
“Aaakkkhhh.”
“Grrrrrrrr.”
Serangan gabungan petir dan api tampak mengenai kedua monster berwajah landak dan serigala yang sedang bertarung melawan Minerva. Mereka adalah Gamma dan Delta yang rupanya juga adalah manusia mutan hasil proyek the first order.
“Ck. Mereka membunuh puluhan ribu nyawa manusia hanya untuk menghasilkan para badut ini. Tidak ada gunanya lagi meladeni mereka sejak aku sudah tahu keseluruhan anatomi tubuh mereka. Selamat tinggal, monster-monster rendahan!”
-Flasrsh.
“Aaakkkhhh.”
“Grrrrrrrr.”
Sekali lagi amukan api bercampur petir mengenai kedua makhluk yang awalnya manusia tetapi merelakan tubuh mereka menjadi monster itu. Tidak, amukan petir dan api lebih dahsyat kali ini hingga mampu mengoyak kulit dan daging dari para monster. Kedua monster itu pun mati terkoyak dengan hangus terbakar hingga menimbulkan aroma yang sangat tidak sedap perihal amukan sihir sang arch wizard.
“Hei, Pemuda. Butuh bantuanku mengalahkan mereka? Kamu kelihatannya sedang kesulitan.”
Minerva kemudian berteriak kepada Albert yang berada di hadapannya yang sedang berjuang menghadapi puluhan monster cacat hasil sampingan proyek the first order tersebut.
“Jangan bercanda! Anda pikir aku takkan sanggup menghadapi monster-monster lemah begini? Jumlah mereka memang banyak, tetapi yang namanya kroco tetaplah kroco.”
-Slash, slash, slash.
Albert berucap dengan lantang menolak bantuan Minerva itu sembari mengayunkan pedangnya dengan gagah. Tiap ayunan pedang dengan mudah membelah para monster cacat.
“Daripada itu, Dokter Minerva. Tolong bantu saja Alice. Instingku mengatakan bahwa kepala kuil suci itu berbahaya. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Dia sama sekali tidak bergeming di saat aku melayangkan pedang ke arahnya. Aku tahu itu bukan karena dia waktu itu dilindungi oleh para pelayan yang kuat. Aku bisa tahu dari ekspresinya bahwa dia yakin ayunan pedangku itu takkan bisa melukainya walaupun tadi mengenainya.”
“Instingmu cukup tajam juga rupanya, Pemuda. Sesuai dugaan dari orang yang selalu bersamanya. Baiklah, aku takkan membantumu dan akan pergi mengejar gadis pirang itu sekarang. Jangan mati ya, Pemuda, atau dia akan jadi sangat sedih.”
Bibir Albert sedikit tersungging. Dia hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Minerva tersebut.
Hanya dalam satu kedipan mata Albert, sang dokter yang memiliki profesi ganda sebagai seorang assassin yang padahal kelasnya adalah arch wizard tersebut telah menghilang dalam sekejap dari jarak jangkauan pandangan Albert.
***
Di lain tempat, Alice sudah mulai kehilangan tenaga perihal terkepung.
-Sruduk.
-Trang.
-Dush, dash, dash.
Dia menerima serangan langsung srudukan sang monster babi, tetapi Alice tidak terluka walaupun terpental cukup jauh berkat zirah spirit yang disummonnya.
Namun yang jadi masalah adalah monster satunya, Baal, yang merupakan salah satu sosok penguasa lantai tower yang berhasil menginjakkan kakinya ke dunia nyata menggunakan alter ego-nya. Tidak jelas bagaimana caranya dia bergerak. Gerakannya itu melampaui logika manusia yang jelas berada dalam dimensi yang berbeda.
Bahkan objek-objek yang ada di hadapannya tampak hanya ruang kosong bagi monster itu. Tahu-tahu, dia sudah ada di hadapan Alice lalu mencekiknya.
“Kuhuk.”
Alice memuntahkan darah segar perihal cekikan Baal.
Baal lantas melempar Alice kepada sang monster babi lantas dengan tanggap sang monster babi mensruduknya dengan tanduknya ke atas.
“Kuhuk.”
Muntahan darah segar Alice pun semakin banyak membasahi lantai pertarungan itu.
Walaupun pandangan Alice telah kabur, tekadnya sama sekali tidak surut.
“Maaf, aku pinjam beberapa familiar Anda, Master.”
Ujar Alice setengah bergumam diiringi bibirnya yang tersungging kecil yang menunjukkan senyuman. Lantas beberapa burung es itu pun menyatu dengan pedang spirit Alice, kemudian menerjang sang monster babi yang sedang bergerak lurus pula hendak mensruduknya.
Alice tersruduk hingga terpental berkali-kali, namun Alice sekali lagi tidak terluka berkat perlindungan zirah spiritnya. Akan tetapi berbeda untuk sang pensruduk.
“Kuaakkhh.”
Sang monster babi tiba-tiba saja bermuntahkan darah tanpa sebab.
Tidak, itu adalah hasil serangan kombinasi leburan senjata spirit Alice dengan familiar Helios yang membentuk semacam jarum yang merasuk menembus kulitnya yang kenyal.
“Kau, apa yang kau lakukan pada tubuhku, wanita sialan?! Kuhuk. Aaakkkhhh!”
Sang monster babi mengeluarkan batuk darah lantas mati begitu saja. Dia keracunan.
Alice sedari awal telah mengetahui dari latih tandingnya bersama tuannya beberapa saat yang lalu.
Ada sesuatu yang aneh pada mana milik Helios. Itu terlalu murni mendekati mana mentah milik alam yang justru akan menjadi racun bagi tubuh manusia normal. Ditambah familiar Helios tercipta dari sihir, namun memiliki wujud fisik dalam artian yang sebenarnya, betul-betul terlepas dari konsep astral.
Jika itu sampai berbahaya bahkan untuk merasuk ke dalam tubuhnya yang seorang magic swordsman, lantas bagaimana dengan monster yang ada di hadapannya? Ditambah jika itu dipadukan pula dengan sihir petirnya yang mampu mempercepat pertumbuhan dan perusakan sel-sel kanker.
Lantas bagaimana jika itu sedikit saja diganggu oleh paduan mana yang terlalu murni hingga beracun serta sihir petirnya yang liar yang bersifat dekstruktif pada sel tidak stabil? Mungkin saja gabungan sihir petirnya dan mana milik tuannya bisa menjadi racun mematikan bagi makhluk mutan.
Alice tidak yakin seratus persen bahwa itu akan berhasil karena dia belum pernah mencoba sebelumnya. Itu hanyalah hipotesanya dari pengalaman bertarung dan menganalisa kemampuan tuannya ditambah hasil mempelajari kemampuan jurusnya sendiri.
Walau demikian berdasarkan hipotesanya, itu bukanlah sesuatu yang tidak ada peluang untuk bisa terjadi. Itu layak dicoba.
Demikianlah, hipotesanya itu nyatanya terwujud di mana amukan gabungan sihir petirnya dan mana milik Helios yang tersimpan lewat familiarnya benar-benar mampu merusak tubuh spesimen yang tidak sepenuhnya stabil itu dari dalam.
Sayangnya itu bukanlah akhir dari pertarungan.
Justru dengan musnahnya lagi satu mahakaryanya, amukan Baal semakin menjadi-jadi.
“Aaakkhhhh.”
Alice dipentalkan ke sana ke mari bak bola mainan bagi Baal. Walau sekeras apapun zirah spirit Alice, mana pool-nya juga terbatas. Perlahan, zirah spirit itu pun kian retak di mana tak lagi bisa mempertahankan bentuknya perihal kehabisan asupan mana.
Alice terkapar tak berdaya di tanah di mana Baal tepat berdiri di hadapannya.
“Dasar wanita laknat sialan! Hasil kerja kerasku selama setengah abad ini menjadi sia-sia karena kamu hancurkan begitu saja! Jangan berharap, kamu akan memperoleh kematian yang mudah setelah apa yang kamu perbuat itu.”
Namun di kala Baal tepat akan memberikan serangan terakhirnya kepada Alice,
-Shahahahahak.
-Trarang.
Serangan mendadak ditujukan kepada Baal.
Rupanya itu adalah serangan sihir pamungkas Minerva.
“Ck. Padahal kukira itu adalah serangan dadakan yang sempurna, rupanya gagal.”
Baal mampu mendeteksi kehadiran Minerva bahkan sebelum dia mengeluarkan serangannya sehingga serangan itu berhasil ditangkisnya dengan bariernya yang kokoh. Namun berkat itu, Alice dapat selamat.
“Hah, setelah apa yang kamu lakukan pada tubuh bonekaku di Ignitia, kamu pikir aku akan tertipu lagi?”
“Aku heran, Ozazil saja hanya memiliki satu tubuh alter ego. Tetapi mengapa kamu bisa memiliki dua? Tidak, sebenarnya ada berapa alter egomu yang tersebar di dunia ini?”
“Heh, mengapa tidak cari tahu sendiri, perempuan laknat!”
-Srash.
Dengan tiba-tiba, Baal yang kini melancarkan serangan dadakan kepada Minerva. Gerakannya hampir secepat kilat. Walau demikian, di luar dugaan, Minerva juga mampu menghindar dan melakukan counter serangan dengan cukup baik.
-Srash, slash, srash, slash.
Terdengar bentrokan tajam disertai sihir yang maha dahsyat yang terjadi di antara pertarungan mereka berdua.
Sementara itu Alice sendiri telah mulai kehilangan kesadarannya. Akan tetapi tiba-tiba,
“Alice, bangkitlah! Jangan mau menyerah di situasi seperti ini!”
Salah satu burung es yang desainnya terlihat lebih elegan dibandingkan yang lain yang mengenakan artifak anting yang mengandung sihir portal Minerva datang untuk menyemangati Alice. Itu adalah kesadaran Helios.
“Benar juga, Master. Aku tidak boleh tumbang di sini.”
Alice percaya kepada Minerva akan sanggup untuk menahan Baal untuk sementara. Dia lalu mulai menyembuhkan mana-nya yang terkuras. Di luar dugaan burung itu mampu menggambar rune sihir yang menarik dengan cepat mana alam di sekitar lalu mengolahnya untuk disalurkan kepada Alice. Alice pun sembuh lebih cepat
Di saat Minerva mulai kewalahan, burung es Helios turut ikut campur dalam pertarungan. Namun ada yang aneh, hanya dengan kehadiran satu burung kecil Helios itu saja, itu sangat mengubah alur berlangsungnya pertarungan.
-Srararak.
“Apa?”
Itu adalah Alice yang rupanya telah sembuh dengan cepat lantas seketika menyerang Baal. Sayangnya Baal masih mampu menghindari serangan itu dengan baik.
-Srash.
Tidak, kulitnya berhasil terkikis walaupun itu hanya goresan. Namun itu berarti serangan Alice mulai efektif mengenainya.
-Srarararash.
“Aaaakkkhhhh!”
Kali ini giliran api bercampur petir dan angin dingin Minerva yang menyambar. Namun kali ini, itu juga efektif menghancurkan barier kokoh milik Baal yang seketika mengenai kulitnya secara langsung.
Kedua prajurit itu menjadi level-up berkat sihir pendukung milik Helios yang tersalurkan lewat burungnya. Tidak, itu jauh lebih dari itu.
“Sial! Inikah buff dari pahlawan milik dunia yang terkenal itu? Makanya aku benci pahlawan di dunia dimensi manapun.”
Ucap sang iblis dengan kesakitan setengah bergumam.