
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menerima laporan kekacauan yang terjadi di Kekaisaran Tong Kong.
Berkat sang perdana menteri ketahuan bekerjasama dengan iblis, Han Xinqiang pun harus dicopot dari jabatannya dan kendali dasar sistem kekuasaan negeri tersebut menjadi kacau.
Para oposisi berlomba-lomba untuk mencari kesempatan di tengah kesempitan untuk menggantikan penguasa lama.
Dan sebagai yang memperoleh peluang besar untuk menstabilkan posisinya tidak lain adalah sang kaisar sendiri, Kaisar Mio Long, yang selama ini hanya menjadi kaisar boneka saja dari para penguasa gelap di balik layar.
Yah, intinya mereka tidak punya pilihan lagi melirik masalah yang terjadi di negeri lain sejak negeri mereka sendiri saat ini sedang terancam runtuh pundi-pundinya.
Hal itu tentu saja pula tidak luput dari incaran Negara Republik Joupun sebagai peluang emas menyingkirkan saingan mereka sebagai negara yang paling berkuasa di Benua Asium.
Masalah Kekaisaran Tong Kong selesai, kini mari beralih ke masalah satunya.
Bagaimana aku menghancurkan Negara Republik Joupun?
Aku sebenarnya merasa berat hati melakukannya sejak itu adalah ibu dari negara guruku, Kanazawa Junoichi Sensei.
Tetapi apa boleh buat.
Merekalah yang telah mengacaukan negeriku terlebih dahulu.
Satu hal yang menjadi pilar di dalam suatu negara republik sekaligus menjadi pilar yang sangat rawan keberadaannya yang ketika itu runtuh, maka runtuh pulalah negera itu.
Kesetaraan.
Sebagai tindak penolakan kekuasaan bangsawan yang terlalu absolut serta tindak perbudakan yang terlalu merajalela, maka timbullah ide demokrasi.
Namun, seiring Negara Joupun terbentuk, sekat antara orang-orang pun kembali mulai terlihat.
Sang pemimpin pastinya hanya akan memilih pejabat-pejabat pemerintah yang berasal dari keluarganya maupun orang yang dia kenal dan percayai.
Begitu pula dengan para pejabat di bawahnya hanya akan memilih bawahan-bawahan yang mereka nilai layak dengan tidak mungkin luput dalam memperhatikan status keluarga para bawahannya itu.
Tanpa sadar, mereka mulai mengelompok-ngelompokkan orang mana yang mereka nilai layak dan mana yang mereka nilai tidak layak.
Belakangan, sekat ini semakin jelas terlihat sehingga kita bisa saksikan secara kasat mata mana kelompok yang berkuasa dan mana yang tidak.
Ujung-ujungnya jika kau dianggap sebagai bagian yang tidak layak, maka kamu akan menyandang status yang rendah di mana orang-orang yang menyandang status yang tinggi hanya dimiliki oleh yang dinilai layak.
Buktinya?
Coba saja kau ajukan seorang petani miskin tetanggamu sebagai calon presiden di balaikota?
Kira-kira apa yang akan terjadi?
Mutlak kau akan langsung ditendang keluar bahkan dinilai sebagai orang gila.
Setiap orang mendambakan persamaan hak, harkat, derajat, dan martabat.
Namun naluri manusialah untuk melakukan penilaian terhadap orang yang lain.
Manusia yang membenci sistem kebangsawanan pada akhirnya melakukan hal serupa ketika negara republik dambaan mereka terbentuk.
Menilai, menilai, dan terus menilai nilai orang lain.
Dan itu terjadi secara alami dari dalam.
Ada kelas pejabat, ada kelas pengusaha, ada kelas pedagang, ada kelas petani, pengembala, peternak, dan bahkan akan ada pula kelas rakyat miskin yang tidak punya apa-apa sama sekali.
Maka untuk mengacaukan suatu negara republik sangatlah mudah.
Pasti ada saja kelompok ekstrimis di dalamnya yang menolak pemerintahan sekarang karena tak masuk ke dalam kategori tak layak berdasarkan penilaian pemerintahan yang sekarang tersebut.
Kau sisa mendanai kelompok-kelompok ini dengan maksimal.
Biayai makanannya, pakaiannya, tempat tinggalnya, dan jangan lupa, sediakan persenjataannya.
Mereka sendirilah yang akan mengacaukan negara mereka sendiri.
Tidak perlu aku turut campur tangan menghancurkan negeri dengan sistem yang rapuh seperti itu.
Idealisme demokrasi memang baik.
Demokrasi tentunya adalah cita-cita yang diinginkan oleh semua orang.
Suatu saat aku juga ingin mewujudkan negeriku seperti itu, namun kutahu itu takkan mungkin tercapai hingga akhir masa pemerintahanku.
Yang mesti dilakukan oleh kita para manusia yang belum siap mencapai idealisme yang elegan itu adalah mempersiapkan para anak cucu kita dengan pendidikan-pendidikan yang tepat agar konsep kesetaraan bisa benar-benar ditekankan terlebih dahulu.
Ketika seorang anak raja bisa duduk berdampingan dengan anak budak tanpa prejudice sedikit pun, maka di situlah waktu yang tepat untuk demokrasi dicuatkan.
***
Hanya butuh waktu dua minggu negara itu mulai menjadi kacau oleh para ekstremisnya.
Aku pun bisa menyerahkan masalah tersebut kepada bawahanku sembari aku berfokus pada perang melawan bangsa iblis di barat.
Andai bangsa iblis bisa diadu domba dengan mudah layaknya manusia, aku pasti tidak akan perlu merasa kerepotan seperti ini.
Sayangnya bangsa iblis berkomunikasi melalui ketakutan.
Ada kekuatan spesial yang dimiliki oleh para arch demon untuk mengontrol secara mutlak para demon lain melalui ketakutan.
Itu tidak akan bisa dicerai-berai sampai sang raja dimusnahkan.
Aku berjalan menuruni tangga di balkon yang ada di belakang istana utama.
Itu terhubung dengan taman bunga di mana aku, Leon, dan Kak Tius dulu sering bermain sembari mengawasi ibu kami yang sedang menyusui Ilene.
“Ah, Master.”
Tanpa sengaja aku menemui Yasmin di sana.
“Hmm? Ngapain malam-malam begini di sini?”
“Tidak ada kok, Master. Aku hanya sedang cari angin segar.”
Di situlah aku memperhatikan wajah Yasmin dengan seksama.
Wanita itu baru saja menangis.
Lalu setelah melihat wajahku, air matanya pun mengalir semakin deras.
Dia tidak mengungkapkan isi pikirannya kala itu padaku, namun aku pula tidak banyak bertanya.
Aku hanya memeluknya untuk memberinya kehangatan.
Yasmin menangis dengan nyaman di pundakku.
“Mengapa aku harus bertemu Master di akhir sisa hidupku? Andai aku bisa bertemu dengan Master lebih awal, pasti… pasti… hidupku akan terasa indah.”
Aku hanya mendengarkan keluh-kesah Yasmin sembari membelai rambutnya yang halus itu.
‘Tidak apa-apa’ atau ‘semuanya baik-baik saja’ adalah harapan munafik jikalau sampai aku mengatakan itu kepada Yasmin.
Baik aku dan Yasmin sendiri sama-sama tahu bagaimana nasibnya baik jikalau aku maupun Raja Iblis yang akan memenangkan pertempuran.
Jika sang Raja Iblis menang, keberadaan Yasmin yang pada dasarnya berasal dari bangsa manusia tidak diperlukan lagi oleh Raja Iblis sejak dia akan mengubah Gaia ini menjadi tanah iblis.
Namun, jikalau pun aku yang menang dan Raja Iblis tewas, Yasmin yang selama ini bisa hidup karena terikat di dunia oleh kekuatan Raja Iblis, juga tentu saja akan ikut tewas sejak pemilik kekuatan pengikat itu telah tiada.
Tiada yang dapat kuperbuat untuk hal itu.
Suatu saat, apa yang hidup di dunia ini juga akan kembali ke sisi-Nya.
Selama manusia hidup, maka akan ada yang namanya perpisahan, entah itu sudah dekat atau masih lama.
Kita sebagai manusia hanya harus melakukan yang terbaik di dunia selama kita masih diberikan kesempatan.
Walau demikian… walau kutahu perpisahan itu suatu saat akan tiba… tetap saja terasa ada beling yang menyayat di hatiku.
Aku pun balas memeluk Yasmin dengan erat lantas ikut menangis bersamanya, semoga jika waktunya tiba, kita akan dipertemukan lagi di alam sana dalam keadaan yang lebih baik.