aku tidak bisa menanganinya soalnya jika ada orang lain di sekitar karena hama itu bisa saja kali ini merasuk ke tubuh Alice atau Leon.


Walaupun Yasmin sesama witch, tapi aku tak ingin mengambil resiko yang bisa menyebabkanku kehilangan Yasmin.


Akan lebih aman jikalau aku yang memahami mekanisme alkimia dengan baik yang menanganinya sendirian.


Hama itu masih bisa melarikan diri dan sudah saatnya kini aku membunuhnya sebelum dia menggunakan tubuh warga tidak berdosa di sekitar sini untuk pelariannya.


Ya, si hama menjijikkan itu, Isis, masih hidup.


Apa yang Leon bunuh sebelumnya hanyalah tubuh luarnya saja.


Tubuh intinya masih belum tersentuh sama sekali.


Tidak perlu waktu lama bagiku untuk menemukannya sejak ketika witch itu mencoba untuk kabur, aku terus mengawasinya melalui familiar burung es-ku.


Di suatu sudut pohon di hutan itu bisalah kulihat seekor ulat hijau yang tampak lebih besar dari ukuran ulat biasanya.


Tidak, itu bukanlah ulat.


Itulah wujud sejati dari sang witch objek, Isis, yang selama ini mendatangkan teror baik di Benua Ifrak maupun di Benua Ernoa selama lima ribu tahun lamanya.


Suatu wujud yang benar-benar menjijikkan.


“Yo, hanya dengan merangkak, tak kusangka kau bisa sampai sejauh ini, hama.”


Mata ulatnya yang besar seketika bergetar.


Witch itu benar-benar ketakutan di saat melihat wajahku.


“Sudahkah kubilang sebelumnya sejak aku bisa mengenali wujud sejatimu dengan teknik alkimiaku, kau… sudah mati, Wicth!”


Sembari mengeluarkan kalimat ancaman, aku pun perlahan mendekati makhluk yang tak bisa lagi melawan tersebut.