
Tim keberangkatan ekspedisi telah ditentukan yang terdiri dari Helios, Alice, Nunu, dan salah satu pengawal bayangan Leon, Codi. Jauh berjalan, akhirnya mereka berhasil masuk ke dalam wilayah hutan monster.
Situasi tampak berbeda ketika terakhir kali Helios dan timnya mengunjungi tempat tersebut. Kabut yang mengelilingi tempat itu jauh lebih tebal dan tampak mengalir dengan aliran yang aneh.
Namun berkat hal itu pula, Helios dan timnya mampu menyembunyikan keberadaannya dari para monster di hutan monster dengan lebih baik.
“Ini aneh. Bahkan setelah jauh berjalan, kita belum juga diserang oleh monster. Tampaknya Yang Mulia Pangeran Kedua dapat memprediksi di jalur mana monster tidak ada.”
“Hahahahahaha. Kita beruntung saja karena tempat ini dikelilingi oleh kabut sehingga monster tidak dapat melihat kita. Tapi ngomong-ngomong, Codi, kamu ternyata juga hebat dalam menutupi aliran mana-mu ya.”
“Ini semua berkat pelatihan keras dari Yang Mulia Pangeran Ketiga.”
“Tapi bukankah ini baik? Codi kan namamu? Dilihat dari senjatamu, kamu adalah tipe assassin. Party kita saat ini tidak akan efisien melawan banyak monster sejak swordsman seperti Albert tidak ada. Dan kita juga saat ini tidak memiliki penyerang serba bisa seperti Yasmin. Akan sulit bagimu untuk seorang diri melakukan penyerangan jarak dekat.” Alice pun turut mengeluarkan pendapatnya.
“Seorang diri? Bukankah juga ada kamu dengan pedang besarmu itu?”
“Eh, kamu belum mendengar rumor tentangku?
“Hmm? Rumor apa?”
“Begini, aku hanya bisa bertindak sebagai tameng saja sejak aku tidak pandai mengayunkan pedangku.”
“Apa? Mana ada seorang ksatria pedang yang begitu.”
Alice hanya terdiam mendengarkan hinaan dari Codi itu. Dia tampak sedih… Tidak, wajah Alice memerah. Daripada sedih, Alice tampak menikmati hinaan menusuk yang dilontarkan Codi kepada dirinya sebagai pendekar pedang itu.
Belum sempat Codi menanggapi reaksi aneh Alice itu, Nunu segera menyelinap di tengah obrolan.
“Tapi sampai kapan kita harus melakukan hal ini. Rasanya tidak menyenangkan memusatkan aliran mana-ku pada cincin ini. Rasanya seperti menahan ingin pup.”
Berbeda dari sifatnya yang masokis, Alice justru sensitif terhadap etika kesopanan. Mendengar ucapan vulgar Nunu itu, dia pun segera menegurnya, “Nunu, jaga sopan santunmu di hadapan Yang Mulia Pangeran. Terlebih kamu adalah seorang wanita. Tidak pantas bagimu untuk berucap vulgar seperti itu.”
“Tapi Alice…”
Helios segera menggapai kepala Nunu yang memiliki rambut hitam halus itu lantas mengucek-uceknya ke sana ke mari.
“U huh. Tuan Helios, sakit.”
“Kamu harus bersabar sedikit lagi, Nunu. Hanya buang-buang waktu jika kita harus menghadapi banyak monster kroco. Tujuan kita adalah untuk menyelidiki dungeon Milanda yang kemungkinan menjadi penyebab keanehan monster-monster saat ini.”
“Dari dulu aku penasaran, Tuan Helios. Apakah Milanda itu nama orang?”
“Hmm. Dia menyerupai manusia tapi tidak pula bisa dianggap sebagai manusia. Dia adalah witch zaman dahulu yang dikenal sebagai salah satu di antara dua belas jenderal setia raja iblis. Dia berbeda dari manusia karena terlahir dari energi sihir. Tetapi lebih dari apapun, Milanda sangat menginginkan untuk menjadi manusia seutuhnya sampai-sampai mengorbankan nyawa penduduk seisi kota sebagai tumbal demi memenuhi keinginannya itu.”
“Mengerikan sekali. Yang namanya witch itu memang jahat.”
“Oh, iya. Ngomong-ngomong soal kabut di hutan monster ini, itu semua karena hewan peliharaan witch, cockatrice, yang mendiami lantai lima dungeon Milanda.”
Helios menjelaskan segala pengetahuannya yang dia peroleh dari membaca buku, sementara Nunu mendengarkannya dengan penuh antusias. Tidak, tidak hanya Nunu saja, Alice dan Codi yang ada di belakang mereka juga turut mendengarkan dengan antusias.
Situasi berjalan dengan cukup terkendali hingga genaplah sehari mereka ada di hutan monster. Cukup sulit untuk membedakan antara siang dan malam di sana sejak kabut begitu tebal, namun baik Helios, Alice, dan Codi tidak kesulitan sedikit pun sejak mereka bisa merasakan aliran mana. Hanya Nunu-lah sendiri yang tidak mampu menyadarinya.
Menyadari bahwa telah tiba waktu yang tepat untuk beristirahat, Helios dan rombongan pun mulai membangun tenda lantas beristirahat.
Akan tetapi, di tengah mereka beristirahat, aliran kabut yang semula sudah mengalir dengan aneh, tiba-tiba saja berubah bertambah aneh lagi. Kabut-kabut itu berotasi dengan cepat mengitari Helios dan rombongannya yang sedang beristirahat di tenda. Lalu seketika, kabut menerjang ke arah mereka. Hal itu lantas membuat mereka berempat terhempas.
Helios dengan sigap menggapai Nunu ketika terhempas, sementara Codi berhasil menggapai tangan Alice. Sayangnya, masing-masing dari kelompok dua orang itu tak dapat menggapai satu sama lain dan akhirnya terpisah di tengah tebalnya kabut.
***
“Duh, duh, duh, Tuan Helios, kepalaku sakit.”
“Nunu, kamu bisa berdiri kan? Kita harus segera berjalan. Kita tak boleh lama terpisah dari Alice. Aku khawatir dengannya.”
Helios dan Nunu pun berjalan menelusuri daerah yang sama sekali tak dapat mereka lihat ada apa di depannya perihal ketebalan kabut. Sesaat kemudian, bahkan Nunu yang mempunyai karakter yang cuek, mampu segera menyadari bahwa ada keanehan pada ekspresi tuannya itu.
“Tuan Helios, apa ada masalah?”
Helios menggelengkan kepalanya terhadap pertanyaan Nunu itu.
“Bukan apa-apa kok, bukan sesuatu yang penting. Aku hanya saat ini tidak bisa melacak keberadaan Alice karena tampaknya kabut ini sedikit memainkan trik yang memantulkan-mantulkan sinyalku.”
“Kalau begitu, bukankah itu masalah yang sangat gawat, Tuan Helios!”
“Yah, aku yakin kalau Codi akan mampu melindungi Alice dengan baik.”
Lama berjalan, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil Helios dari belakang.
“Ter… Master! Master!”
Helios pun segera berbalik badan ke asal suara itu.
Dia begitu kaget ketika mulai bisa menyaksikan postur tubuh orang yang berlari sembari memanggilnya itu. Meski Helios belum bisa melihat mukanya perihal tertutupi kabut, tetapi dari perawakannya yang besar dan kekar, serta dari armor yang biasa digunakannya, Helios bisa langsung menebak siapa orang itu.
“Master! Akhirnya aku menemukan Master. Tidak salah aku lebih memilih untuk berlari ke arah badai kabut alih-alih menghindarinya. Sudah kuduga Master akan terlibat dalam kekacauan badai kabut itu.”
“Albert?”
Rupanya, sosok yang sedang berada di hadapan Helios itu yang dengan ngos-ngosan memegangi lututnya sembari berdiri, tidak lain dan tidak bukan adalah Albert, sang pengawal setia dari Helios.
“Mengapa kamu bisa ada di sini? Bukankah kamu masih pingsan sehabis terluka parah?”
“Hahahahahaha. Aku segera berlari kemari begitu aku tersadar dari pingsanku, Master.”
“Kamu ini ya, mengapa kamu selalu saja ceroboh. Perhatikan sedikit kondisi tubuhmu itu. Sesehat apapun tubuhmu, kita tidak akan pernah tahu luka apa yang akan disebabkan pasca pertarunganmu dengan Leon itu.”
“Hehehehehehe. Aku sekarang sudah bugar kembali kok, Master.” Disertai senyum lebarnya, Albert membantah mentah-mentah kekhawatiran Helios itu.
“Ya sudahlah. Sekarang kita dalam kondisi yang tak memungkinkan mengirimmu kembali ke wilayah kota. Kamu ikuti aku saja baik-baik di belakang untuk saat ini. Tapi ingat, pasca semua ini selesai, siap-siap saja menerima hukuman yang takkan pernah bisa kamu bayangkan dariku.”
Helios berucap sembari melayangkan tatapan penuh amarah terhadap Albert. Namun di luar dugaannya, Albert justru menanggapinya dengan senyum cerah.
“Tidak bisa begitulah, Master. Sebagai pedang Master, aku tidak boleh berada di belakang, tetapi harus selalu berdiri di depan melindungi Master.”
Albert jelas-jelas menghindari pembahasan kedatangannya yang tiba-tiba itu
***
Di lain pihak, Alice dan Codi yang terpisah dari rombongan juga turut mendukung satu sama lain.
“Cepatlah, Codi. Aku harus segera menemukan Master.”
“Baiklah. Tetapi Alice, jangan lupa untuk meningkatkan kewaspadaanmu akan kemungkinan monster untuk menyerang.”
Jauh berjalan, tiba-tiba mereka bertemu dengan seseorang lagi. Namun, sosok yang mereka temui itu adalah Nunu.
“Alice, Codi, syukurlah aku menemukan kalian. Di mana Master? Apakah Master tidak bersama kalian?”
Terdapat dua keberadaan Nunu di tempat yang berbeda. Satunya berada bersama Helios dan satunya lagi berada di hadapan Alice dan Codi saat ini. Hanya ada dua kemungkinannya. Salah satunya asli sementara satunya lagi adalah palsu, ataukah kedua-duanya adalah keberadaan yang palsu.