
Butuh waktu yang lama untuk menenangkan sekaligus menjelaskan situasiku kepada Ibunda. Aku heran apakah sesulit itu menerima bahwa ada orang berbakat dengan mana sampai bisa menciptakan sayap astral dari itu? Kalau ditelisik lagi, bukankah itu sejenis dengan aura pedang ketika seorang master pedang memotong musuhnya tidak dengan tajamnya logam, melainkan melalui ketajaman auranya yang astral?
Walau menatapku dengan tajam, tampaknya Beliau akhirnya berkompromi pada penjelasanku.
Sejak hari itu, aku mulai melakukan perawatan medis kepada Ayahanda. Keesokan harinya, Albert dan Yasmin pun berhasil sampai menyusulku kemari juga dengan terbang, tepatnya, Yasmin menenteng badan beruang milik Albert yang berat di langit dengan sayap mananya yang tipis itu.
Dengan kedatangan mereka berdua, perawatan Ayahanda pun menjadi lebih mudah. Itu karena Yasmin adalah seorang asisten medis yang di luar dugaan cukup terampil, sementara Albert adalah pembicara yang andal yang sangat membantuku dalam mengurus beberapa pengunjung yang merepotkan.
Perlahan, kondisi Ayahanda mulai membaik ketika Beliau mulai mengganti asupan gula yang awalnya menggunakan tanaman ersey yang kaya akan glukosa menjadi gula yang diekstrak dari sari tanaman gamole yang non-glukosa serta dengan penerapan gaya hidup sehat seperti rutin menggerakkan tangan dan kakinya tiap pagi dan petang.
Tak kusangka dengan aku menjadi dokter Ayahanda, hubungan kami yang awalnya telah renggang, perlahan kembali erat.
Aku ingat benar nasihat Ayahanda malam itu,
“Nak Helios, ketika nanti kakakmu menjadi raja, dukunglah dia dengan baik. Jangan lupa pula kamu menjaga Ilene. Dia itu terlahir cerdas, tetapi karena dia wanita, pasti berat baginya untuk berinteraksi di kalangan para bangsawan. Baik-baiklah kalian bersaudara. Bagaimana pun, hanya kalianlah yang dapat mendukung satu sama lain sejak kalian tidak punya keluarga lain di sini.”
Ayahanda mengingatkanku tentang pentingnya arti saudara melalui sosoknya yang penuh kelembutan itu. Akulah yang telah salah paham kepadanya selama ini. Kami jarang bertemu, bukan berarti Ayahanda membenciku. Itu karena urusan negara tentu lebih penting dari apapun.
Sembari tersenyum dengan bibirnya yang mulai usang karena usia itu, Ayahanda membelai rambutku dengan lembut seperti ketika aku masih kecil. Entah mengapa, sentuhannya terasa sangat nostalgia menenangkan hatiku seakan aku bersantai di padang rumput di hari dengan cuaca yang sejuk.
Tidak hanya Ayahanda, kini aku pun menjadi sering bertemu pandang dengan Ibunda. Beliau tampak tidak lagi melihat aku seakan melihat serangga. Tampaknya, posisiku di matanya telah naik derajat dari serangga menjadi burung gagak yang tidak berbahaya. Beliau setidaknya kini membiarkan aku berada di dekatnya, meski dalam mode waspada. Namun Beliau tidak pernah berkata lagi untuk melarang aku dekat-dekat dengannya.
Hal yang kecil begitu saja telah membuat aku sangat senang.
Suatu hari ketika Ibunda turut berada di ruangan bersama aku dan Ayahanda, Ayahanda mengatakan sesuatu, “Alangkah baiknya jika saudara-saudaramu kala itu tidak ada yang mati, Theia, sehingga kita bisa hidup dengan damai bersama anak-anak kita di Ignitia saja.”
Tampaknya, Ayahanda terkenang kembali tentang masa-masa lalunya ketika berada di Kerajaan Ignitia. Itu adalah cerita yang jauh lebih lawas yang bahkan aku belum bisa mengingat. Itu adalah masa-masa ketika Leon masih berada dalam kandungan Ibunda dan ketika aku baru berusia satu tahun.
Karena hanya merupakan pewaris di urutan ke-28 tahta kerajaan, Ibunda pun awalnya dibebaskan mengikuti Ayahanda yang merupakan pangeran ketiga Kerajaan Ignitia untuk menetap di Ignitia setelah menikahinya.
Siapa yang menyangka bahwa akan ada kekacauan perebutan tahta besar-besaran yang menyebabkan kesebelas pangeran dan ketiga puluh tiga putri lainnya tewas yang hanya menyisakan Ibunda saja sebagai keturunan raja yang tersisa. Ibunda pun akhirnya ditarik kembali dengan paksa ke kerajaan untuk menduduki posisi ratu bersamaan dengan suaminya saat itu, Ayahanda, sebagai raja baru menggantikan raja sebelumnya Kerajaan Meglovia.
Syukurlah pada saat terjadinya peristiwa berdarah itu, Ibunda barnaung di Kerajaan Ignitia sehingga bisa menjadi satu-satunya yang selamat.
Sungguh benar-benar mengerikan yang namanya tahta itu. Bahkan sesama saudara saja bisa bunuh-membunuh hanya demi mendapatkannya. Begitulah dulu aku khawatir kepada Leon dan Kak Tius akan melakukan hal yang sama. Syukurlah bahwa ternyata semua hal itu hanyalah sandiwara mereka berdua semata.
Walaupun aku masih marah baik kepada Kak Tius yang merencanakan maupun Leon yang bisa-bisanya menuruti rencana bodoh Kak Tius yang merusak sendiri hidupnya itu, aku teringat kembali dengan kata-kata Kak Tius.
‘Tanggung jawab sebagai keluarga kerajaan kah? Apa pentingnya semua itu jika kita tidak bisa turut merasakan kebahagiaan di akhir.’
Lalu kemudian, waktu selama dua belas hari dengan cepat berlalu. Hari yang dijanjikan untuk bertemu dengan Rahib Vindyca Eros akhirnya tiba.
Karena aku tak ingin menimbulkan masalah yang tak perlu, aku pun meninggalkan Yasmin di istana dengan hanya pergi berdua bersama Albert saja untuk menemui kepala kuil suci tersebut.
Mungkin kalian tidak tahu, bahwa Albert memang temperamental, tetapi Yasmin sangat jauh lebih temperamental lagi bahkan melampaui sepuluh kali lipat dari temperamen Albert.
Jika Albert marah, mungkin aku masih bisa mengendalikannya walaupun dengan susah-payah sejak dia kini adalah master pedang level 5. Namun, aku sama sekali tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Yasmin.
Dia adalah tipikal wanita yang terlihat memiliki wajah lembut dan ramah. Namun itu semua hanyalah tipuan. Ketika dia marah, dia bukan tipikal orang yang akan mengeluarkan dulu kemarahannya lewat kata-kata, tetapi langsung dengan sihir.
Ada suatu ketika Yasmin masih tampak tersenyum ketika dijahili oleh salah satu tamuku yang tidak sopan sebelumnya, namun secara tiba-tiba saja dia melayangkan sihir yang hampir saja membuat lengan pria tidak sopan itu putus.
Yah, walaupun ujung-ujungnya pria itu akhirnya disembuhkan sendiri oleh Yasmin sehingga lukanya sama sekali tidak berbekas, tapi tentu saja luka batin yang dirasakan oleh pria itu tidak akan lagi pernah lekang sejak dia menyaksikan sendiri lengannya itu hampir putus.
Begitulah berbahayanya Yasmin, si wanita cantik yang tampak tidak berbahaya dengan ekspresinya yang datar, namun di balik itu semua tersembunyi temperamen yang amat ganas.
Sesampainya di kuil suci pusat, tidak kusangka bahwa aku akan disambut dengan meriah dan ramah oleh semua orang mengingat bagaimana perlakuan mereka sewaktu dulu sejak aku kecil. Tetapi, tentu saja itu bukan hal yang buruk. Seseorang harus bisa belajar bagaimana caranya memaafkan.
Aku dan Albert pun lantas dituntun oleh seorang rahib paruh baya yang tampaknya cukup memiliki posisi penting di kuil suci tersebut melihat bagaimana para rahib dan pelayan suci yang lain memperlakukannya dengan hormat dan sopan.
Tidak lama kemudian, kami tiba di ujung ruangan yang memiliki dua daun pintu yang sangat besar, megah, dan indah yang diliputi oleh berbagai hiasan permata.
Begitu pria paruh baya itu membukakan pintunya, dapat kulihat seorang kakek-kakek tua berbadan sangat gemuk yang mengenakan pakaian putih yang licin dan berkilauan sedang terduduk di balik meja yang terletak di paling ujung ruangan dengan mengenakan kacamata rantainya yang terlihat sangat unik itu.
Dia tampak sibuk dengan pekerjaannya, namun ketika dia menotice kedatanganku, dia bergegas berdiri lantas memberi hormat kepadaku,
“Hormat hamba kepada sang bayangan bintang nomor dua Kerajaan Meglovia, sang pangeran kedua Helios de Meglovia.”
Ujar sang kakek dengan senyumannya yang tampak penuh arti.