Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 73 – PENCARIAN JENAZAH LEON



Dengan raut wajah yang penuh kegelisahan, Helios berlari meninggalkan klinik Venia. Karena khawatir akan ekspresi tidak biasa dari tuannya itu, Alice pun segera mengikuti Helios dari belakang. Tidak hanya Alice saja, Codi dan Nunu yang baru saja menyadari hal itu karena fokus dalam menjenguk rekan Codi yang ber-code name Rat, akhirnya juga turut bergegas menyusul Helios.


Bahkan Albert dan Yasmin yang masih dalam status sementara perawatan di klinik Venia, akhirnya ikut memberontak lantas turut pula keluar mengikuti yang lain meninggalkan sang dokter Venia di belakang.


“Master, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Anda terlihat begitu gelisah?”


Alice bertanya, tetapi Helios sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Namun dari wajah Helios, sedikit demi sedikit bercucuran air mata yang tambah membuat Alice merasa khawatir.


Pada akhirnya, rombongan Helios tersebut sampai di atas gunung setelah memakan beberapa waktu untuk mendakinya. Helios tak kuasa menahan kekalutan di hatinya sehingga memilih untuk berjalan ketimbang menggunakan kekuatan sejatinya untuk terbang meski sedang dalam keadaan terburu-buru.


Dia tidak henti-hentinya berdoa dalam hati bahwa sekiranya pemandangan apa yang ditunjukkan oleh para familiarnya itu lewat telepati kepadanya sejatinya hanyalah ilusi belaka.


Namun, Helios pun harus menanggung pahit itu ketika pemandangan seperti apa yang ditunjukkan oleh para familiarnya tersebut, dia saksikan sendiri dengan kedua mata kepalanya.


“Apa ini? Kejam sekali! Siapa yang telah membantai para prajurit ini? Tidak! Bukankah itu Kakek Jilk?!”


Alice seketika menjadi panik begitu menyaksikan korban pembantaian tersebut, dan bertambah dia kaget dan tidak dapat menahan air matanya lagi begitu dia menyaksikan bahwa salah satu di antara para korban pembantaian tidak lain adalah Jilk, salah satu prajurit bayangan Leon yang sedang diberikan tugas oleh Leon untuk mematai-matai kakaknya sendiri, Helios.


Tak lama kemudian, Codi akhirnya turut sampai ke puncak gunung.


Badannya seketika lemas begitu menyaksikan pemandangan tersebut. Bagaimana tidak, hampir semua rekan sesama prajurit bayangannya telah dibantai dan dibunuh secara sadis di belakangnya tanpa dia ketahui sama sekali.


Namun Codi segera kembali memperoleh kewarasannya begitu dia mengingat sosok yang terpenting di antara mereka.


“Pangeran Leon. Tidak, bagaimana dengan keadaan Pangeran Leon?!”


Codi berteriak lantang. Bibir-bibirnya gemetaran begitu dia tak mampu menemukan keberadaan tuannya di mana pun.


Namun melebihi Codi, tiada kata yang dapat mengungkapkan bagaimana perasaan sedih yang dirasakan oleh Helios saat ini.


“Leon.”


Saking sedihnya, Helios hanya bisa mematung dengan terus menggumamkan nama Leon. Dia bahkan tak sempat lagi memikirkan Jilk yang juga telah menjadi korban tewas di tempat tersebut.


Sesaat kemudian, Albert akhirnya juga sampai ke puncak gunung. Albert yang segera bisa menyadari keadaan yang sedang terjadi, bergegas menghampiri tuannya itu untuk menenangkannya.


“Master, tenanglah. Tidak ada Yang Mulia Pangeran Leon di antara para korban. Kemungkinan saja adik Master itu masih hidup.”


“Begitukah menurutmu, Albert? Itu benar. Leon bukanlah orang yang selemah itu. Takkan ada orang maupun monster yang dapat membunuhnya dengan mudah. Dia pasti masih hidup dan bersembunyi di suatu tempat. Kita harus mencarinya.”


Setitik harapan pun kembali tumbuh di hati Helios.


“Tuan Helios! Wanita ini masih hidup!”


Tiba-tiba terdengar teriakan dari Nunu. Rupanya, di antara tumpukan-tumpukan mayat itu, ada satu orang yang berhasil selamat yang berhasil ditemukan oleh Nunu. Dia adalah Rooster alias Hestia.


“Hestia? Hestia, sadarlah!” Codi segera menggapai wanita yang terbaring pingsan itu lantas mengguncang-guncangkan tubuhnya untuk menyadarkannya, tetapi segera dicegah lebih lanjut oleh Alice dengan mempertimbangkan bahwa kondisi Hestia bisa saja bertambah parah dengan perlakuan Codi tersebut.


Yasmin pun datang lantas segera memberikan sihir pemulihan kepada wanita tersebut.


Setelah kondisi Hestia membaik, mereka kemudian segera kembali ke mansion mengingat kondisi Helios yang sedang tidak stabil pada saat itu dengan menyerahkan sisa-sisa penemuan mayat tersebut untuk diinvestigasi oleh para petugas investigasi kota di bawah kepemimpinan Curtiz dan Damian.


Belum ada yang tahu bahwa pelaku semua kejadian itu adalah sang ketua investigatornya sendiri, Damian.


.


.


.


.


.


.


Di pagi harinya, Curtiz pun datang dengan memberikan laporan jumlah korban pasca serangan monster bersamaan dengan hasil investigasinya terhadap kejadian penyerangan anak buah Leon di puncak gunung tersebut.


“Jadi begitu rupanya. Jadi Jilk sebenarnya adalah anak buah Leon yang ditugaskan untuk mengawasiku.”


Helios sejenak terperanjat bahwa ada tepat mata-mata di bawah hidungnya yang lolos dari pengawasannya di tengah banyaknya familiar yang dia tempatkan di sekelilingnya. Akan tetapi, mood-nya saat itu sama sekali tak ingin untuk membahasnya. Bagaimanapun, perasaan Helios belum bisa tenang sampai adiknya, Leon, bisa ditemukan dalam kondisi baik-baik saja.


“Untuk korban serangan monster, entah itu para prajurit maupun warga sipil, pastikan mereka memperoleh kompensasi yang layak.”


“Sesuai keinginan Anda, Yang Mulia Pangeran.”


“Terus mengenai Pangeran Leon, apakah kamu sudah menemukan kabar keberadaannya?”


“Untuk hal itu, sayangnya belum, Yang Mulia Pangeran. Terakhir kali keberadaan Yang Mulia Pangeran Leon dikabarkan memang berada di puncak gunung tersebut, menghadapi Titan Perses yang mengamuk di sana. Akan tetapi, setelah ditelusuri di mana pun di setiap sudut terpencil yang memungkinkan yang berada di dekat lokasi kejadian, hasilnya tetap nihil.”


“Begitukah? Kalau begitu, segera tambah lagi personil untuk mencarinya.”


“Tapi kalau begitu, pertahanan kota akan semakin menipis, Yang Mulia Pangeran. Kita tidak tahu kapan lagi serangan monster akan muncul. Bahkan laporan pertama kemunculan monster di hari itu, monster dullahan, dilaporkan tiba-tiba saja muncul di tengah kota. Jadi kita tidak sebaiknya mengurangi lagi personil pertahanan kota hanya demi mencari satu orang melihat situasi tidak biasa yang sedang terjadi ini.”


“Braaaak!” [Suara meja dipukul]


“Hentikan membantah dan turuti saja perintahku! Yang jelas sekarang Leon harus segera ditemukan!”


Ini pertama kalinya sejak sekian lama ketika pertama kali datang ke kota, Curtiz kembali menyaksikan sosok gila Pangeran Helios tersebut. Tidak, ini bahkan lebih gila lagi jika dibandingkan saat itu. Terlihat bahwa Helios akan siap kapan saja mencabut nyawa Curtiz sekali saja dia membantah lagi.


Curtiz pun akhirnya tersadar. Dia telah melupakannya setelah sekian lama melihat sosok Helios yang jinak. Namun sejatinya, Helios tetaplah Helios, seorang calon raja tiran yang diramalkan di masa depan oleh kuil suci.


“Sesuai keinginan Anda, Yang Mulia Pangeran.” Curtiz pun tak lagi punya niat membantah pangeran itu, lantas segera menuruti keinginan Helios saja.


Setelah pintu ditutup usai kepergian Curtiz, Helios kemudian menatap Albert dan Yasmin secara bergantian yang ada di sisi kanan dan kirinya.


“Kalian berdua, juga pergilah mengawasi keamanan kota bersama Alice dan Nunu. Saat ini, kota kita sangat kekurangan prajurit pasca serangan monster ditambah tim investigasi yang kubentuk untuk mencari Leon. Keberadaan kalian sangat diperlukan di sana.”


“Tidak, itu tidak boleh, Master. Justru karena kejadian baru-baru ini-lah, kami perlu untuk meningkatkan penjagaan kami terhadap Master.”


“Kamu pikir aku ini lemah, Albert?!” Helios menampakkan pandangan ganas yang tak biasanya dari sosoknya yang selalu ramah itu. Walau demikian, Albert tetap tidak ingin mundur demi keselamatan masternya.


“Meskipun demikian…”


“Clang.”


Ucapan Albert seketika terhenti. Itu karena sesosok assassin baru saja mengerahkan serangan sembunyi-sembunyinya secara tiba-tiba kepada Helios.


Yasmin berhasil menangkis serangan itu dengan sigap melalui aura putih di sekujur lengannya.


Namun apa yang membuat mereka kaget, rupanya sosok assassin yang hendak mencelakai Helios itu adalah Codi, salah satu prajurit bayangan Leon dengan code name Snake yang baru saja membentuk party eskpedisi dengan tim Helios ke hutan monster.