Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 11 – UNDEAD KING



Lampu mercusuar sebagai isyarat serangan monster dinyalakan dengan tingkatan warna yang berbeda tergantung seberapa parah serangan monsternya.


Warna putih mengisyaratkan bahwa serangan monster berada di level aman sehingga warga kota tidak perlu mengungsi.


Warna kuning mengisyaratkan bahwa jumlah monster yang menyerang melebihi pada taraf aman tetapi tidak menampakkan keberadaan bos monster yang mampu meningkatkan moral monster ke level berbahaya sehingga warga hanya diminta untuk bersembunyi di rumahnya masing-masing sampai jumlah monster dapat dikendalikan.


Warna orange mengisyaratkan serangan gelombang monster dengan keberadaan bos monster level rendah. Inilah yang dulu terjadi sewaktu serangan gelombang monster lipan.


Warna biru mengisyaratkan serangan gelombang monster dengan keberadaan bos monster level tinggi. Serangan monster seperti inilah yang dulu merenggut nyawa Duke Rucanthes. Dan serangan gelombang monster yang berbahaya seperti itulah yang sekali lagi harus terjadi di saat ini.


“Curtiz! Jilk! Arahkan semua warga kota untuk bergerak ke daerah pengungsian di daerah gunung di luar wilayah kota!”


“Siap, Tuan.”


“Sesuai perintah Anda, Master.”


“Albert, kamu ikuti aku segera ke wilayah benteng pertahanan!”


“Tapi, Master, tempat itu sangat berbahaya! Ini tidak seperti penyerangan gelombang monster lipan sebelumnya.”


“Diam! Jangan banyak bicara dan ikuti saja perintahku saat ini!”


“Baik, Master!”


Tampak jelas di wajah Albert raut wajah khawatir, tetapi untuk saat ini, aku butuh untuk meninjau situasi agar bisa segera mengeksekusi perintah yang tepat. Ini bukan persoalan diriku saja, tetapi ini melibatkan kehidupan seluruh warga Kota Painfinn.


Begitu aku sampai di benteng pertahanan kota, kulihatlah jibunan undead menerjang hendak menerobos benteng pertahanan kami.


Para prajurit infanteri, begitu juga para tim penembak dan pertahanan di atas benteng, sedang berjuang mati-matian agar tak membiarkan satu pun undead dapat menerobos benteng pertahanan kota ini.


Melihat situasi itu, aku pun segera menembakkan anak-anak panah sihir es-ku ke beberapa undead yang tampak akan segera lolos dari penjagaan para prajurit.


“Albert, panggil Fernand dan Nunu untuk segera kemari.”


“Dimengerti, Master.”


Albert pun segera berlari mengeksekusi perintahku setelah dia mengarahkan lima orang penyihir, lima orang prajurit biasa, dan dua orang cleric stand by di dekatku untuk menjaga keamananku.


Dalam waktu singkat, Fernand dan Nunu pun sampai di hadapanku.


“Ini berbeda dengan monster lipan yang sebelumnya. Monster undead tidak akan mempan dengan agro karena pergerakan mereka mutlak dikendalikan oleh lich di seberang sana.”


Ujarku kepada mereka bertiga sembari menatap lich dari kejauhan dengan mata merahnya yang menjijikkan itu.


“Tetapi ini juga bagus sejak lich akan sulit untuk berpindah-pindah seperti ratu lipan sebelumnya sejak dia tidak boleh terlalu jauh dari nisan yang merupakan atribut penghubungnya dengan dunia kehidupan.”


“Strateginya sekarang, Albert, Fernand, bantulah pasukan infanteri menghadapi serangan para undead dan Nunu kamu bersiap-siap untuk mengaktifkan sihir ledakanmu seperti sebelumnya.”


“Siap.”


“Baik, Master.”


“Serahkan padaku, Tuan Helios.”


Beraneka ragam tanggapan datang dari mereka, tetapi mereka tetap bersatu-padu dalam mengeksekusi perintahku.


Dengan bantuan Fernand dan Albert di regu infanteri, jumlah undead yang dapat menerobos benteng pun berkurang sangat drastis. Itu menunjukkan bagaimana hebatnya nilai kedua prajurit itu.


Sesekali, aku juga ikut menembakkan es skala besar kepada para undead yang bergerombol untuk membantu mengurangi jumlah undead yang ada.


Namun, berapa kali pun jumlah itu dikurangi, undead baru hanya akan segera tersummon kembali saja selama sang lich dan nisan penghubung dunia kematian itu masih ada.


Setelah jeda beberapa saat, akhirnya sihir Nunu pun siap untuk ditembakkan.


“Tuan Helios, sihirnya sudah siap.”


“Bagus, Nunu. Arahkan tembakanmu tepat di nisan itu. Seberapa pun lich itu bergerak, dia tak akan dapat memindahkan nisannya dalam sekejap.”


“Baik, Tuan Helios. Ledakan… api!”


Sihir bola api Nunu yang hanya seukuran bola sepak itu pun mulai ditembakkan mengarah kepada nisan tersebut. Tidak butuh waktu lama bagi nisan itu terkena bola api yang langsung menjalar dengan sangat dahsyat membentuk bola api besar yang memporak-porandakan sekitarnya termasuk tubuh fisik sang lich.


Lich itu pun musnah tak bersisa.


Aku pun bersorak gembira, mengira situasi itu telah berakhir dan kini yang mesti dihadapi oleh para prajurit hanya sisa undead biasa saja tanpa ada lagi undead baru yang akan tersummon perihal nisannya sudah dihancurkan.


Aku pun segera menggapai Nunu yang akan tengah pingsan setelah menggunakan sihir dahsyatnya itu. Kukira semuanya telah berakhir dengan baik seperti sebelumnya.


Namun, aku keliru.


“Tuan Helios!”


Nunu tiba-tiba saja berteriak lantas mendorongku dengan sangat kencangnya ke belakang.


Bersamaan dengan itu, kilatan sinar hitam yang awalnya seharusnya akan mengenaiku justru tergantikan oleh Nunu yang menggantikan posisiku atas kehendaknya sendiri.


“Tidak, bagaimana bisa… Bagaimana bisa kutukan banshee ada di tempat seperti ini?!”


Kulihatlah salah satu cleric yang diutus dari kuil suci itu meneriakkan perihal kutukan banshee, kutukan yang tidak ada obat yang mampu menyembuhkannya yang akan menggerogoti hidup kamu sedikit demi sedikit hingga kamu tewas.


Dan kutukan seperti itulah yang baru saja diterima oleh Nunu menggantikan tempatku.


“Nunu! Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu melakukan hal bodoh seperti ini?! Mengapa kamu mengorbankan dirimu untuk pangeran yang tidak berguna sepertiku?!”


Dengan lirih dalam keadaan sekaratnya, Nunu pun berujar,


“Tidak akan ada warga di Kota Painfinn ini yang menganggap Tuan Helios adalah pangeran tidak berguna. Tuan Helios-lah yang telah menyelamatkan aku, gadis dari tempat terpencil ini dengan menemukan nilai diriku sendiri di kala aku berpikir bahwa aku adalah orang yang tidak berguna. Jadi, jangan pernah bilang kalau diri Tuan Helios itu tidak berguna. Tuan Helios adalah orang terkeren yang pernah kutemui.”


Sudut mulut Nunu pun mulai mengeluarkan darah dan kesadarannya pun perlahan mulai menghilang.


Namun, di saat aku hendak menyusun kembali pikiranku untuk memecahkan situasi ini, bencana lain pun terjadi.


Tengkorak-tengkorak dari para undead yang tewas terhisap ke dalam suatu inti hijau yang menyeramkan dan membentuk makhluk besar yang lebih menjijikkan.


“Tidak… tidak! Ini bohong kan?! Mengapa justru undead king muncul di saat-saat seperti ini?!”


Kudengarlah sang cleric itu berteriak sekali lagi di mana dia menyebut monster itu sebagai undead king, salah satu dari dua belas monster bawahan langsung dari raja iblis.


Jika sebelumnya aku telah menjelaskan tentang simbol warna dari setiap warna lampu mercusuar, aku lupa menyebutkan satu warna lampu terakhir.


Itulah warna lampu hitam.


Warna lampu yang mengisyaratkan para prajurit harus siap mengorbankan nyawa mereka demi menghadapi monster yang takkan mungkin dikalahkan kecuali oleh keberadaan pahlawan sembari memberikan waktu kepada para warga kota untuk mengungsi demi menyelamatkan diri.


“Bagaimana? Bagaimana makhluk seperti itu telah muncul padahal pahlawan yang diramalkan saja belum tampak sedikit pun batang hidungnya?! Ah, kami semua yang ada di tempat ini pasti akan dimusnahkan.”


Demikianlah ucapan putus asa dari sang cleric yang menambah kelamnya situasi.


Namun, itu tidak berakhir sampai di situ saja.


“”Clash!”


“Fernand!”


Kudengar Albert berteriak dan ketika kuamati situasi di bawah, Fernand telah tercabik-cabik oleh kuku-kuku tajam sang undead king.


Sambil memeluk Nunu erat-erat, aku pun menangisi kematian Fernand. Tidak, aku pastinya menangis perihal ketakutan menghadapi kematianku sendiri.


Kudengar sebelum kematiannya, Fernand meneriakkan sesuatu yang sepertinya ditujukan kepadaku,


“Yang Mulia Pangeran, Yang Mulia Leon tidak seperti apa yang Anda pikirkan.”


Demikianlah Fernand berujar di ambang kematiannya yang entah mengapa nama Leon muncul di situ.


Lalu sejenak kemudian, cahaya putih pun mengelilingiku lantas kesadaranku pun perlahan menghilang.


Ah, inikah yang namanya kematian?